
Arnold sedang mengelap keringat dengan lengannya, ia mengambil air
minum dan meneguk habis isinya. Aktifitasnya kali ini cukup menguras tenaga dan
ototnya. Tapi tubuh bagian bawahnya masih merasa sangat bugar. Arnold kembali
melakukan apa yang sejak tadi ia lakukan.
Arnold : “Hosh, hosh, hah, hah…!
Cindy : “Ayo, terus sayang. Kau sangat kuat…”
Entah mendengar kata-kata Cindy atau memang Arnold masih bersemangat,
Arnold terus menggerakkan tubuhnya hingga batas maksimal. Arnold terduduk di
atas karpet mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, Cindy tersenyum melemparkan
handuk pada Arnold untuk menyeka keringatnya.
Ponsel Arnold berdering, ia mengambilnya dari dalam tas dan melihat
nama Rara muncul disana,
Arnold : “Halo, Ra? Ada apa?”
Rara : “Kak, maaf ganggu. Kakak sibuk gak?”
Arnold : “…tunggu bentar, Ra.”
Arnold menoleh menatap Cindy yang duduk di sampingnya, merapikan
bajunya yang agak berantakan.
Arnold : “Cin, ambilkan aku air…”
Cindy : “Hmm, siapa yang telpon sich?”
Arnold : “Cuma temen..”
Suara Arnold yang berat dan sesekali mendesah membuat Rara curiga,
sedang apa sebenarnya Arnold saat ini. Apalagi mendengar suara wanita di dekat
Arnold. Lebih sakit lagi ketika mendengar Arnold mengatakan kalau Rara cuma
teman.
Rara : “Kak, sepertinya aku ganggu ya.”
Arnold : “Gak sih, aku uda selesai juga. Kamu kenapa nelpon?”
Rara : “Rara cuma mau tahu kakak kapan wisudanya?”
Arnold : “Masih sebulan lagi, nanti aku kirim undangannya ke kamu ya.”
Rara : “Loh, kok ke Rara, kak? Itu kan untuk orang tua kakak.”
Arnold : “Papaku sudah bilang tidak bisa datang, biasa urusan
pekerjaan. Kamu datang aja sama mamamu.”
Rara : “Nanti Rara coba Tanya mama dulu ya, kak…”
Cindy : “Arnold, ayo dong. Kita lanjutkan lagi.”
Arnold : “Iya, bentar dulu sabar… Ra, aku harus pergi. Nanti telpon
lagi ya. Bye.”
Rara menatap layar ponselnya, Mia memandangnya heran. Rara sedang
bersama Mia di kantor Alex, ia duduk di meja Mia sementara Mia menyelesaikan
pekerjaan praktek kerjanya. Sepulang kuliah tadi, Rara terus saja mengganggu
__ADS_1
Mia dengan menanyakan hadiah apa yang cocok untuk wisuda.
Mia : “Ra, kenapa? Arnold bilang apa?”
Rara : “Kak Arnold bilang kita cuma temen…”
Mia : “Hah?! Maksudnya?”
Rara cemberut, sebenarnya ia senang karena Arnold mengundangnya saat
wisuda nanti, tapi pikiran Rara tidak bisa fokus. Ia masih memikirkan siapa
wanita yang tadi bersamanya dan suara mendesah yang terkadang di dengarnya dari
sisi Arnold.
Mia bingung dengan sikap Rara, tapi ia tidak bisa menanyakan detail
karena Alex sudah menunggunya menyelesaikan untuk mb Sopia. Ketika akhirnya
pekerjaan Mia selesai, ia menoleh menatap Rara yang galau,
Mia : “Ra, mama mau ke ruang kerja papa. Rara mau disini atau sekalian
nunggu disana?”
Rara : “Rara ikut mama dech.”
Mereka berjalan ke ruang kerja Alex, asisten Alex tersenyum menyapa
Mia dan Rara. Ia meminta mereka masuk karena Alex sudah menunggu,
Mia : “Pak, ini laporan yang bapak minta.”
Alex : “Rara kenapa?”
Mia menoleh pada Rara yang berjalan ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya
disana, memasang tampang merajuk,
Mia : “Abis nelpon Arnold, trus sekarang galau. Ntar aku yang nanya,
Alex : “Coba tanya sana, sambil aku cek laporan ini.”
Mia duduk disamping Rara dan mulai bertanya pelan-pelan. Rara
menceritakan percakapannya tadi dengan Arnold termasuk suara-suara aneh yang ia
dengar. Ia bicara sedikit berbisik, takut papanya mendengarkan mereka.
Alex melihat dua perempuan kasak-kusuk di depannya seperti bergosip
sesuatu yang sangat rahasia. Sebenarnya ia kepo, tapi ia menahan dirinya karena
Mia pasti cerita padanya juga. Setidaknya Rara tidak akan galau lagi kalau
sudah bicara dengan calon mamanya itu.
Mia : “Sayang, untuk saat sekarang kalian kan memang masih berteman.
Tapi bukan berarti nantinya akan berkembang jadi sesuatu yang lebih, kan. Dan
untuk suara lain itu, mungkin saja Arnold lagi olahraga.”
Rara : “Rara gak berani ambil kesimpulan, mah. Ntar sakit hati lagi
kayak yang dulu.”
Mia : “Memangnya selama beberapa hari ini kalian
banyak ngobrol tentang apa?”
Rara : “Gak tahu dan gak jelas, mah. Semua ngalir
gitu aja, Rara nanya dia jawab seperlunya, Dia nanya Rara juga jawab
__ADS_1
seperlunya. Tapi anehnya mah, kami selalu punya banyak bahan buat ngobrol.
Makanya setiap telpon, pasti berjam-jam.”
Mia : “Aih, tekor pulsa dong.”
Rara : “Ih, mama jangan kayak emak-emak pelit
dech.”
Mia : “Hahaha... bukan gitu, lagi PMS ya nak?
Sensi amat.”
Rara : “Hahaha... mama...” Rara memeluk erat Mia
yang masih tertawa.
Alex terusik dengan suara keduanya, ia ikutan
tertawa meskipun tidak tahu apa yang sedang mereka tertawakan.
Rara : “Mah, kayaknya papa mulai gila, itu ketawa
sendiri.”
Mia : “Hush, papa lagi ngetawain kita tau. Jadi
masih galau nich?”
Rara :
“Biarin aja dah. Tapi Rara berharap sich kalau bakalan ditembak kak Arnold.”
Mia : “Kamu suka banget sama dia?”
Rara : “He eh... “
Mia : “Cepet banget kamu gede ya, Ra.Uda mulai
suka lawan jenis.”
Rara : “Lah, mama juga sama kan... apa kata
nenek... kebelet kawin...”
Mia menggelitiki Rara yang tertawa terbahak-bahak
karena berhasil menggoda Mia hingga wajahnya memerah. Lagi-lagi Alex tertawa,
melihat kelakuan anak dan calon istrinya. Kalau ditambah si kembar, bisa-bisa
suara tawa mereka terdengar sampai lobby.
-------
Terima
kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga
baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan
Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat
like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama
tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik
vote.
Dukungan
__ADS_1
kalian sangat berarti untuk author.
--------