Duren Manis

Duren Manis
Ikut ngantor


__ADS_3

Apartment Arnold, jam 09.30.


Rara terbangun karena perutnya sudah lapar. Ia mencoba duduk sambil meringis menahan sakit di bagian bawah perutnya.


Dilihatnya Arnold tidak ada di sampingnya, Rara mencoba memanggil Arnold,


Rara : "Mas...? Mas Arnold...??!!"


Tidak ada jawaban, kemana Arnold? Pelan-pelan Rara menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang. Ia ingin ke kamar mandi dan berendam air hangat.


Arnold : "Sayang, mau kemana?"


Rara menoleh melihat Arnold masuk ke kamar apartment itu. Ditangannya ada makanan yang tampaknya enak sekali.


Liur Rara hampir menetes mencium aroma makanan itu. Arnold meletakkan nampan diatas ranjang, ia berputar dan langsung membopong Rara agar duduk lagi diatas ranjang.


Arnold : "Makan dulu ya, dari tadi perutmu berbunyi terus. Habis itu mandi. Hari ini kamu mau ikut ke kantor atau aku antar pulang?"


Rara : "Ke kantor mas? Aku mau ikut."


Arnold : "Bisa jalan?" Arnold tersenyum manis, ia menatap tubuh Rara yang sebagian tertutup selimut.


Rara : "Mas, jangan lihat aku kayak gitu."


Arnold : "Kenapa malu, sayang? Tadi kau sangat hebat..."


Arnold menunduk mencium Rara, menyesapi manisnya bibir istrinya itu. Bahkan setelah malam pertama, bibir Rara tetap terasa manis.


Kruuukkk!!! Suara perut Rara menghancurkan momen romantis mereka. Rara nyengir sambil memegangi perutnya.


Arnold : "Perutmu jujur sekali ya. Ayo makan dulu."


Rara mengambil nampan yang berisi makanan dan mulai menghabiskan nasi gorengnya.


Rara : "Mas gak sarapan?"


Arnold : "Tadi uda duluan. Makan pelan-pelan ya."


Rara : "Mas, aku pakai baju apa ke kantor mas?"


Arnold : "Pilih saja baju di lemari. Pakaian dalam ada dibawah. Sepatu, tas, apapun yang kau perlukan ada semua."


Rara : "Kapan mas nyiapin semua ini?"


Arnold : "Waktu kamu mau jadi istriku. Aku pikir disini juga harus ada baju untukmu. Sudah selesai makan? Ayo mandi."


Arnold mengambil nampan dari depan Rara, ia meletakkannya di samping ranjang dan membopong Rara ke kamar mandi.


Rara melihat di dalam bathup sudah dipenuhi air hangat dengan busa sabun dan kelopak mawar.


Rara : "Wow, mas..."


Arnold : "Nikmatilah. Mau kutemani?"


Rara : "Mas keluar dulu ya. Aku bisa kok mandi sendiri."


Arnold : "Kalau gak bisa, panggil ya. Aku tunggu di luar."


Arnold keluar dari kamar mandi, ia membiarkan pintunya terbuka sedikit agar suara Rara terdengar sampai keluar.


Tak lama,


Rara : "Maass...!"


Arnold : "Iyaa... kenapa?"


Arnold masuk ke kamar mandi, ia melihat Rara celingukan mencari sesuatu. Glug! Arnold menelan liurnya melihat tubuh polos Rara yang basah.


Rara : "Mas, handuknya dimana?"


Arnold tidak konsen mendengar kata-kata Rara, pikiran kotornya sudah men-smash jauh akal sehatnya.


Bukannya mencarikan handuk, Arnold mendekati Rara dan memeluk tubuhnya yang basah.


Rara : "Mas..!! Geli...!!"


Arnold mengeringkan tubuh Rara dengan memeluknya, membuat pakaian yang dikenakannya ikutan basah.


Hampir 15 menit Arnold melakukan itu, wajah Rara sudah merah padam. Rara berjalan cepat keluar dari kamar mandi. Cepat-cepat mengambil pakaian dalam dan memakainya.

__ADS_1


Arnold berjalan mengikuti Rara, berhenti di belakangnya,


Rara : "Mas, ntar telat ngantor loh. Keburu sore."


Arnold : "Iya, ini aku mau ganti baju. Kamu mikir apa sich?"


Rara : "Habisnya mas nakal."


Arnold : "Aku nakal sama istriku sendiri, emang gak boleh. Ra, abis ini kamu mau tinggal di rumahmu atau disini?"


Rara : "Mas maunya dimana?"


Arnold : "Dirumahmu aja ya. Kalau aku ngantor, kan kamu bisa sama nenek dirumah."


Rara : "Trus kalo mau..."


Arnold : "Jangan mancing dech, cepetan pake baju. Sesekali kita nginep sini, biar leluasa."


Rara dan Arnold sama-sama tersenyum penuh arti. Mereka segera berpakaian dan berangkat ke kantor Arnold.


-------


Mia mengendarai mobil Alex menuju sebuah restauran untuk makan dulu sebelum ke kantor Alex. Ia melirik spion tengah, entah sejak kapan ada mobil hitam terus mengikutinya.


Mia menghentikan mobil di pinggir jalan. Ia berpura-pura sedang menerima telpon, dan mobil hitam itu juga berhenti. Mia mengingat nopol mobil itu dan mencatatnya.


Mia kembali menjalankan mobil, dan berhenti di sebuah restauran. Saat ia keluar dari mobil, seseorang menghampirinya, pria itu menanyakan alamat pada Mia.


Mia menjelaskan lokasi yang dimaksud dalam ponsel pria itu. Sesekali ia menunjuk kearah mana seharusnya pria itu pergi. Setelah yakin dengan jawaban Mia, pria itu mengucapkan terima kasih dan pergi dari sana.


Mia lanjut masuk ke dalam restauran dan memesan menu makan siang yang sederhana. Lagi-lagi mobil hitam itu berhenti di dekat restauran. Mia bisa melihatnya dengan jelas.


Saat Mia sedang menikmati makan siangnya yang terlambat seorang diri, seorang pria menghampirinya.


Pria B : "Maaf, boleh saya duduk disini?"


Mia : "Maaf, tidak bisa. Saya ingin makan sendiri."


Mia menatap pria itu dengan tegas sambil meraba cincin kawin di jari manisnya.


Pria B : "Oh, kau sudah menikah. Bisa kita ngobrol?"


Mia : "Saya sungguh tidak mau diganggu. Tolong pergi."


Mia : "Saya sedang tidak ingin, bisa tolong pergi saja."


Pria di depan Mia benar-benar keras kepala, akhirnya Mia mengalah dan berjalan ke kasir tanpa mempedulikan pria itu lagi.


Pria itu tidak menyerah, ia mengimbangi langkah Mia menuju mobilnya. Mia tiba-tiba berhenti berjalan,


Mia : "Silakan duluan."


Mia mengira pria itu mau ke mobilnya sendiri. Tapi pria itu malah berdiri di samping mobil Mia. Mia yang kesal, memanggil security yang berdiri di dekat sana.


Mia : "Pak, tolong. Pria ini terus mengganggu saya dari tadi. Saya curiga dia orang jahat."


Security berjalan mendekati pria itu dan mereka berbincang sejenak. Security kembali mendekati Mia,


Security : "Maaf, mb. Kata suami anda, kalian sedang bertengkar jadi anda tidak mau diganggu."


Mia : "Saya tidak kenal dia, pak. Dan saya tidak menikah dengan dia. Ini foto suami saya."


Mia memperlihatkan fotonya bersama Alex, security kembali menghampiri pria itu dan akhirnya memintanya menjauhi mobil Mia.


Mia segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


Situasi hari ini sangat aneh menurutnya. Sudah dua kali ada pria tidak dikenal bicara padanya. Belum lagi ada mobil hitam yang terus mengikutinya.


Mia sudah sampai di kantor Alex, ia disambut security yang bertugas dan langsung mengambil alih mobil Alex untuk diparkir di tempat direktur.


Resepsionis menyapa Mia dengan sopan, Mia tersenyum sebentar dan berjalan mendekati lift. Mia menunggu sebentar dan lift terbuka juga.


Lift membawa Mia ke lantai tempat ruang kerja Alex. Ia mendekati pintu ruang kerja Alex dan ingin mengetuk pintu. Tapi pintu ruangan itu tidak tertutup, Mia melihat di dalam sana, Alex sedang bersama seorang wanita.


Mia mendorong pintu ruang kerja Alex agar terbuka lebih lebar. Ia menatap keduanya yang spontan menoleh ke arah Mia. Wanita itu tampak sedang memegang tissu, membersihkan kemeja Alex yang menghitam.


Alex : Sayang, sudah datang. Mia, kenalin ini Stella, rekan bisnisku. Stella, ini Mia, istriku."


Stella berdiri tegak dan tersenyum pada Mia yang mendekat untuk menjabat tangan Stella.

__ADS_1


Stella : "Aslinya cantik banget ya. Alex sering cerita kalau pacarnya cantik dan baik. Selamat atas pernikahan kalian ya. Kalau gitu aku pamit dulu. Sampai jumpa."


Alex : "Aku gak nganter ya, Stel. Sampai jumpa."


Mia duduk di sofa, jelas sekali ia tidak terlihat senang. Alex ikut duduk di sampingnya,


Alex : "Sayang, kenapa cemberut?"


Mia : "Stella cantik ya mas."


Alex : "Kalo iya, kenapa?"


Mia : "Hmmppp.." Mia makin kesal, ia cemburu melihat Stella pegang-pegang Alex tadi.


Alex tahu kalau Mia sedang cemburu. Ia bergerak mengukung Mia yang tidak mau menatapnya.


Alex : "Sayang, kalau kamu gini terus, aku jadi kepengen loh..."


Mia : "Pengen apa?"


Alex tidak menjawab Mia, ia terus menunduk mencium Mia sedikit memaksa. Mia yang semula enggan, akhirnya balas mencium Alex.


Mereka bermesraan sampai lupa diri sedang berada di ruang kerja Alex yang sewaktu-waktu bisa saja ada orang masuk.


Benar saja, saat Alex hampir melepas kemejanya, pintu ruang kerjanya terbuka. Asistennya masuk sambil membawa beberapa lembar kertas.


Asst. Alex : "Permisi, pak. Saya..."


Asisten Alex melotot melihat penampilan Alex yang acak-acakan. Ia cukup tahu siapa yang sedang ada dibawah Alex saat itu.


Asst. Alex : "Saya cuma mau minta ttd, pak. Ini saya taruh disini. Permisi, pak."


Pintu ruang kerja Alex tertutup kembali, wajah Mia sudah merah padam. Ia mencoba mendorong Alex yang belum mau beranjak dari atas tubuhnya.


Alex : "Kita pindah, yuk."


Mia hanya bisa pasrah ditarik Alex ke dalam kamar mandi. Mereka menghabiskan setengah jam di dalam sana.


------


Diatas meja kerja Alex, tergeletak sebuah amplop coklat yang belum sempat ia buka. Seseorang mengirimkan amplop itu pada Alex saat Mia baru sampai di kantor Alex.


Asistennya meletakkannya bersama beberapa kertas yang harus di ttd Alex. Saat Alex selesai urusannya dengan Mia, ia duduk lagi di meja kerjanya dan mulai membaca kertas-kertas itu termasuk membuka amplop coklat yang dikirimkan padanya.


Rahangnya mengeras melihat beberapa foto yang ia dapatkan dari dalam amplop coklat itu. Matanya menatap Mia yang baru keluar dari kamar mandi, tampak segar dan cantik.


Mia yang sadar sedang ditatap Alex, balik menatapnya,


Mia : "Kenapa mas?"


Alex menunjukkan foto-foto Mia yang sedang berada di lobby hotel. Foto-foto itu dibuat seolah-olah Mia sedang janjian dengan seorang pria di hotel itu.


Alex : "Ini apa? Katamu tadi mau ke kampus."


Mia : "Oh, ini. Tadi aku ke hotel itu, dosen PA-ku lagi seminar disana. Waktu aku nunggu, ada pria gak jelas tiba-tiba datang dan mengira aku istrinya. Istrinya langsung datang kok, ngasi kacamata ke dia. Baru dia liat kalau aku bukan istrinya."


Alex : "Beneran?"


Mia : "Gak guna juga aku bohong, mas. Cepat lambat juga pasti ketahuan. Lagian ngapain aku selingkuh, kamu aja gak habis aku makan, mas."


Alex : "Tapi siapa yang punya kerjaan kayak gini?"


Mia : "Aku gak tahu, mas. Yang jelas dari tadi siang, ada mobil hitam yang ngikutin aku terus. Sampai direstauran juga."


Mia duduk di depan meja kerja Alex, menceritakan kejadian setelah ia mengantar Alex ke kantornya. Termasuk pria gila yang menemuinya di restauran


Alex : "Mulai sekarang, aku anter kamu kemana-mana ya. Aku khawatir ini baru permulaan aja.


Mia : "Gak usah, mas. Yang penting kamu percaya sama aku. Siapapun dalangnya, dia ingin rumah tangga kita gak tenang, mas. Kita harus temukan orang ini."


Alex meremas foto-foto itu dan melanjutkan pekerjaannya ditemani Mia.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2