Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Terus terang


__ADS_3

DM2 – Terus terang


“Selamat siang, bu. Saya Melda, sekretaris


Pak Alex. Saya datang untuk meminta tanda tangan bapak. Pak Alex ada di dalam?”tanya


Melda.


Rara memperhatikan penampilan Melda yang


sopan dengan pakaian kerja standar. Tapi meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri


kalau dia memang cantik. Rara sempat berpikir mamanya tau gak kalau Melda ini


sekretaris papanya. Bisa gawat suasana rumah kalau Mia cemburu.


“Mah, opa ada di rumah kan? Tante ini boleh


masuk?”tanya Rey.


“Tumben. Biasanya cuek sama orang baru. Eh,


maaf. Silakan masuk dulu.”kata Rara memberi jalan pada Melda.


Melda masuk ke rumah Alex, ia diminta duduk


dulu di ruang tamu sementara Rara masuk ke dalam. Rey masih berdiri di dekat


Melda, ia tidak berhenti menatap wajah wanita canti itu.


“Adik, siapa namamu?”tanya Melda.


“Rey, tante. Ach, maaf. Tidak sopan. Saya


Reynold, tante.”ujar Rey sambil mengulurkan tangannya.


“Manis sekali kamu ya. Nama tante Melda.


Kamu boleh panggil tante Mel. Kamu kelas berapa?”tanya Melda sambil menjabat


tangan Rey.


“Kelas 1 SD, tante. Tante sudah punya


pacar?”tanya Rey. “Tante mau gak nunggu 14 tahun lagi.”


Melda menatap bingung pada Rey, “Kenapa


tante harus nunggu 14 tahun?”


“14 tahun lagi Rey berumur 21 tahun, tante.


Cukup umur untuk menikah.”jawab Rey polos.


Melda menahan tawanya dengan tersenyum


manis di depan Rey, membuat pria kecil itu semakin terpesona padanya.


“Kayaknya tante gak bisa nunggu kamu dech,


Rey.”goda Melda membuat wajah Rey merona.


“Ehem...!”Rara berdehem di belakang Rey.


Dua tanduk sudah keluar dari kepala Rara. “Bisa-bisanya kamu nggombalin tante


Melda kayak gitu. Gak inget umur.”kata Rara galak.


“Mama Gadis!”teriak Rey berlari masuk ke


ruang keluarga.


Rara mengikuti Rey dengan arah pandangan


matanya. Rey sudah bersembunyi di belakang Gadis, “Mama Rara galak, mah.”adu


Rey.


Gadis hanya tersenyum manis, mencubit pipi


Rey perlahan lalu memeluk pria kecil itu. “Emangnya Rey nakal?”tanya Gadis.


“Rey kan cuma memastikan istri masa depan


Rey, mah.”kata Rey polos sambil senyum manis.


“Rey!”jerit Rara mendelik pada putranya.


Rey sudah berlari masuk ke kamar si kembar.


Rara berbalik menghadap Melda lagi yang

__ADS_1


masih tersenyum, “Maaf, dia sepertinya terlalu lama kena matahari. Silakan


masuk. Papa ada di dalam.”


Melda beranjak dari duduknya, ia melangkah


ke ruang keluarga Alex. “Selamat siang, maaf mengganggu.”sapa Melda pada semua


orang.


“Melda, ikut aku.Sini.”ajak Alex menuju


ruang kerjanya. Semua orang melihat Melda mendorong kursi roda Alex dengan


koper kecil di tangannya. Mereka masuk ke ruang kerja Alex dan pintu tertutup.


“Mama gak kesana? Ntar papa sama dia berdua


aja. Mama gak takut?”tanya Rara mengejar Mia yang masih duduk tenang di ruang


keluarga.


“Kenapa? Memangnya dia mau berbuat apa?


Mama percaya papamu gak akan macam-macam.”kata Mia santai.


“Mama gak sakit kan?”tanya Riri. Biasanya


Mia akan langsung terbakar emosi ketika melihat Alex bersama wanita lain. “Papa


sama sekretarisnya di dalem sana, mah.”


“Hais. Iya, mama kesana. Kalian sibuk


sekali.”Mia hampir beranjak ke ruang kerja Alex saat Melda membuka pintu dan


membantu Alex keluar dengan kursi rodanya.


“Ingat semua yang aku bilang tadi, Melda. Hari


Senin Romi tidak ada, kamu bisa menelponku kalau ada yang urgent. Pastikan


janji untuk hari Selasa juga ya.”


“Baik, pak Alex. Saya permisi dulu.”kata


Melda sedikit membungkuk.


keluarga lagi, mb Roh muncul dari balik pintu kamar membawa Kaori. Bayi itu


menangis karena bosan dengan mb Roh, Gadis langsung berdiri dan mengambil bayi


Kaori.


“Kaori sayang, kenapa nangis?”tanya Gadis


lembut. Bayi itu langsung tenang ketika mendengar suara Gadis.


“Oh, lucu sekali.”kata Melda di dekat


Gadis. “Sudah umur berapa?”tanya Melda.


“Hampir 5 bulan. Namanya Kaori.”saut Gadis.


“Halo, Kaori.”sapa Melda, ia mencoba


menarik perhatian Kaori untuk melihatnya. Melda tahu Kaori buta, tapi keluarga


Alex tidak mengetahui jati diri Melda yang sebenarnya. Melda ingin melihat


reaksi Gadis saat ada yang mencoba bermain dengan Kaori.


“Kaori buta sejak lahir, mb. Dia hanya bisa


mendengarkan suara mb saja.”kata Gadis terus terang.


“Oh, maaf. Tapi Kaori benar-benar bayi yang


cantik ya. Seperti ibunya.”kata Melda lagi. Ia menatap Gadis saat mengatakan


itu.


Gadis sempat termenung sejenak, sebelum


tersenyum kembali. “Iya, dia memang secantik ibunya.”


Situasi menjadi sedikit canggung untuk


sesaat. Melda tidak berlama-lama di rumah Alex. Ia berpamitan pada semua orang


dan terpaksa menolak undangan makan siang dari Mia karena Bianca akan segera

__ADS_1


pergi dari kantor Alex.


Sekembalinya Melda ke kantor Alex, hanya


tersisa X di ruangan Romi. Melda menatapnya malas, ia ingin memanggil security


untuk mengusir X tapi sepertinya percuma saja.


“Mana ny. Bianca?”tanya Melda.


“Sudah pulang duluan.”saut X.


“Kamu ngapain masih disini? Pergi sana.”usir


Melda.


“Aku kan sudah bilang, kamu sudah masuk


daftar orang yang harus kuawasi.”


Melda menatap X sengit, ia menunjuk pintu


keluar ruang kerja Romi. “Keluar sekarang! Aku mau kerja. Jangan ganggu aku!”tegas


Melda kesal.


X tetap tidak mau pergi. Melda terpaksa


bekerja di ruangan yang sama dengan pria itu. Melda terus bekerja sampai ia


lupa waktunya pulang. Pekerjaannya cukup banyak sampai ia tidak memperhatikan


matahari sudah kembali ke peraduannya. Bulan mulai beranjak naik menggantikan


singgasana matahari.


Melda merenggangkan pinggangnya, ia


merentangkan tangannya keatas. Grep! Ia terkejut saat tubuhnya dipeluk


seseorang dari belakang. Melda meronta, ia ingin memukul pria yang memeluknya.


“X! Lepasin! Jangan kurang ajar kamu!”


Bruk! Mereka terjatuh ke lantai ruang kerja


Romi. X masih memeluk Melda, menggigit telinga wanita itu. “Ach. Sakit!


Memangnya kamu anjing. Kenapa aku digigit?”keluh Melda kesal.


“Jangan marah lagi, yank.”bisik X. “Aku


sangat merindukanmu, Mel. Kita pacaran lagi ya.”


“Gak mau!! Lepasin!”ronta Melda.


X terlalu lihai untuk Melda, mau bagaimana


Melda meronta, ia tidak bisa melepaskan pelukan X dari tubuhnya. Akhirnya Melda


hanya duduk diam saja. Ia lelah memberontak, dibiarkannya saja apa yang ingin


dilakukan X.


“Udah gak nglawan?”tanya X.


Melda hanya diam, ia sangat lelah dan juga


lapar. Tadi ia tidak sempat makan siang hanya untuk mengejar waktu bertemu Alex


dan membuahkan hasil bertemu dengan Kaori. Melda bersandar dengan nyaman di


dada X, ia mengantuk.


Kepala Melda terus terjatuh, ia hanya ingin


tidur sebentar saja sebelum pulang. X menahan kepala Melda, menyandarkannya


pada dadanya. Melda tidak menyadari ketika X menggendongnya keluar dari kantor


Alex.


X mengantar Melda pulang ke kostan-nya.


Kemarin ia hampir menginap disana juga. Tapi Melda mengancam akan berteriak


kalau X tidak juga pergi dari kostan-nya setelah mereka makan malam bersama.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2