Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Menantu bukan pembantu


__ADS_3

DM2 – Menantu bukan pembantu


“Buka aja.”


Kinanti membuka kotak itu perlahan, kilau


berlian langsung menyilaukan mata Kinanti. Ia terlihat senang sekali, sampai


tidak sadar kalau Endy sudah mulai menyentuhnya. Kinanti mendekatkan matanya


menatap detail perhiasan di dalam kotak itu.


“Kamu tau gak kalau kamu diikutin hari ini?”tanya


Endy.


“Hah?! Kok bisa? Padahal aku dah hati-hati.”saut


Kinanti sambil menaruh kotak beludru tadi di atas nakas. “Siapa yang ngikutin


aku?”


“Mamanya Rio sama tuan Jodi.”


Mata Kinanti membulat, “Jodi? Suaminya kak


Katty?! Waduh, aku ketahuan dong. Berhenti dulu.”pinta Kinanti. Tapi Endy tetap


saja melakukannya.


“Nanggung, bentar lagi. Ugh...”saut Endy.


Mereka akhirnya terlentang diatas ranjang


dengan nafas ngos-ngosan. Kinanti masih mengejar Endy,


“Aku ketahuan gak?”


“Nggak lah. Vio melakukan tugasnya dengan


baik. Tapi mereka sudah melihat dua Kinanti di tempat. Jodi ngikutin Vio, Mia


ngikutin kamu. Permainan ini semakin menarik. Kalau mereka pinter, pasti bisa


nebak apa yang terjadi.”


Kinanti menghela nafas lega, ia tidak


terlalu memusingkan apa yang dipikirkan Mia. Ia percaya Endy bisa membantunya


menjalankan rencananya mendapatkan Rio.


“Kamu gak khawatir? Gimana kalo ketahuan?”tanya


Endy.


“Kalau sampai ketahuan, aku tinggal kamu.”


“Ayank... Jangan gitu dong.”rengek Endy


manja. Kinanti tersenyum geli, tapi langsung merubah ekspresinya jadi galak


menatap Endy yang masih merengek padanya.


Di rumah Alex,


Gadis baru selesai mengganti pampers Rio,


ia merebahkan tubuhnya di sisi Rio. “Rio, sampai kapan kamu gini terus? Aku


kangen sama kamu.” Gadis melirik Rio yang tetap diam tanpa ekspresi. Ia


beranjak mencium bibir Rio, sampai dirinya hampir kehabisan nafas. Gadis


tersenyum melihat Rio juga ngos-ngosan.


Tring! Tring! Suara ponselnya membuat Gadis


menoleh. Ada yang menambahkannya dalam grup chat di WA. Gadis membaca satu


persatu chat yang masuk. Itu grup chat khusus untuk membahas Kinanti. Mia


sedang mengetik panjang lebar tentang apa yang ia dan Jodi lihat hari ini.


“Kinanti ada dua? Tapi gimana mungkin.”ucap


Gadis. Ia kembali membaca semua chat yang masuk. Matanya tertuju pada chat yang

__ADS_1


di teruskan Mia dari Bianca.


“X sudah mencari tahu tentang Endy. Dia


mantan kekasih Kinanti, mereka sempat pacaran waktu SMA dulu. Mereka pernah


terlihat bersama akhir-akhir ini di sebuah restauran. Tapi itu hanya makan


malam biasa. Keduanya berpisah jalan setelah makan malam selesai.”


Gadis meletakkan ponselnya, ia melirik Rio


lagi. “Maaf, Rio. Aku terlalu terburu-buru mempercayai Kinanti hanya karena


keegoisanku. Sepertinya takdir menghukumku seperti ini, aku harus menjagamu


seumur hidupku. Aku ingin bayi, sekarang aku mendapatkan bayi besar.”


Tring! Tring! Suara notif WA kembali


mengusik Gadis, ia membaca chat masuk tentang CCTV mall yang menunjukkan kalau


wanita yang diikuti Jodi, jelas bukan Kinanti. Bahkan ada screenshot pencarian


kecocokan wajah. Jelas wanita itu bukan Kinanti.


Chat langsung banjir pujian terhadap X yang


lebih gercep dan bisa diandalkan. Gadis tertawa melihat para pria di dalam grup


hanya mengirimkan tanda titik-titik yang menggambar mereka tidak bisa


berkata-kata lagi.


“Apa mungkin Kinanti membayar seseorang


untuk menyamar sebagai dirinya untuk mengelabui semua orang? Tapi kemana


Kinanti pergi?”ketik Gadis.


“Mungkin saja begitu. Dari yang mama liat,


Kinanti sepertinya pergi ke apartmentnya dan orang  yang mirip dengannya berkeliaran di mall.


Mengalihkan pandangan semua orang ke dalam mall. Jadi kalau ada yang ngikutin


Kinanti, mereka gak akan dapat apa-apa.”ketik Mia.


itu?”tanya Rara penasaran.


Semua orang diam, tidak ada yang membalas


pertanyaan Rara. Pengintaian ini berakhir dengan jalan buntu.


Minggu-minggu berlalu, pengintaian terhadap


Kinanti masih terus dilakukan, tapi selalu berakhir di pintu gerbang apartment.


Padahal X sudah mencarikan celah untuk bisa masuk, tapi orang-orang yang


dikirim Jodi dan Elo, masih belum bisa menemukan bukti kelicikan Kinanti.


Kandungan Kinanti mulai memasuki bulan ke


empat, tapi permintaan Kinanti semakin banyak pada Gadis karena ngidamnya. Mia


sampai kesal dibuatnya, tapi Gadis tetap tidak mengeluh. Apalagi melihat cara


Kinanti memperlakukan Rio, Mia benar-benar tidak suka dengan wanita yang satu


itu. Kinanti tidak mau merawat Rio seperti Gadis merawatnya dengan tulus.


Mia pernah melihat Kinanti keluar dari


kamar Rio, padahal Gadis masih makan di bawah. Ia gelagapan waktu Mia bertanya


padanya, tanpa menjawab Kinanti malah melewatinya begitu saja. Ketika Mia


mengecek ke dalam, tercium bau tidak sedap lagi dari dalam kamar. Mia melihat


keluar kamar lagi ketika Kinanti berteriak dari lantai 2 memanggil Gadis.


Kinanti memberitahu kalau Rio buang air dan menyuruh Gadis membersihkannya.


Belum lagi waktu Gadis sedang melakukan


perawatan pada Rio, Gadis datang hanya untuk menyuruh Gadis memijat pundaknya

__ADS_1


yang kaku. Mia jadi kesal melihat menantunya diperlakukan seperti pembantu oleh


Kinanti. Lebih stress lagi ketika Gadis selalu memintanya menahan diri untuk


tidak memarahi Kinanti.


“Gadis, makan dulu. Kamu ngapain


sich?”tanya Mia melihat Gadis masih sibuk di dapur.


“Ini, mah. Kinanti mau steaknya dipotong


kecil-kecil. Sebentar Gadis makan.”


“Gadis, taruh piring itu. Dia sudah makan


dua kali dari pagi. Tapi mama lihat kamu belum makan dari pagi. Ini sudah


siang. Makan sekarang!”bentak Mia kesal.


“Iy... iya, mah.”


Gadis terpaksa mengambil piring, lalu makan


dengan cepat. Ia hanya makan sedikit, takut keburu dipanggil Kinanti.


“Gadis!!”teriak Kinanti memanggil Gadis


dari lantai 2.


“Biar mama yang bawa steak-nya. Makin hari


makin nglunjak.”


“Mah, biar Gadis aja. Mama jangan


marah-marah sama Kinanti. Dia lagi hamil, mah.”


“Iya, mama tau. Biar mama yang keatas. Kamu


lanjutin makan.”


Gadis kembali duduk di meja makan, sesekali


ia melihat ke arah tangga. Ketika melihat Mia turun dengan piring kosong di


tangannya, Gadis tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. “Mah, Kinanti gak


pa-pa kan?”


“Dia gak pa-pa. Malahan bilang mau liburan


keluar kota selama beberapa hari ini.”


Mata Gadis membulat, “Mama ijinin?”


“Kenapa harus mama larang? Kandungannya


baik-baik aja. Terserah dia mau kemana, kita gak bisa nglarang dia, Gadis. Kalau


dia stress juga gak baik buat kandungannya, kan?”


“Trus kak Rara ngasi dia cuti?”tanya Gadis


lagi, mengingat Kinanti masih bekerja sebagai sekretaris di kantor Arnold.


“Sepertinya Rara yang nyuruh dia cuti. Eneg


liat mukanya katanya.”cetus Mia.


Gadis terdiam, kalau Kinanti pergi, dia


bisa fokus melakukan terapi untuk Rio saja. Tapi kalau sampai ada apa-apa


dengan kandungan Kinanti gimana?


“Dia tidak akan melakukan sesuatu yang


membahayakan kandungannya, Gadis. Tujuannya untuk mendapatkan Rio, dia pasti


menjaga kandungannya dengan baik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia. Biar


dia pergi sebentar. Kamu bisa fokus merawat Rio dan juga dirimu sendiri.”


“Maksud mama?”


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2