
Dukungan Kakak
“Hah?!”kata Gadis kaget.
Alex mengangguk dan menyuruh Gadis mengabaikan gosip.
Ia memesan soto ayam dan menunggu pesanan Gadis. Gadis memutuskan memesan
lalapan ayam. Soto ayam Alex datang lebih dulu. Gadis menelan liurnya melihat
soto ayam di depannya. Alex memperhatikan Gadis dan menyodorkan soto itu ke
depan Gadis.
“Ayo, dimakan.”kata Alex sambil tersenyum pada
Gadis.
“Makasih, pah.”ucap Gadis senang.
Lalapan pesanan Gadis datang, Alex ganti
memakannya. Mereka sesekali mengobrol tentang si kembar Rava dan Reva.
Keakraban mereka, bahkan bertukar makanan, membuat gosip semakin panas. Gadis
sudah tidak memperhatikan sekitarnya. Ia fokus makan sampai soto ayam
dihadapannya habis.
“Sudah kenyang? Masih mau makan lagi?”tanya Alex
sambil menyodorkan menu.
“Sudah, pah. Makasih.”kata Gadis.
Alex membayar makanan mereka dan mengajak Gadis
kembali ke lantai atas.
“Pah, Rio berapa lama keluar kotanya?”tanya Gadis
ketika mereka menunggu lift terbuka.
“Sekitar 3 hari. Kenapa? Udah kangen ya?”goda Alex
pada Gadis.
“Nggak!!”jawab Gadis ngegas.
“Hihi... bilang aja kangen. Gak pa-pa, kok. Uda telpon
dia?”tanya Alex.
“Emang boleh, pah? Nanti ganggu dia lagi.”kata
Gadis sambil berjalan masuk ke dalam lift.
“Telpon malem aja. Kalo malem kan dia free. Kecuali
kalau diundang ke pesta.”kata Alex ikut masuk ke dalam lift.
Alex memperhatikan wajah Gadis yang sedikit memerah
ketika mendengar tentang pesta. Ia menekan nomor lantai paling atas sambil
menahan tawanya. Dasar calon mertua satu ini demen banget ngerjain calon
menantunya.
“Pesta, pah? Emang ada gituan ya kalo keluar
kota?”tanya Gadis kepo.
“Ya, kalau kebetulan client mengadakan pesta, Rio
juga harus hadir dong. Papa juga sempat beberapa kali ke pesta yang diadakan
client papa waktu ke luar kota.”jelas Alex semakin memanasi Gadis.
Jelas sekali wanita di sampingnya ini sangat
mencintai Rio. Sesuatu tentang Rio selalu membuatnya bersemangat sekaligus
khawatir. Meskipun kesannya cuek, kalau Rio sudah mengeluh di depannya, Gadis
akan langsung membantunya.
“Kalau pesta gitu, pake minuman ya, pah?”tanya
Gadis polos.
“Ya. Ada beberapa pesta yang menyuguhkan minuman
juga wanita. Tergantung Rio sich. Bisa tahan atau tidak.”tutup Alex sambil
berjalan keluar dari lift.
Gadis mengikuti langkah Alex sambil bertanya lagi,
“Pah, papah sudah peringatkan Rio untuk hati-hati?”
“Papa sudah sampaikan agar hati-hati. Tapi
sepertinya Rio akan lebih mendengarkan kata-katamu dech.”kata Alex lagi sambil
berjalan masuk ke ruang kerjanya.
Gadis duduk di mejanya, ia melihat kursi kosong Rio
dan bayangan Rio minum sambil memeluk seorang wanita tiba-tiba membuat Gadis
__ADS_1
kesal. Ia meremas kertas kerja di depannya sampai lecek tidak jelas bentuknya.
*****
Rio mengelus dadanya yang berdetak kencang
mendengar teriakan Katty. Ibu hamil satu ini suka sekali marah-marah gak jelas.
Mia bahkan sudah berdiri untuk mengambilkan minuman untuk mereka.
“Maaf, kak.”kata Rio meminta maaf lagi pada Katty.
“Kenapa minta maaf? Kapan kalian nikah?”tanya Katty
kepo.
“Kakak gak marah?”tanya Rio takut-takut.
“Dasar bodoh! Ngapain aku harus marah?”tanya Katty
gemas.
“Itu tadi teriak-teriak bodoh?”
“Iya, kamu bodoh. Ada cewek yang cinta sama kamu,
malah kamu gak bales cintanya. Apalagi sekarang dia sudah hamil. Kamu bodoh
kalau tidak segera menikahinya.”kata Katty geregetan.
Katty mengacak-acak rambut Rio, ia sampai meringis
karena terlalu bersemangat melakukannya. Rio mengatur bantal agar Katty bisa
bersandar dengan nyaman. Katty mengelus-elus perutnya yang hampir meledak itu.
“Ini diminum dulu. Katty, kenapa kakimu bengkak
gitu?”tanya Mia khawatir melihat kaki Katty.
“Iya, kak Mia. Aku terlalu banyak makan seafood.”kata
Katty dengan raut wajah sedih.
Mia membantu menempatkan bantal di kaki dan sekitar
pinggang Katty. Ia terlihat seperti boneka beruang besar yang diapit banyak
bantal. Katty sangat berterima kasih atas perhatian Mia padanya.
“Kak, Gadis gak mau nikah sama aku. Belum mau.”jelas
Rio.
“Kenapa?!!”tanya Katty ngegas.
Rio dan Mia meringis mendengar teriakan Katty. Mia
Katty.
“Katanya karena kami gak saling cinta. Kami nikah
cuma karena anak itu. Dan ia mau cerai setelah anak itu lahir. Bahkan ibunya
gak setuju Rio nikah sama Gadis kalau kami gak saling cinta. Rio lagi berusaha
mengejar Gadis sekarang, kak.”jelas Rio lagi dengan nada mengadu.
“Oh, kasian banget kamu ya. Kamu suka sama Gadis?“tanya
Katty to the point.
“...Iya, kak. Dia membuatku tidak tenang setiap
kami berjauhan. Sepertinya aku sudah jatuh cinta sama Gadis.”kata Rio jujur,
meski sedikit ragu.
“Bagus. Perlu bantuan kakak? Kakak rasa, sebuah
lamaran romantis bisa meluluhkannya.”kata Katty dengan yakin sambil
menggosokkan kedua tangannya
“Iya juga. Kenapa gak kepikiran tentang lamaran
gitu ya? Pake bunga, cincin, lilin.”kata Mia sambil mengkhayal.
“Rio gak ngerti bikinnya.”kata Rio menghancurkan
fantasi Katty dan Mia.
“Dasar cowok gak romantis! Ya sudah, kakak yang
nyiapin. Hmm, enaknya dimana ya?”kata Katty sambil berpikir.
Rio tersenyum lega sambil menatap Mia yang juga
tersenyum padanya. Katty sudah memberikan dukungannya pada hubungannya dengan
Gadis. Rio ingin segera menikah dengan Gadis agar bisa menjaganya dan
mencintainya selamanya.
*****
Tapi sepertinya Rio masih harus berjuang lagi
karena Gadis jadi sensi mendengar kata-kata Alex tadi. Seharian bekerja ini dia
lebih banyak cemberut. Dirinya tidak tenang bekerja dan beberapa kali
__ADS_1
memperhatikan ponselnya.
Romi yang memperhatikan Gadis moody, mengirim chat
pada Alex.
“Lex, kamu apain Gadis? Dari tadi sensi amat.
Mejanya berapa kali kena pukul tuch.”tulis Romi dengan cepat.
“Aku panas-panasin biar nelpon Rio duluan. Dasar
anak muda, gengsinya lebih tinggi dari Monas.”ketik Alex dengan cepat.
“Ya, tapi gak gini juga manasinnya. Bentar lagi
meledak tuch. Nangis, kamu tanggung jawab.”balas Romi.
“Nggak bakalan. Paling ntar Rio kena omel. Aku
lihat gak ada kemajuan sich dari hubungan mereka.”balas Alex lagi.
“Nangis tuch. Liat sini.”ketik Romi lagi.
Alex segera bangkit dari kursi kerjanya dan membuka
pintu ruang kerjanya. Ia melihat Gadis mengusap wajahnya dengan cepat.
“Kamu kenapa, Gadis?”tanya Alex cemas.
“Gak pa-pa, pah. Ehm... pah, boleh nelpon Rio
sekarang gak?”tanya Gadis malu.
“Boleh. Barusan papa ditelpon. Dia habis meeting.
Coba aja telpon. Sana di ruang pribadi papa.”perintah Alex.
“Ya, pah. Makasih.”kata Gadis sambil berjalan masuk
ke ruang kerja Alex.
Alex masuk ke ruang kerja Romi. Ia geleng-geleng
kepala melihat Romi sudah menatapnya sambil memicingkan matanya.
“Makanya jangan suka usil. Itu anak kan lagi hamil.
Hormonnya gak stabil.”kata Romi menyalahkan Alex.
“Habisnya aku gemes. Mereka harus nikah secepatnya
atau kandungan Gadis akan semakin besar.”kata Alex sambil mencibirkan bibirnya.
“Ya sabar dong. Kasi mereka waktu dan ruang. Emang
Rio kemana sich?”kata Romi lagi.
“Anak itu kecelakaan semalem. Luka di lengan sama
kaki. Paling lagi kesakitan di rumah, dipelukan mamanya.”
Alex seperti teringat sesuatu, Romi juga menaikkan
alisnya mendengar kata-kata Alex barusan.
“Oh, aku harus telpon Mia sekarang.”kata Alex
buru-buru balik ke dalam ruang kerjanya.
“Dasar posesif! Sama anak sendiri cemburu.”kata
Romi balik mencibirkan bibirnya.
*****
Rio, Mia, dan Katty masih duduk dan mengobrol di
ruang keluarga rumah Alex. Suara dering telpon dari ponsel Rio, menghentikan
obrolan mereka.
“Siapa?”tanya Katty kepo.
“Gadis. Haduh, kenapa dia nelpon?”tanya Rio mulai
panik.
“Kangen kali. Cepetan diangkat.”kata Mia.
Rio memberi tanda pada Mia dan Katty agar diam. Ia
mengangkat telpon dari Gadis dan menekan tombol loudspeaker.
“Halo, Rio. Aku ganggu gak?”sapa Gadis.
*****
“Gak kok, aku lagi vote novel ini. Kamu lagi
ngapain?”tanya Rio imut.
“Sama, aku juga uda vote.”jawab Gadis malu-malu.
Author dateng dan nyempil di tengah-tengah. Belum
sah gak boleh deket-deket ya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1