Duren Manis

Duren Manis
Bersamamu


__ADS_3

Mia berjalan keluar dari ruangan tempat ia dirias. Dibelakangnya Rara ikut berjalan mengikutinya.


Mama Mia menuntun Mia, dan Rara dituntun Riri dan nenek. Seluruh tamu undangan terdiam melihat kedua pengantin wanita diantar masuk ke ruangan tempat ijab akan dilaksanakan.


Mia tersenyum menatap Alex yang melongo menatapnya.


Alex : "Wow, seksi..."


Alex menyadari kalau suaranya terdengar oleh penghulu dan para saksi termasuk papa Mia. Ia segera duduk tegak lagi dan berdehem.


Mia terlihat cantik dengan kebaya putih yang menampilkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Termasuk aset bagian depannya. Alex menelan liurnya untuk melegakan tenggorokannya yang terasa agak seret.


Selama dua hari ia tidak melihat Mia, dan hasratnya sudah menumpuk. Ia memejamkan matanya mencoba mengalihkan pikirannya dari Mia dan konsentrasi pada ijab.


Mia tersenyum pada penghulu, para saksi, dan papanya.


Papa Mia : "You are so beautiful, baby."


Mia : "Thanks, pa."


Setelah penghulu menanyakan kesemua pihak tentang persetujuan pernikahan, ia mulai menjabat tangan Alex dan mengatakan bagiannya.


Alex menarik nafas panjang, sebaris kalimat mengalir lancar dalam satu tarikan nafasnya, membuat para saksi berteriak, "Sah!"


Alex dan Mia sama-sama menarik nafas lega, mereka berdoa bersama semua tamu undangan yang mendoakan mereka menjadi keluarga bahagia selamanya.


Penghulu mengarahkan kedua pengantin untuk menandatangani beberapa berkas pernikahan mereka termasuk buku nikah.


Dilanjutkan dengan tukar cincin, Mia memakaikan cincin terlebih dahulu dan menunduk mencium tangan Alex. Aroma tubuh Mia, membuat sesuatu dibawah tubuh Alex terbangun.


Alex : "Ny.Alex, aku gak sabar..."


Mia : "Jangan nakal..."


Mereka bertatapan lagi tersenyum satu sama lain, giliran Alex memakaikan cincin pada Mia. Keduanya menunjukkan cincin di tangan masing-masing dan tersenyum ke arah kamera yang sejak awal merekam semua rentetan acara pernikahan.


Alex memberikan beberapa seserahan kepada Mia termasuk mas kawin yang terbuat dari mata uang asing sesuai dengan tanggal pernikahan mereka.


Sampai ritual pernikahan Alex dan Mia selesai, kini giliran pernikahan Arnold dan Rara. Alex beranjak ke meja sebelah tempat Arnold dan Rara sudah duduk menunggu giliran ijab mereka.


------


Flash back...


Arnold terpana melihat penampilan Rara yang terlihat berbeda dari biasanya. Ia hampir tidak mengenali kalau perempuan cantik yang memakai pakaian pengantin yang berjalan ke arahnya itu adalah Rara.


Rara tersenyum malu ketika Arnold menatapnya dengan intens. Ia duduk di samping Arnold yang masi melongo.


Rara : "Kak, apa kabar?"


Arnold : "Baik... kamu cantik banget."


Rara : "Kakak juga ganteng banget..."


Arnold : "Jangan panggil kakak, panggil mas ya."


Rara : "Iya, mas..."

__ADS_1


Arnold merinding mendengar Rara memanggilnya seperti itu. Ia tidak sabar mengajak Rara ke apartment-nya. Yah, meskipun ia tidak tahu apakah Alex akan mengijinkan mereka pergi atau tidak.


Arnold : "Ra, mau gak nanti malam kita nginep di apartmentku?"


Rara : "Boleh, mas. Tapi papa ngasi gak ya?"


Arnold : "Nanti aku coba bilang papamu ya. Kamu beneran cantik banget."


Rara tersenyum malu mendengar pujian Arnold. Mereka saling mendekatkan tangan ingin bergenggaman tangan satu sama lain, tapi nenek yang masih ada di dekat situ berdehem dan mereka kembali duduk sedikit menjauh.


Nenek tersenyum malu melihat kedua calon pengantin di depannya bersikap sangat manis dan romantis. Pandangannya kembali menatap Alex dan Mia yang sudah resmi menikah.


Hatinya sangat lega karena Alex akhirnya menemukan pendamping yang baik dan cantik seperti Mia.


Flash back end...


------


Penghulu memanggil Arnold, tapi yang dipanggil masih betah bengong menatap Rara.


Ronald menyikut Arnold agar fokusnya kembali pada acara ijab. Arnold menoleh menatap sekeliling, semua orang sedang menatapnya sambil senyum-senyum.


Arnold menegakkan tubuhnya menghadap penghulu. Ia merasa sedikit gugup karena ini pertama kali ia menikah. Dalam hatinya terus menggumamkan ijab yang harus diucapkannya sebentar lagi.


Penghulu : "Nak Arnold tolong fokus ke saya ya. Sama pengantin wanitanya bisa nanti malam saja."


Buahahahaha...! Gelak tawa memenuhi gedung pernikahan itu. Wajah Arnold dan Rara memerah mendengar kata-kata dari penghulu.


Alex tersenyum menatap calon menantunya yang terlihat tampan dengan baju pengantin pria warna putih.


Arnold tetap menampilkan wajah dingin seperti biasanya, ia belum ingin mencoba tersenyum atau sekedar menunjukkan emosinya sekarang. Ia tidak terbiasa dengan itu, tapi bukan berarti ia tidak berusaha mencobanya.


Arnold hanya akan tersenyum pada orang-orang terdekat yang ia kenal saja. Sikap dinginnya benar-benar menjadi magnet tersendiri pada kaum hawa yang datang ke pernikahan itu.


Alex mengulurkan tangannya setelah penghulu menanyakan persetujuan kedua mempelai. Suara-suara dua mulai muncul di belakang Alex, rata-rata keberatan kalau Arnold dan Rara menikah sekarang. Karena artinya berkurang stok pria single high quality dari muka bumi.


Penghulu meminta agar tamu undangan tenang sejenak. Ia menatap Arnold yang terlihat gugup.


Penghulu : "Nak Arnold, tenang dulu ya. Silakan menjabat tangan Pak Alex."


Arnold menarik nafas panjang dan menjabat tangan Alex. Penghulu meminta Alex memulai dan sebaris kalimat lantang keluar dari bibirnya.


Sekali lagi para saksi berteriak, "Sah!" saat Arnold berhasil mengucapkan ijab dengan lantang dan tegas.


Kedua mempelai kembali berdoa untuk sesuatu yang baik demi masa depan hidup baru mereka.


------


Kedua pasang pengantin tampak duduk di pelaminan yang sudah disiapkan. Satu persatu tamu undangan naik untuk memberi ucapan selamat pada mereka.


Sesekali mereka merapat untuk foto bersama dengan tamu undangan. Wajah bahagia memenuhi gedung pernikahan yang sudah dihias dengan sangat megah. Semua orang berbahagia dengan pesta pernikahan itu.


Saat tamu undangan mulai berkurang, Alex berbisik pada Mia,


Alex : "Nanti uda siap kan?"


Mia : "Siap buat apa?"

__ADS_1


Alex : "Rio minta adik laki-laki."


Mia : "Tergantung..."


Alex : "Emang kenapa?"


Mia : "Tamu bulananku mau datang, mas."


Alex : "Yah, jangan dulu dong. Tunda seminggu lagi..."


Mia : "Mana bisa gitu? Ngaco aja mas."


Alex : "Semangatku langsung hilang nich."


Mia terkikik geli melihat Alex tampak lesu. Ia bergerak mendekati Alex dan berbisik di telinganya. Alex membelalakkan matanya menatap Mia.


Alex : "Beneran?!"


Mia cuma mengangguk sambil tersenyum malu. Alex mengepalkan tangannya dengan semangat. Entah apa yang dibisikkan Mia hingga Alex kembali bersemangat.


-------


Rara memperhatikan Mia dan Alex yang tampak mesra. Arnold menggenggam tangan Rara yang langsung menoleh menatap Arnold.


Arnold : "Kamu ngliatin apa?"


Rara : "Mama sama papa lucu dech. Gak tau ngomongin apa, tapi keliatannya seru."


Arnold : "Ra, aku disini loh. Kamu kok gitu sich."


Rara : "Kenapa sich, mas? Aku kan cuma ngliatin mereka. Masa mas cemburu."


Arnold : "Gak cemburu, tapi kurang perhatian."


Rara : "Uuhh... lucu banget sich suamiku ini."


Arnold : "Coba bilang lagi."


Rara : "Bilang apa?"


Arnold cemberut, Rara mendekatinya dan berbisik,


Rara : "Suamiku, masku..."


Arnold tersenyum senang, ia hampir menunduk menyosor Rara, lupa kalau mereka masih ada di tempat pesta dan masih cukup banyak tamu undangan disana.


Rara melotot karena kaget, ia menghindar dari Arnold dan duduk sedikit menjauh. Wajah mereka kembali memerah karena digodain beberapa saudara mereka.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------

__ADS_1


__ADS_2