Duren Manis

Duren Manis
chapter three - kabar buruk dan kabar baik


__ADS_3

Kami. ibu, bapak, nana dan aku sedang menikmanti kue brownis buatan ibu. Kalian tau, rasanya sangat enak, aku yakin, jika ibu menjual brownis ini pasti akan laku terjual. Memang ibu sangat pandai memasak, karena ibu lulusan SMK jurusan tata boga. Sejak dulu ibu bercita cita membuka toko kue, tapi sampai sekarang belum tercapai. ibu bilang itu tidak masalah, karena ibu yakin suatu saat nanti ibu bisa membuka toko kue buatannya sendiri.


Menikmat indahnya matahari tenggelam, bersama dengan keluarga adalah hal terbaik yang pernah ada. Aku bersyukur masih memiliki keluarga yang masih utuh, tidak pernah terpikir aku merasakan hal yang paling terindah dalam hidupku. Kebahagian keluargaku. Tawa mereka adalah semangat ku. Tangis mereka adalah dukaku. Kami selalu melewati semua cobaan hidup dengan bersama-sama. Dengan saling mendukung satu sama lain. Saling menguatkan. Akan membuat keluarga kami. Keluarga yang paling bahagia didunia ini. Hidup miskin bukan masalah. Yang terpenting adalah hidup dengan orang-orang yang kita cintai.


Disinilah kami, di atap rumah, atau banyak yang menyebutnya dengan rooftop. Tempat yang paling kami sukai jika sedang berkumpul. Tempat dimana aku sering menikmati hamparan langit, ditaburi dengan bintang-bintang dan bulan. Rumah kami memang memiliki dua lantai. Tidak terlalu mewah, amat sangat sederhana. Terkadang ibu sering menjadikan rooftop ini sebagai tempat menjemur pakaian. Terkadang juga tidak. Ibu lebih sering menjemurnya dibawah. Dia bilang terlalu lelah jika harus naik turun tangga. Memang usia ibu sudah tidak muda lagi. Sering ia mengeluhkan lututnya yang nyeri. Yang bisa aku lakukan hanya meringankan rasa sakitnya. memijat kakinya. terkadang juga adikku nana yang memijat kaki ibu jika aku sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah.


Entah mengapa hari ini bapak terlihat berbeda. Ia tersenyum. Tapi dibalik senyuman nya ada sesuatu yang ia sembunyikan. Wajahnya tampak murung. Semangat dimatanya sedikit meredub. Tak biasanya bapak terlihat seperti ini. Ingin kutanyakan. Tapi aku takut membuat suasana hati bapak jadi lebih tidak enak. Tapi mungkin bukan aku saja yang menyadarinya. Ibu juga. Lewat isyarat mata ibu bertanya. Aku hanya menggeleng tidak tau.


" pak ". Wajah murung bapak seketika hilang ketika ibu memanggilnya, dengan senyum paksa. Bapak melihat kearah ibu. Aku tau itu, dimatanya. Mengisyaratkan kesedihan. Senyumnya yang simpul. Menutupi sesuatu.


" ya ?"


" bapak kenapa, tidak biasanya bapak terlihat murung. Bapak sakit? ".


Bapak tidak berani menatap mata ibu. Ia memalingkan wajahnya kearah lain. Sedikit, ku tahu. Mata bapak berkaca-kaca. Seperti menahan tangis. Bapak tak menjawab pertanyaan ibu. Ia sibuk memikirkan sesuatu.


"bapak kalau ada masalah coba cerita ke ibu"


Bapak menangis.


Ia menangis. Walau tak ada isakan. Aku tau ia sedang terpukul akan suatu hal. Ibu mencoba membujuk bapak. Bapak menarik napas dalam-dalam. Meskipun masih ada setetes air mata di pipinya.


" bu maafin bapak ". Aku mengeryit bingung. Kenapa bapak meminta maaf.


" maaf kenapa pak, cerita ke ibu. Bapak kenapa?". Entahlah, ibu terlihat bingung. Tak mengerti apa yang bapak maksud.


Bapak seperti menguatkan dirinya untuk mengatakan sesuatu kepada kami, entah apa itu. Sepertinya bukan kabar baik.


" bapak dipecat dari perkerjaan bu, pak wira memecat bapak ". Kalimat itu melucur sukses dari mulut bapak. Ibu dan aku sangat terkejut. Dipecat?. Itu mustahil. Bapak sudah berkerja lama dengan pak wira. Tidak mungkin bapak bisa dipecat.


" bagaimana bisa pak "


" seseorang mengfitnah bapak. Bapak difitnah telah mencuri uang pak wira. Padahal sama sekali bapak tidak pernah mencuri. Tadi pagi pak wira menelpon bapak.ia menyuruh bapak untuk menyelesaikan pondasi gedung yang bapak bangun. Disitu bapak tidak sendiri ada 10 pegawai yang membantu. Ketika bapak sedang istirahat makan siang. Bapak kebelet ke kamar kecil, akhirnya bapak mencari toilet umum. Ketika kembali, bapak sudah dihadang oleh pak wira, ia marah- marah kepada bapak. Ia mengatakan kalau bapaklah yang telah mecuri uangnya. Disitu bapak mencoba menjelaskan. Tapi pak wira, tak mau percaya. Dia sudah memeriksa semua tas karyawan, tas bapak juga. Dan pak wira menemukannya di tas bapak. Demi Allah, sama sekali bapak tidak pernah mencuri bu. Bapak juga tidak tau siapa yang menaruh uang itu di tas bapak "


" ibu percaya kok sama bapak. udah pak jangan dipikirin. mungkin ini sudah kehendak dari yang Maha Kuasa "


" siti juga percaya kok sama bapak " ujarku menyemangati bapak


Tega sekali orang yang telah mengfitnah bapak. Hanya karena persaingan yang tidak sehat. Bapak menjadi korbannya. Ibu mencoba menenangkan bapak. Ibu memeluk bapak. Mengusap-usap punggung bapak. Sama seperti ketika ibu menenangkanku ketika sedang bersedih.


" udah pak. Ikhlasin aja, ibu yakin nanti bapak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan bapak sebelumnya. ayo sekarang kita masuk. Udah mau maghrib. Kita sholat berjamaah. Berdo'a sama Allah agar dimudahkan segala urusan kita". Kami semua masuk kedalam rumah. Bapak sudah tidak terlihat sedih lagi. Bahkan terlihat lebih bersemangat lagi


Mungkin ini waktunya aku harus mencari pekerjaan sampingan untuk membantu perekonomian keluargaku. Entah pekerjaan apa, yang terpenting halal. Dan akan membawa berkah dikemudian hari.


Besok aku akan bertanya pada teman-temanku. Mungkin saja mereka tau. Tempat yang sedang membutuhkan karyawan. Yang bisa bekerja paruh waktu. Aku bisa bekerja setelah pulang sekolah.





Esoknya,


Usai kegiatan sekolah berakhir. Aku mendapatkan informasi dari karin temanku jika ada caffe yang sedang membutuhkan karyawan. Caffe cai hong ( caffe pelangi ). Tak jauh dari rumah. Aku segera kesana. Bersepeda.


Kemarin malam seseorang mengatarkan sepedaku yang telah diperbaiki. Bahkan lebih enak (saat dipakai ). Ku kayuh pedalku. Menuju kesana. Hari mulai sore. Langit tampah cerah. Tak ada mendung. Caffe yang aku datangi cukup ramai. Banyak anak muda disana. Aku sedikit mengenal mereka. Satu angkatan denganku. Aku tak ragu. Ku parkir sepedaku didepan caffe. Meneguhkan hati masuk kesana. Aku memang belum mengatakannya kepada ibu dan bapak.


Aku masih mengenakan seragam sekolah. Masuk kesana. Banyak sekali yang memandangku. Tapi aku tak peduli. Aku bertanya pada mbak-mbak kasir.


" mbak permisi "


" iya dek?"


" katanya caffe ini sedang membutuhkan pegawai. Apa saya bisa mendaftarkan "


Mbak-mbak kasir itu terlihat berpikir. Memandangku dari atas ke bawah. Ia tersenyum. Aku tak tau apa maksud senyuman itu.


" kebetulan belum ada yang mendaftarkan. Adek bisa bekerja disini. Mungkin. Hanya sebagai waitres. Tak apa kan?"


Waitres?. Tidak buruk. Aku segera menutujuinya. Lagi pula, ini bukan pekerjaan yang sulit.

__ADS_1


" tidak apa mbak, saya mau ".


Mbak-mbak itu memanggil rekannya. Mbak - mbak juga. Menyuruh nya mengantarkan ku bertemu pemilik caffe. Kami menuju lantai tiga. Disana ruangan pemilik caffe. Dia mengetuk pintu ruangan. Seorang pria membuka nya. Terlihat masih muda. Sekitar 25 tahunan. Berwajah tionghoa. Lengkap dengan mata sipit. Berkulit putih. Hindung mancung. Bibir tipis merah. Sangat ganteng. Tapi dia tidak bisa mengalahkan ketampanan pak rendy. Eh, kenapa malah aku memikirkan nya. Lupakan.


" ada apa put?"


" ini pak, ada yang mau mendaftar menjadi pegawai disini ". Ujarnya. Pria itu mengajakku masuk. Mbak- mbak itu pergi. Dia menyuruh duduk. Mungkin aku akan di interview.


" adek yakin ingin bekerja disini ". Dia menilaiku. Dari atas ke bawah. Persis seperti mbak-mbak tadi.


Aku mengangguk mantap," iya pak"


" saya belum pernah menerima pegawai yang masih sekolah. Tapi tak masalah. Asal adek bisa bekerja dengan baik. Saya bisa menerima adek disini "


" nama adek siapa "


" Siti nur hayati pak. Nama panggilan siti "


" Nama saya Daniel zhang, adek bisa panggil saya kak daniel atau kakak aja. Karena saya masih muda, masa dipanggil pak, nanti saya kelihatan tua dong " ujarnya setengah bercanda, aku hanya menanggapinya dengan senyuman simpul.


" umur siti berepa?, alamatnya dimana "


" 17 tahun. Alamat jln. Semanggi no. 2 "


Ada berbagai pertanyaan yang kak daniel berikan. Aku menjawabnya dengan benar. Dia juga bertanya mengenai keahlianku. Dia terkesan. Bahkan dia tidak hanya menerimaku sebagai waitres. Dia memberiku pekerjaan lain. Meracik kopi. kak daniel benar-benar orang yang baik.


Aku bisa bekerja di sana mulai besok. Aku cukup senang akan hal itu. Kak daniel bahkan tidak masalah jika aku hanya bekerja ketika pulang sekolah saja. Dia bahkan mengatakan kepada ku jika pampilanku cukup menarik. Upahnya juga lumayan. Aku pun pulang. Bahagia itu yang aku rasakan. Bisa membantu kedua orang tuaku. Aku akan mengatakan kepada mereka nanti.





" bu, pak ".


Saatnya aku mengatakan hal itu. Semoga mereka memberiku ijin bekerja. Tak ingin merepotkan mereka terus. Ini keinginanku sendiri. Bapak juga baru kehilangan pekerjaannya. Setidaknya aku bisa membantu perekonomian keluarga.


Gugup. Itu yang aku rasakan. Takut tidak mendapatkan restu. Aku harus bisa. Harus bisa meyakinkan mereka. Aku meremas sendok makanku kuat kuat. Menarik napas dalam-dalam. Meneguhkan hati.


" bu, pak. Aku diterima bekerja "


1 detik. 2 detik. Mereka tak merespon. Mereka diam. Memandangku. Dengan tatapan heran.


Nana, dia cuek aja. Aku berkeringat dingin. Mereka menatapku. Tatapan kesedihan. Itu yang ku tau.


" maaf " kalimat itu yang terlontar dari mulut bapak. Dia terlihat sedih.


" maaf, kalau seandainya bapak tidak dipecat kamu tidak perlu bekerja "


Aku menghela napas sebentar. Mencoba tersenyum kepada mereka. Aku menjelaskan baik - baik. Jika ini keinginanku sendiri. Tak ada sangkut pautnya dengan pemecatan bapak. Sedikit demi sedikit. Aku menjelaskan. Mereka mengerti. Mereka mengijinkanku. Asal tak mengganggu sekolahku. Tidak masalah. Aku harus bisa membagi waktuku dengan baik. Pagi sekolah. Sore sampai malam bekerja. Bersyukur disekolah menerapkan sistem fullday. Jadi tak perlu ada PR. Itu memang sudah seharusnya.


Kami menyelesaikan makan malam kami, dengan diiringi canda tawa. Adikku, nana. Dia bilang pada bapak jika aku habis terjatuh kemarin. Bapak memang tidak tau karena kemarin aku memakai baju lengan panjang. Untuk menutupi lukaku. Aku sudah memperingatkan nana agar ia tidak mengadu ke bapak. Memang dasarnya ia mempunyai mulut ember. Tidak bisa menjaga rahasia sama sekali.


Bapak. Ia bertanya kepada ku. Kenapa aku bisa terjatuh. Ketika mau menjawab. Nana menyela. Aku sedikit kesal kepadanya. " kak siti habis nabrak mobil pak " itu yang dia katakan. Bapak sangat terkejut. Dia bertanya apa aku baik-baik saja. Aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja.


Ibu juga mengadu ke bapak jika mobil yang aku tabrak adalah mobil pak rendy. Dia terkejut. " pak rendy guru kamu smp?" tanya nya. Aku hanya mengangguk. Sempat ia bertanya pada ku. Bukannya pak rendy pindah ke hongkong?. Aku mengatakan pada bapak jika pak rendy pindah ke sini lagi karena ia harus mengurus perusahaan nya yang ada disini. Itu yang aku katakan kepada bapak.


" Dia sudah punya anak?" tanya bapak, ibu juga ingin tau akan hal itu.


" sudah "


" benarkah?, laki laki atau perempuan "


" laki laki. Itu kata pak rendy "


Entahlah. Tiba-tiba aku tak ingin membicarakannya. Mood ku tak enak. Setelah makan. Aku pamit pergi ke kamar. Mengunci pintu. Lalu merebahkan diri diranjang. Memeluk guling. Seharusnya tadi tak ada topik tentangnya. Jujur, aku tak mau membahasnya. Tak tau karena apa. Cemburu?. Mungkin.


Sudahlah. Lebih baik aku beristirahat. Aku juga tak ingin berlarut larut mengharapkannya. Menerimaku. Maksud ku. Menerima cintaku. Cinta?. Memang benar aku mencintainya. Terlalu dalam. Hingga berakar kuat dihati. Sulit untuk dihilangkan. Namanya juga cinta pertama.


__ADS_1




Sibuk. Itulah aku sekarang. Setelah pulang sekolah aku langsung pergi ke caffe. Untuk bekerja. Aku tak langsung pulang kerumah. Karena itu akan memakan waktu. Jadi, aku langsung tancap gas pergi ke caffe. Mengayuh sepeda pergi kesana. Pemilik caffe menyediakan seragam khusus. Aku bisa mengganti seragam sekolahku dengan seragam caffe. Jadi tak ada yang tau jika aku masih sekolah.


Hari pertama bekerja cukup melelahkan bagiku. Mondar mandir kesana kemari mengantarkan pesanan pengunjung. Malam ini caffe benar benar ramai di datangi pengunjung. Dari mulai remaja-remaja yang asik nongkrong. Suami istri, sepasang kekasih dan masih banyak lagi. Sedikit lelah memang. Tapi tak apalah. Demi keluarga aku harus bisa. Semangat


Mbak saya pesan ini


Ini enak nggak mbak


ayam goreng 1 ya mbak sama jus jeruk


Nasi goreng 2, jus alpukat 2


Tumis ayam kangkung 1 mbak


Mie kuah nggak pakai bawang ya


Capcay 1 mbak


Bla bla bla


Aku sibuk mencatat pesanan. Macam macam makanan yang mereka pesan. Sedikit membuat ku kualahan. Tapi masih bisa aku atasi. Karena aku tak sendiri. Ada mbak fera yang membantu. Dia pegawai tetap caffe. 1 tahun bekerja disana. Pengalamannya cukup baik. Dia mengajarkanku sedikit trik saat membawa pesanan banyak. Membawa dengan kedua tangan. Sangat sulit. Aku tak bisa. Mbak fera memakluminya. Aku memang pegawai baru. Belajar hal baru. Sedikit memakan waktu.


Aku berjalan menuju dapur. Memberikan catatan pesanan pada juru masak. Mas bagas. Dia juga salah satu pekerja tetap caffe. Sudah 2 tahun dia bekerja dicaffe. Dia benar benar ahli dalam memasak. Skillnya cukup mempunih.


Siti, tolong antarkan makanan ini untuk meja nomor 3 lantai 1


Baik


Aku kembali ke depan untuk mengantarkan makanan. Lonceng caffe berbunyi. Itu artinya ada pengunjung datang. Aku melihat siapa yang datang. Seorang pria dan anak kecil. Mungkin mereka ayah dan anak. Mereka menuju lantai 2 memilih tempat duduk di dekat jendela. Tempat yang paling sering dipilih oleh beberapa pengunjung. Karena bisa melihat pemandangan jalan raya yang ramai.


Aku menghampiri mereka. Menanyakan apa yang ingin mereka pesan. Aku tak bisa melihat jelas wajah pria itu. Karena dia asik berbicara dengan anaknya, mungkin. Tapi suaranya seperti tidak asing bagiku.


" permisi, anda ingin pesan apa ya?, disini kami memiliki beberapa menu baru ". Aku memberikannya sebuah buku menu.


Dia menerimanya, " terima kasih "


Dia berpikir. Mungkin bingung memilih menu. Setelah 2 menit berlangsung. Akhirnya dia memilih makanan yang mereka inginkan.


" saya pesan 1 capcay, sama kopi aja mbak. Anak papa mau makan apa hemm?" dia bertanya pada anak laki lakinya. Bocah kecil itu sedang asik berpikir. Ekspresinya yang lucu membuat ku ingin mencubit kedua pipinya yang gembul itu.


" apie mau atan ini pa "(rafie mau makan ini pa) gaya bicaranya yang sedikit cadel. Membuat ku ingin tertawa. Benar benar sangat lucu. Dia menunjukkan sebuah gambar. Itu makanan pedas.


" tidak boleh sayang. Ini pedas, yang lain saja ya." bocah laki laki itu terlihat cemberut.


" ihh, potoknya apie intin makan ini " bocah itu terlihat kesal. (Ihh, pokok rafie ingin mkan ini)


Pria itu terlihat membujuknya agar tidak memakan makanan pedas," dengerin papa, nanti kalau rafie udah besar. Rafie boleh makan ini. Sekarang rafie masih kecil. Nanti sakit perut kalau makan ini "


"umhh. Yautdah deh, apie tayak papa aja" (umhh. Yaudah deh rafie kayak papa aja) akhirnya bocah laki laki itu menuruti apa kata pria itu. Benar-benar suami idaman.


" yaudah mbak, capcay 2 ya. Minumnya kopi sama susu "


Aku mencatatnya dengan baik. Dia memberikan buku menu itu kepada ku. Aku menerimanya. Tak sengaja aku menatap wajah pria itu. Dan pria itu juga sama menatapku. Yang paling membuat ku terkejut adalah. Dia?


" pak rendy! "


" siti! "





TBC...


terima kasih buat kalian yang sudah membaca... jangan lupa like dan comment ya.. biar author lebih semangat menulis cerita ini😊😊😊❤

__ADS_1


__ADS_2