Duren Manis

Duren Manis
Kejutan kakek


__ADS_3

Mia dan Alex sedang


mengobrol di ruang keluarga setelah sarapan. Sementara Rara dan Arnold pergi


jalan-jalan di sekitar kompleks perumahan mereka. Sesekali Alex menoel pipi


bayi kembarnya yang tertidur lelap setelah menguras habis ASI Mia.


Alex : “Makin lama


makin berat aja gendong si kembar.”


Mia : “Iya, mas.


Mereka kan udah naik sekilo dari lahirnya.”


Alex : “Ih, gemes


banget.”


Mia : “Jangan


dicubitin terus dong, mas. Nanti mereka bangun, nangis lagi.”


Alex : “Kalo gitu


kamu aja yang aku cubit ya. Sini.”


Alex menarik tangan


Mia dan langsung mencium bibirnya dengan rakus. Mia yang terkejut sempat


memberontak tapi akhirnya jatuh dalam pelukan Alex dan membalas ciumannya.


Alex : “Yank, kapan


aku dapet jatahnya?” Ciuman Alex pindah ke leher Mia.


Mia : “Aku belum


bisa... maass... kan udah aku bantu.”


Alex : “Tapi aku


kangen yang itu...”


Kemeja yang dipakai


Mia sudah terbuka kancing atasnya. Alex menggigit kecil atas dada Mia, hingga


menampakkan tanda kemerahan disana.


Mia : “Jangan


digigit, maas...”


Alex : “Aku kangen


sama kamu, sayang.”


Mia : “Gimana


kangen? Tiap hari ketemu...”


Tangan Alex


menyusup masuk ke dalam kemeja Mia, saat Alex hampir mendekatkan wajahnya ke


dada Mia, Rara dan Arnold sudah berdiri di dekat mereka.


Rara : “Ehem...!!”


Arnold : “Ehem...


Ehem... Ra, kita mandi lagi yuk.”


Rara : “Eeeh, apa?


Tapi...”


Rara dituntun


Arnold masuk ke dalam kamar mereka, melewati Mia dan Alex yang sibuk menutupi


tubuh mereka.


Mia : “Tuch, kan.


Mas, sich. Gak bisa liat sikon.”


Alex : “Kok aku sich?


Aku kan...”


Ting, tong!


Mia : “Siapa yang


dateng ya. Mas, buka pintunya.”


Alex : “Iya,


iya...”


Alex berjalan ke


pintu depan dan membuka pintu. Keningnya berkerut melihat didepannya ada dua


orang lelaki paruh baya yang terlihat kuat dan yang satunya lagi sudah memakai


tongkat.


Pak Kim : “Selamat


pagi, Pak Alex. Perkenalkan saya Kim dan ini Tuan Michael. Bisa kami bicara


sebentar?”


Alex : “Ada


keperluan apa ya? Silakan masuk. Silakan duduk dulu. Saya permisi sebentar.”


Alex masuk dan


mengatakan pada Mia untuk menyiapkan minuman untuk kedua tamu mereka.


Mia : “Siapa yang


datang, mas?”


Alex : “Mas juga


gak tau. Ntar mas tanya dulu. Bawain minuman dua ya. Teh aja sama kue.”


Mia : “Iya, mas.”


Mia melangkah ke


dapur dan memberitahu mb Minah untuk menyiapkan teh dan kue.


Mia : “Mb Minah,


tolong buatkan teh 2 ya. Sama kuenya juga. Nanti saya yang bawa ke depan, tapi


mb Minah tolong jaga si kembar ya.”


Mb Minah : “Iya,


mb.”

__ADS_1


Alex kembali ke


ruang tamu dan duduk didepan keduanya.


Alex : “Maaf,


sebelumnya pak Kim dan Tuan Michael ada keperluan apa dengan saya?”


Pak Kim : “Tuan


besar, silakan.”


Pak Michael : “Kedatangan


kami kemari untuk melamar putri Pak Alex secara langsung.”


Alex : “Putri saya?


Maksud bapak, Riri?” Alex mengingat sebentar dan menyebut nama Riri. Jelas saja


kan gak mungkin ia menyebut nama Rara karena Rara sudah menikah.


Pak Michael : “Iya,


Pak Alex. Saya melamar Riri untuk cucu saya Angelo.”


Alex : “Angelo?


Maksudnya Elo?”


Pak Michael : “Iya,


Pak Alex.”


Alex mau bertanya


lagi, tapi Mia keburu datang membawa teh yang langsung ia hidangkan di depan


para tamu mereka.


Mia : “Silakan


diminum, pak.”


Alex : “Ini istri


saya, Mia. Mia, duduk dulu. Ini Pak Michael, kakeknya Elo.”


Mia : “Oh, apa


kabar, Pak Michael.”


Pak Michael : “Baik,


Ibu Mia. Istri Pak Alex muda sekali ya.”


Alex : “Iya, Pak


Michael. Mia ini istri kedua saya, kalau ibu kandungnya Riri sudah lama


meninggal.”


Pak Michael : “Oh,


maaf Pak Alex.”


Alex : “Tidak


apa-apa Pak Michael. Mengenai lamaran Bapak tadi, saya sudah pernah bicara


dengan Elo dan minta agar pernikahan dilakukan setelah Riri lulus kuliah.”


Pak Michael : “Mungkin


setelah mendengar cerita ini, bapak bisa mempertimbangkan kembali mengenai


Alex saling pandang


dengan Mia, pak Michael memberi tanda pada Pak Kim yang mulai bercerita tentang


kejadian yang menimpa Riri dan Elo.


*****


Elo menggenggam


tangan Riri yang masih terlihat murung. Sedangkan Rio dan Kaori sudah tertidur


pulas saling bersandar satu sama lain. Mereka sudah ada di dalam jet pribadi kakek


yang membawa mereka pulang.


Elo : “Jangan sedih


lagi, sayang. Gak usah dipikirkan omongan Elena.”


Riri : “Melihat apa


yang sudah pernah ia lakukan, aku takut, kak.”


*****


Flash back...


Tepat setelah


mereka berpamitan pada mama Ratna, Elena muncul entah dari mana dan menarik


lengan Riri. Meremas dengan keras lengan Riri sampai gadis itu meringis


kesakitan.


Elena : “Gara-gara


kamu! Gadis liar!”


Elo : “Elena!!


Lepaskan Riri!”


Elo menghentakkan


tangan Elena dengan kasar dan menarik Riri ke dalam pelukannya.


Elena : “Akan


kubalas apa yang sudah terjadi padaku!”


Mereka menatap


keadaan Elena yang menyedihkan dengan pakaian yang terbuka, bekas ciuman yang


bertebaran di tubuhnya, dan jalannya yang tidak stabil. Rio sampai menarik


Kaori menjauh, takut gadis itu ikutan syok juga seperti Riri. Elo melindungi


Riri agar tidak melihat ke arah Elena.


Mama Ratna : “Astaga,


Elena. Dimana rasa malumu? Beraninya kamu keluar berantakan seperti ini. Apa


yang sudah kamu lakukan? Kamu terlihat seperti wanita murahan.”


Elena : “Tante...!


Tante pasti sekongkol!”


Mama Ratna : “Kamu

__ADS_1


bicara apa? Sekongkol apa? Jangan kurang ajar kamu ya. Semakin hari semakin


liar saja.”


Elena : “Angelo!


Aku dijebak... kita... semalam...”


Elo : “Apa yang mau


kamu coba katakan? Kamu dijebak? Jelas-jelas kamu yang jebak aku! Untung aku


melakukannya dengan Riri!”


Elo merasakan Riri


mencengkram kemejanya saat Elo berteriak pada Elena. Tubuh Riri gemetar dalam


pelukan Elo.


Elena : “Tidak!!


Harusnya sama aku... bukan dia... gadis ******!!”


Elo : “Jangan sebut


dia begitu! Kamu yang ******!”


Elena : “Akan


kuhancurkan kamu, gadis sialan!”


Plak! Sebuah


tamparan membuat Elena tersungkur, sepatu yang dipakainya sampai lepas dan


pakaiannya sobek. Mama Ratna sudah tidak tahan lagi mendengar teriakan Elena.


Mama Ratna : “Angelo,


bawa Riri pergi. Cepat!”


Elo menuntun Riri


masuk ke dalam mobil, ia masih menunggu kalau-kalau mamanya kesulitan menangani


Elena. Elena bangkit dengan cepat berusaha mengejar Elo dan Riri. Ia tidak


peduli dengan keadaannya yang hampir telanjang.


Mama Ratna : “Security! Bring Elena to her room! Oh my gosh! Dia bahkan hampir telanjang.


Mau apa gadis ini? Dia sudah menghancurkan masa depannya sendiri.”


Dua body guard


menarik tangan Elena dan membawanya ke kamarnya. Gadis itu masih meronta dan


berteriak histeris. Mama Ratna hampir menyusul Elena ketika Heru keluar sambil


bersenandung.


Heru : “Nyonya


besar... Tugas saya sudah selesai, jangan lupa transferannya.”


Mama Ratna : “Kerjamu


bagus, tapi sepertinya sedikit berlebihan.”


Heru : “Keponakan


Anda terus meminta pada saya, bagaimana saya bisa menolaknya?”


Mama Ratna : “Sisanya


sudah ditransfer. Kau sudah tahu apa yang bisa kulakukan kalau kamu tidak menurut,


kan?”


Heru : “Saya hanya


mengikuti perintah Anda, Nyonya Besar. Saya permisi, selamat siang.”


Heru keluar mansion


dan berpapasan dengan Elo yang menatapnya tak percaya. Mereka memang mirip,


hanya saja Heru lebih pendek dari Elo dengan rambut kecoklatan.


Heru : “Selamat


siang, tuan muda, nona muda.” Heru membungkuk pada Elo dan Riri.


Elo : “Kamu Heru?”


Heru : “Siap


melayani tuan muda. Silakan masuk ke dalam mobil. Selamat jalan.”


Elo masuk ke dalam


mobil dan duduk disamping Riri yang masih menunduk ketakutan. Perlahan mobil


meluncur membawa mereka menuju bandara. Sementara Heru menghampiri mobilnya


sendiri dan pergi dari mansion.


Flash back end...


*****


Elo mencium tangan


Riri dan mengecup kening gadis itu.


Elo : “Jangan


memikirkan apapun selain pernikahan kita. Kau sudah jadi calon istriku


sekarang. Perlindungan dari pengawal keluargaku juga akan berlaku untukmu. Kamu


tenang saja ya.”


Riri : “Iya, kak.”


Riri bersandar pada


Elo yang mengatur kursinya agar mereka bisa tidur dengan nyaman.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2