Duren Manis

Duren Manis
Bidadari dingin


__ADS_3

Upacara penerimaan mahasiswa baru diadakan dua hari setelah mahasiswa baru masuk ke dalam asrama. Seluruh aula dihias dengan cukup sederhana mewakili warna masing-masing angkatan.


Karena si kembar baru tingkat pertama, mereka memakai warna merah dan warna tingkat selanjutnya sesuai dengan warna pelangi.


Mahasiswa baru berbaris rapi di lapangan menunggu pemilik kampus datang untuk memberikan sepatah dua patah kata.


Riri menoleh melihat ke arah sosok pria paruh baya yang masih tampak kuat menaiki podium dengan tongkatnya yang berbunyi tok, tok, tok beradu dengan kayu podium.


Senyap dirasakan Riri saat akhirnya pria paruh baya itu sampai di belakang mic. Aura yang dimiliki pria paruh baya itu benar-benar bisa memberikan tekanan yang cukup kuat.


Pak Michael : "Selamat pagi, semuanya..."


Mahasiswa : "Selamat pagi, pak."


Pak Michael : "Perkenalkan saya Michael, saya pemilik kampus ini. Saya senang sekali bisa hadir disini menemui adik mahasiswa sekalian."


Kata-kata Pak Michael sangat bagus dan tertata. Riri menaruh kekagumannya pada Pak Michael. Ia ingin menjadikan Pak Michael sebagai panutannya.


Upacara kelulusan akhirnya selesai juga. Riri merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku karena berdiri cukup lama. Pak Michael tampak berjalan turun dari podium.


Para dosen dan rektor tampak mengiringi Pak Michael berjalan ke mobilnya. Riri menyelinap diantara kerumunan mahasiswa, mencoba mengejar Pak Michael.


Ia terhalang banyaknya mahasiswa yang juga ikut mendekati Pak Michael. Rio yang menyusul dibelakangnya, juga terjepit.


Keith melihat Riri yang kesulitan segera menolongnya, tapi ia juga sulit menjangkau Riri. Saat Riri hampir jatuh, seseorang menahan tubuhnya. Riri menoleh melihat siapa yang menolongnya.


Riri : "Kak Elo?"


Elo : "Kamu gak pa-pa, Ri?"


Riri : "Kakak ngapain disini?"


Elo : "Aku ada kerjaan disini."


Elo masih merangkul Riri, melindunginya dari desakan mahasiswi yang lain. Tubuh Riri menempel di tubuh Elo, ia bisa mendengar detak jantung Elo berdebar kencang.


Riri mendongak menatap Elo yang masih menatapnya.


Riri : "Kak, kita jalan ke pinggir yuk."


Elo : Ntar, Ri. Masi rame, ntar kamu jatuh."


Riri : "Kakak gak pa-pa?"


Elo : "Gak pa-pa. Kamu luka gak?"


Riri : "Nggak, kak."


Perlahan kerumunan mahasiswa mulai berkurang. Elo membawa Riri ke bangku taman di sisi lapangan. Riri mengipasi tubuhnya yang berkeringat karena cuaca panas dan karena pelukannya dengan Elo.


Rio ikut bergabung bersama mereka, sementara Keith menghilang entah kemana.


Rio : "Loh, kak Elo ngapain disini?"


Elo : "Aku ada kerjaan disini. Kalian kuliah disini?"


Riri : "Iya, kak. Makasih ya uda nolong aku."


Elo : "Iya, sama-sama."


Mereka ngobrol sebentar karena si kembar harus bergabung dengan mahasiswa lain untuk pengarahan selanjutnya. Riri tersenyum sepanjang acara mengingat kejadian tadi.

__ADS_1


------


Keesokan harinya, kelas baru dimulai dan segera berakhir karena dosen yang mengajar hanya perkenalan diri dan memberikan tugas meringkas materi.


Riri asyik membaca buku tentang pelajarannya di kampus. Ia duduk di taman di belakang asramanya yang biasa dipakai mahasiswa lain untuk bersantai. Beberapa temannya berlalu di depannya sambil menyapa dirinya.


Riri hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Ia kembali fokus membaca tidak peduli dengan sekitarnya.


Bruk! Keith menjatuhkan dirinya di samping Riri. Ia juga membawa buku pelajaran yang sama.


Keith : "Hai, Ri. Aku gabung ya. Bosen sendiri."


Riri : "Silakan aja."


Keith bukannya membaca, ia duduk di samping Riri menatapnya dengan intens. Riri yang merasa diperhatikan, mengalihkan pandangannya dari bukunya.


Riri : "Kak, aku balik ke asrama dulu ya."


Keith : "Yah, kok gitu sich. Aku baru duduk sini. Temenin aku dong."


Riri : "Aku kebelet, kak. Dah, kak."


Riri mengemasi barang-barangnya, ia segera berlalu dari sana. Keith menatap kepergiannya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Keith membuka kunci ponselnya, ia membuka gallery dan melihat foto-foto Riri yang ia ambil diam-diam.


Sejak pertama ketemu Riri, Keith memutuskan mengejarnya. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi sampai detik ini belum berani menyatakan perasaannya.


Riri selalu bersikap formal padanya, sopan dan baik. Keith tidak suka itu, ia ingin Riri sedikit manja padanya. Normalnya anak perempuan akan bersikap begitu.


Tapi Riri tidak masuk kategori normal, ia jarang mengungkapkan perasaannya lewat ekspresi wajah atau perilakunya. Riri terlalu dingin sebagai perempuan tapi dia cantik.


Keith menghela nafas berat, ia masih menatap foto Riri di ponselnya. Biarlah ia dianggap maniak karena menyimpan foto Riri tanpa ijin. Tapi hanya itu satu-satunya jalan ia bisa menikmati kecantikan Riri.


Keith bicara dengan foto Riri seolah orangnya ada di depannya. Ia tidak peduli orang lain yang melihat akan menganggapnya gila.


Keith : "Aku suka sama kamu, Ri. Suka banget."


Keith mencium layar ponselnya dan jreng! Foto Riri berganti jadi foto mamanya yang tiba-tiba menelpon.


Keith : "Halo, mah?"


Mama : "Kamu dimana?"


Keith : "Masi di kampus, mah."


Mama : "Jemput mama dong. Mama di mall deket kampusmu."


Keith : "Iya, tunggu mah."


Keith menutup telponnya, ia meratapi nasibnya yang kurang berani mengungkapkan perasaannya. Padahal banyak kesempatan untuk mengatakannya.


Keith takut kalau Riri menolaknya, hubungan mereka tidak akan sama lagi. Keith beranjak dari duduknya dan pergi ke parkiran mobil.


-----


Riri yang terburu-buru kembali ke asrama karena tidak mau dikejar Keith, hampir menabrak Rio yang baru balik dari main basket.


Rio : "Woow.. kenapa sich?"


Riri : "Ada Keith, aku takut dikejar."

__ADS_1


Rio : "Mana?"


Riri : "Kayaknya masi di taman? Anterin aku ke asrama."


Rio : "Ayo, aku juga mau mandi."


Si kembar berjalan beriringan sambil ngobrol dengan seru. Ketika mereka sampai di depan asrama wanita, seseorang menyapa Riri.


Kaori : "Hai, Ri. Darimana?"


Riri : "Hai juga. Aku dari taman. Kamu mau kemana?"


Kaori : "Aku mau ke kantin. Laper. Kamu mau nitip?"


Riri : "Nggak sich."


Rio memperhatikan interaksi antara kedua gadis itu, ia melihat gadis manis di depannya dengan rambut diikat ekor kuda. Tangan Rio terulur menarik ekor kuda gadis itu.


Kaori : "Aduh! Apaan sich?!"


Rio : "Lucu..."


Kaori : "Kamu rese...!! Jangan tarik, sakit!!"


Rio tersenyum mengejek, ia menghindar dari tangan Kaori yang melayang hampir mengenai tangannya.


Kaori : "Siapa sich dia?! Nyebelin banget."


Riri : "Dia Rio, adik kembarku."


Kaori : "Kamu kembar??! Wow! Tapi kok nyebelin gitu!"


Riri tersenyum tipis melihat teman sekamarnya mencak-mencak menghadap ke arah Rio yang masih berdiri tak jauh dari mereka.


Sepertinya Rio tertarik pada Kaori, Rio hampir sama dinginnya dengan dirinya dan tidak mudah tertarik pada lawan jenis. Ia mulai iseng pada gadis yang disukainya.


Kaori berjalan ke arah kantin, meninggalkan Riri dan Rio yang masih berdiri di tempat semula.


Rio : "Siapa dia?"


Riri : "Kok kepo?"


Rio : "Lucu aja."


Riri : "Dia Kaori, teman sekamarku."


Rio : "Ooo... Salam ya."


Riri : "Hah?! Serius?"


Rio : "Iyalah. Masuk sana. Aku mau mandi. Nanti aku jemput waktu makan malam."


Rio melambaikan tangannya pada Riri yang segera masuk ke asrama putri.


-----


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2