Duren Manis

Duren Manis
Diujung tanduk


__ADS_3

Riri melengos duduk


di ruang keluarga, ia masih menggenggam ponselnya dan masih menunggu chat dari Elo.


Tadi penjahit datang dan sibuk mengukur badannya lagi, tampak baju pengantin


Riri sudah siap di sudut ruangan. Riri bahkan tidak antusias dengan


pernikahannya lagi sekarang.


Mia mengantar


penjahit yang sudah menyelesaikan seragam untuk pernikahan Riri, keluar rumah.


Ia kembali masuk dan duduk di samping Riri.


Mia : “Masih galau,


sayang?”


Riri : “Iya, mah.


Mas Elo gak seperti biasanya, kalau kami ada masalah, dia pasti chat Riri


duluan.”


Mia : “Selalu Elo


yang duluan?”


Riri : “Iya, mah.”


Mia mengelus kepala


Riri,


Mia : “Coba Riri


yang chat duluan.”


Riri : “Bilang apa?”


Mia : “Tanya saja


sudah makan atau belum.”


Riri : “Kalo gak


dijawab gimana, mah?”


Mia : “Ya, sabar.


Kamu kan cinta sama dia. Ayo cepat chat.”


Riri mengetik


sesuatu di kolom chat Elo, ia benar-benar menanyakan apa Elo sudah makan atau


belum. Riri melihat chatnya langsung terbaca, dan layar ponselnya tiba-tiba


berdering nyaring. Elo calling,


Mia : “Cepat


angkat.”


Riri : “Ha...


halo...”


Elo : “Halo, Ri.


Aku belum makan.”


Riri : “Kenapa,


mas? Ini sudah lewat jam makan siang.”


Elo : “Aku gak


selera makan. Kamu... masih marah?”


Riri : “Nggak, mas.”


Elo : “Maaf ya, aku


khilaf, Ri.”


Riri : “Mas...


mungkin mas gak perlu nunggu.”


Elo : “Maksudmu?”


Elo deg-degan menunggu


kata-kata Riri berikutnya. Ia belum memahami arah pembicaraan mereka.


Riri : “Kalau mas


mau... itu...”


Riri harus menarik


nafasnya untuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.


Elo : “... itu?”


Riri : “Ntar, mas.


Riri pindah ke atas dulu. Disini banyak orang.”


Riri melesat ke


kamarnya, meninggalkan Mia yang senyum-senyum sendiri. Mia mendengar bayinya


menangis dan bergegas masuk ke kamarnya juga.


Sampai di kamar Riri,


ia menutup pintu dan duduk diatas ranjangnya,


Riri : “Mas...”


Elo : “Ya,


sayang...”


Riri : “Itu...


kalau mas mau itu... gak pa-pa.”


Elo : “Itu apa ya?


Mas beneran gak ngerti.”


Elo bingung


sendiri, apa karena ini efek belum makan siang? Otaknya gak mau bekerja


mencerna kata-kata Riri.


Elo : “Kayaknya

__ADS_1


karena aku belum makan. Bisa kamu jelasin lagi?”


Riri : “Kalau mas


mau malam pertama, Riri gak pa-pa!”


Hening. Elo sampai


hampir menjatuhkan ponselnya mendengar kata-kata Riri. Wajah Riri merona


mendengar kata-kata yang diucapkannya tadi.


Elo : “Ri... aku


gak pa-pa nunggu sampai kamu lulus kuliah. Yang tadi pagi itu...”


Riri : “Mas, Riri


ngerti kok dari sejak mas minta cium. Cepat lambat pasti bakalan kesitu juga.”


Elo : “Ri...”


Riri : “Mas, aku


gak pa-pa. Tapi mas jangan buat aku hamil dulu ya.”


Elo : “Ri, kamu


masih marah ya?”


Riri : “Nggak, mas.”


Elo : “Apa boleh


aku kesana? Ke rumahmu?”


Riri : “Iya.


Tapi...”


Elo : “Tapi apa, Ri?


Mau oleh-oleh apa?”


Riri : “Mas makan


dulu ya. V-call, aku mau lihat mas makan. Baru boleh ke rumah.”


Elo berlari keluar


dari kamarnya dan menuruni tangga dengan hati-hati. Ia memanggil Pak Kim yang


datang dengan cepat.


Pak Kim : “Ya, tuan


muda.”


Elo : “Siapkan


makanan. Apa saja. 5 menit jadi?”


Pak Kim : “Baik,


tuan muda.”


Pak Kim masuk ke


dapur dan keluar dengan cepat membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk


pauknya. Elo sudah duduk di meja makan, ia meletakkan ponselnya di meja sudah


tersambung v-call dengan Riri.


Elo : “Pak Kim


nasi dengan telur saja.”


Pak Kim : “Maaf,


tuan muda. Itu makan siang saya. Tapi saya belum menyentuhnya. Koki sudah


menyiapkannya tadi.”


Elo : “Waduh, nanti


Pak Kim makan apa?”


Pak Kim : “Masih


ada di dapur, tuan muda. Silakan makan.”


Pak Kim melihat


Riri melambaikan tangannya dari ponsel dan membungkuk padanya. Saat Elo tidak


melihatnya karena sibuk makan, Pak Kim mengacungkan jempolnya pada Riri yang


dibalas senyuman manis.


Sungguh Pak Kim


hampir memanggil dokter karena Elo menolak sarapan dan makan siangnya. Hanya


Riri yang bisa membujuk Elo untuk makan.


Elo : “Pak Kim


makan saja dulu. Saya mau ke rumah Riri habis makan.”


Pak Kim : “Baik,


tuan muda.”


Sekali lagi Riri dadah-dadah


pada Pak Kim yang juga dadah-dadah padanya. Langkah ringan dan senandung Pak


Kim berjalan ke dapur membuat Elo menatapnya sambil tersenyum.


Elo : “Kamu nich,


bukan cuma menawan hatiku tapi semua orang di rumah ini.”


Riri : “Ach, mas


gombal.”


Elo : “Beneran loh.


Kau membuat Pak Kim yang dingin jadi lebih santai. Kakek pernah cerita waktu


Pak Kim denger kamu diculik waktu itu, ia langsung minta ijin khusus untuk


menolongmu. Padahal kata kakek waktu itu Pak Kim sedang bersama kakek main


catur dan kakek gak suka di sela kalo lagi main catur.”


Riri : “Yah, Pak


Kim dimarahin kakek dong.”


Elo : “Anehnya

__ADS_1


kakek gak marah tuch. Demi kamu, Riri. Kakek jadi royal. Mama lebih banyak


tersenyum. Pelayan di rumah ini juga sering bicara hal baik tentangmu.”


Riri : “Mas, jangan


ngomong lagi. Cepetan makannya, keburu masuk angin loh.”


Elo : “Iya, iya. Nanti


aku dapet apa?”


Riri : “Maksud,


mas?”


Elo : “Aku kan uda


jadi anak baik, harus dapet sesuatu dong.” Elo menunjuk pipi dan bibirnya.


Riri : “Mas...!”


Wajah Riri merona melihat Elo menggodanya.


Elo : “Hehe... malu


ya.”


Riri : “Mas iihh,


jangan bikin Riri jantungan dong.”


Elo : “Iya maaf, sugarku.”


Riri : “Apaan tuch?”


Elo : “Karena kamu


manis aku panggil sugarku.”


Riri tidak


mengatakan apa-apa lagi, wajahnya merona sampai ia harus menyembunyikan


wajahnya dibalik bantal. Elo menghabiskan makanannya dengan cepat, ia


menghabiskan air di gelasnya dan bersiap ke rumah Riri.


*****


Tante Dewi berjalan


cepat memasuki rumah Elena, ia menghardik pelayan dengan kasar karena terlalu


lama membuka pintu. Elena yang sedang duduk di meja bar, melirik kedatangan


ibunya itu tanpa komentar.


Tante Dewi menyodorkan


undangan pernikahan Elo dan Riri yang entah ia curi dari mana. Elena mengambil


undangan itu dan melemparkannya ke lantai.


Tante Dewi : “Apa


kau sudah gila?! Mama susah payah mendapatkan undangan itu untukmu.”


Elena : “Kenapa aku


harus datang?”


Tante Dewi : “Kau


harus mengacaukan pernikahan itu atau Angelo akan jadi milik orang lain.”


Elena : “Sudahlah,


ma. Aku masih bisa merebutnya nanti. Santai saja.”


Tante Dewi : “Lakukan


sesuatu! Hancurkan gadis liar itu. Elena, kau dengar mama.”


Elena : “Mah,


berhenti berteriak atau kau akan membangunkan om Brian.” Elena menutup mulut


ibunya dengan cepat.


Tante Dewi : “Dia


disini?”


Elena : “Iya. Dan


aku harus melayani dia lagi kalau mama tidak bisa diam.”


Tante Dewi : “Sampai


kapan dia akan menyokongmu? Apa dia membelikanmu rumah ini?”


Elena : “Ya dan ini


belum jadi rumahmu. Masih atas nama dia.”


Tante Dewi : “Kenapa


gitu? Rumah ini harus atas namamu.”


Elena : “Aku harus


menikah dengannya, ma.”


Tante Dewi : “Menikah


saja dengan dia.”


Elena : “Dia tidak


pernah serius mengajakku menikah, ma.” Elena meneguk minumannya lagi.


Tante Dewi : “Kalau


gitu, kejar saja Angelo. Mama yakin dia masih mencintaimu.”


Elena : “Heh! Aku


gak mau, mah. Tante Ratna masih menyimpan videoku.”


Brian : “Video apa?”


Elena menatap sosok


Brian yang sudah keluar dari kamar, wajah Elena pucat seketika.


🌻🌻🌻🌻🌻


Nah lo, Elena


hampir ketahuan om Brian nich. Gimana nasibnya selanjutnya ya?


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2