
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 19
Setelah Kenzo merasa cukup kenyang, ia ingin
kembali mendekati Kinanti. Ken mengantar Kenzo sampai di dekat Kinanti lagi dan
mengambil gelas wine yang disodorkan Kinanti. Wanita itu tampak sedikit pucat
meskipun sudah memakai lipstik berwarna merah.
“Nyonya besar, apa anda baik-baik saja?” tanya Ken
berhati-hati.
“Ya, sebenarnya tidak. Aku harus duduk sebentar,”
kata Kinanti yang gemetar semakin parah.
Ken menuntun Kinanti kembali ke kamarnya, Kenzo
juga ikut masuk ke kamar Kinanti. Pria kecil itu mengusap-usap kaki Kinanti
ketika wanita itu sudah duduk di sofa besar.
“Ada yang perlu saya ambilkan, Nyonya?” tanya Ken
masih belum melepas samarannya.
“Ambilkan obat mama, Kenzo. Kamu ambilkan air
minum,” pinta Kinanti.
Kenzo membuka laci di samping tempat tidur Kinanti
dan mengambil botol kecil berisi beberapa butir pil berwarna putih. Kenzo
mengeluarkan dua butir pil dari botol itu lalu memberikannya pada Kinanti. Ken
juga menyodorkan segelas air putih pada Kinanti. Setelah meminum obat itu,
Kinanti merasa lebih baik dengan cepat. Wanita itu mengusir Ken keluar dari
kamarnya, lalu bersiap keluar dari kamarnya lagi.
Ken merasa sedikit curiga dengan obat yang diminum
Kinanti. Kalau hanya obat penghilang rasa sakit atau obat sakit kepala, kenapa
tidak ada label di botolnya. Perhatian Ken teralihkan saat Melisa memberi kode
dengan suara tawanya yang khas. Ken harus segera kembali ke kamarnya untuk
ganti pakaian.
Kakek Martin sudah bersiap-siap untuk turun ke
lantai bawah. Ken merapikan jas-nya, ia mematutkan diri lagi di depan cermin,
tersenyum dengan sangat bangga akan penampilannya yang sempurna. Dengan langkah
tegap, Ken keluar dari kamarnya lalu menuju kamar kakek Martin. Ia mengetuk
pintu dulu sebelum dipersilakan masuk.
Tampak kakek Martin sudah siap dengan setelan jas dan
tongkat saktinya. Ken menunduk hormat saat kakek Martin berjalan mendekatinya. Kakek
Martin tampak puas dengan penampilan Ken yang sangat tampan.
“Setelah hari ini, tidak boleh menunduk lagi.
Ingat, Ken. Kamu membawa nama besar kakek di pundakmu. Martin Wiranata tidak
akan menunduk pada siapapun. Dan kau adalah Ken Wiranata. Kau tidak boleh
menunduk pada siapapun. Kamu mengerti?!” kata kakek Martin.
“Iya, kek. Aku mengerti,” kata Ken tegas.
Keduanya berpelukan singkat sebelum keluar dari
kamar kakek Martin. Tamu undangan menoleh kearah tangga ketika kakek Martin
turun bersama Ken. Kakek Martin turun lebih dulu, disusul Ken yang berjalan
tanpa senyuman di bibirnya. Banyak yang memuji kalau Ken mirip kakek Martin
saat muda. Ken memang sengaja meniru visual kakek Martin saat pertama kali menjabat di pemerintahan.
Sedikit basa-basi, kakek Martin segera memulai
pesta malam itu, “Selamat malam, tamu undangan sekalian. Malam ini adalah malam
yang sangat penting untuk cucuku, Ken. Mulai malam ini, seluruh harta
kekayaanku akan jatuh ke tangan Ken Wiranata. Bawa masuk surat-suratnya!”
teriak kakek Martin.
Seorang pengacara masuk bersama beberapa bodyguard
yang membawa banyak berkas. Pengacara Juna menyerahkan surat wasiat yang
mencantumkan nama Ken sebagai pewaris tunggal kekayaan kakek Martin. Bukan
hanya harta atas nama kakek Martin, tapi juga harta bersama dengan nenek Ken,
nenek Almira. Istri kakek Martin itu memang jarang terlihat di depan umum
karena tidak mau wajahnya dikenali orang banyak.
Surat wasiat itu terbuka di hadapan Ken,
memperlihatkan kalau nenek Almira sudah menandatangi bagiannya. Ken juga
melihat namanya seorang yang tercantum di dalam surat wasiat itu. Bahkan tidak
ada syarat yang harus dipenuhi Ken untuk mendapatkan semua warisan itu. Sekarang
__ADS_1
tinggal tanda tangan dari kakek Martin. Ken masih tetap dingin ketika kakek
Martin menatapnya sebelum menandatangi surat wasiat itu di depan semua orang.
Seluruh tamu undangan bertepuk tangan dan
mengucapkan selamat pada Ken. Setelah pengacara Juna menjauh dengan membawa
surat wasiat itu dan berdiri di tempat yang sudah disediakan, kakek Martin
mempersilakan Ken untuk bicara.
“Malam ini sangat penting untuk saya sebagai cucu
dari seorang Martin Wiranata. Dengan tanggung jawab yang diberikan kepada saya,
saya berjanji untuk selalu menjaga keluarga ini dan tidak akan mengecewakan
kakek Martin. Tapi, kakek, ada satu hal yang tidak bisa aku penuhi dari
permintaan kakek.” Ken berpindah menghadap kakek Martin yang mulai mengkerutkan
keningnya.
“Meskipun aku adalah pemilik semua ini sekarang,
aku tidak akan ada disini kalau tidak ada kakek. Kakek bilang seorang Martin
Wiranata tidak akan membungkuk pada siapapun. Tapi Ken Wiranata hanya akan
menunduk pada Martin Wiranata,” ucap Ken sambil membungkuk penuh kehormatan
pada pria tua dihadapannya.
Tepuk tangan membahana di seluruh ruangan pesta
melihat kakek Martin menepuk-nepuk pundak Ken. Pria tua itu melirik Endy dan
Kinanti yang berdiri di samping mereka. Penghormatan seperti itu bahkan tidak
pernah kakek Martin dapatkan dari putra kandungnya sendiri.
Endy hanya peduli tentang Kinanti, memuja wanita
itu melebihi keluarganya dan sampai bisa melakukan apa saja untuk mewujudkan
keinginan Kinanti. Sejujurnya Endy adalah anak yang baik dan penurut. Ketika ia
mengenal Kinanti, sifatnya perlahan mulai berubah. Endy mulai memiliki hasrat untuk
menjadi pewaris kekayaan kakek Martin.
Bahkan ketika kakek Martin mengajukan syarat agar
Endy memiliki anak laki-laki dengan Kinanti, Endy melakukan segala cara dengan
tega menukar anak perempuannya, Renata dengan anak laki-laki Alex, Ken. Padahal
mereka masih bisa memiliki Kenzo. Keserakahan menutup pikiran dan kesabaran
mereka, hingga bertindak gegabah.
akan ada siasat yang akan dibuat Endy. Awalnya ia belum tahu dengan kehadiran
Kaori, karena Alex menutup akses informasi untuk gadis itu. Tapi orang kepercayaannya
menemukan jejak kelahiran Kaori karena Gadis belum pernah melahirkan di rumah
sakit manapun dan sebelumnya Kinanti sempat tinggal lama di rumah Alex.
Ketika mengetahui kalau ia sudah memiliki cucu
perempuan yang buta, kakek Martin memilih menunggu Ken besar untuk memberi
pelajaran pada Endy. Sejujurnya kakek Martin melakukan tindakan yang beresiko
ketika memutuskan memberikan semua harta kekayaannya pada Ken. Tapi setelah ia
mengenal keluarga Alex, kakek Martin percaya, keturunan mereka tidak akan
mengkhianati siapapun.
Kakek Martin tertawa sekali lagi, lalu meminta
semua orang untuk menikmati pesta malam itu. Lantai dansa seketika kosong, Ken
dipersilakan memilih pasangan dansanya malam itu. Dalam hatinya, Ken hanya
ingin berdansa dengan Kaori. Ia menatap sekeliling dipinggir lantai dansa,
deretan gadis cantik dan seksi siap untuk dipilih oleh Ken untuk menemaninya
malam itu.
Senyum Ken sedikit mengembang saat melihat seorang
gadis berdiri diantara para gadis itu. Dengan langkah mantap, Ken berjalan
mendekati Renata yang malam itu datang bersama Alex dan Kaori. Ken mencoba
menemukan Kaori, tapi ia tidak bisa. Akhirnya Ken mengulurkan tangannya pada
Renata yang langsung disambut gadis itu dengan senyum manisnya.
“Renata, selamat ulang tahun. Dimana Kaori?” tanya
Ken berharap bisa melihat Kaori.
“Ken, selamat ulang tahun. Selamat juga jadi
pewaris tunggal kekayaan kakek Martin. Kenapa kamu malah bertanya tentang Kaori?”
tanya Renata yang mulai mengikuti gerakan Ken.
“Kenapa ya? Padahal sudah ada kamu disini, tapi
hatiku rasanya menghilang,” ucap Ken sambil memutar tubuh Renata dengan elegan.
“Hatimu dibawa lari ya?” tanya Renata kembali berpegangan
__ADS_1
tangan dengan Ken.
“Apa kamu tahu dimana orang yang sudah membawa lari
hatiku?” tanya Ken.
“Mungkin kau akan ketemu dia di balkon. Tapi semua
perhatian ini harus berakhir dulu, Ken,” ucap Renata.
“Bersiaplah jadi pusat perhatian, Renata.” Ken
memakai topeng emas yang menutupi sebagian wajahnya.
Beberapa orang yang mirip dengan Ken, tampak
memasuki lantai dansa dan mulai bertukar dansa dengan Renata. Para gadis yang
mengincar Ken, mulai kebingungan menebak mana Ken yang asli. Para pria itu
terus bergerak sampai Renata kembali ke dekat Alex. Akhirnya para gadis itu
mulai berdansa dengan salah persatu pria yang mirip dengan Ken. Mereka berharap
bisa berdansa dengan Ken yang sesungguhnya.
Nyatanya Ken yang sebenarnya sudah menyelinap ke
balkon. Ia tidak sabaran ingin bertemu Kaori, bahkan ia tidak sempat menanyakan
bagaimana pesta ulang tahun Renata yang seharusnya sedang berlangsung di
mansion Steven. Gadis pujaannya ada disana, berdiri di balkon bersama Endy dan
Kinanti. Ken terhenyak, ia berjalan cepat mendekati Kaori lalu menarik tangan
gadis itu dengan cepat.
“Kaori,” panggil Ken.
“Ken? Kamu udah dateng. Aku ketemu sama orang
tuamu,” kata Kaori tenang.
Ken menatap Endy dan Kinanti yang juga menatapnya
tanpa ekspresi. Terlihat Kinanti sepertinya habis menangis karena matanya
sedikit sembab. Ken berharap kalau Endy tidak mengatakan sesuatu yang kasar pada
Kaori.
“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Ken pada Kaori.
“Iya, Ken. Orang tuamu menemaniku disini. Memangnya
kenapa?” tanya Kaori.
“Ken, kamu tidak mau memperkenalkan dia, pada kami?”
tanya Endy menatap Ken tanpa senyum sedikitpun.
“Pa, ma, ini Kaori. Dia, calon istriku,” ucap Ken
tanpa keraguan sedikitpun.
Tangan Kaori menegang dalam genggaman Ken. Gadis itu
tampak pucat dan kebingungan, beberapa
menit yang lalu saat ia sedang berdiri di balkon sambil menunggu Ken atau Alex
kembali, Kaori merasakan kehadiran Endy dan Kinanti. Mereka berdua memperkenalkan
diri sebagai orang tua Ken dan Kaori yang tidak sempat berpikir, hanya menyapa
mereka dengan ramah.
Sekarang setelah mendengar kata-kata Ken, ia jadi
takut bertemu dengan Endy dan Kinanti. Ken yang menyadari Kaori mulai cemas,
menatap kedua orang tua di depannya.
“Well, calon istri. Bukankah kau terlalu muda untuk
menentukan pilihan sekarang? Tidak mau berpetualang sebentar?” tanya Endy
sinis.
“Papa juga kenapa nggak berpetualang? Papa jatuh
cinta sama mama dan bertahan sampai sekarang. Kenapa aku nggak boleh?” tanya
Ken sedikit kesal.
“Kaori, maaf kalau kau tersinggung. Gadis ini tidak
sempurna, apa kau sanggup melindunginya, Ken?” tanya Kinanti dengan ekspresi
kuatir entah pada siapa.
Ken menoleh menatap Kaori yang masih tampak
kebingungan di sampingnya. Kaori tidak membawa tongkatnya, itu artinya Alex
meninggalkannya disini dan kembali ke tempat pesta untuk mengikuti jalannya
acara. Sepertinya pria paruh baya itu mengawasi Kaori dari balik jendela karena
sekarang Alex juga tampak sedang berdiri disana.
“Aku memiliki segalanya untuk melindungi dia, ma. Aku
bisa membuat Kaori menjadi wanita yang paling bahagia di dunia,” ucap Ken
yakin.
“Apa kau sanggup menyerahkan apa yang kau miliki
__ADS_1
sekarang, untuk bisa bersama Kaori?” tanya Kinanti lagi.