
Semoga bahagia
Ijab hampir dimulai. Petugas yang berwenang
sudah siap di depan Dion dan Lili. Dion menjabat tangan sepupu laki-laki Lili
yang mengucapkan sebaris kalimat. Dion menjawabnya dengan lantang dan tegas.
Kelegaan muncul diwajah sepupu Lili ketika pada saksi mengatakan sah. Mereka
berdoa bersama dan dikejutkan dengan kedatangan Pak Brian.
Suasana hikmat menjadi riuh ketika Pak
Brian berjalan lurus mendekati Elena yang tampak kikuk dan langsung menjambak
rambutnya. “Aaaarrgghh!!”jerit Elena kesakitan. Para body guard pak Brian
menghalangi setiap orang yang ingin mengambil video atas kejadian itu. Elena
terduduk di lantai tempat pesta itu dengan tubuh gemetaran.
“Tuan Angelo, maaf atas ketidak sopanan
saya datang kesini seperti ini. Tapi saya harus mendisiplinkan wanita ini
sekarang juga.”kata Pak Brian sambil menjabat tangan Elo.
“Silakan saja, Tuan Brian. Wanita licik itu
sudah membuat kami menderita. Silakan lakukan apa yang pantas buat dia.”kata
Elo dengan ramah.
Pak Brian menjentikkan tangannya, dua buket
bunga hadir di hadapannya. Pak Brian memberikan bunga mawar putih untuk Riri
dan memujinya secantik bunga itu.
“Terimalah ini, Nyonya Angelo. Anda
secantik bunga ini. Pantas saja tuan Angelo sangat mencintai anda.”
Riri menerima bunga itu setelah Elo
mengangguk agar Riri menerima bunga itu. Pak Brian beranjak ke hadapan kedua
pengantin. Ia menjabat tangan Dion dan memberikan bunga satu lagi untuk Lili.
Bunga itu bukan bunga sembarangan karena terbuat dari mata uang negara itu.
“Terimalah bunga ini, Nyonya Dion. Saya
minta maaf karena mengganggu acara pernikahan kalian.”
“Tidak apa-apa, Tuan Brian. Kenapa tuan
tidak bergabung dengan kami?”ajak Dion ramah.
“Saya masih ada urusan lainnya. Kapan-kapan
kita bisa makan siang bersama. Semoga pernikahan kalian bahagia.”
Pak Brian berpamitan dan pergi dari sana
sambil menjambak rambut Elena. Elo memalingkan wajahnya saat Elena berteriak
memanggil namanya. Ia tersenyum pada Riri sambil mencium tangannya.
“Wah, seru banget. Akhirnya Elena dapet
balasannya!”teriak Rio di samping Gadis yang terkejut mendengarnya tiba-tiba
berteriak.
“Siapa sich Elena itu?”tanya Gadis kepo.
“Dia itu sepupu kak Elo. Pengen nikah sama
kak Elo. Pokoknya jahat banget dech. Riri sampe hampir celaka gara-gara
__ADS_1
dia.”jelas Rio singkat sambil memeluk Gadis lagi. Gadis manggut-manggut, mereka
kembali fokus menonton acara pernikahan Lili dan Dion.
Melihat Lili terus menatap bunga pemberian
Pak Brian, Dion manyun ngambek. “Sayang, suamimu ada disini, kenapa kamu
ngliatin bunga itu terus?”
“Apa ini uang beneran?”Lili ingin membuka
satu, tapi takut bunganya akan rusak.
“Ya. Iyalah. Pak Brian itu orang yang
sangat kaya. Milyader. Sudah pasti ini asli.”
“Wow! Orang kaya enak ya. Bagi-bagi duit
gampang banget.”
“Kamu nyesel gak nikah sama orang kaya?!”
Lili menoleh mendengar suara Dion yang ketus. Ia tersenyum malu sendiri dan
celingukan ke kanan dan ke kiri. Semua orang sedang sibuk sendiri dengan
hiburan yang sedang berlangsung sekarang.
Dengan cepat Lili menarik hoodie Dion dan
mencium suaminya itu. Ketika Lili ingin melepas ciuman mereka, Dion malah
menahan tengkuk Lili. Keduanya asyik berciuman sampai fotografer berdehem di
depan mereka. Deretan para tamu bersorak riuh melihat pengantin yang asyik
sendiri.
Mereka melanjutkan sesi foto bersama dan
dilanjutkan dansa. Dion berdecih karena harus berdansa. Ia paling benci jadi
dansa pertama. Perlahan Lili menyentuh hoodie Dion dan ingin menurunkannya.
“Kamu mau apa?”tanya Dion.
“Hanya sekali ini saja. Aku ingin menciummu
dengan hoodie terbuka. Tapi tidak apa kalau kamu tidak nyaman, suamiku.” Lili
melepaskan tangannya dari hoodie Dion dan merangkul tengkuk Dion.
Dion menurunkan hoodie-nya dengan cuek. Ia
ingin melihat pengantinnya tersenyum terus hari ini. Tidak peduli orang akan
menatapnya dengan jijik. Perasaan seperti itu sudah ia rasakan sejak lama.
Semua itu akan terhapus ketika melihat Lili tersenyum padanya.
Lili mendekat saat melihat Dion melepas
hoodie-nya. Ia menarik tengkuk Dion dan mencium suaminya lagi sambil tersenyum
bahagia. “Terima kasih, suamiku. Aku sangat bahagia memilikimu.”
“Aku juga, istriku. Malam ini bersiaplah,
aku tidak akan membiarkanmu tidur.”bisik Dion.
“Oh, sayang. Kau sangat nakal.”
Keluarga Alex mengucapkan selamat atas
pernikahan Lili dan Dion dan mengakhiri tele-conference saat itu juga.
“Ayo kita tidur.”kata Alex sambil mematikan
TV.
__ADS_1
Alex melihat Rio dan Gadis naik ke lantai
2, ia berdehem sebentar dan kembali mengingatkan Rio tentang pembicaraan mereka
di kantor tadi. Rio mengangguk cepat sambil memegang kedua telinganya. Ia naik
duluan ke lantai 2, sementara Gadis menyusulnya sambil tersenyum malu.
“Emangnya apa yang terjadi, mas?”tanya Mia
ketika mereka sudah ada di dalam kamar.
“Itu, mereka berdua kepergok berduaan di
ruang pribadiku di kantor. Rio kayaknya hampir mau melakukan itu, sayang. Kan
kasian Gadis baru habis keguguran.”
“Oh, gitu. Mas kasian sama Gadis sampe
marahin Rio ceritanya. Trus mas gak inget gitu waktu aku juga habis keguguran,
mas ngapain?”
Alex pura-pura berpikir sebelum nyengir
lebar. Dia juga gak sabaran membuat Mia hamil lagi setelah keguguran waktu itu.
Bahkan memaksa melakukannya karena kelamaan puasa. “Aku kan beda, sayang.”
“Apa bedanya? Sama aja mesumnya aku lihat.”
Alex menunduk malu sendiri. Ia melihat Mia
ingin mengganti pakaiannya dengan baju tidur. “Yank...”
“Hmm?”
“Sini dech. Aku mau ngecek sesuatu.”
Mia yang tidak curiga, mendekati Alex yang
memasang wajah serius. Alex meminta Mia berbaring dan melepas sisa penutup
tubuhnya. Mia menatap Alex yang mengamati tubuhnya, “Mas mau ngecek apa sich?
Aku kedinginan nich.”
“Tadi di kantor, aku denger Gadis ngeluarin
suara aneh gitu. Aku pengen tau bagian mana yang dipegang Rio sampe bisa bunyi
begitu.”
“Gimana suaranya?”Mia juga ikutan penasaran
dengan suara yang dikatakan Alex. Ia diam saja saat tangan Alex mulai mencari
asal suara itu. Keheningan di kamar itu mulai menghilang bersamaan dengan Alex
yang sudah menemukan apa yang ia cari. Saat Mia menyadari semuanya, sudah
terlambat baginya untuk menolak Alex.
“Maass, tadi katanya mau ngecek aja, gak
gini juga.”
“Aku gak inget bilang akhirnya gak gini.
Jangan berisik, sayang. Ntar kedengeran yang lain.”
Alex tersenyum penuh kemenangan saat Mia
hanya pasrah mengikuti kemauannya. Setelah selesai, Mia memakai baju tidurnya
dan beranjak ke luar kamar menuju dapur. Ia melihat Gadis berdiri di depan
kulkas. “Gadis, kamu belum tidur?”
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya
author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.