Duren Manis

Duren Manis
Selamat tinggal kekasih


__ADS_3

Dokter : “Ada beberapa kanker yang memang baru


ketahuan setelah semuanya terlambat. Maafkan saya.”


Jodi menerima hasil tes Kaori, ia mendekati Katty


yang belum sadar juga. Dokter terus memperhatikan kondisi janin di perut Katty.


Rio berdiri di samping Kaori, ia membelai wajah kekasihnya yang tampak tenang.


Rio : “Ini yang kamu bilang udah gak sakit lagi?


Kamu bilang cinta, tapi kamu ninggalin aku. Tolong maafkan aku, Kaori.


Kembalilah. Aku sangat mencintaimu.”


Hati Rio benar-benar hancur. Ia terus berdiri di


samping tubuh Kaori, memegang tangannya dan berharap ini hanyalah salah satu


keisengan Kaori padanya. Sebentar lagi Kaori akan membuka matanya dan tersenyum


jahil seperti biasanya.


Papa dan mama Katty melihat bagaimana Rio hancur


dengan kepergian Kaori. Mereka juga merasakan hal yang sama. Keduanya saling


memeluk untuk menguatkan satu sama lain.


Riri yang tiba di rumah sakit, segera mencari Rio


di UGD. Dia tidak tahu akan menemukan Rio disana, hatinya yang menunjukkan


jalan keberadaan kembarannya itu.


Riri : “Rio...”


Air mata Riri jatuh melihat tubuh Kaori sudah


terbujur kaku dihadapannya. Ia mengguncang tubuh Rio yang tak bergeming di


samping Kaori. Riri memeluk tubuh Rio dari belakang ia menangis keras di


punggung kembarannya itu.


Elo yang melihat perasaan Riri ikut hancur dengan


kematian Kaori, menelpon Mia untuk memberi tahu tentang Kaori. Mia menelpon


Alex dan langsung berangkat ke rumah sakit. Sementara Jodi menelpon  Guntur untuk mengabarkan kematian Kaori.


Guntur segera berlari turun dari kantornya dan memacu kendaraannya pulang untuk


menjemput Anisa dan kakek nenek Kaori.


Suasana haru semakin jelas terasa saat Mia sampai


di rumah sakit. Rio yang tadinya hanya diam mematung dengan air mata terus


mengalir di pipinya, memeluk Mia dengan sangat erat. Riri ikut memeluk Rio yang


menumpahkan semua perasaannya pada mamanya itu.


Rio : “Kaori, mah... Dia bohong. Dia bilang mau


nikah sama aku. Kami hampir lulus, mah. Kenapa dia pergi, mah?”


Mia : “Rio... Kaori sudah gak sakit lagi, nak. Kamu


harus tegar. Dia sudah bahagia diatas sana.”


Rio : “Dia jahat, mah. Dia ninggalin Rio gitu aja.


Dia pergi seperti mama Selvi, mah.”


Alex yang mendengar nama Selvi disebut, mendekati


Rio dan meraih putranya itu dalam pelukannya.


Alex : “Tabah, nak. Kamu harus kuat. Kaori sudah


bersama mama Selvi sekarang.”

__ADS_1


Rio : “Pah...”


Tangisan Rio dan Riri semakin keras sampai akhirnya


perlahan mereda. Elo menggendong Riri untuk duduk di kursi tunggu di luar UGD.


Lili berkeliling memberikan botol air minum kepada semua orang disana. Ia duduk


di samping nonanya yang masih sesenggukan.


Dua jam sudah berlalu, suster mulai membungkus


tubuh Kaori dengan kain setelah mencabut semua alat yang menempel di tubuhnya.


Rio masih berdiri di samping Kaori, ia membantu suster merapikan rambut Kaori.


Jodi berjongkok di depan papa Katty, ia memberi


tahu kalau Kaori akan dibawa pulang sekarang juga. Dan Guntur sudah menyiapkan


semuanya untuk pemakanan Kaori di rumah papa Katty. Papa Katty hanya


mengangguk, ia melihat bed rumah sakit tempat kedua putrinya sedang berbaring.


Saat itu ia berharap dirinya yang ada di tempat Kaori.


Suasana haru kembali dirasakan keluarga Kaori saat


tubuh Kaori tiba di rumah orang tuanya. Dekorasi untuk pernikahan Katty sudah


disingkirkan berganti tenda dan kursi yang hampir penuh dengan pelayat yang


kebanyakan keluarga.


Rio mengangkat tubuh Kaori keluar dari ambulance


bersama Alex. Mereka membaringkan tubuh Kaori di tempat yang sudah disediakan.


Sebentar lagi acara memandikan jenazah Kaori segera dilaksanakan dan pemakaman


akan berlangsung sore hari.


Jodi masih menunggui Katty di rumah sakit. Hanya


sadar. Ia memegangi kepalanya yang sakit dan kembali menangis.


Katty : “Mana Kaori?”


Jodi : “Sudah dibawa pulang. Kamu gak pa-pa?”


Katty : “Antar aku pulang. Bayiku...”


Jodi : “Bayi kita gak pa-pa. Aku gendong ya. Kamu


gak boleh capek.”


Mereka bertiga segera menyusul Kaori pulang ke


rumah. Katty masih menangis di pelukan Jodi,


Katty : “Dia sakit apa, Jodi?”


Jodi : “Ada kanker ganas di kepalanya. Rio sudah


cerita kalau akhir-akhir ini Kaori sering mimisan. Tapi Kaori bilang dia


kecapen karena nungguin papa di rumah sakit.”


Katty : “Kenapa anak itu gak ke dokter? Apa dia


takut bayar mahal?”


Jodi : “Kaori ke rumah sakit sendiri. Dia gak


bilang sama siapa-siapa termasuk Rio. Rio tadi cerita kalau beberapa hari ini


mereka menginap bersama karena Kaori mengeluh tidak bisa tidur nyenyak di malam


hari.”


Katty : “Mereka nginep?”


Jodi : “Iya, tapi Rio bersumpah kalau mereka hanya

__ADS_1


tidur, tidak melakukan apa-apa. Rio pikir kondisi Kaori sudah mulai membaik,


tapi ternyata dia malah pergi karena tidak kuat menahan sakitnya.”


Katty : “Kasihan Rio. Anak itu pasti hancur.”


Jodi : “Dia menangis terus selama dua jam. Aku


belum pernah melihat rasa cinta sebesar itu. Kaori beruntung bisa menjadi


kekasih Rio walau hanya sebentar.”


Mereka sampai di rumah Katty saat Kaori sedang di


mandikan. Jodi menggendong Katty sampai ke depan tempat memandikan Katty, ia


meminta Mia dan Rara menuntun Katty karena laki-laki tidak boleh masuk kesana.


Jodi duduk bersama Rio, Alex dan Arnold. Rio masih


sesenggukan dan menatap ke depan dengan tatapan kosong. Jodi menepuk pundak Rio


dan memintanya berganti baju dulu. Rio melangkah dengan gontai masuk ke kamar


Kaori.


Ia duduk di tempat tidur Kaori dan mengusap-usap


bantal Kaori. Tubuhnya meluncur turun ke samping tempat tidur Kaori dan kembali


menangis sangat menyedihkan.


Kaori : “Sayang...”


Rio menoleh dengan cepat, ia melotot melihat sosok


Kaori duduk di sampingnya. Wajah Kaori terlihat bersinar dengan pakaian serba


putih, rambutnya hitam panjang terurai tidak terikat seperti biasanya.


Kaori : “Jangan nangis lagi dong. Rio-ku kan kuat.”


Rio : “Kamu kenapa pergi?”


Kaori : “Aku selalu disini, gak pergi kemana-mana.”


Kaori menyentuh dada Rio,


Kaori : “Sampai kapanpun aku gak akan pergi dari


kamu, Rio.”


Rio : “Kalau gitu bangun dong. Bilang sama semua


orang kalau ini cuma prank.”


Kaori : “Aku gak bisa, Rio. Aku kesakitan, disini,


disini.”


Kaori menunjuk kepala dan dadanya.


Kaori : “Tapi sekarang udah gak sakit lagi.”


Rio : “Ya, wajahmu gak pucat lagi. Cantik. Boleh


aku cium?”


Kaori : “Kamu selalu gitu ya. Merem dech.”


Rio memejamkan matanya dan hembusan angin menyadarkan


keberadaannya. Rio melihat sekeliling kamar Kaori, sekilas ia merasa sedang


bermimpi tadi. Rio mengusap air matanya, ia mengganti baju kaosnya dengan


kemeja hitam yang biasa ia pakai kuliah.


*****


#Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2