
DM2 – Kepergian nenek
“Masa sih, mah?”
Gadis mengangguk, “Iya, sayang. Rey yang
ganteng, Rey gak mau lihat mama Rara sama mama Gadis nangis kan?”
Rey menggeleng dengan wajah lucunya. Gadis
tersenyum, mencubit pipi Reynold dan mencium keningnya. “Anak pintar. Sekarang
Rey makan lagi ya. Mau mama Gadis temenin?”
“Rey...” Keduanya menoleh menatap Rara yang
sudah berdiri di depan pintu kamar. Matanya tampak sembab, memerah.
“Mama Rara juga nangis?” Rey menatap
bingung kedua wanita itu yang sama-sama tersenyum.
“Nggak, sayang. Rey mau makan lagi ya? Sama
mama Gadis.”ucap Rara.
Rara mendekat ke tepi ranjang, lalu
memberikan piring makan Rey pada Gadis. Kedua wanita itu menyuapi Rey
bergantian sampai makanan di piring akhirnya habis.
“Sekarang Rey buat PR dulu ya sama mama
Rara.”ujar Gadis. “Ada PR, kan?”
“Iya, mah. Tadi sudah buat sama mama Rara
sama oma juga.”
“Anak pinter.”Gadis mengelus kepala Reynold
lagi.
Rara meminta Reynold bermain dengan si
kembar dulu, ia ingin bicara dengan Gadis lagi. Rey menutup pintu setelah ia
keluar dari kamar Gadis.
“Gadis, maafin kakak ya. Kakak salah mau
memisahkan kalian secepat ini.”
Gadis menghapus air matanya, “Kaka punya
hak untuk itu, aku terlalu emosional tadi. Aku juga minta maaf ya, kak.”
“Dengar, Gadis, selamanya Rey akan tetap
jadi putra kita. Aku akan membiarkan dia memilih mau tinggal dengan siapa, aku
atau kamu.”
“Jangan, kak. Rey akan bingung kalau sampai
kaka minta dia memilih. Sebaiknya Rey tinggal sama kalian saja.”
“Kamu yakin?”
Gadis mengangguk meski hatinya berteriak
tidak. Rara menatap Gadis lagi, jelas sekali ia sangat sedih akan berpisah
dengan Rey. “Andai aku bisa punya anak lagi, akan kuberikan dia sama kamu. Kamu
ibu yang baik, Gadis. Putraku bisa tumbuh dengan karakter yang baik dan sehat.
Terima kasih, Gadis.”
Rara memeluk Gadis dengan erat, mereka
kembali menangis sambil tetap berpelukan. Mia dan Rio yang menunggu Rara tak
kunjung kembali ke bawah, menyusulnya dan melihat semuanya.
“Kamu sudah benar, Rio. Gadis bukan hanya
wanita yang baik, tapi dia juga ibu yang baik. Semoga kalian cepat dikarunia
anak ya.”ujar Mia.
“Ya, mah. Amin.”
Rio masuk ke kamarnya, ia mengajak Gadis
__ADS_1
untuk makan dulu. Tapi Gadis hanya ingin istirahat saja. Rara meninggalkan
mereka berdua saja. Rio duduk di samping Gadis, menggantikan Rara memeluk
istrinya itu.
“Rio, aku mau anak.”
“Ayo, buat lagi.”saut Rio bersemangat.
“Gitu aja trus. Kamu modus ich.”
“Katamu mau anak, aku kan iya aja. Ayo,
buat anak.”
“Buat biar jadi. Kita harus program.”
Rio manyun, terakhir kali mereka coba
bertanya pada dokter untuk program anak, dokter menyarankan untuk bercinta
sebulan tiga kali. Rio langsung meradang mendengarnya. Ia tidak mau mengikuti
program dan memutuskan secara alami saja.
“Rio... mau ya ikut program. Kita cari
dokter yang ngasi jadwal lebih banyak.”
“Sambil nunggu dokternya ketemu, aku minta
lagi ya.”
Gadis mendorong Rio yang sudah mendekat,
“Ini masih terlalu awal, anak-anak belum tidur. Nanti mereka gedor-gedor
gimana?”
Rio tetap maksa mendekat.
Selanjutnya author gak tau mereka ngapain
aja. Gak mau tau juga. Silakan bayangin sendiri-sendiri ya.
Beberapa hari berikutnya, Rara semakin
dekat dengan Rey. Gadis hanya sesekali menggantikan Rara ketika Rey sedang
mengerjakan PR. Mereka duduk di meja belajar di dalam kamar nenek.
Ditahun ketiga pernikahan Rio dan Gadis,
seluruh keluarga Alex mengalami kesedihan karena kepergian nenek. Penyakit tua
yang dideritanya, membuat nenek tidak bisa bertahan dan akhirnya pergi untuk
selamanya.
Saat itu pesan terakhir nenek pada Gadis
dan Rio membuat semua orang tidak bisa membendung air matanya,
“Gadis, Rio, kalian tidak boleh berpisah selamanya.
Apapun masalahnya, kalian diskusikan bersama-sama. Rio, kamu harus sabar sama
Gadis. Gadis juga coba mengerti bagaimana Rio. Kehidupan pernikahan kalian
belum seberapa dibandingkan dengan nenek dan kakek. Cobaan akan tetap ada, tapi
nenek harap kalian bisa saling menguatkan. Meskipun saat ini kalian belum
dikarunia anak, nenek yakin kalian pasti bisa menjadi papa dan mama suatu saat
nanti.”
Keluarga Alex berkumpul kembali tanpa ada
yang absen. Alex dan Mia berjongkok berdampingan setelah nenek selesai di
makamkan. Rara, Arnold, Riri, Elo, Rio, Gadis juga berjongkok mendoakan nenek.
Mereka kembali ke rumah Alex dan berbincang bersama mengingat kenangan bersama
nenek.
Setelah kepergian nenek, kamar itu dirubah
menjadi kamar anak-anak. Lengkap dengan dua tempat tidur tingkat, meja belajar
di sisi dinding, dan lemari baju di sisi seberangnya. Ditengah-tengah
diletakkan karpet tebal seperti di ruang keluarga.
__ADS_1
Gadis membantu Rey mengerjakan PR
matematikanya dengan sabar. Ia memberikan contoh yang mudah untuk penambahan
bertingkat. Rey yang cerdas sudah hafal pertambahan dan pengurangan angka 1 –
10 sejak masuk TK. Gadis juga yang mengajarinya membaca dan juga bahasa
Inggris.
Kalau si kembar gak usah ditanya lagi.
Kedua sama persis dengan kedua kakaknya Rio dan Riri. Rava sebagai kakak, sama
persis dengan Riri, sedangkan Reva sama dengan Rio. Keduanya sama-sama pintar
dengan cara mereka masing-masing. Ada Gadis, pendidikan dan kesehatan anak-anak
itu pasti terjamin.
“Kak Gadis, ini PR Reva. Periksa ya. Reva
mau pipis dulu.”
Gadis mengalihkan pandangannya dari Rey,
menerima buku Reva. “Mah, liat sini. Ini udah bener belum.”kata Rey manja.
Ia memang tidak suka ketika sedang asyik
berdua dengan Gadis, ada yang mengganggu mereka.
“Sebentar, sayang. Mama liat PR om Reva
dulu ya. Itu, Rey lanjut yang nomor 2 ya.”
Rey menarik tangan Gadis yang membuat buku
Reva terjatuh ke lantai. Gadis mengambil buku itu, tersenyum sabar pada Rey,
“Rey sayang, Rey kan masih nulis. Mama liat
PR om Reva dulu ya. Ini gak lama, kok. Ya?” rayu Gadis alih-alih membentak
putra Rara itu.
Rey mengangguk, meski lirikan matanya
horor. “Nanti mau bobok, mama bacain cerita ya.”bujuk Gadis lagi.
Senyum mengembang di bibir Rey, “Iih,
ganteng banget sich. Sering-sering senyum dong. Teman-temanmu protes sama mama
loh, Rey gak mau senyum sama mereka. Amanda juga protes.”
“Amanda gak mungkin protes.”celetuk Rey
datar.
“Oh, darimana Rey tahu kalau Amanda gak
protes?”
Rey memeluk lengan Gadis, menyembunyikan
wajahnya yang memerah. Ia tidak menjawab pertanyaan Gadis, lanjut lagi
mengerjakan PR-nya.
Gadis membaca jawaban Reva lalu mengangguk
karena jawabannya sudah benar. “Rava, PR-nya udah selesai?”
“Udah, kak.”saut Rava tanpa menoleh dari
buku yang dibacanya.
“Trus mana bukunya?”
“Kakak kan udah baca, itu yang kakak
pegang. Kalau buku Reva disini. Tadi dia sudah selesai nyalin jawabanku, kak.”
Gadis membalik buku itu dan melihat itu
buku milik Rava. Jadi Reva memberikan buku Rava agar dia punya alasan keluar
dari kamar. “Hais, anak itu. Bandel banget sich.” Reva yang beralasan ke toilet
terlihat sedang duduk di ruang keluarga, asyik bermain game.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.