
DM2 – Terus terang
“Selamat siang, bu. Saya Melda, sekretaris
Pak Alex. Saya datang untuk meminta tanda tangan bapak. Pak Alex ada di dalam?”tanya
Melda.
Rara memperhatikan penampilan Melda yang
sopan dengan pakaian kerja standar. Tapi meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri
kalau dia memang cantik. Rara sempat berpikir mamanya tau gak kalau Melda ini
sekretaris papanya. Bisa gawat suasana rumah kalau Mia cemburu.
“Mah, opa ada di rumah kan? Tante ini boleh
masuk?”tanya Rey.
“Tumben. Biasanya cuek sama orang baru. Eh,
maaf. Silakan masuk dulu.”kata Rara memberi jalan pada Melda.
Melda masuk ke rumah Alex, ia diminta duduk
dulu di ruang tamu sementara Rara masuk ke dalam. Rey masih berdiri di dekat
Melda, ia tidak berhenti menatap wajah wanita canti itu.
“Adik, siapa namamu?”tanya Melda.
“Rey, tante. Ach, maaf. Tidak sopan. Saya
Reynold, tante.”ujar Rey sambil mengulurkan tangannya.
“Manis sekali kamu ya. Nama tante Melda.
Kamu boleh panggil tante Mel. Kamu kelas berapa?”tanya Melda sambil menjabat
tangan Rey.
“Kelas 1 SD, tante. Tante sudah punya
pacar?”tanya Rey. “Tante mau gak nunggu 14 tahun lagi.”
Melda menatap bingung pada Rey, “Kenapa
tante harus nunggu 14 tahun?”
“14 tahun lagi Rey berumur 21 tahun, tante.
Cukup umur untuk menikah.”jawab Rey polos.
Melda menahan tawanya dengan tersenyum
manis di depan Rey, membuat pria kecil itu semakin terpesona padanya.
“Kayaknya tante gak bisa nunggu kamu dech,
Rey.”goda Melda membuat wajah Rey merona.
“Ehem...!”Rara berdehem di belakang Rey.
Dua tanduk sudah keluar dari kepala Rara. “Bisa-bisanya kamu nggombalin tante
Melda kayak gitu. Gak inget umur.”kata Rara galak.
“Mama Gadis!”teriak Rey berlari masuk ke
ruang keluarga.
Rara mengikuti Rey dengan arah pandangan
matanya. Rey sudah bersembunyi di belakang Gadis, “Mama Rara galak, mah.”adu
Rey.
Gadis hanya tersenyum manis, mencubit pipi
Rey perlahan lalu memeluk pria kecil itu. “Emangnya Rey nakal?”tanya Gadis.
“Rey kan cuma memastikan istri masa depan
Rey, mah.”kata Rey polos sambil senyum manis.
“Rey!”jerit Rara mendelik pada putranya.
Rey sudah berlari masuk ke kamar si kembar.
Rara berbalik menghadap Melda lagi yang
__ADS_1
masih tersenyum, “Maaf, dia sepertinya terlalu lama kena matahari. Silakan
masuk. Papa ada di dalam.”
Melda beranjak dari duduknya, ia melangkah
ke ruang keluarga Alex. “Selamat siang, maaf mengganggu.”sapa Melda pada semua
orang.
“Melda, ikut aku.Sini.”ajak Alex menuju
ruang kerjanya. Semua orang melihat Melda mendorong kursi roda Alex dengan
koper kecil di tangannya. Mereka masuk ke ruang kerja Alex dan pintu tertutup.
“Mama gak kesana? Ntar papa sama dia berdua
aja. Mama gak takut?”tanya Rara mengejar Mia yang masih duduk tenang di ruang
keluarga.
“Kenapa? Memangnya dia mau berbuat apa?
Mama percaya papamu gak akan macam-macam.”kata Mia santai.
“Mama gak sakit kan?”tanya Riri. Biasanya
Mia akan langsung terbakar emosi ketika melihat Alex bersama wanita lain. “Papa
sama sekretarisnya di dalem sana, mah.”
“Hais. Iya, mama kesana. Kalian sibuk
sekali.”Mia hampir beranjak ke ruang kerja Alex saat Melda membuka pintu dan
membantu Alex keluar dengan kursi rodanya.
“Ingat semua yang aku bilang tadi, Melda. Hari
Senin Romi tidak ada, kamu bisa menelponku kalau ada yang urgent. Pastikan
janji untuk hari Selasa juga ya.”
“Baik, pak Alex. Saya permisi dulu.”kata
Melda sedikit membungkuk.
keluarga lagi, mb Roh muncul dari balik pintu kamar membawa Kaori. Bayi itu
menangis karena bosan dengan mb Roh, Gadis langsung berdiri dan mengambil bayi
Kaori.
“Kaori sayang, kenapa nangis?”tanya Gadis
lembut. Bayi itu langsung tenang ketika mendengar suara Gadis.
“Oh, lucu sekali.”kata Melda di dekat
Gadis. “Sudah umur berapa?”tanya Melda.
“Hampir 5 bulan. Namanya Kaori.”saut Gadis.
“Halo, Kaori.”sapa Melda, ia mencoba
menarik perhatian Kaori untuk melihatnya. Melda tahu Kaori buta, tapi keluarga
Alex tidak mengetahui jati diri Melda yang sebenarnya. Melda ingin melihat
reaksi Gadis saat ada yang mencoba bermain dengan Kaori.
“Kaori buta sejak lahir, mb. Dia hanya bisa
mendengarkan suara mb saja.”kata Gadis terus terang.
“Oh, maaf. Tapi Kaori benar-benar bayi yang
cantik ya. Seperti ibunya.”kata Melda lagi. Ia menatap Gadis saat mengatakan
itu.
Gadis sempat termenung sejenak, sebelum
tersenyum kembali. “Iya, dia memang secantik ibunya.”
Situasi menjadi sedikit canggung untuk
sesaat. Melda tidak berlama-lama di rumah Alex. Ia berpamitan pada semua orang
dan terpaksa menolak undangan makan siang dari Mia karena Bianca akan segera
__ADS_1
pergi dari kantor Alex.
Sekembalinya Melda ke kantor Alex, hanya
tersisa X di ruangan Romi. Melda menatapnya malas, ia ingin memanggil security
untuk mengusir X tapi sepertinya percuma saja.
“Mana ny. Bianca?”tanya Melda.
“Sudah pulang duluan.”saut X.
“Kamu ngapain masih disini? Pergi sana.”usir
Melda.
“Aku kan sudah bilang, kamu sudah masuk
daftar orang yang harus kuawasi.”
Melda menatap X sengit, ia menunjuk pintu
keluar ruang kerja Romi. “Keluar sekarang! Aku mau kerja. Jangan ganggu aku!”tegas
Melda kesal.
X tetap tidak mau pergi. Melda terpaksa
bekerja di ruangan yang sama dengan pria itu. Melda terus bekerja sampai ia
lupa waktunya pulang. Pekerjaannya cukup banyak sampai ia tidak memperhatikan
matahari sudah kembali ke peraduannya. Bulan mulai beranjak naik menggantikan
singgasana matahari.
Melda merenggangkan pinggangnya, ia
merentangkan tangannya keatas. Grep! Ia terkejut saat tubuhnya dipeluk
seseorang dari belakang. Melda meronta, ia ingin memukul pria yang memeluknya.
“X! Lepasin! Jangan kurang ajar kamu!”
Bruk! Mereka terjatuh ke lantai ruang kerja
Romi. X masih memeluk Melda, menggigit telinga wanita itu. “Ach. Sakit!
Memangnya kamu anjing. Kenapa aku digigit?”keluh Melda kesal.
“Jangan marah lagi, yank.”bisik X. “Aku
sangat merindukanmu, Mel. Kita pacaran lagi ya.”
“Gak mau!! Lepasin!”ronta Melda.
X terlalu lihai untuk Melda, mau bagaimana
Melda meronta, ia tidak bisa melepaskan pelukan X dari tubuhnya. Akhirnya Melda
hanya duduk diam saja. Ia lelah memberontak, dibiarkannya saja apa yang ingin
dilakukan X.
“Udah gak nglawan?”tanya X.
Melda hanya diam, ia sangat lelah dan juga
lapar. Tadi ia tidak sempat makan siang hanya untuk mengejar waktu bertemu Alex
dan membuahkan hasil bertemu dengan Kaori. Melda bersandar dengan nyaman di
dada X, ia mengantuk.
Kepala Melda terus terjatuh, ia hanya ingin
tidur sebentar saja sebelum pulang. X menahan kepala Melda, menyandarkannya
pada dadanya. Melda tidak menyadari ketika X menggendongnya keluar dari kantor
Alex.
X mengantar Melda pulang ke kostan-nya.
Kemarin ia hampir menginap disana juga. Tapi Melda mengancam akan berteriak
kalau X tidak juga pergi dari kostan-nya setelah mereka makan malam bersama.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.