
DM2 – Menantu bukan pembantu
“Buka aja.”
Kinanti membuka kotak itu perlahan, kilau
berlian langsung menyilaukan mata Kinanti. Ia terlihat senang sekali, sampai
tidak sadar kalau Endy sudah mulai menyentuhnya. Kinanti mendekatkan matanya
menatap detail perhiasan di dalam kotak itu.
“Kamu tau gak kalau kamu diikutin hari ini?”tanya
Endy.
“Hah?! Kok bisa? Padahal aku dah hati-hati.”saut
Kinanti sambil menaruh kotak beludru tadi di atas nakas. “Siapa yang ngikutin
aku?”
“Mamanya Rio sama tuan Jodi.”
Mata Kinanti membulat, “Jodi? Suaminya kak
Katty?! Waduh, aku ketahuan dong. Berhenti dulu.”pinta Kinanti. Tapi Endy tetap
saja melakukannya.
“Nanggung, bentar lagi. Ugh...”saut Endy.
Mereka akhirnya terlentang diatas ranjang
dengan nafas ngos-ngosan. Kinanti masih mengejar Endy,
“Aku ketahuan gak?”
“Nggak lah. Vio melakukan tugasnya dengan
baik. Tapi mereka sudah melihat dua Kinanti di tempat. Jodi ngikutin Vio, Mia
ngikutin kamu. Permainan ini semakin menarik. Kalau mereka pinter, pasti bisa
nebak apa yang terjadi.”
Kinanti menghela nafas lega, ia tidak
terlalu memusingkan apa yang dipikirkan Mia. Ia percaya Endy bisa membantunya
menjalankan rencananya mendapatkan Rio.
“Kamu gak khawatir? Gimana kalo ketahuan?”tanya
Endy.
“Kalau sampai ketahuan, aku tinggal kamu.”
“Ayank... Jangan gitu dong.”rengek Endy
manja. Kinanti tersenyum geli, tapi langsung merubah ekspresinya jadi galak
menatap Endy yang masih merengek padanya.
Di rumah Alex,
Gadis baru selesai mengganti pampers Rio,
ia merebahkan tubuhnya di sisi Rio. “Rio, sampai kapan kamu gini terus? Aku
kangen sama kamu.” Gadis melirik Rio yang tetap diam tanpa ekspresi. Ia
beranjak mencium bibir Rio, sampai dirinya hampir kehabisan nafas. Gadis
tersenyum melihat Rio juga ngos-ngosan.
Tring! Tring! Suara ponselnya membuat Gadis
menoleh. Ada yang menambahkannya dalam grup chat di WA. Gadis membaca satu
persatu chat yang masuk. Itu grup chat khusus untuk membahas Kinanti. Mia
sedang mengetik panjang lebar tentang apa yang ia dan Jodi lihat hari ini.
“Kinanti ada dua? Tapi gimana mungkin.”ucap
Gadis. Ia kembali membaca semua chat yang masuk. Matanya tertuju pada chat yang
__ADS_1
di teruskan Mia dari Bianca.
“X sudah mencari tahu tentang Endy. Dia
mantan kekasih Kinanti, mereka sempat pacaran waktu SMA dulu. Mereka pernah
terlihat bersama akhir-akhir ini di sebuah restauran. Tapi itu hanya makan
malam biasa. Keduanya berpisah jalan setelah makan malam selesai.”
Gadis meletakkan ponselnya, ia melirik Rio
lagi. “Maaf, Rio. Aku terlalu terburu-buru mempercayai Kinanti hanya karena
keegoisanku. Sepertinya takdir menghukumku seperti ini, aku harus menjagamu
seumur hidupku. Aku ingin bayi, sekarang aku mendapatkan bayi besar.”
Tring! Tring! Suara notif WA kembali
mengusik Gadis, ia membaca chat masuk tentang CCTV mall yang menunjukkan kalau
wanita yang diikuti Jodi, jelas bukan Kinanti. Bahkan ada screenshot pencarian
kecocokan wajah. Jelas wanita itu bukan Kinanti.
Chat langsung banjir pujian terhadap X yang
lebih gercep dan bisa diandalkan. Gadis tertawa melihat para pria di dalam grup
hanya mengirimkan tanda titik-titik yang menggambar mereka tidak bisa
berkata-kata lagi.
“Apa mungkin Kinanti membayar seseorang
untuk menyamar sebagai dirinya untuk mengelabui semua orang? Tapi kemana
Kinanti pergi?”ketik Gadis.
“Mungkin saja begitu. Dari yang mama liat,
Kinanti sepertinya pergi ke apartmentnya dan orang yang mirip dengannya berkeliaran di mall.
Mengalihkan pandangan semua orang ke dalam mall. Jadi kalau ada yang ngikutin
Kinanti, mereka gak akan dapat apa-apa.”ketik Mia.
itu?”tanya Rara penasaran.
Semua orang diam, tidak ada yang membalas
pertanyaan Rara. Pengintaian ini berakhir dengan jalan buntu.
Minggu-minggu berlalu, pengintaian terhadap
Kinanti masih terus dilakukan, tapi selalu berakhir di pintu gerbang apartment.
Padahal X sudah mencarikan celah untuk bisa masuk, tapi orang-orang yang
dikirim Jodi dan Elo, masih belum bisa menemukan bukti kelicikan Kinanti.
Kandungan Kinanti mulai memasuki bulan ke
empat, tapi permintaan Kinanti semakin banyak pada Gadis karena ngidamnya. Mia
sampai kesal dibuatnya, tapi Gadis tetap tidak mengeluh. Apalagi melihat cara
Kinanti memperlakukan Rio, Mia benar-benar tidak suka dengan wanita yang satu
itu. Kinanti tidak mau merawat Rio seperti Gadis merawatnya dengan tulus.
Mia pernah melihat Kinanti keluar dari
kamar Rio, padahal Gadis masih makan di bawah. Ia gelagapan waktu Mia bertanya
padanya, tanpa menjawab Kinanti malah melewatinya begitu saja. Ketika Mia
mengecek ke dalam, tercium bau tidak sedap lagi dari dalam kamar. Mia melihat
keluar kamar lagi ketika Kinanti berteriak dari lantai 2 memanggil Gadis.
Kinanti memberitahu kalau Rio buang air dan menyuruh Gadis membersihkannya.
Belum lagi waktu Gadis sedang melakukan
perawatan pada Rio, Gadis datang hanya untuk menyuruh Gadis memijat pundaknya
__ADS_1
yang kaku. Mia jadi kesal melihat menantunya diperlakukan seperti pembantu oleh
Kinanti. Lebih stress lagi ketika Gadis selalu memintanya menahan diri untuk
tidak memarahi Kinanti.
“Gadis, makan dulu. Kamu ngapain
sich?”tanya Mia melihat Gadis masih sibuk di dapur.
“Ini, mah. Kinanti mau steaknya dipotong
kecil-kecil. Sebentar Gadis makan.”
“Gadis, taruh piring itu. Dia sudah makan
dua kali dari pagi. Tapi mama lihat kamu belum makan dari pagi. Ini sudah
siang. Makan sekarang!”bentak Mia kesal.
“Iy... iya, mah.”
Gadis terpaksa mengambil piring, lalu makan
dengan cepat. Ia hanya makan sedikit, takut keburu dipanggil Kinanti.
“Gadis!!”teriak Kinanti memanggil Gadis
dari lantai 2.
“Biar mama yang bawa steak-nya. Makin hari
makin nglunjak.”
“Mah, biar Gadis aja. Mama jangan
marah-marah sama Kinanti. Dia lagi hamil, mah.”
“Iya, mama tau. Biar mama yang keatas. Kamu
lanjutin makan.”
Gadis kembali duduk di meja makan, sesekali
ia melihat ke arah tangga. Ketika melihat Mia turun dengan piring kosong di
tangannya, Gadis tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. “Mah, Kinanti gak
pa-pa kan?”
“Dia gak pa-pa. Malahan bilang mau liburan
keluar kota selama beberapa hari ini.”
Mata Gadis membulat, “Mama ijinin?”
“Kenapa harus mama larang? Kandungannya
baik-baik aja. Terserah dia mau kemana, kita gak bisa nglarang dia, Gadis. Kalau
dia stress juga gak baik buat kandungannya, kan?”
“Trus kak Rara ngasi dia cuti?”tanya Gadis
lagi, mengingat Kinanti masih bekerja sebagai sekretaris di kantor Arnold.
“Sepertinya Rara yang nyuruh dia cuti. Eneg
liat mukanya katanya.”cetus Mia.
Gadis terdiam, kalau Kinanti pergi, dia
bisa fokus melakukan terapi untuk Rio saja. Tapi kalau sampai ada apa-apa
dengan kandungan Kinanti gimana?
“Dia tidak akan melakukan sesuatu yang
membahayakan kandungannya, Gadis. Tujuannya untuk mendapatkan Rio, dia pasti
menjaga kandungannya dengan baik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia. Biar
dia pergi sebentar. Kamu bisa fokus merawat Rio dan juga dirimu sendiri.”
“Maksud mama?”
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.