Duren Manis

Duren Manis
Keputusan untuk Agnes


__ADS_3

Ronald bukan hanya membawa ponselnya tapi ia juga sudah terhubung dengan nenek melalui v-call. Ronald mengarahkan ponselnya ke depan dan wajah nenek terlihat disana.


Nenek : "Agnes..."


Agnes : "Nenek. Kak Arnold memukulku demi perempuan murahan itu. Nenek bujuk kak Arnold, kami harus menikah."


Nenek : "Agnes, kembali ke rumah. Sekarang!"


Agnes : "Tapi nek, kak Arnold masih disini. Aku harus menikah dengannya. Itu janji kami dulu."


Rara menoleh menatap Arnold yang juga menatapnya. Arnold ingat kalau dia tidak pernah berjanji apapun pada Agnes. Agnes yang memaksakan dirinya pada Arnold.


Arnold : "Aku gak pernah janji apa-apa, Ra."


Mereka kembali menatap nenek yang terlihat sangat kecewa dengan Agnes.


Nenek : "Agnes, Arnold sudah menikah. Pulanglah dulu. Kita cari pangeran untukmu ya."


Agnes : "Aku gak mau! Aku mau kak Arnold. Kak Arnold milikku!"


Nenek : "Agnes!! Jangan berani membantah nenek! Pulang sekarang atau kamu gak akan balik ke Indonesia lagi."


Agnes terdiam mendengar bentakan nenek. Ia menunduk dan berdiri dengan tegak. Kalau nenek sudah berteriak seperti itu, nenek harus dituruti atau jangan harap masih dianggap cucunya.


Nenek : "Arnold sudah menikah, Agnes. Kamu harus mengerti."


Agnes : "Nek, aku mencintai kak Arnold."


Nenek : "Kalau kamu memang tulus mencintainya, kenapa kamu memilih pergi dari sisinya? Kamu memilih pergi keluar negeri, meninggalkan Arnold yang saat itu masih terpuruk."


Agnes : "Tapi nek saat itu pemilihan model internasional. Aku kan cuma pergi sebentar."


Arnold : "Aku sakit hampir 4 tahun! Dan kau bilang sebentar. Setelah kamu meninggalkan Indonesia saat itu aku sudah menganggapmu bukan siapa-siapa lagi!"


Arnold mengepalkan tangannya, ia sangat marah dan kepalanya mulai sakit. Arnold memegangi kepalanya yang sakit, tubuhnya hampir jatuh menahan sakit. Rara yang melihat hal itu, buru-buru menahan tubuh Arnold.


Rara : "Mas Arnold!"


Ronald menoleh melihat Arnold memegangi kepalanya. Agnes hampir berlari mendekati Arnold, tapi Rara menghentikannya.


Rara : "Mas, tenang..."


Arnold memeluk tubuh Rara, ia menghirup aroma tubuh Rara dalam-dalam. Nafasnya yang tadi tersengal perlahan mulai normal kembali.


Arnold menciumi leher Rara, memeluk tubuh istrinya itu sangat dalam, tidak peduli semua orang disana bisa melihat keintiman mereka. Rara mengelus belakang kepala Arnold sambil menatap tajam pada Agnes.


Nenek, Ronald dan Agnes melihat dengan jelas bagaimana kondisi Arnold yang hampir pingsan perlahan mulai sadar kembali.


Ronald : "Agnes, sekarang kau lihat sendiri kan. Rara dan Arnold saling membutuhkan, mereka tidak bisa dipisahkan. Arnold akan sakit kalau dipisahkan dari Rara."


Agnes diam tidak menanggapi Ronald. Berita yang ia dengar tentang penyebab kesembuhan Arnold serasa tidak masuk akal baginya. Tidak ada penjelasan logis tentang hal itu.


Tapi ia melihat sendiri kenyataannya sekarang. Rara bisa bertindak seperti obat bagi Arnold yang kesakitan.


Agnes : "Aku juga bisa melakukannya."


Dengan sangat lancang, Agnes menarik Arnold sampai pelukannya terlepas dari Rara. Ia memeluk Arnold sangat erat, Arnold yang belum sepenuhnya pulih, malah merasa sesak nafas.


Rara memekik ketika melihat tubuh Arnold meluncur turun dari pelukan Agnes. Ronald memanggil sopirnya dan membantu menahan tubuh Arnold.

__ADS_1


Ronald : "Bawa masuk ke mobil. Cepat."


Sopir membopong Arnold dibantu Rara, sementara nenek juga ikutan panik melihat Arnold hampir pingsan. Setelah membaringkan Arnold di kursi belakang, Rara minta sopir Ronald menunggu sebentar di luar mobil.


Rara : "Pak, tolong tunggu di luar. Jangan masuk dulu."


Ronald mengangguk pada sopirnya yang menatapnya. Ia kembali menatap tajam pada Agnes yang terus menatap ke arah mobil.


Di dalam mobil, Rara mengendurkan gesper Arnold. Ia membuka kancing kemeja Arnold dan juga membuka kaosnya.


Arnold membuka matanya sedikit, ia melihat Rara sudah telanjang dada segera menarik tubuh istrinya itu dan membenamkan wajahnya ke dada Rara.


Bukan nafsu atau hasrat yang meliputi keduanya di dalam mobil itu tapi murni terapi penyembuhan yang membuat Arnold mulai sadar sepenuhnya.


Rara : "Mas, kamu gak pa-pa?"


Arnold : "Aku uda baikan."


Rara : "Masih sakit kepalamu?


Arnold : "Uda hilang sakitnya."


Arnold menatap wajah Rara, turun ke dadanya yang masih terbuka lebar di depan wajah Arnold. Ia kembali menatap wajah Rara,


Arnold : "Yang, lanjut yuk. Sebentar aja."


Rara spontan menutup dadanya dengan sebelah tangan, melihat seringai mesum Arnold. Tangan satunya mencari-cari kaos dan branya yang entah ia lempar kemana tadi. Arnold mulai menyusuri tubuhnya,


Rara : "Mas, jangan nakal. Ini mobil papa. Papa juga masih diluar."


Arnold : "Kalau mobil kita, boleh ya."


Rara sudah menemukan pakaiannya dan segera memakainya. Sebelum keluar dari mobil, Arnold menahan Rara dan mencium bibirnya sampai Rara ngos-ngosan.


Arnold membuka pintu mobil dan keluar dari sana disusul Rara yang wajahnya merah padam.


Ketiga orang yang masih sabar menunggu mereka, menoleh menatap keduanya. Wajah Arnold dan Rara merona ditatap begitu.


Ronald : "Kamu gak pa-pa?"


Arnold : "Uda baikan, pah. Kamu masih disini?!"


Arnold membentak Agnes yang kaget dan berjalan mundur. Ia hampir jatuh ke jalan raya dibelakangnya kalau saja klakson mobil tidak mengagetkannya.


Ronald : "Agnes, masuk mobil sekarang."


Nenek : "Agnes, nenek tunggu di rumah. Cepat pulang."


Ronald memutuskan sambungan v-call dan menyusul Agnes yang berjalan duluan ke mobil Ronald. Agnes menoleh lagi ke belakang menatap Arnold dan Rara yang berdiri sambil berangkulan.


Ronald : "Berikan kunci mobilmu. Arnold, suruh orang kirim mobil Agnes pulang." Ronald melemparkan kunci mobil Agnes.


Arnold : "Ya, pah." Arnold menangkap kunci mobil itu dengan baik.


Ronald : "Cepat masuk, nunggu apalagi?"


Agnes masuk ke mobil dengan patuh. Ia kembali menatap Arnold dan Rara dari dalam mobil.


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


Arnold merebahkan tubuhnya di sofa apartmentnya. Rara mengambil air putih dan memberikannya pada Arnold yang langsung meminumnya sampai habis.


Ketika Rara duduk di sampingnya, Arnold memeluk tubuh Rara melanjutkan yang tadi sempat tertunda di mobil Ronald.


Rara : "Mas, masih mau lanjut?"


Arnold : "Wajib lanjut. Kan kamu yang duluan..."


Rara : "Tapi... tadi situasinya... darurat..."


Kata-kata Rara terputus-putus karena Arnold tidak berhenti menciumnya.


Rara sudah merasa lelah sebenarnya, tapi ia tidak bisa menolak Arnold yang masih bersemangat. Ketika Arnold sudah menyelesaikan urusannya, Rara sudah tidak sadarkan diri.


Arnold : "Rara? Rara?!"


Arnold mengguncang tubuh Rara tapi ia tidak bangun juga.


🌼🌼🌼🌼🌼


Rara membuka matanya, ia merasa sedikit pusing. Pandangannya menyapu sekitarnya dan melihat Arnold duduk di sampingnya.


Rara : "Mas..."


Arnold membantu Rara duduk, ia mengusap rambut Rara yang berantakan,


Arnold : "Kamu gak pa-pa, sayang? Tadi kamu pingsan."


Rara : "Pingsan?"


Arnold : "Kamu kecapean. Dokter bilang kita terlalu over."


Rara : "Mas sich..."


Arnold tersenyum menatap istrinya yang mulai mengomel. Ia memeluk Rara dengan erat sampai Rara berontak, takut dimakan lagi.


Arnold : "Maaf, sayang. Aku terlalu menekanmu. Aku pikir kita bisa secepatnya mendengar kabar baik kalau sering melakukannya."


Rara : "Tapi aku malah pingsan. Ambilkan minum, mas."


Arnold : "Ya, dokternya bilang harus diatur jadwalnya biar gak kecapean."


Rara : "Maass... Aku laper."


Arnold : "Oh, uda waktunya makan malam ya. Aku pesen dulu."


Rara tersenyum manis, ia mengelus perutnya dan berharap buah cinta mereka akan segera hadir di dalam sana.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2