Duren Manis

Duren Manis
Semoga bahagia


__ADS_3

Semoga bahagia


Ijab hampir dimulai. Petugas yang berwenang


sudah siap di depan Dion dan Lili. Dion menjabat tangan sepupu laki-laki Lili


yang mengucapkan sebaris kalimat. Dion menjawabnya dengan lantang dan tegas.


Kelegaan muncul diwajah sepupu Lili ketika pada saksi mengatakan sah. Mereka


berdoa bersama dan dikejutkan dengan kedatangan Pak Brian.


Suasana hikmat menjadi riuh ketika Pak


Brian berjalan lurus mendekati Elena yang tampak kikuk dan langsung menjambak


rambutnya. “Aaaarrgghh!!”jerit Elena kesakitan. Para body guard pak Brian


menghalangi setiap orang yang ingin mengambil video atas kejadian itu. Elena


terduduk di lantai tempat pesta itu dengan tubuh gemetaran.


“Tuan Angelo, maaf atas ketidak sopanan


saya datang kesini seperti ini. Tapi saya harus mendisiplinkan wanita ini


sekarang juga.”kata Pak Brian sambil menjabat tangan Elo.


“Silakan saja, Tuan Brian. Wanita licik itu


sudah membuat kami menderita. Silakan lakukan apa yang pantas buat dia.”kata


Elo dengan ramah.


Pak Brian menjentikkan tangannya, dua buket


bunga hadir di hadapannya. Pak Brian memberikan bunga mawar putih untuk Riri


dan memujinya secantik bunga itu.


“Terimalah ini, Nyonya Angelo. Anda


secantik bunga ini. Pantas saja tuan Angelo sangat mencintai anda.”


Riri menerima bunga itu setelah Elo


mengangguk agar Riri menerima bunga itu. Pak Brian beranjak ke hadapan kedua


pengantin. Ia menjabat tangan Dion dan memberikan bunga satu lagi untuk Lili.


Bunga itu bukan bunga sembarangan karena terbuat dari mata uang negara itu.


“Terimalah bunga ini, Nyonya Dion. Saya


minta maaf karena mengganggu acara pernikahan kalian.”


“Tidak apa-apa, Tuan Brian. Kenapa tuan


tidak bergabung dengan kami?”ajak Dion ramah.


“Saya masih ada urusan lainnya. Kapan-kapan


kita bisa makan siang bersama. Semoga pernikahan kalian bahagia.”


Pak Brian berpamitan dan pergi dari sana


sambil menjambak rambut Elena. Elo memalingkan wajahnya saat Elena berteriak


memanggil namanya. Ia tersenyum pada Riri sambil mencium tangannya.


“Wah, seru banget. Akhirnya Elena dapet


balasannya!”teriak Rio di samping Gadis yang terkejut mendengarnya tiba-tiba


berteriak.


“Siapa sich Elena itu?”tanya Gadis kepo.


“Dia itu sepupu kak Elo. Pengen nikah sama


kak Elo. Pokoknya jahat banget dech. Riri sampe hampir celaka gara-gara

__ADS_1


dia.”jelas Rio singkat sambil memeluk Gadis lagi. Gadis manggut-manggut, mereka


kembali fokus menonton acara pernikahan Lili dan Dion.


Melihat Lili terus menatap bunga pemberian


Pak Brian, Dion manyun ngambek. “Sayang, suamimu ada disini, kenapa kamu


ngliatin bunga itu terus?”


“Apa ini uang beneran?”Lili ingin membuka


satu, tapi takut bunganya akan rusak.


“Ya. Iyalah. Pak Brian itu orang yang


sangat kaya. Milyader. Sudah pasti ini asli.”


“Wow! Orang kaya enak ya. Bagi-bagi duit


gampang banget.”


“Kamu nyesel gak nikah sama orang kaya?!”


Lili menoleh mendengar suara Dion yang ketus. Ia tersenyum malu sendiri dan


celingukan ke kanan dan ke kiri. Semua orang sedang sibuk sendiri dengan


hiburan yang sedang berlangsung sekarang.


Dengan cepat Lili menarik hoodie Dion dan


mencium suaminya itu. Ketika Lili ingin melepas ciuman mereka, Dion malah


menahan tengkuk Lili. Keduanya asyik berciuman sampai fotografer berdehem di


depan mereka. Deretan para tamu bersorak riuh melihat pengantin yang asyik


sendiri.


Mereka melanjutkan sesi foto bersama dan


dilanjutkan dansa. Dion berdecih karena harus berdansa. Ia paling benci jadi


dansa pertama. Perlahan Lili menyentuh hoodie Dion dan ingin menurunkannya.


“Kamu mau apa?”tanya Dion.


“Hanya sekali ini saja. Aku ingin menciummu


dengan hoodie terbuka. Tapi tidak apa kalau kamu tidak nyaman, suamiku.” Lili


melepaskan tangannya dari hoodie Dion dan merangkul tengkuk Dion.


Dion menurunkan hoodie-nya dengan cuek. Ia


ingin melihat pengantinnya tersenyum terus hari ini. Tidak peduli orang akan


menatapnya dengan jijik. Perasaan seperti itu sudah ia rasakan sejak lama.


Semua itu akan terhapus ketika melihat Lili tersenyum padanya.


Lili mendekat saat melihat Dion melepas


hoodie-nya. Ia menarik tengkuk Dion dan mencium suaminya lagi sambil tersenyum


bahagia. “Terima kasih, suamiku. Aku sangat bahagia memilikimu.”


“Aku juga, istriku. Malam ini bersiaplah,


aku tidak akan membiarkanmu tidur.”bisik Dion.


“Oh, sayang. Kau sangat nakal.”


Keluarga Alex mengucapkan selamat atas


pernikahan Lili dan Dion dan mengakhiri tele-conference saat itu juga.


“Ayo kita tidur.”kata Alex sambil mematikan


TV.

__ADS_1


Alex melihat Rio dan Gadis naik ke lantai


2, ia berdehem sebentar dan kembali mengingatkan Rio tentang pembicaraan mereka


di kantor tadi. Rio mengangguk cepat sambil memegang kedua telinganya. Ia naik


duluan ke lantai 2, sementara Gadis menyusulnya sambil tersenyum malu.


“Emangnya apa yang terjadi, mas?”tanya Mia


ketika mereka sudah ada di dalam kamar.


“Itu, mereka berdua kepergok berduaan di


ruang pribadiku di kantor. Rio kayaknya hampir mau melakukan itu, sayang. Kan


kasian Gadis baru habis keguguran.”


“Oh, gitu. Mas kasian sama Gadis sampe


marahin Rio ceritanya. Trus mas gak inget gitu waktu aku juga habis keguguran,


mas ngapain?”


Alex pura-pura berpikir sebelum nyengir


lebar. Dia juga gak sabaran membuat Mia hamil lagi setelah keguguran waktu itu.


Bahkan memaksa melakukannya karena kelamaan puasa. “Aku kan beda, sayang.”


“Apa bedanya? Sama aja mesumnya aku lihat.”


Alex menunduk malu sendiri. Ia melihat Mia


ingin mengganti pakaiannya dengan baju tidur. “Yank...”


“Hmm?”


“Sini dech. Aku mau ngecek sesuatu.”


Mia yang tidak curiga, mendekati Alex yang


memasang wajah serius. Alex meminta Mia berbaring dan melepas sisa penutup


tubuhnya. Mia menatap Alex yang mengamati tubuhnya, “Mas mau ngecek apa sich?


Aku kedinginan nich.”


“Tadi di kantor, aku denger Gadis ngeluarin


suara aneh gitu. Aku pengen tau bagian mana yang dipegang Rio sampe bisa bunyi


begitu.”


“Gimana suaranya?”Mia juga ikutan penasaran


dengan suara yang dikatakan Alex. Ia diam saja saat tangan Alex mulai mencari


asal suara itu. Keheningan di kamar itu mulai menghilang bersamaan dengan Alex


yang sudah menemukan apa yang ia cari. Saat Mia menyadari semuanya, sudah


terlambat baginya untuk menolak Alex.


“Maass, tadi katanya mau ngecek aja, gak


gini juga.”


“Aku gak inget bilang akhirnya gak gini.


Jangan berisik, sayang. Ntar kedengeran yang lain.”


Alex tersenyum penuh kemenangan saat Mia


hanya pasrah mengikuti kemauannya. Setelah selesai, Mia memakai baju tidurnya


dan beranjak ke luar kamar menuju dapur. Ia melihat Gadis berdiri di depan


kulkas. “Gadis, kamu belum tidur?”


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya


author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2