
DM2 – Terima dia
Rio juga sama terburu-burunya membuka
pakaiannya, keduanya kembali menyatu atas nama cinta. Saling membantu
melepaskan ketegangan dalam tubuh masing-masing sampai keduanya lemas tak
berdaya.
Gadis mengelus pipi Rio yang terbaring di
sampingnya. Rio merentangkan tangannya memeluk Gadis, mencium keningnya.
“Kita pulang, yuk. Ntar keburu kemaleman,”ajak
Gadis.
“Kenapa kita gak nginep disini aja? Bajumu
kan ada.”
Gadis tetap memaksa ingin pulang. Ia ingin
bicara dengan Mia mengenai keputusannya, ia ingin meminta pendapat Mia setelah
Rio setuju dengan permintaannya.
Keduanya segera bersih-bersih meskipun Rio
terlihat malas dan lelah. Gadis memandikan dan memakaikan pakaian Rio agar
lebih cepat selesai.
“Yank, kalau kamu capek, aku yang nyetir
ya.”pinta Gadis.
Biasanya Rio akan menolaknya, secapek
apapun dia, Rio tidak pernah membiarkan Gadis menyetir sendiri. Tapi kali ini
Rio menyerahkan kunci mobilnya.
Gadis mengemudikan mobil keluar dari
parkiran mobil di lantai bawah apartment Alex. Mereka sampai di rumah Alex
tepat jam makan malam. Tring! Tring! Ponsel Rio berdering saat mereka baru akan
parkir. Baru saja Rio akan mengambil ponselnya, Mia sudah duluan menghampiri
mereka.
“Rio, Gadis, cepat masuk. Papa mau bicara.”
Keduanya saling menatap bingung, Rio turun
duluan, ia menunggu Gadis memarkir mobil di belakang mobil Alex. Mia menarik
tangan Rio mengikutinya dengan cepat masuk ke dalam rumah. Disana di ruang tamu
rumah Alex, tampak Alex dan Kinanti duduk berhadapan.
Tangan Alex mengepal menahan kemarahannya,
ia bangkit ketika melihat Rio masuk bersama Mia. Plak! Sebuah tamparan mendarat
telak di pipi Rio. Tubuhnya terhuyun ke belakang, memegangi pipinya yang terasa
perih.
“Aku gak pernah punya anak seperti dia!!”lengking
Alex dalam kemarahannya.
Gadis yang baru saja masuk, menahan tubuh
Rio yang hampir jatuh. “Pah, kenapa? Ada apa? Kamu! Ngapain disini?”tunjuk
Gadis pada Kinanti.
Wanita itu tersenyum tipis, dengan cepat
merubah mimik wajahnya menjadi sedih. “Aku... Aku kesini minta tanggung jawab
pak Rio.”Kinanti pura-pura menangis di depan semua orang. “Aku hamil anaknya
Rio, Gadis.”
Kinanti bahkan tidak memanggil Gadis dengan
embel-embel ibu seperti sebelumnya. Wanita itu memperlihatkan hasil pemeriksaan
dokter kandungan dan juga test pack. Berikut juga foto-foto saat dirinya dan
Rio tidur bersama di sebuah kamar hotel ketika mereka pergi keluar kota untuk
__ADS_1
meeting dengan client.
Rio tidak bereaksi apa-apa, ia sama sekali
tidak ingat apa yang terjadi. Kepingan ingatannya hilang begitu saja dari
kepalanya. Kejadian di hotel itu setelah meeting, sama sekali ia tidak ingat.
Gadis gemetar melihat bukti-bukti yang
diberikan Kinanti saat Rio masuk ke kamar hotel bersama wanita itu. Bahkan ada
rekaman CCTV yang lengkap. Rio tertegun melihat rekaman itu, rekaman CCTV yang
tidak bisa ditemukan oleh orang-orang Elo karena sudah hilang akibat kerusakan
mesin penyimpanan memori CCTV di hotel.
Karena itu Rio menunggu selama ini, sambil
mencoba mengingat apa yang terjadi sebenarnya. Itulah yang membuat Rio sering
melamun.
“Bukti sudah jelas, kamu mau bela diri?
Bela dirimu! Jelaskan ini!”bentak Alex melempar foto-foto itu ke wajah Rio.
“Rio, tolong jelasin kalau itu gak bener.”pinta
Gadis menahan tangisannya. Ia masih percaya, Rio tidak akan mengkhianati
pernikahan mereka dengan berselingkuh.
Rio menatap Gadis, “Aku sungguh gak bisa ingat.”
“Apa kau mabuk waktu itu? Heh?! Kau
melakukan kesalahan yang sama? Minum-minum dan memperkosa lagi?! Itu yang kamu
lakukan!! Jawab Rio!”bentak Alex mencengkeram leher Rio keras.
Kinanti terkejut mendengar kata-kata Alex.
”Rio pernah memperkosa? Siapa yang
diperkosa? Apa Gadis?”
Setelah kematian Kaori, Kinanti benar-benar
dengan Endy waktu itu. Kinanti menatap wajah Rio yang memerah.
“Nggak! Aku gak minum, pah! Aku cuma minum
kopi. Itu jam kerja, gimana bisa minum? Habis minum kopi aku ketiduran di sofa
lobby. Aku gak tau apa yang terjadi!”
Semua orang menatap Kinanti ketika akhirnya
Rio bicara, “Katakan apa yang terjadi sebenarnya?!”hardik Rio pada Kinanti.
“Aku hamil anakmu, Rio. Kejadiannya cepat
sekali. Kamu keliatan gak nyaman tidur di sofa. Jadi aku minta tolong staf
hotel bawa kamu ke dalam kamar. Di dalam situ kamu gak mau melepaskan aku.”
“Kau bohong! Katamu aku ketiduran di sofa.
Kamu biarin aku tidur disana sambil nunggu sopir datang! Kenapa sekarang beda?”bentak
Rio kesal. Tangannya mengepal mendengar kenyataan dia sudah menghamili anak
orang lagi tanpa ia sadari.
“Aku takut kalau jujur, nanti kamu marah
sama aku, Rio.”
Rio memegangi kepalanya dengan kedua
tangannya. Ia menatap bergantian wajah kedua orang tuanya. Alex terlihat
benar-benar marah, sementara Mia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Mah, mama percaya Rio kan? Rio gak akan
nglakuin itu. Kesalahan yang sama sampai dua kali.”
“Rio...”Mia ingin bicara, tapi Alex memotongnya.
“Jangan bela dia!”
“Dia anakku. Aku percaya dia.”kata Mia
menatap Alex.
__ADS_1
“Buktinya sudah jelas disini, Mia. Jangan
tutup mata dengan kesalahan anak ini!”
Mia sudah hampir menjawab Alex, tapi ia
menahan dirinya. Bukan saatnya membahas itu, sekarang setelah Kinanti hamil,
apa yang harus mereka lakukan.
Rio beralih menatap Gadis yang masih
berdiri di sampingnya. Di tangan Gadis ada foto-foto Rio dan Kinanti sedang
tidur di ranjang hotel. Foto mereka saat masuk ke kamar hotel juga ada. Foto
itu sangat jelas dan bukan diambil dari CCTV. Gadis berpikir cepat, ada yang
tidak beres dengan foto itu. Ia hampir menanyakannya pada Gadis, tapi Rio sudah
menarik tangannya, membuat foto-foto itu terjatuh ke lantai.
“Gadis, kamu percaya sama aku, kan?”
Gadis menelan salivanya, ia jadi ragu
dengan suaminya. Tapi bukankah ini yang ia inginkan, seorang wanita yang sudah
hamil anak dari Rio. Gadis tidak menyangka kalau permintaannya akan dikabulkan
secepat itu.
“Gadis? Kamu percaya aku gak akan melakukan
itu, kan?”tanya Rio lagi.
Alex hampir mendekati Rio, agar melepaskan
tangannya dari Gadis, tapi Mia menahannya. Sementara Kinanti sedang menanti
kehancuran Gadis yang mungkin akan pergi dari kehidupan Rio setelah ini.
Gadis menggeleng, ia menatap mata Rio, “Rio,
kamu akan punya anak. Lihatkan, kamu bisa mendapatkan anakmu sendiri. Anak
kandungmu sendiri.”
Kinanti terperanjat mendengar jawaban
Gadis. Ia kebingungan kenapa reaksi Gadis tidak sedasyat yang ia bayangkan.
”Apa yang dia katakan? Dia gak marah?
Suaminya menghamili wanita lain dan dia tidak menunjukkan kemarahan. Apa dia
sudah gila?”
“Gadis, kamu bilang apa?”tanya Alex juga
bingung. Seharusnya Rio mendapat tamparan atau bahkan sumpah serapah dari
Gadis. Tapi menantunya itu tidak menunjukkan kemarahan sama sekali. Ia justru
terlihat lega.
“Pah, Rio akan punya anak dari benihnya
sendiri. Aku gak bisa, pah. Tolong papa jangan marah lagi. Aku yakin ini sudah
takdir.”
“Omong kosong!”bentak Alex. Ia duduk
kembali ke sofa sambil memegangi tengkuknya. Mia ikut duduk di samping Alex,
memenangkannya, ia takut kalau Alex sampai naik tekanan darahnya.
Hening. Tidak ada yang bicara, bahkan Gadis
dan Rio yang masih saling menatap. Rio melepaskan tangannya yang mencengkeram
lengan Gadis.
“Apa maumu, Gadis?”
“Terima dia, Rio. Nikahi dia, demi anakmu,
demi aku.”ucap Gadis dengan berlinang air mata, tapi senyum mengembang di
bibirnya.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1