
Siasat licik
Rio masih melanjutkan apa yang ia mulai tadi.
Benar-benar fotocopyan Alex, Rio mengikuti jejak papanya dalam hal percintaan.
Ketika kehangatan dan kemesraan mereka berdua
selesai sudah, Gadis ingin mandi. Ia hampir bangkit dari atas tempat tidur tapi
Rio menahan tangannya.
“Kamu mau kemana? Jangan pergi.”pinta Rio.
Gadis tersipu malu, mereka baru saja menghabiskan
waktu bersama dengan sangat intim dan Gadis merasa sangat bahagia sampai
rasanya mau meledak.
“Aku mau mandi. Badanku lengket. Kamu gak mandi?”tanya
Gadis.
“Ini udah malem. Nanti kamu masuk angin. Disini
aja. Bentar lagi gak lengket kok.”kata Rio.
Pria itu melingkarkan tangannya ke pinggang Gadis dengan
posesif dan mengelus-elus perutnya. Gadis tersenyum sumringah merasakan
sentuhan lembut Rio di perutnya.
“Baby, apa kau baik-baik saja di dalam sana? Papa
tidak menyenggolmu, kan?”
“Sepertinya dia sedang tidur. Rio, aku mandi dulu
ya. Habis itu kita pulang.”
“Jangan pulang. Nginep sini.”pinta Rio tidak mau
melepaskan pelukan tangannya.
“Nanti mamaku nyariin. Aku gak enak kalau jujur.
Apalagi kita barusan...”Gadis menghentikan kata-katanya. Wajahnya merona lagi
mengingat kejadian barusan.
“Apa? Kok berhenti ngomongnya? Kamu gak suka ya?”kejar
Rio.
“Aku malu, Rio. Tapi aku suka kok.”ucap Gadis
malu-malu.
Rio menarik tubuh Gadis agar berbaring lagi. Ia mengusap
rambut Gadis dan mencium keningnya.
“Gadis, berhenti nerima bunga dari pria lain. Aku
gak suka liatnya. Aku cemburu, melihatmu bahagia banget nerima bunga dari
Manta.”
“Dari mana kamu tahu siapa yang ngasi bunga itu?
Perasaan aku gak ada bilang sama siapa-siapa dech.”
“Itu, aku... aku ngikutin kamu makan siang tadi.
Aku denger semuanya. Waktu kamu bilang belum punya pacar, kayak ada yang nampar
pipiku. Sakit.”
“Kamu emang pantes ditampar. Nyebelin.”kata Gadis
sambil tersenyum manis.
Pria yang sedang menatapnya itu, memeluknya sambil
menciumi telinga Gadis. Gadis tertawa kegelian, balas memeluk Rio.
Kring! Kring! Tiba-tiba ponsel Gadis berdering.
Mereka berdua menoleh keatas nakas. Rio mengambil ponsel itu dan melihat mama
calling.
“Mama Aira telpon. Angkat dulu.”
“Aku harus bilang apa?”
“Bilang kamu masih sama aku. Udah angkat aja.”kata
Rio.
“Halo, mah.”
__ADS_1
“Gadis, kamu dimana? Ini sudah lewat jam makan
malam. Kamu masih di kantor?”tanya Aira.
“Mah, Gadis lagi keluar sama Rio.”
“Oh, kemana? Kok sepi?”
“Malam, mah. Rio ngajak Gadis makan di apartment
papa. Mah, Rio minta ijin ya. Gadis boleh nginep disini sama Rio?”tanya Rio gak
pake basa-basi.
“Kamu mau ngapain Gadis?”tanya Aira sambil menahan
senyumnya.
“Rio gak ngapa-ngapain lagi kok, mah. Beneran dech.
Boleh ya?”bujuk Rio.
“Maksudmu kamu udah ngapa-ngapain Gadis tadi?”tanya
Aira kepo.
Rio menggaruk kepalanya memilih antara ngaku atau
boong. Akhirnya Rio memilih mengaku dan alasannya ingin Gadis menginap hanya
agar mereka semakin dekat dan bisa segera memutuskan tentang pernikahan.
“Gadis, kamu mau nginep sama Rio?”tanya Aira.
“Kalau boleh, mah.”kata Gadis dengan wajah memerah.
“Hadeh, kapan sich kalian nikah? Kan gak bikin
was-was gini.”
“Rio maunya secepatnya, mah. Tapi Gadisnya nich,
mah.”
“Iya, nanti kita nikah samaan sama ulang tahunku.”putus
Gadis akhirnya.
“Beneran? Tiga minggu lagi, dong.”kata Rio.
“Kok kamu tahu hari ulang tahunku?”tanya Gadis.
“Aku pernah lihat KTP-mu. Aku juga uda nyiapin kado
“Apaan?”tanya Gadis kepo.
“Diriku sendiri. Pake pita besar. Coba tebak
pitanya aku ikat dimana?”
“Ehem! Kalian gak sopan ya. Mama dicuekin. Itu
apalagi, pita besar. Hadeh! Gak tau apa orang tua kuatir, malah bahas hal
gituan.”
Rio pasrah kena omelan calon mertuanya yang tidak
berhenti ngomong 10 menit lebih tanpa jeda. Ketika akhirnya Aira menutup
telponnya, Rio mengusap kedua telinganya yang panas.
“Mamamu hebat. Bisa ngerap lama banget.”
“Enak aja ngatain mamaku ngerap. Itu nasihat tau.
Panas kan kupingmu.”ejek Gadis.
“Gak pa-pa dech kena omelan, yang penting dikasi
nginep. Hehe. Mandi yuk.”ajak Rio mulai nakal lagi.
“Aku mandi duluan ya. Kamu disini, ganti
seprai-nya.”
“Yah, gak ada ronde kedua nich?”tanya Rio sambil
manyun.
“Ronde kedua apaan? Kamu gak kasian sama anakmu? Nakal.”
Rio bangkit dari tempat tidur dan mengganti seprai
yang sudah kotor itu. Ia mengambil ponselnya dan mengirim chat pada Mia kalau
Gadis sudah mau menikah dalam waktu tiga minggu lagi. Rio juga mengatakan kalau
ia akan tidur di apartment malam ini bersama Gadis.
*****
Manta sedang menikmati minuman dan gadis cantik
__ADS_1
yang sedang menemaninya di klub. Linda datang menghampirinya dan menanyakan
perkembangan rencana mereka.
“Sabar dulu. Aku hampir berhasil mendapatkan sekretaris
Alex itu. Wanita jaman sekarang tidak akan berkutik dengan bunga dan rayuan
manis. Kau sendiri, udah ketemu salon langganan Mia?”tanya Manta.
“Udah dong. Kau bisa mulai duluan sama wanita itu.
Aku sudah membayar karyawan disana yang akan memberi tahuku kalau Mia datang.
Mereka punya kamar yang bisa kau pakai bersenang-senang dengan Mia.”
“Kau ini ya. Alex itu sudah punya istri. Kenapa masih
tidak menyerah juga?”tanya Manta sambil menghabiskan minuman di gelasnya.
“Kau sendiri kenapa tertarik sama ****** itu. Gak
ada cewek lain?”tanya Linda sambil menunjuk gadis di sebelah Manta.
“Salahmu sendiri memberitahuku wanita secantik Mia.
Aku kan jadi penasaran. Belum lagi tubuhnya itu. Aku ingin menikmatinya.”kata
Manta dengan kurang ajar.
“Cih. Dasar playboy. Kau tahu salon langganan Mia
itu masuk salon paling mahal di kota ini. Membernya aja per tahun puluhan juta.
Alex sama istrinya bisa manjain banget gitu, aku kan juga pengen punya laki
kayak Alex. Aku denger gosip juga kalau Alex itu perkasa.”
“Heh! Sama aku masih kurang?”tanya Manta.
“Kamu! Tunggu aku buktikan sama Alex. Tapi aku
yakin dia lebih hebat dari kamu.”ejek Linda.
Linda tersenyum melihat ponselnya, ada pesan dari
orang bayaran Linda kalau Mia ada janji ke salon besok siang.
“Kesempatanmu datang juga, Manta. Besok jam 11, aku
tunggu di salon itu. Nanti aku shareloc ya. Cheers.”
“Bagus, aku punya kesempatan mencoba obat baru ini.”kata
Manta licik sambil menggoyangkan botol berisi kapsul di tangannya.
*****
Mia yang terlambat mengirimkan reservasi untuk ke
salon besok siang, bernafas lega karena reservasinya diterima. Ia ingin luluran
dan juga menikmati pijatan di seluruh tubuhnya. Kening ia mengkerut membaca
pesan dari Rio dan cepat-cepat memberitahu Alex.
“Mas, ini beneran kan. Akhirnya Gadis mau nikah
juga sama Rio.”kata Mia.
“Tiga minggu? Bisa siap gak tuch? Kalau gedung,
mungkin kita bisa minta tolong Jodi. Catering pakai punyanya besan. Kamu telpon
Ratna ya. Kita harus ngerepotin semua orang nich.”kata Alex.
“Kalau gak gitu, ntar kita yang kena marah, mas.
Sekali ini aja dulu. Besok aku ke salon ya. Badan rasanya dah pegel banget. Aku
mau ajak Gadis sekalian.”
“Salon yang biasa? Eh, tapi Rio bilang apa? Mereka
nginep di apartmentku? Eh, gak salah tuch?”tanya Alex bingung.
“Kasi dah, mas. Biar masalah mereka cepet beres.”
“Kan jadi kepo kalau bilangnya nginep. Mereka
nglakuin kayak gita gak ya?”
“V-call sana. Ngecek mereka lagi ngapain. Kalo selimutan,
dah tau dah.”kata Mia sambil bersiap menekan icon video di ponselnya untuk
menelpon Rio.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1