Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Kepergian nenek


__ADS_3

DM2 – Kepergian nenek


“Masa sih, mah?”


Gadis mengangguk, “Iya, sayang. Rey yang


ganteng, Rey gak mau lihat mama Rara sama mama Gadis nangis kan?”


Rey menggeleng dengan wajah lucunya. Gadis


tersenyum, mencubit pipi Reynold dan mencium keningnya. “Anak pintar. Sekarang


Rey makan lagi ya. Mau mama Gadis temenin?”


“Rey...” Keduanya menoleh menatap Rara yang


sudah berdiri di depan pintu kamar. Matanya tampak sembab, memerah.


“Mama Rara juga nangis?” Rey menatap


bingung kedua wanita itu yang sama-sama tersenyum.


“Nggak, sayang. Rey mau makan lagi ya? Sama


mama Gadis.”ucap Rara.


Rara mendekat ke tepi ranjang, lalu


memberikan piring makan Rey pada Gadis. Kedua wanita itu menyuapi Rey


bergantian sampai makanan di piring akhirnya habis.


“Sekarang Rey buat PR dulu ya sama mama


Rara.”ujar Gadis. “Ada PR, kan?”


“Iya, mah. Tadi sudah buat sama mama Rara


sama oma juga.”


“Anak pinter.”Gadis mengelus kepala Reynold


lagi.


Rara meminta Reynold bermain dengan si


kembar dulu, ia ingin bicara dengan Gadis lagi. Rey menutup pintu setelah ia


keluar dari kamar Gadis.


“Gadis, maafin kakak ya. Kakak salah mau


memisahkan kalian secepat ini.”


Gadis menghapus air matanya, “Kaka punya


hak untuk itu, aku terlalu emosional tadi. Aku juga minta maaf ya, kak.”


“Dengar, Gadis, selamanya Rey akan tetap


jadi putra kita. Aku akan membiarkan dia memilih mau tinggal dengan siapa, aku


atau kamu.”


“Jangan, kak. Rey akan bingung kalau sampai


kaka minta dia memilih. Sebaiknya Rey tinggal sama kalian saja.”


“Kamu yakin?”


Gadis mengangguk meski hatinya berteriak


tidak. Rara menatap Gadis lagi, jelas sekali ia sangat sedih akan berpisah


dengan Rey. “Andai aku bisa punya anak lagi, akan kuberikan dia sama kamu. Kamu


ibu yang baik, Gadis. Putraku bisa tumbuh dengan karakter yang baik dan sehat.


Terima kasih, Gadis.”


Rara memeluk Gadis dengan erat, mereka


kembali menangis sambil tetap berpelukan. Mia dan Rio yang menunggu Rara tak


kunjung kembali ke bawah, menyusulnya dan melihat semuanya.


“Kamu sudah benar, Rio. Gadis bukan hanya


wanita yang baik, tapi dia juga ibu yang baik. Semoga kalian cepat dikarunia


anak ya.”ujar Mia.


“Ya, mah. Amin.”


Rio masuk ke kamarnya, ia mengajak Gadis

__ADS_1


untuk makan dulu. Tapi Gadis hanya ingin istirahat saja. Rara meninggalkan


mereka berdua saja. Rio duduk di samping Gadis, menggantikan Rara memeluk


istrinya itu.


“Rio, aku mau anak.”


“Ayo, buat lagi.”saut Rio bersemangat.


“Gitu aja trus. Kamu modus ich.”


“Katamu mau anak, aku kan iya aja. Ayo,


buat anak.”


“Buat biar jadi. Kita harus program.”


Rio manyun, terakhir kali mereka coba


bertanya pada dokter untuk program anak, dokter menyarankan untuk bercinta


sebulan tiga kali. Rio langsung meradang mendengarnya. Ia tidak mau mengikuti


program dan memutuskan secara alami saja.


“Rio... mau ya ikut program. Kita cari


dokter yang ngasi jadwal lebih banyak.”


“Sambil nunggu dokternya ketemu, aku minta


lagi ya.”


Gadis mendorong Rio yang sudah mendekat,


“Ini masih terlalu awal, anak-anak belum tidur. Nanti mereka gedor-gedor


gimana?”


Rio tetap maksa mendekat.


Selanjutnya author gak tau mereka ngapain


aja. Gak mau tau juga. Silakan bayangin sendiri-sendiri ya.


Beberapa hari berikutnya, Rara semakin


dekat dengan Rey. Gadis hanya sesekali menggantikan Rara ketika Rey sedang


mengerjakan PR. Mereka duduk di meja belajar di dalam kamar nenek.


Ditahun ketiga pernikahan Rio dan Gadis,


seluruh keluarga Alex mengalami kesedihan karena kepergian nenek. Penyakit tua


yang dideritanya, membuat nenek tidak bisa bertahan dan akhirnya pergi untuk


selamanya.


Saat itu pesan terakhir nenek pada Gadis


dan Rio membuat semua orang tidak bisa membendung air matanya,


“Gadis, Rio, kalian tidak boleh berpisah selamanya.


Apapun masalahnya, kalian diskusikan bersama-sama. Rio, kamu harus sabar sama


Gadis. Gadis juga coba mengerti bagaimana Rio. Kehidupan pernikahan kalian


belum seberapa dibandingkan dengan nenek dan kakek. Cobaan akan tetap ada, tapi


nenek harap kalian bisa saling menguatkan. Meskipun saat ini kalian belum


dikarunia anak, nenek yakin kalian pasti bisa menjadi papa dan mama suatu saat


nanti.”


Keluarga Alex berkumpul kembali tanpa ada


yang absen. Alex dan Mia berjongkok berdampingan setelah nenek selesai di


makamkan. Rara, Arnold, Riri, Elo, Rio, Gadis juga berjongkok mendoakan nenek.


Mereka kembali ke rumah Alex dan berbincang bersama mengingat kenangan bersama


nenek.


Setelah kepergian nenek, kamar itu dirubah


menjadi kamar anak-anak. Lengkap dengan dua tempat tidur tingkat, meja belajar


di sisi dinding, dan lemari baju di sisi seberangnya. Ditengah-tengah


diletakkan karpet tebal seperti di ruang keluarga.

__ADS_1


Gadis membantu Rey mengerjakan PR


matematikanya dengan sabar. Ia memberikan contoh yang mudah untuk penambahan


bertingkat. Rey yang cerdas sudah hafal pertambahan dan pengurangan angka 1 –


10 sejak masuk TK. Gadis juga yang mengajarinya membaca dan juga bahasa


Inggris.


Kalau si kembar gak usah ditanya lagi.


Kedua sama persis dengan kedua kakaknya Rio dan Riri. Rava sebagai kakak, sama


persis dengan Riri, sedangkan Reva sama dengan Rio. Keduanya sama-sama pintar


dengan cara mereka masing-masing. Ada Gadis, pendidikan dan kesehatan anak-anak


itu pasti terjamin.


“Kak Gadis, ini PR Reva. Periksa ya. Reva


mau pipis dulu.”


Gadis mengalihkan pandangannya dari Rey,


menerima buku Reva. “Mah, liat sini. Ini udah bener belum.”kata Rey manja.


Ia memang tidak suka ketika sedang asyik


berdua dengan Gadis, ada yang mengganggu mereka.


“Sebentar, sayang. Mama liat PR om Reva


dulu ya. Itu, Rey lanjut yang nomor 2 ya.”


Rey menarik tangan Gadis yang membuat buku


Reva terjatuh ke lantai. Gadis mengambil buku itu, tersenyum sabar pada Rey,


“Rey sayang, Rey kan masih nulis. Mama liat


PR om Reva dulu ya. Ini gak lama, kok. Ya?” rayu Gadis alih-alih membentak


putra Rara itu.


Rey mengangguk, meski lirikan matanya


horor. “Nanti mau bobok, mama bacain cerita ya.”bujuk Gadis lagi.


Senyum mengembang di bibir Rey, “Iih,


ganteng banget sich. Sering-sering senyum dong. Teman-temanmu protes sama mama


loh, Rey gak mau senyum sama mereka. Amanda juga protes.”


“Amanda gak mungkin protes.”celetuk Rey


datar.


“Oh, darimana Rey tahu kalau Amanda gak


protes?”


Rey memeluk lengan Gadis, menyembunyikan


wajahnya yang memerah. Ia tidak menjawab pertanyaan Gadis, lanjut lagi


mengerjakan PR-nya.


Gadis membaca jawaban Reva lalu mengangguk


karena jawabannya sudah benar. “Rava, PR-nya udah selesai?”


“Udah, kak.”saut Rava tanpa menoleh dari


buku yang dibacanya.


“Trus mana bukunya?”


“Kakak kan udah baca, itu yang kakak


pegang. Kalau buku Reva disini. Tadi dia sudah selesai nyalin jawabanku, kak.”


Gadis membalik buku itu dan melihat itu


buku milik Rava. Jadi Reva memberikan buku Rava agar dia punya alasan keluar


dari kamar. “Hais, anak itu. Bandel banget sich.” Reva yang beralasan ke toilet


terlihat sedang duduk di ruang keluarga, asyik bermain game.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2