Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 19


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 19


Setelah Kenzo merasa cukup kenyang, ia ingin


kembali mendekati Kinanti. Ken mengantar Kenzo sampai di dekat Kinanti lagi dan


mengambil gelas wine yang disodorkan Kinanti. Wanita itu tampak sedikit pucat


meskipun sudah memakai lipstik berwarna merah.


“Nyonya besar, apa anda baik-baik saja?” tanya Ken


berhati-hati.


“Ya, sebenarnya tidak. Aku harus duduk sebentar,”


kata Kinanti yang gemetar semakin parah.


Ken menuntun Kinanti kembali ke kamarnya, Kenzo


juga ikut masuk ke kamar Kinanti. Pria kecil itu mengusap-usap kaki Kinanti


ketika wanita itu sudah duduk di sofa besar.


“Ada yang perlu saya ambilkan, Nyonya?” tanya Ken


masih belum melepas samarannya.


“Ambilkan obat mama, Kenzo. Kamu ambilkan air


minum,” pinta Kinanti.


Kenzo membuka laci di samping tempat tidur Kinanti


dan mengambil botol kecil berisi beberapa butir pil berwarna putih. Kenzo


mengeluarkan dua butir pil dari botol itu lalu memberikannya pada Kinanti. Ken


juga menyodorkan segelas air putih pada Kinanti. Setelah meminum obat itu,


Kinanti merasa lebih baik dengan cepat. Wanita itu mengusir Ken keluar dari


kamarnya, lalu bersiap keluar dari kamarnya lagi.


Ken merasa sedikit curiga dengan obat yang diminum


Kinanti. Kalau hanya obat penghilang rasa sakit atau obat sakit kepala, kenapa


tidak ada label di botolnya. Perhatian Ken teralihkan saat Melisa memberi kode


dengan suara tawanya yang khas. Ken harus segera kembali ke kamarnya untuk


ganti pakaian.


Kakek Martin sudah bersiap-siap untuk turun ke


lantai bawah. Ken merapikan jas-nya, ia mematutkan diri lagi di depan cermin,


tersenyum dengan sangat bangga akan penampilannya yang sempurna. Dengan langkah


tegap, Ken keluar dari kamarnya lalu menuju kamar kakek Martin. Ia mengetuk


pintu dulu sebelum dipersilakan masuk.


Tampak kakek Martin sudah siap dengan setelan jas dan


tongkat saktinya. Ken menunduk hormat saat kakek Martin berjalan mendekatinya. Kakek


Martin tampak puas dengan penampilan Ken yang sangat tampan.


“Setelah hari ini, tidak boleh menunduk lagi.


Ingat, Ken. Kamu membawa nama besar kakek di pundakmu. Martin Wiranata tidak


akan menunduk pada siapapun. Dan kau adalah Ken Wiranata. Kau tidak boleh


menunduk pada siapapun. Kamu mengerti?!” kata kakek Martin.


“Iya, kek. Aku mengerti,” kata Ken tegas.


Keduanya berpelukan singkat sebelum keluar dari


kamar kakek Martin. Tamu undangan menoleh kearah tangga ketika kakek Martin


turun bersama Ken. Kakek Martin turun lebih dulu, disusul Ken yang berjalan


tanpa senyuman di bibirnya. Banyak yang memuji kalau Ken mirip kakek Martin


saat muda. Ken memang sengaja meniru visual kakek Martin saat  pertama kali menjabat di pemerintahan.


Sedikit basa-basi, kakek Martin segera memulai


pesta malam itu, “Selamat malam, tamu undangan sekalian. Malam ini adalah malam


yang sangat penting untuk cucuku, Ken. Mulai malam ini, seluruh harta


kekayaanku akan jatuh ke tangan Ken Wiranata. Bawa masuk surat-suratnya!”


teriak kakek Martin.


Seorang pengacara masuk bersama beberapa bodyguard


yang membawa banyak berkas. Pengacara Juna menyerahkan surat wasiat yang


mencantumkan nama Ken sebagai pewaris tunggal kekayaan kakek Martin. Bukan


hanya harta atas nama kakek Martin, tapi juga harta bersama dengan nenek Ken,


nenek Almira. Istri kakek Martin itu memang jarang terlihat di depan umum


karena tidak mau wajahnya dikenali orang banyak.


Surat wasiat itu terbuka di hadapan Ken,


memperlihatkan kalau nenek Almira sudah menandatangi bagiannya. Ken juga


melihat namanya seorang yang tercantum di dalam surat wasiat itu. Bahkan tidak


ada syarat yang harus dipenuhi Ken untuk mendapatkan semua warisan itu. Sekarang

__ADS_1


tinggal tanda tangan dari kakek Martin. Ken masih tetap dingin ketika kakek


Martin menatapnya sebelum menandatangi surat wasiat itu di depan semua orang.


Seluruh tamu undangan bertepuk tangan dan


mengucapkan selamat pada Ken. Setelah pengacara Juna menjauh dengan membawa


surat wasiat itu dan berdiri di tempat yang sudah disediakan, kakek Martin


mempersilakan Ken untuk bicara.


“Malam ini sangat penting untuk saya sebagai cucu


dari seorang Martin Wiranata. Dengan tanggung jawab yang diberikan kepada saya,


saya berjanji untuk selalu menjaga keluarga ini dan tidak akan mengecewakan


kakek Martin. Tapi, kakek, ada satu hal yang tidak bisa aku penuhi dari


permintaan kakek.” Ken berpindah menghadap kakek Martin yang mulai mengkerutkan


keningnya.


“Meskipun aku adalah pemilik semua ini sekarang,


aku tidak akan ada disini kalau tidak ada kakek. Kakek bilang seorang Martin


Wiranata tidak akan membungkuk pada siapapun. Tapi Ken Wiranata hanya akan


menunduk pada Martin Wiranata,” ucap Ken sambil membungkuk penuh kehormatan


pada pria tua dihadapannya.


Tepuk tangan membahana di seluruh ruangan pesta


melihat kakek Martin menepuk-nepuk pundak Ken. Pria tua itu melirik Endy dan


Kinanti yang berdiri di samping mereka. Penghormatan seperti itu bahkan tidak


pernah kakek Martin dapatkan dari putra kandungnya sendiri.


Endy hanya peduli tentang Kinanti, memuja wanita


itu melebihi keluarganya dan sampai bisa melakukan apa saja untuk mewujudkan


keinginan Kinanti. Sejujurnya Endy adalah anak yang baik dan penurut. Ketika ia


mengenal Kinanti, sifatnya perlahan mulai berubah. Endy mulai memiliki hasrat untuk


menjadi pewaris kekayaan kakek Martin.


Bahkan ketika kakek Martin mengajukan syarat agar


Endy memiliki anak laki-laki dengan Kinanti, Endy melakukan segala cara dengan


tega menukar anak perempuannya, Renata dengan anak laki-laki Alex, Ken. Padahal


mereka masih bisa memiliki Kenzo. Keserakahan menutup pikiran dan kesabaran


mereka, hingga bertindak gegabah.


akan ada siasat yang akan dibuat Endy. Awalnya ia belum tahu dengan kehadiran


Kaori, karena Alex menutup akses informasi untuk gadis itu. Tapi orang kepercayaannya


menemukan jejak kelahiran Kaori karena Gadis belum pernah melahirkan di rumah


sakit manapun dan sebelumnya Kinanti sempat tinggal lama di rumah Alex.


Ketika mengetahui kalau ia sudah memiliki cucu


perempuan yang buta, kakek Martin memilih menunggu Ken besar untuk memberi


pelajaran pada Endy. Sejujurnya kakek Martin melakukan tindakan yang beresiko


ketika memutuskan memberikan semua harta kekayaannya pada Ken. Tapi setelah ia


mengenal keluarga Alex, kakek Martin percaya, keturunan mereka tidak akan


mengkhianati siapapun.


Kakek Martin tertawa sekali lagi, lalu meminta


semua orang untuk menikmati pesta malam itu. Lantai dansa seketika kosong, Ken


dipersilakan memilih pasangan dansanya malam itu. Dalam hatinya, Ken hanya


ingin berdansa dengan Kaori. Ia menatap sekeliling dipinggir lantai dansa,


deretan gadis cantik dan seksi siap untuk dipilih oleh Ken untuk menemaninya


malam itu.


Senyum Ken sedikit mengembang saat melihat seorang


gadis berdiri diantara para gadis itu. Dengan langkah mantap, Ken berjalan


mendekati Renata yang malam itu datang bersama Alex dan Kaori. Ken mencoba


menemukan Kaori, tapi ia tidak bisa. Akhirnya Ken mengulurkan tangannya pada


Renata yang langsung disambut gadis itu dengan senyum manisnya.


“Renata, selamat ulang tahun. Dimana Kaori?” tanya


Ken berharap bisa melihat Kaori.


“Ken, selamat ulang tahun. Selamat juga jadi


pewaris tunggal kekayaan kakek Martin. Kenapa kamu malah bertanya tentang Kaori?”


tanya Renata yang mulai mengikuti gerakan Ken.


“Kenapa ya? Padahal sudah ada kamu disini, tapi


hatiku rasanya menghilang,” ucap Ken sambil memutar tubuh Renata dengan elegan.


“Hatimu dibawa lari ya?” tanya Renata kembali berpegangan

__ADS_1


tangan dengan Ken.


“Apa kamu tahu dimana orang yang sudah membawa lari


hatiku?” tanya Ken.


“Mungkin kau akan ketemu dia di balkon. Tapi semua


perhatian ini harus berakhir dulu, Ken,” ucap Renata.


“Bersiaplah jadi pusat perhatian, Renata.” Ken


memakai topeng emas yang menutupi sebagian wajahnya.


Beberapa orang yang mirip dengan Ken, tampak


memasuki lantai dansa dan mulai bertukar dansa dengan Renata. Para gadis yang


mengincar Ken, mulai kebingungan menebak mana Ken yang asli. Para pria itu


terus bergerak sampai Renata kembali ke dekat Alex. Akhirnya para gadis itu


mulai berdansa dengan salah persatu pria yang mirip dengan Ken. Mereka berharap


bisa berdansa dengan Ken yang sesungguhnya.


Nyatanya Ken yang sebenarnya sudah menyelinap ke


balkon. Ia tidak sabaran ingin bertemu Kaori, bahkan ia tidak sempat menanyakan


bagaimana pesta ulang tahun Renata yang seharusnya sedang berlangsung di


mansion Steven. Gadis pujaannya ada disana, berdiri di balkon bersama Endy dan


Kinanti. Ken terhenyak, ia berjalan cepat mendekati Kaori lalu menarik tangan


gadis itu dengan cepat.


“Kaori,” panggil Ken.


“Ken? Kamu udah dateng. Aku ketemu sama orang


tuamu,” kata Kaori tenang.


Ken menatap Endy dan Kinanti yang juga menatapnya


tanpa ekspresi. Terlihat Kinanti sepertinya habis menangis karena matanya


sedikit sembab. Ken berharap kalau Endy tidak mengatakan sesuatu yang kasar pada


Kaori.


“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Ken pada Kaori.


“Iya, Ken. Orang tuamu menemaniku disini. Memangnya


kenapa?” tanya Kaori.


“Ken, kamu tidak mau memperkenalkan dia, pada kami?”


tanya Endy menatap Ken tanpa senyum sedikitpun.


“Pa, ma, ini Kaori. Dia, calon istriku,” ucap Ken


tanpa keraguan sedikitpun.


Tangan Kaori menegang dalam genggaman Ken. Gadis itu


tampak pucat  dan kebingungan, beberapa


menit yang lalu saat ia sedang berdiri di balkon sambil menunggu Ken atau Alex


kembali, Kaori merasakan kehadiran Endy dan Kinanti. Mereka berdua memperkenalkan


diri sebagai orang tua Ken dan Kaori yang tidak sempat berpikir, hanya menyapa


mereka dengan ramah.


Sekarang setelah mendengar kata-kata Ken, ia jadi


takut bertemu dengan Endy dan Kinanti. Ken yang menyadari Kaori mulai cemas,


menatap kedua orang tua di depannya.


“Well, calon istri. Bukankah kau terlalu muda untuk


menentukan pilihan sekarang? Tidak mau berpetualang sebentar?” tanya Endy


sinis.


“Papa juga kenapa nggak berpetualang? Papa jatuh


cinta sama mama dan bertahan sampai sekarang. Kenapa aku nggak boleh?” tanya


Ken sedikit kesal.


“Kaori, maaf kalau kau tersinggung. Gadis ini tidak


sempurna, apa kau sanggup melindunginya, Ken?” tanya Kinanti dengan ekspresi


kuatir entah pada siapa.


Ken menoleh menatap Kaori yang masih tampak


kebingungan di sampingnya. Kaori tidak membawa tongkatnya, itu artinya Alex


meninggalkannya disini dan kembali ke tempat pesta untuk mengikuti jalannya


acara. Sepertinya pria paruh baya itu mengawasi Kaori dari balik jendela karena


sekarang Alex juga tampak sedang berdiri disana.


“Aku memiliki segalanya untuk melindungi dia, ma. Aku


bisa membuat Kaori menjadi wanita yang paling bahagia di dunia,” ucap Ken


yakin.


“Apa kau sanggup menyerahkan apa yang kau miliki

__ADS_1


sekarang, untuk bisa bersama Kaori?” tanya Kinanti lagi.


__ADS_2