
Riri melengos duduk
di ruang keluarga, ia masih menggenggam ponselnya dan masih menunggu chat dari Elo.
Tadi penjahit datang dan sibuk mengukur badannya lagi, tampak baju pengantin
Riri sudah siap di sudut ruangan. Riri bahkan tidak antusias dengan
pernikahannya lagi sekarang.
Mia mengantar
penjahit yang sudah menyelesaikan seragam untuk pernikahan Riri, keluar rumah.
Ia kembali masuk dan duduk di samping Riri.
Mia : “Masih galau,
sayang?”
Riri : “Iya, mah.
Mas Elo gak seperti biasanya, kalau kami ada masalah, dia pasti chat Riri
duluan.”
Mia : “Selalu Elo
yang duluan?”
Riri : “Iya, mah.”
Mia mengelus kepala
Riri,
Mia : “Coba Riri
yang chat duluan.”
Riri : “Bilang apa?”
Mia : “Tanya saja
sudah makan atau belum.”
Riri : “Kalo gak
dijawab gimana, mah?”
Mia : “Ya, sabar.
Kamu kan cinta sama dia. Ayo cepat chat.”
Riri mengetik
sesuatu di kolom chat Elo, ia benar-benar menanyakan apa Elo sudah makan atau
belum. Riri melihat chatnya langsung terbaca, dan layar ponselnya tiba-tiba
berdering nyaring. Elo calling,
Mia : “Cepat
angkat.”
Riri : “Ha...
halo...”
Elo : “Halo, Ri.
Aku belum makan.”
Riri : “Kenapa,
mas? Ini sudah lewat jam makan siang.”
Elo : “Aku gak
selera makan. Kamu... masih marah?”
Riri : “Nggak, mas.”
Elo : “Maaf ya, aku
khilaf, Ri.”
Riri : “Mas...
mungkin mas gak perlu nunggu.”
Elo : “Maksudmu?”
Elo deg-degan menunggu
kata-kata Riri berikutnya. Ia belum memahami arah pembicaraan mereka.
Riri : “Kalau mas
mau... itu...”
Riri harus menarik
nafasnya untuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
Elo : “... itu?”
Riri : “Ntar, mas.
Riri pindah ke atas dulu. Disini banyak orang.”
Riri melesat ke
kamarnya, meninggalkan Mia yang senyum-senyum sendiri. Mia mendengar bayinya
menangis dan bergegas masuk ke kamarnya juga.
Sampai di kamar Riri,
ia menutup pintu dan duduk diatas ranjangnya,
Riri : “Mas...”
Elo : “Ya,
sayang...”
Riri : “Itu...
kalau mas mau itu... gak pa-pa.”
Elo : “Itu apa ya?
Mas beneran gak ngerti.”
Elo bingung
sendiri, apa karena ini efek belum makan siang? Otaknya gak mau bekerja
mencerna kata-kata Riri.
Elo : “Kayaknya
__ADS_1
karena aku belum makan. Bisa kamu jelasin lagi?”
Riri : “Kalau mas
mau malam pertama, Riri gak pa-pa!”
Hening. Elo sampai
hampir menjatuhkan ponselnya mendengar kata-kata Riri. Wajah Riri merona
mendengar kata-kata yang diucapkannya tadi.
Elo : “Ri... aku
gak pa-pa nunggu sampai kamu lulus kuliah. Yang tadi pagi itu...”
Riri : “Mas, Riri
ngerti kok dari sejak mas minta cium. Cepat lambat pasti bakalan kesitu juga.”
Elo : “Ri...”
Riri : “Mas, aku
gak pa-pa. Tapi mas jangan buat aku hamil dulu ya.”
Elo : “Ri, kamu
masih marah ya?”
Riri : “Nggak, mas.”
Elo : “Apa boleh
aku kesana? Ke rumahmu?”
Riri : “Iya.
Tapi...”
Elo : “Tapi apa, Ri?
Mau oleh-oleh apa?”
Riri : “Mas makan
dulu ya. V-call, aku mau lihat mas makan. Baru boleh ke rumah.”
Elo berlari keluar
dari kamarnya dan menuruni tangga dengan hati-hati. Ia memanggil Pak Kim yang
datang dengan cepat.
Pak Kim : “Ya, tuan
muda.”
Elo : “Siapkan
makanan. Apa saja. 5 menit jadi?”
Pak Kim : “Baik,
tuan muda.”
Pak Kim masuk ke
dapur dan keluar dengan cepat membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk
pauknya. Elo sudah duduk di meja makan, ia meletakkan ponselnya di meja sudah
tersambung v-call dengan Riri.
Elo : “Pak Kim
nasi dengan telur saja.”
Pak Kim : “Maaf,
tuan muda. Itu makan siang saya. Tapi saya belum menyentuhnya. Koki sudah
menyiapkannya tadi.”
Elo : “Waduh, nanti
Pak Kim makan apa?”
Pak Kim : “Masih
ada di dapur, tuan muda. Silakan makan.”
Pak Kim melihat
Riri melambaikan tangannya dari ponsel dan membungkuk padanya. Saat Elo tidak
melihatnya karena sibuk makan, Pak Kim mengacungkan jempolnya pada Riri yang
dibalas senyuman manis.
Sungguh Pak Kim
hampir memanggil dokter karena Elo menolak sarapan dan makan siangnya. Hanya
Riri yang bisa membujuk Elo untuk makan.
Elo : “Pak Kim
makan saja dulu. Saya mau ke rumah Riri habis makan.”
Pak Kim : “Baik,
tuan muda.”
Sekali lagi Riri dadah-dadah
pada Pak Kim yang juga dadah-dadah padanya. Langkah ringan dan senandung Pak
Kim berjalan ke dapur membuat Elo menatapnya sambil tersenyum.
Elo : “Kamu nich,
bukan cuma menawan hatiku tapi semua orang di rumah ini.”
Riri : “Ach, mas
gombal.”
Elo : “Beneran loh.
Kau membuat Pak Kim yang dingin jadi lebih santai. Kakek pernah cerita waktu
Pak Kim denger kamu diculik waktu itu, ia langsung minta ijin khusus untuk
menolongmu. Padahal kata kakek waktu itu Pak Kim sedang bersama kakek main
catur dan kakek gak suka di sela kalo lagi main catur.”
Riri : “Yah, Pak
Kim dimarahin kakek dong.”
Elo : “Anehnya
__ADS_1
kakek gak marah tuch. Demi kamu, Riri. Kakek jadi royal. Mama lebih banyak
tersenyum. Pelayan di rumah ini juga sering bicara hal baik tentangmu.”
Riri : “Mas, jangan
ngomong lagi. Cepetan makannya, keburu masuk angin loh.”
Elo : “Iya, iya. Nanti
aku dapet apa?”
Riri : “Maksud,
mas?”
Elo : “Aku kan uda
jadi anak baik, harus dapet sesuatu dong.” Elo menunjuk pipi dan bibirnya.
Riri : “Mas...!”
Wajah Riri merona melihat Elo menggodanya.
Elo : “Hehe... malu
ya.”
Riri : “Mas iihh,
jangan bikin Riri jantungan dong.”
Elo : “Iya maaf, sugarku.”
Riri : “Apaan tuch?”
Elo : “Karena kamu
manis aku panggil sugarku.”
Riri tidak
mengatakan apa-apa lagi, wajahnya merona sampai ia harus menyembunyikan
wajahnya dibalik bantal. Elo menghabiskan makanannya dengan cepat, ia
menghabiskan air di gelasnya dan bersiap ke rumah Riri.
*****
Tante Dewi berjalan
cepat memasuki rumah Elena, ia menghardik pelayan dengan kasar karena terlalu
lama membuka pintu. Elena yang sedang duduk di meja bar, melirik kedatangan
ibunya itu tanpa komentar.
Tante Dewi menyodorkan
undangan pernikahan Elo dan Riri yang entah ia curi dari mana. Elena mengambil
undangan itu dan melemparkannya ke lantai.
Tante Dewi : “Apa
kau sudah gila?! Mama susah payah mendapatkan undangan itu untukmu.”
Elena : “Kenapa aku
harus datang?”
Tante Dewi : “Kau
harus mengacaukan pernikahan itu atau Angelo akan jadi milik orang lain.”
Elena : “Sudahlah,
ma. Aku masih bisa merebutnya nanti. Santai saja.”
Tante Dewi : “Lakukan
sesuatu! Hancurkan gadis liar itu. Elena, kau dengar mama.”
Elena : “Mah,
berhenti berteriak atau kau akan membangunkan om Brian.” Elena menutup mulut
ibunya dengan cepat.
Tante Dewi : “Dia
disini?”
Elena : “Iya. Dan
aku harus melayani dia lagi kalau mama tidak bisa diam.”
Tante Dewi : “Sampai
kapan dia akan menyokongmu? Apa dia membelikanmu rumah ini?”
Elena : “Ya dan ini
belum jadi rumahmu. Masih atas nama dia.”
Tante Dewi : “Kenapa
gitu? Rumah ini harus atas namamu.”
Elena : “Aku harus
menikah dengannya, ma.”
Tante Dewi : “Menikah
saja dengan dia.”
Elena : “Dia tidak
pernah serius mengajakku menikah, ma.” Elena meneguk minumannya lagi.
Tante Dewi : “Kalau
gitu, kejar saja Angelo. Mama yakin dia masih mencintaimu.”
Elena : “Heh! Aku
gak mau, mah. Tante Ratna masih menyimpan videoku.”
Brian : “Video apa?”
Elena menatap sosok
Brian yang sudah keluar dari kamar, wajah Elena pucat seketika.
🌻🌻🌻🌻🌻
Nah lo, Elena
hampir ketahuan om Brian nich. Gimana nasibnya selanjutnya ya?
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).