
Mia dan Alex sedang
mengobrol di ruang keluarga setelah sarapan. Sementara Rara dan Arnold pergi
jalan-jalan di sekitar kompleks perumahan mereka. Sesekali Alex menoel pipi
bayi kembarnya yang tertidur lelap setelah menguras habis ASI Mia.
Alex : “Makin lama
makin berat aja gendong si kembar.”
Mia : “Iya, mas.
Mereka kan udah naik sekilo dari lahirnya.”
Alex : “Ih, gemes
banget.”
Mia : “Jangan
dicubitin terus dong, mas. Nanti mereka bangun, nangis lagi.”
Alex : “Kalo gitu
kamu aja yang aku cubit ya. Sini.”
Alex menarik tangan
Mia dan langsung mencium bibirnya dengan rakus. Mia yang terkejut sempat
memberontak tapi akhirnya jatuh dalam pelukan Alex dan membalas ciumannya.
Alex : “Yank, kapan
aku dapet jatahnya?” Ciuman Alex pindah ke leher Mia.
Mia : “Aku belum
bisa... maass... kan udah aku bantu.”
Alex : “Tapi aku
kangen yang itu...”
Kemeja yang dipakai
Mia sudah terbuka kancing atasnya. Alex menggigit kecil atas dada Mia, hingga
menampakkan tanda kemerahan disana.
Mia : “Jangan
digigit, maas...”
Alex : “Aku kangen
sama kamu, sayang.”
Mia : “Gimana
kangen? Tiap hari ketemu...”
Tangan Alex
menyusup masuk ke dalam kemeja Mia, saat Alex hampir mendekatkan wajahnya ke
dada Mia, Rara dan Arnold sudah berdiri di dekat mereka.
Rara : “Ehem...!!”
Arnold : “Ehem...
Ehem... Ra, kita mandi lagi yuk.”
Rara : “Eeeh, apa?
Tapi...”
Rara dituntun
Arnold masuk ke dalam kamar mereka, melewati Mia dan Alex yang sibuk menutupi
tubuh mereka.
Mia : “Tuch, kan.
Mas, sich. Gak bisa liat sikon.”
Alex : “Kok aku sich?
Aku kan...”
Ting, tong!
Mia : “Siapa yang
dateng ya. Mas, buka pintunya.”
Alex : “Iya,
iya...”
Alex berjalan ke
pintu depan dan membuka pintu. Keningnya berkerut melihat didepannya ada dua
orang lelaki paruh baya yang terlihat kuat dan yang satunya lagi sudah memakai
tongkat.
Pak Kim : “Selamat
pagi, Pak Alex. Perkenalkan saya Kim dan ini Tuan Michael. Bisa kami bicara
sebentar?”
Alex : “Ada
keperluan apa ya? Silakan masuk. Silakan duduk dulu. Saya permisi sebentar.”
Alex masuk dan
mengatakan pada Mia untuk menyiapkan minuman untuk kedua tamu mereka.
Mia : “Siapa yang
datang, mas?”
Alex : “Mas juga
gak tau. Ntar mas tanya dulu. Bawain minuman dua ya. Teh aja sama kue.”
Mia : “Iya, mas.”
Mia melangkah ke
dapur dan memberitahu mb Minah untuk menyiapkan teh dan kue.
Mia : “Mb Minah,
tolong buatkan teh 2 ya. Sama kuenya juga. Nanti saya yang bawa ke depan, tapi
mb Minah tolong jaga si kembar ya.”
Mb Minah : “Iya,
mb.”
__ADS_1
Alex kembali ke
ruang tamu dan duduk didepan keduanya.
Alex : “Maaf,
sebelumnya pak Kim dan Tuan Michael ada keperluan apa dengan saya?”
Pak Kim : “Tuan
besar, silakan.”
Pak Michael : “Kedatangan
kami kemari untuk melamar putri Pak Alex secara langsung.”
Alex : “Putri saya?
Maksud bapak, Riri?” Alex mengingat sebentar dan menyebut nama Riri. Jelas saja
kan gak mungkin ia menyebut nama Rara karena Rara sudah menikah.
Pak Michael : “Iya,
Pak Alex. Saya melamar Riri untuk cucu saya Angelo.”
Alex : “Angelo?
Maksudnya Elo?”
Pak Michael : “Iya,
Pak Alex.”
Alex mau bertanya
lagi, tapi Mia keburu datang membawa teh yang langsung ia hidangkan di depan
para tamu mereka.
Mia : “Silakan
diminum, pak.”
Alex : “Ini istri
saya, Mia. Mia, duduk dulu. Ini Pak Michael, kakeknya Elo.”
Mia : “Oh, apa
kabar, Pak Michael.”
Pak Michael : “Baik,
Ibu Mia. Istri Pak Alex muda sekali ya.”
Alex : “Iya, Pak
Michael. Mia ini istri kedua saya, kalau ibu kandungnya Riri sudah lama
meninggal.”
Pak Michael : “Oh,
maaf Pak Alex.”
Alex : “Tidak
apa-apa Pak Michael. Mengenai lamaran Bapak tadi, saya sudah pernah bicara
dengan Elo dan minta agar pernikahan dilakukan setelah Riri lulus kuliah.”
Pak Michael : “Mungkin
setelah mendengar cerita ini, bapak bisa mempertimbangkan kembali mengenai
Alex saling pandang
dengan Mia, pak Michael memberi tanda pada Pak Kim yang mulai bercerita tentang
kejadian yang menimpa Riri dan Elo.
*****
Elo menggenggam
tangan Riri yang masih terlihat murung. Sedangkan Rio dan Kaori sudah tertidur
pulas saling bersandar satu sama lain. Mereka sudah ada di dalam jet pribadi kakek
yang membawa mereka pulang.
Elo : “Jangan sedih
lagi, sayang. Gak usah dipikirkan omongan Elena.”
Riri : “Melihat apa
yang sudah pernah ia lakukan, aku takut, kak.”
*****
Flash back...
Tepat setelah
mereka berpamitan pada mama Ratna, Elena muncul entah dari mana dan menarik
lengan Riri. Meremas dengan keras lengan Riri sampai gadis itu meringis
kesakitan.
Elena : “Gara-gara
kamu! Gadis liar!”
Elo : “Elena!!
Lepaskan Riri!”
Elo menghentakkan
tangan Elena dengan kasar dan menarik Riri ke dalam pelukannya.
Elena : “Akan
kubalas apa yang sudah terjadi padaku!”
Mereka menatap
keadaan Elena yang menyedihkan dengan pakaian yang terbuka, bekas ciuman yang
bertebaran di tubuhnya, dan jalannya yang tidak stabil. Rio sampai menarik
Kaori menjauh, takut gadis itu ikutan syok juga seperti Riri. Elo melindungi
Riri agar tidak melihat ke arah Elena.
Mama Ratna : “Astaga,
Elena. Dimana rasa malumu? Beraninya kamu keluar berantakan seperti ini. Apa
yang sudah kamu lakukan? Kamu terlihat seperti wanita murahan.”
Elena : “Tante...!
Tante pasti sekongkol!”
Mama Ratna : “Kamu
__ADS_1
bicara apa? Sekongkol apa? Jangan kurang ajar kamu ya. Semakin hari semakin
liar saja.”
Elena : “Angelo!
Aku dijebak... kita... semalam...”
Elo : “Apa yang mau
kamu coba katakan? Kamu dijebak? Jelas-jelas kamu yang jebak aku! Untung aku
melakukannya dengan Riri!”
Elo merasakan Riri
mencengkram kemejanya saat Elo berteriak pada Elena. Tubuh Riri gemetar dalam
pelukan Elo.
Elena : “Tidak!!
Harusnya sama aku... bukan dia... gadis ******!!”
Elo : “Jangan sebut
dia begitu! Kamu yang ******!”
Elena : “Akan
kuhancurkan kamu, gadis sialan!”
Plak! Sebuah
tamparan membuat Elena tersungkur, sepatu yang dipakainya sampai lepas dan
pakaiannya sobek. Mama Ratna sudah tidak tahan lagi mendengar teriakan Elena.
Mama Ratna : “Angelo,
bawa Riri pergi. Cepat!”
Elo menuntun Riri
masuk ke dalam mobil, ia masih menunggu kalau-kalau mamanya kesulitan menangani
Elena. Elena bangkit dengan cepat berusaha mengejar Elo dan Riri. Ia tidak
peduli dengan keadaannya yang hampir telanjang.
Mama Ratna : “Security! Bring Elena to her room! Oh my gosh! Dia bahkan hampir telanjang.
Mau apa gadis ini? Dia sudah menghancurkan masa depannya sendiri.”
Dua body guard
menarik tangan Elena dan membawanya ke kamarnya. Gadis itu masih meronta dan
berteriak histeris. Mama Ratna hampir menyusul Elena ketika Heru keluar sambil
bersenandung.
Heru : “Nyonya
besar... Tugas saya sudah selesai, jangan lupa transferannya.”
Mama Ratna : “Kerjamu
bagus, tapi sepertinya sedikit berlebihan.”
Heru : “Keponakan
Anda terus meminta pada saya, bagaimana saya bisa menolaknya?”
Mama Ratna : “Sisanya
sudah ditransfer. Kau sudah tahu apa yang bisa kulakukan kalau kamu tidak menurut,
kan?”
Heru : “Saya hanya
mengikuti perintah Anda, Nyonya Besar. Saya permisi, selamat siang.”
Heru keluar mansion
dan berpapasan dengan Elo yang menatapnya tak percaya. Mereka memang mirip,
hanya saja Heru lebih pendek dari Elo dengan rambut kecoklatan.
Heru : “Selamat
siang, tuan muda, nona muda.” Heru membungkuk pada Elo dan Riri.
Elo : “Kamu Heru?”
Heru : “Siap
melayani tuan muda. Silakan masuk ke dalam mobil. Selamat jalan.”
Elo masuk ke dalam
mobil dan duduk disamping Riri yang masih menunduk ketakutan. Perlahan mobil
meluncur membawa mereka menuju bandara. Sementara Heru menghampiri mobilnya
sendiri dan pergi dari mansion.
Flash back end...
*****
Elo mencium tangan
Riri dan mengecup kening gadis itu.
Elo : “Jangan
memikirkan apapun selain pernikahan kita. Kau sudah jadi calon istriku
sekarang. Perlindungan dari pengawal keluargaku juga akan berlaku untukmu. Kamu
tenang saja ya.”
Riri : “Iya, kak.”
Riri bersandar pada
Elo yang mengatur kursinya agar mereka bisa tidur dengan nyaman.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1