Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Terima dia


__ADS_3

DM2 – Terima dia


Rio juga sama terburu-burunya membuka


pakaiannya, keduanya kembali menyatu atas nama cinta. Saling membantu


melepaskan ketegangan dalam tubuh masing-masing sampai keduanya lemas tak


berdaya.


Gadis mengelus pipi Rio yang terbaring di


sampingnya. Rio merentangkan tangannya memeluk Gadis, mencium keningnya.


“Kita pulang, yuk. Ntar keburu kemaleman,”ajak


Gadis.


“Kenapa kita gak nginep disini aja? Bajumu


kan ada.”


Gadis tetap memaksa ingin pulang. Ia ingin


bicara dengan Mia mengenai keputusannya, ia ingin meminta pendapat Mia setelah


Rio setuju dengan permintaannya.


Keduanya segera bersih-bersih meskipun Rio


terlihat malas dan lelah. Gadis memandikan dan memakaikan pakaian Rio agar


lebih cepat selesai.


“Yank, kalau kamu capek, aku yang nyetir


ya.”pinta Gadis.


Biasanya Rio akan menolaknya, secapek


apapun dia, Rio tidak pernah membiarkan Gadis menyetir sendiri. Tapi kali ini


Rio menyerahkan kunci mobilnya.


Gadis mengemudikan mobil keluar dari


parkiran mobil di lantai bawah apartment Alex. Mereka sampai di rumah Alex


tepat jam makan malam. Tring! Tring! Ponsel Rio berdering saat mereka baru akan


parkir. Baru saja Rio akan mengambil ponselnya, Mia sudah duluan menghampiri


mereka.


“Rio, Gadis, cepat masuk. Papa mau bicara.”


Keduanya saling menatap bingung, Rio turun


duluan, ia menunggu Gadis memarkir mobil di belakang mobil Alex. Mia menarik


tangan Rio mengikutinya dengan cepat masuk ke dalam rumah. Disana di ruang tamu


rumah Alex, tampak Alex dan Kinanti duduk berhadapan.


Tangan Alex mengepal menahan kemarahannya,


ia bangkit ketika melihat Rio masuk bersama Mia. Plak! Sebuah tamparan mendarat


telak di pipi Rio. Tubuhnya terhuyun ke belakang, memegangi pipinya yang terasa


perih.


“Aku gak pernah punya anak seperti dia!!”lengking


Alex dalam kemarahannya.


Gadis yang baru saja masuk, menahan tubuh


Rio yang hampir jatuh. “Pah, kenapa? Ada apa? Kamu! Ngapain disini?”tunjuk


Gadis pada Kinanti.


Wanita itu tersenyum tipis, dengan cepat


merubah mimik wajahnya menjadi sedih. “Aku... Aku kesini minta tanggung jawab


pak Rio.”Kinanti pura-pura menangis di depan semua orang. “Aku hamil anaknya


Rio, Gadis.”


Kinanti bahkan tidak memanggil Gadis dengan


embel-embel ibu seperti sebelumnya. Wanita itu memperlihatkan hasil pemeriksaan


dokter kandungan dan juga test pack. Berikut juga foto-foto saat dirinya dan


Rio tidur bersama di sebuah kamar hotel ketika mereka pergi keluar kota untuk

__ADS_1


meeting dengan client.


Rio tidak bereaksi apa-apa, ia sama sekali


tidak ingat apa yang terjadi. Kepingan ingatannya hilang begitu saja dari


kepalanya. Kejadian di hotel itu setelah meeting, sama sekali ia tidak ingat.


Gadis gemetar melihat bukti-bukti yang


diberikan Kinanti saat Rio masuk ke kamar hotel bersama wanita itu. Bahkan ada


rekaman CCTV yang lengkap. Rio tertegun melihat rekaman itu, rekaman CCTV yang


tidak bisa ditemukan oleh orang-orang Elo karena sudah hilang akibat kerusakan


mesin penyimpanan memori CCTV di hotel.


Karena itu Rio menunggu selama ini, sambil


mencoba mengingat apa yang terjadi sebenarnya. Itulah yang membuat Rio sering


melamun.


“Bukti sudah jelas, kamu mau bela diri?


Bela dirimu! Jelaskan ini!”bentak Alex melempar foto-foto itu ke wajah Rio.


“Rio, tolong jelasin kalau itu gak bener.”pinta


Gadis menahan tangisannya. Ia masih percaya, Rio tidak akan mengkhianati


pernikahan mereka dengan berselingkuh.


Rio menatap Gadis, “Aku sungguh gak bisa ingat.”


“Apa kau mabuk waktu itu? Heh?! Kau


melakukan kesalahan yang sama? Minum-minum dan memperkosa lagi?! Itu yang kamu


lakukan!! Jawab Rio!”bentak Alex mencengkeram leher Rio keras.


Kinanti terkejut mendengar kata-kata Alex.


”Rio pernah memperkosa? Siapa yang


diperkosa? Apa Gadis?”


Setelah kematian Kaori, Kinanti benar-benar


dengan Endy waktu itu. Kinanti menatap wajah Rio yang memerah.


“Nggak! Aku gak minum, pah! Aku cuma minum


kopi. Itu jam kerja, gimana bisa minum? Habis minum kopi aku ketiduran di sofa


lobby. Aku gak tau apa yang terjadi!”


Semua orang menatap Kinanti ketika akhirnya


Rio bicara, “Katakan apa yang terjadi sebenarnya?!”hardik Rio pada Kinanti.


“Aku hamil anakmu, Rio. Kejadiannya cepat


sekali. Kamu keliatan gak nyaman tidur di sofa. Jadi aku minta tolong staf


hotel bawa kamu ke dalam kamar. Di dalam situ kamu gak mau melepaskan aku.”


“Kau bohong! Katamu aku ketiduran di sofa.


Kamu biarin aku tidur disana sambil nunggu sopir datang! Kenapa sekarang beda?”bentak


Rio kesal. Tangannya mengepal mendengar kenyataan dia sudah menghamili anak


orang lagi tanpa ia sadari.


“Aku takut kalau jujur, nanti kamu marah


sama aku, Rio.”


Rio memegangi kepalanya dengan kedua


tangannya. Ia menatap bergantian wajah kedua orang tuanya. Alex terlihat


benar-benar marah, sementara Mia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


“Mah, mama percaya Rio kan? Rio gak akan


nglakuin itu. Kesalahan yang sama sampai dua kali.”


“Rio...”Mia ingin bicara, tapi Alex memotongnya.


“Jangan bela dia!”


“Dia anakku. Aku percaya dia.”kata Mia


menatap Alex.

__ADS_1


“Buktinya sudah jelas disini, Mia. Jangan


tutup mata dengan kesalahan anak ini!”


Mia sudah hampir menjawab Alex, tapi ia


menahan dirinya. Bukan saatnya membahas itu, sekarang setelah Kinanti hamil,


apa yang harus mereka lakukan.


Rio beralih menatap Gadis yang masih


berdiri di sampingnya. Di tangan Gadis ada foto-foto Rio dan Kinanti sedang


tidur di ranjang hotel. Foto mereka saat masuk ke kamar hotel juga ada. Foto


itu sangat jelas dan bukan diambil dari CCTV. Gadis berpikir cepat, ada yang


tidak beres dengan foto itu. Ia hampir menanyakannya pada Gadis, tapi Rio sudah


menarik tangannya, membuat foto-foto itu terjatuh ke lantai.


“Gadis, kamu percaya sama aku, kan?”


Gadis menelan salivanya, ia jadi ragu


dengan suaminya. Tapi bukankah ini yang ia inginkan, seorang wanita yang sudah


hamil anak dari Rio. Gadis tidak menyangka kalau permintaannya akan dikabulkan


secepat itu.


“Gadis? Kamu percaya aku gak akan melakukan


itu, kan?”tanya Rio lagi.


Alex hampir mendekati Rio, agar melepaskan


tangannya dari Gadis, tapi Mia menahannya. Sementara Kinanti sedang menanti


kehancuran Gadis yang mungkin akan pergi dari kehidupan Rio setelah ini.


Gadis menggeleng, ia menatap mata Rio, “Rio,


kamu akan punya anak. Lihatkan, kamu bisa mendapatkan anakmu sendiri. Anak


kandungmu sendiri.”


Kinanti terperanjat mendengar jawaban


Gadis. Ia kebingungan kenapa reaksi Gadis tidak sedasyat yang ia bayangkan.


”Apa yang dia katakan? Dia gak marah?


Suaminya menghamili wanita lain dan dia tidak menunjukkan kemarahan. Apa dia


sudah gila?”


“Gadis, kamu bilang apa?”tanya Alex juga


bingung. Seharusnya Rio mendapat tamparan atau bahkan sumpah serapah dari


Gadis. Tapi menantunya itu tidak menunjukkan kemarahan sama sekali. Ia justru


terlihat lega.


“Pah, Rio akan punya anak dari benihnya


sendiri. Aku gak bisa, pah. Tolong papa jangan marah lagi. Aku yakin ini sudah


takdir.”


“Omong kosong!”bentak Alex. Ia duduk


kembali ke sofa sambil memegangi tengkuknya. Mia ikut duduk di samping Alex,


memenangkannya, ia takut kalau Alex sampai naik tekanan darahnya.


Hening. Tidak ada yang bicara, bahkan Gadis


dan Rio yang masih saling menatap. Rio melepaskan tangannya yang mencengkeram


lengan Gadis.


“Apa maumu, Gadis?”


“Terima dia, Rio. Nikahi dia, demi anakmu,


demi aku.”ucap Gadis dengan berlinang air mata, tapi senyum mengembang di


bibirnya.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2