
Dokter : “Ada beberapa kanker yang memang baru
ketahuan setelah semuanya terlambat. Maafkan saya.”
Jodi menerima hasil tes Kaori, ia mendekati Katty
yang belum sadar juga. Dokter terus memperhatikan kondisi janin di perut Katty.
Rio berdiri di samping Kaori, ia membelai wajah kekasihnya yang tampak tenang.
Rio : “Ini yang kamu bilang udah gak sakit lagi?
Kamu bilang cinta, tapi kamu ninggalin aku. Tolong maafkan aku, Kaori.
Kembalilah. Aku sangat mencintaimu.”
Hati Rio benar-benar hancur. Ia terus berdiri di
samping tubuh Kaori, memegang tangannya dan berharap ini hanyalah salah satu
keisengan Kaori padanya. Sebentar lagi Kaori akan membuka matanya dan tersenyum
jahil seperti biasanya.
Papa dan mama Katty melihat bagaimana Rio hancur
dengan kepergian Kaori. Mereka juga merasakan hal yang sama. Keduanya saling
memeluk untuk menguatkan satu sama lain.
Riri yang tiba di rumah sakit, segera mencari Rio
di UGD. Dia tidak tahu akan menemukan Rio disana, hatinya yang menunjukkan
jalan keberadaan kembarannya itu.
Riri : “Rio...”
Air mata Riri jatuh melihat tubuh Kaori sudah
terbujur kaku dihadapannya. Ia mengguncang tubuh Rio yang tak bergeming di
samping Kaori. Riri memeluk tubuh Rio dari belakang ia menangis keras di
punggung kembarannya itu.
Elo yang melihat perasaan Riri ikut hancur dengan
kematian Kaori, menelpon Mia untuk memberi tahu tentang Kaori. Mia menelpon
Alex dan langsung berangkat ke rumah sakit. Sementara Jodi menelpon Guntur untuk mengabarkan kematian Kaori.
Guntur segera berlari turun dari kantornya dan memacu kendaraannya pulang untuk
menjemput Anisa dan kakek nenek Kaori.
Suasana haru semakin jelas terasa saat Mia sampai
di rumah sakit. Rio yang tadinya hanya diam mematung dengan air mata terus
mengalir di pipinya, memeluk Mia dengan sangat erat. Riri ikut memeluk Rio yang
menumpahkan semua perasaannya pada mamanya itu.
Rio : “Kaori, mah... Dia bohong. Dia bilang mau
nikah sama aku. Kami hampir lulus, mah. Kenapa dia pergi, mah?”
Mia : “Rio... Kaori sudah gak sakit lagi, nak. Kamu
harus tegar. Dia sudah bahagia diatas sana.”
Rio : “Dia jahat, mah. Dia ninggalin Rio gitu aja.
Dia pergi seperti mama Selvi, mah.”
Alex yang mendengar nama Selvi disebut, mendekati
Rio dan meraih putranya itu dalam pelukannya.
Alex : “Tabah, nak. Kamu harus kuat. Kaori sudah
bersama mama Selvi sekarang.”
__ADS_1
Rio : “Pah...”
Tangisan Rio dan Riri semakin keras sampai akhirnya
perlahan mereda. Elo menggendong Riri untuk duduk di kursi tunggu di luar UGD.
Lili berkeliling memberikan botol air minum kepada semua orang disana. Ia duduk
di samping nonanya yang masih sesenggukan.
Dua jam sudah berlalu, suster mulai membungkus
tubuh Kaori dengan kain setelah mencabut semua alat yang menempel di tubuhnya.
Rio masih berdiri di samping Kaori, ia membantu suster merapikan rambut Kaori.
Jodi berjongkok di depan papa Katty, ia memberi
tahu kalau Kaori akan dibawa pulang sekarang juga. Dan Guntur sudah menyiapkan
semuanya untuk pemakanan Kaori di rumah papa Katty. Papa Katty hanya
mengangguk, ia melihat bed rumah sakit tempat kedua putrinya sedang berbaring.
Saat itu ia berharap dirinya yang ada di tempat Kaori.
Suasana haru kembali dirasakan keluarga Kaori saat
tubuh Kaori tiba di rumah orang tuanya. Dekorasi untuk pernikahan Katty sudah
disingkirkan berganti tenda dan kursi yang hampir penuh dengan pelayat yang
kebanyakan keluarga.
Rio mengangkat tubuh Kaori keluar dari ambulance
bersama Alex. Mereka membaringkan tubuh Kaori di tempat yang sudah disediakan.
Sebentar lagi acara memandikan jenazah Kaori segera dilaksanakan dan pemakaman
akan berlangsung sore hari.
Jodi masih menunggui Katty di rumah sakit. Hanya
sadar. Ia memegangi kepalanya yang sakit dan kembali menangis.
Katty : “Mana Kaori?”
Jodi : “Sudah dibawa pulang. Kamu gak pa-pa?”
Katty : “Antar aku pulang. Bayiku...”
Jodi : “Bayi kita gak pa-pa. Aku gendong ya. Kamu
gak boleh capek.”
Mereka bertiga segera menyusul Kaori pulang ke
rumah. Katty masih menangis di pelukan Jodi,
Katty : “Dia sakit apa, Jodi?”
Jodi : “Ada kanker ganas di kepalanya. Rio sudah
cerita kalau akhir-akhir ini Kaori sering mimisan. Tapi Kaori bilang dia
kecapen karena nungguin papa di rumah sakit.”
Katty : “Kenapa anak itu gak ke dokter? Apa dia
takut bayar mahal?”
Jodi : “Kaori ke rumah sakit sendiri. Dia gak
bilang sama siapa-siapa termasuk Rio. Rio tadi cerita kalau beberapa hari ini
mereka menginap bersama karena Kaori mengeluh tidak bisa tidur nyenyak di malam
hari.”
Katty : “Mereka nginep?”
Jodi : “Iya, tapi Rio bersumpah kalau mereka hanya
__ADS_1
tidur, tidak melakukan apa-apa. Rio pikir kondisi Kaori sudah mulai membaik,
tapi ternyata dia malah pergi karena tidak kuat menahan sakitnya.”
Katty : “Kasihan Rio. Anak itu pasti hancur.”
Jodi : “Dia menangis terus selama dua jam. Aku
belum pernah melihat rasa cinta sebesar itu. Kaori beruntung bisa menjadi
kekasih Rio walau hanya sebentar.”
Mereka sampai di rumah Katty saat Kaori sedang di
mandikan. Jodi menggendong Katty sampai ke depan tempat memandikan Katty, ia
meminta Mia dan Rara menuntun Katty karena laki-laki tidak boleh masuk kesana.
Jodi duduk bersama Rio, Alex dan Arnold. Rio masih
sesenggukan dan menatap ke depan dengan tatapan kosong. Jodi menepuk pundak Rio
dan memintanya berganti baju dulu. Rio melangkah dengan gontai masuk ke kamar
Kaori.
Ia duduk di tempat tidur Kaori dan mengusap-usap
bantal Kaori. Tubuhnya meluncur turun ke samping tempat tidur Kaori dan kembali
menangis sangat menyedihkan.
Kaori : “Sayang...”
Rio menoleh dengan cepat, ia melotot melihat sosok
Kaori duduk di sampingnya. Wajah Kaori terlihat bersinar dengan pakaian serba
putih, rambutnya hitam panjang terurai tidak terikat seperti biasanya.
Kaori : “Jangan nangis lagi dong. Rio-ku kan kuat.”
Rio : “Kamu kenapa pergi?”
Kaori : “Aku selalu disini, gak pergi kemana-mana.”
Kaori menyentuh dada Rio,
Kaori : “Sampai kapanpun aku gak akan pergi dari
kamu, Rio.”
Rio : “Kalau gitu bangun dong. Bilang sama semua
orang kalau ini cuma prank.”
Kaori : “Aku gak bisa, Rio. Aku kesakitan, disini,
disini.”
Kaori menunjuk kepala dan dadanya.
Kaori : “Tapi sekarang udah gak sakit lagi.”
Rio : “Ya, wajahmu gak pucat lagi. Cantik. Boleh
aku cium?”
Kaori : “Kamu selalu gitu ya. Merem dech.”
Rio memejamkan matanya dan hembusan angin menyadarkan
keberadaannya. Rio melihat sekeliling kamar Kaori, sekilas ia merasa sedang
bermimpi tadi. Rio mengusap air matanya, ia mengganti baju kaosnya dengan
kemeja hitam yang biasa ia pakai kuliah.
*****
#Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1