
Extra part 54
“Hei! Ngapain kamu?!” teriak Alan sambil mendekati
mereka berdua.
Orang itu tidak langsung menoleh, sepertinya ia tidak
ingin wajahnya terlihat Alan. Setelah Alan cukup dekat, orang itu tiba-tiba
bangun dan menubruk tubuh Alan. Pemuda itu tersungkur dengan kepala membentur
dinding. Sedikit berkunang-kunang, Alan mencoba mengenali pria itu.
Alih-alih mengejar pria yang berlari keluar dari
ruangan yang cukup terang itu, Alan mendekati Ginara. Gadis itu terkapar di
lantai dengan kondisi yang cukup mengenaskan. Pakaiannya robek disana-sini,
terbuka lebar memperlihatkan pakaian dalamnya.
“Ginara?” panggil Alan sambil melihat sekeliling
untuk mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh Ginara.
Akhirnya Alan membuka kemejanya, ia menutupi tubuh
Ginara dengan kemeja itu sebelum memanggil Ginara lagi. Gadis itu tidak
sepenuhnya pingsan, tapi sepertinya serangan yang diterimanya cukup parah. Kedua
pipinya tampak memerah dan kedua lengannya lebam. Bahkan ada bekas cekikan di
lehernya.
“Ginara?” panggil Alan lagi. Ginara membuka matanya
perlahan, ia merintih kesakitan dan Alan bermaksud membantunya duduk.
Ketika Alan berada dalam posisi yang bisa membuat orang
salah paham, Guntur dan beberapa petugas keamanan masuk ke ruangan itu. Alan
segera diringkus karena kepergok sedang melecehkan Ginara.
“Bukan saya yang melakukan itu. Orangnya sudah
lari, om,” ucap Alan pada Guntur.
Tapi ayah Ginara itu tidak mendengarkannya, ia
melangkah mendekati Alan lalu menampar pemuda itu dengan keras.
“Aku tidak menyangka pikiranmu sangat kotor. Licik.
Kamu mendekati Ginara hanya untuk melakukan hal kotor seperti ini. Istriku
salah tentang kamu. Bawa dia ke kantor polisi,” perintah Guntur pada petugas
keamanan yang membawanya.
Alan hanya bisa diam menerima perlakuan tidak adil
itu. Setidaknya Ginara akan baik-baik saja sekarang. Tanpa memakai baju, Alan
dibawa ke kantor polisi terdekat dan ditahan disana. Petugas polisi menyusul
Guntur yang membawa Ginara ke rumah sakit terdekat untuk melakukan visum pada
gadis itu.
Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut
Alan. Pandangan matanya dingin, sedingin lantai penjara malam itu. Ia hanya
menatap kosong ke depan, seolah polisi tidak berada di depannya.
X dan Melda yang kuatir dengan keberadaan Alan yang
tak kunjung pulang, terus menelpon ke ponsel pemuda itu. Sampai polisi mulai
terganggu dengan getarannya di tas Alan, lalu mengangkat panggilan telpon itu. X
dan Melda segera menyusul Alan ke kantor polisi.
Tepat saat orang tuanya tiba di kantor polisi, Alan
sedang berjalan keluar dari sana dengan ditemani beberapa orang berpakaian
hitam. Pemuda itu memakai jubah hitam menutupi tubuhnya yang tidak memakai
baju. Alan menatap X dan Melda yang mendekatinya dan menanyakan apa yang
terjadi.
“Pa, ma, aku pergi dulu. Bos-ku sudah menjaminku
dan aku harus ke tempatnya sekarang,” kata Alan dingin. Seorang pria
berkacamata, membungkuk pada X dan Melda lalu menjelaskan apa yang terjadi pada
Alan dan Ginara. Sementara pemuda itu sudah masuk ke sebuah mobil yang langsung
membawa Alan pergi dari sana.
Melda sampai menutup mulutnya karena terkejut
dengan fitnah yang diterima Alan. X menanyakan berapa besar jaminan yang
__ADS_1
dibayar untuk membebaskan Alan dan pengacara itu menyebutkan angka yang cukup
fantastis.
“Kemana Alan dibawa pergi?” tanya X lagi.
“Tuan Alan harus menemui tuan besar kami. Mungkin
dalam beberapa hari ini tuan Alan tidak akan bisa dihubungi. Ini kartu nama
saya, tuan. Anda bisa menyampaikan pesan untuk tuan Alan lewat saya. Tuan besar
sudah mengirim perawat profesional untuk membantu menjaga nona Ginara. Saya
permisi dulu,” ucap pengacara itu sambil masuk ke satu mobil yang tersisa
disana.
X dan Melda saling pandang bingung, siapa tuan
besar yang dimaksud pengacara tadi? Andai saja Melda tahu kalau putranya juga
bekerja untuk Endy. Entah apa yang akan ia pikirkan nanti. Keduanya memutuskan
untuk menyusul Ginara ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Guntur hanya menatap
dingin kedua orang tua Alan itu ketika mereka bertemu di depan kamar rawat inap
Ginara. Anisa yang melihat Melda, menghampiri wanita itu dan menuntut tanggung
jawab Alan.
“Melda, aku salah mengira kalau Alan anak yang
baik. Apa yang terjadi pada Ginara? Aku tidak sangka Alan tega melakukannya,”
kata Anisa sambil menahan emosinya.
Melda mencoba menenangkan Anisa dan mengatakan ada
kesalahpahaman disini. Wanita itu meyakinkan Anisa kalau Alan adalah anak yang
sangat bertanggung jawab. X juga mengatakan akan menyelidiki masalah ini dengan
teliti.
“Kalau sampai Alan terbukti bersalah, aku sendiri
yang akan menghukumnya,” kata X tegas.
Melda ingin melihat keadaan Ginara yang sudah
selesai di rawat. Polisi juga sudah mendapatkan hasil visum untuk memproses
disana. Ia membantu menyampaikan beberapa kemungkinan tentang DNA pelaku yang
mungkin menempel pada tubuh Ginara.
Seorang perawat berpakaian khusus tampak berdiri
menunggui Ginara di sisi tempat tidurnya. Melda bertanya pada Anisa, siapa
perawat itu.
“Tadi dia datang dan bilang kalau Alan yang mengirimnya.
Orang yang mengantarnya bilang kalau Alan sudah dibebaskan dan saat ini masih
mengurus hal lain tentang pekerjaannya. Sebenarnya anakmu itu kerjanya apa?”
tanya Anisa.
“Aku juga tidak tahu, Nis. Anak itu selalu tertutup
soal pekerjaannya. Tadi waktu aku ketemu dia di rumah sakit, anak itu bilang
kalau ia harus ketemu dengan bos-nya dulu. Tapi aku yakin, Alan pasti kembali
secepatnya,” kata Melda sambil menatap perawat misterius itu.
Ginara tampak bergerak dalam tidurnya, ia tidak
sengaja menarik selang infus yang langsung ditahan oleh perawat. Rintihan
kesakitan terdengar dari mulut Ginara yang sepertinya sedang bermimpi buruk.
Anisa dan Melda mendekati bed Ginara, mereka melihat perawat itu memeriksa
keadaan Ginara dan mengambil suntikan dari dalam laci. Setelah menyuntik Ginara
dengan suntikan itu, perlahan Ginara kembali tertidur pulas tanpa gangguan.
“Kamu kasih obat apa ke anak saya?” tanya Anisa
kuatir.
“Ini obat penenang dosis rendah, Nyonya. Agar nona
Ginara bisa tidur lebih nyenyak. Dalam sejam, pengaruh obatnya akan hilang,”
kata perawat itu dengan tenangnya.
Anisa memegangi kepalanya yang sakit, ia hampir
jatuh namun ditahan Melda dengan cepat. Bersama perawat itu, Melda membawa
Anisa duduk di sofa besar yang ada di dalam kamar rawat inap Ginara. Setelah
__ADS_1
memeriksa keadaan Anisa, perawat itu menawarkan vitamin untuk Anisa. Tapi
wanita itu menolaknya.
Setelah X bicara dengan polisi, ia kembali
mendekati Guntur. Kedua pria dewasa itu hanya saling menatap dingin tanpa
bicara. Guntur memang tidak mengatakan apa-apa, tapi jelas kekecewaan tampak di
matanya. X memaklumi perasaan seorang ayah yang anak perempuannya sedang
tertimpa musibah.
Tring! Ponsel X berbunyi, seseorang mengirimkan rekaman
CCTV yang menunjukkan kalau ada orang lain yang keluar dari ruangan tempat
Ginara diserang. Tring! Tring! Potongan rekaman CCTV itu lengkap terkirim mulai
dari Alan yang menemukan tas kecil, berjalan sambil mencari sesuatu, kemudian
masuk ke ruangan yang menyala, seseorang keluar dari ruangan itu, dan kedatangan
Guntur bersama beberapa orang.
Guntur yang melihat rekaman CCTV itu, ikut menonton
bersama X. Keduanya saling pandang lalu bergegas masuk ke kamar rawat inap
Ginara.
“Melda!” panggil X.
“Nisa!” panggil Guntur.
Kedua wanita itu menoleh bersamaan menatap para
suami mereka yang kompak memanggil. Guntur mengatakan kalau ia akan kembali ke
kantor mengecek rekaman CCTV dan X akan ikut bersamanya. X memberikan kunci
mobilnya pada Melda, agar istrinya itu bisa pulang duluan.
“Ada bukti yang menunjukkan kalau bukan Alan
pelakunya. Semoga kita bisa menangkap pelaku yang sebenarnya,” kata X memberi
harapan pada Melda.
Guntur dan X segera meluncur kembali ke kantor
Jodi. Mereka memeriksa CCTV dan menonton rekaman beberapa jam yang lalu. X
sempat menanyakan bagaimana Guntur bisa menemukan Ginara.
“Ginara bilang sama Anisa kalau dia masih sama Alan
di kantor. Aku kebetulan mau jemput dia karena anak itu kan nggak bawa
kendaraan. Waktu aku mau masuk ke lift sama petugas keamanan yang kebetulan mau
patroli. Sampai di lantai ruang kerja Ginara, ada petugas keamanan yang ngasih
tahu kalau Ginara sama Alan ada di ruangan itu,” kata Guntur.
“Kamu inget petugas yang ngasih tahu hal penting
itu?” tanya X cepat.
“Aku nggak perhatikan, pikiranku langsung ke
ruangan itu. Apa maksudmu?” tanya Guntur.
“Mungkin nggak orang itu yang melakukannya?
Menyerang Ginara lalu menjadikan Alan sebagai kambing hitam,” jelas X.
Guntur menggaruk kepalanya, ia kurang waspada dan
sangat gegabah menuduh Alan dari apa yang dilihatnya saja. CCTV menunjukkan
Ginara diseret seseorang berpakaian hitam saat gadis itu beranjak dari mejanya.
Kamera berpindah ke CCTV di dekat ruangan itu, Ginara sempat melawan sebelum
orang itu memukul tengkuknya.
Tampak di kamera satunya, Alan kebingungan mencari sesuatu.
Pemuda itu berjongkok mengambil tas lalu mengutak-atik ponselnya dan segera
berjalan mendekati ruangan tempat Ginara dan orang itu berada. Guntur dan X
saling pandang, darimana Alan tahu keberadaan Ginara dengan cepat.
“Aku rasa bukan hanya kamu dan Melda yang punya
kemampuan melacak seseorang. Apa kalian ini memang keluarga mata-mata?” tanya
Guntur.
X hanya diam, ia tidak bisa membayangkan bahkan Alan
juga sama dengan Melda. Ini sudah nasibnya punya istri mantan bodyguard, dan
sekarang punya anak yang pekerjaannya misterius. X mengatakan akan menyelidiki
masalah ini nanti saja.
__ADS_1