
Extra part 28
“Ehem!” Airin yang sudah kembali dari toilet,
menyadarkan Ken yang langsung memotong tiramisu untuk Kaori.
“Kaori, mau cake-nya? Ini sudah kupotong, buka
mulutmu,” kata Ken mengabaikan tatapan Airin.
Ken merasa sedang kencan dengan Kaori, dan Airin
yang jadi ibu protektif. Kaori membuka mulutnya dan potongan cake langsung
masuk ke mulutnya.
“Enak banget!” seru Kaori senang.
“Kaori, kamu mau cake juga, aku pesenin ya.” Airin
hampir beranjak tapi Kaori menghentikannya. Ia sudah cukup berbagi dengan
Ken. langsung masuk ke mulutnya.
“Enak banget!” seru Kaori senang.
“Kaori, kamu mau cake juga, aku pesenin ya.” Airin
hampir beranjak tapi Kaori menghentikannya. Ia sudah cukup hanya berbagi dengan
Ken.
“Eh, tapi cake-nya Ken jadi berkurang dong. Kak
Airin, pesenin lagi kalo gitu,” kata Kaori yang baru sadar kalau ia
menghabiskan cake milik Ken.
“Nggak usah, Kaori. Aku udah mau pulang kok. Nich,
makan lagi,” kata Ken sambil mendekatkan potongan cake ke bibir Kaori.
Airin tidak berkomentar lagi, ia tampak sibuk
dengan ponselnya sambil mengawasi Kaori dan Ken. Ketika Airin menjauh dari
mereka untuk menjawab telpon, Ken bertanya lagi pada Kaori.
“Kamu yakin, kakak itu bukan bodyguardmu? Masa iya
dia itu pengidap sister complex? Serem banget,” kata Ken sedikit berbisik di
dekat Kaori.
“Hahaha.... Kamu ngaco ach. Ken, makasih banyak ya.
Aku nggak kenal banyak teman yang mau terima kekuranganku. Jujur, aku seneng
banget bisa kenal sama kamu,” ucap Kaori tulus.
Ken tersenyum senang, ia juga baru mendapatkan
teman yang baik seperti Kaori dan Renata. Meskipun Ken memiliki perasaan lebih
untuk Renata, tapi ia juga menyukai Kaori.
“Aku juga senang bisa mengenalmu dan Renata. Selama
ini aku tidak punya teman baik. Orang tuaku selalu menyuruhku belajar dan
belajar. Aku sangat lelah, Kaori. Sesekali aku membangkang pada mereka. Seperti
saat ini, seharusnya aku belajar di rumah, tapi aku malah berkeliaran di
jalanan.” Ken mengeluh pada Kaori yang tersenyum manis.
Tangan Kaori meraba meja, ia ingin mengambil iced
capucinonya yang mulai meleleh es batunya. Ken menyodorkan gelas iced capucino
itu ke dekat tangan Kaori. Perlahan Kaori mengangkat gelas itu mendekati
bibirnya dan lagi-lagi busa putih menempel di sudut bibir Kaori. Gadis itu
menjilat sudut bibirnya dengan cepat.
Ken sampai menunduk dengan wajah merah ketika
melihat Kaori melakukan itu tanpa sadar. Sedang asyik menatap wajah cantik
Kaori, sopir Ken muncul dan memberi kode untuk mengikutinya.
“Kaori, sepertinya aku harus pulang sekarang. Oh
ya, ini masih ada busanya,” kata Ken langsung mengusap sudut bibir Kaori dengan
ibu jarinya, membuat Kaori sedikit kaget.
Airin yang sudah kembali dari urusannya menjawab
telpon dari Reynold, duduk lagi di tempat semula. Ia hanya mengangguk saat Ken berpamitan
lalu berjalan ke arah pintu lalu keluar dari coffee shop lewat pintu samping. Tak
__ADS_1
lama kemudian, Renata dan Reynold tampak masuk ke coffee shop lewat pintu yang
satunya lagi.
**
Keesokan harinya saat keluarga Alex baru tiba di
taman bermain, Ken beneran muncul disana. Ia melambaikan tangannya pada Renata
yang langsung menghampiri Ken.
“Ken!” panggil Renata.
Ekor kuda gadis itu bergerak seiring dengan gerakan
kepalanya. Renata menarik tangan Ken mendekati keluarganya. Reynold yang baru
kembali dari mengambil gelang tiket masuk mereka, menyerahkan semua gelang di
tangannya kepada Alex. Ia langsung mengejar Renata dan Ken yang sudah masuk
lebih dulu.
“Aunty, ini gelangnya belum dibawa!” seru Reynold
berharap penjaga taman bermain menghentikan langkah Renata untuk masuk.
Ken tersenyum smirk, melihat Reynold mengejar
Renata yang terus berjalan sambil menarik Ken mendekati sebuah wahana raksasa. Renata
sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam salah satu wahana bermain yang
menegangkan yaitu roller coaster. Sedikit ragu dan takut, Ken berpikir untuk
menemani Renata naik ke roller coaster itu.
Tapi ketika Ken tersadar, Reynold sudah duduk duluan
di samping Renata. Kedua pria itu saling menatap sengit untuk bersaing memperebutkan
perhatian Renata. Reynold melihat di tangan Renata sudah ada gelang tiket masuk
yang melingkar. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ken.
“Ken, kamu duduk di belakangku ya. Ayo, cepat!”
ajak Renata.
Mereka menunggu Flora dan Reva untuk bergabung,
sementara Kaori, Alex, dan Mia memperhatikan mereka dari jauh. Teriakan riuh
mereka semua naik ke tempat yang lebih tinggi.
Renata menggenggam tangan Reynold, ia sedikit takut
tapi penasaran juga dengan sensasinya. Reynold sengaja mengangkat kedua tangan
mereka yang saling bertautan, menunjukkan pada Ken tentang hubungannya dengan
Renata. Sekali lagi, Ken hanya bisa mengepalkan tangannya geram.
Seharian berada di taman bermain itu membuat Ken
dan Reynold berlomba untuk menemani Renata. Terlihat jelas kalau mereka sedang
bersaing memperebutkan cinta Renata yang masih belum paham apa sebenarnya yang
dilakukan oleh kedua pria di depannya.
Ken dan Reynold sama-sama menariknya tangan Renata
hanya untuk menunjukkan wahana yang lebih seru. Sampai gadis itu harus
berteriak untuk menenangkan kedua pria itu.
“Ken! Kak Rey! Lepasin tanganku! Kalian duduk di
sana. Duduk!” kata Renata galak.
Kedua pria itu menurut lalu duduk di bangku yang
ada disana, sementara Renata berkacak pinggang di depan mereka. Renata meminta
kedua pria itu untuk suit dan menentukan pemenangnya yang boleh memilih
permainan duluan.
Reynold dan Ken sama-sama mengeluarkan bentuk jari
yang sama hingga tiga kali dan ketika mereka menoleh menatap Renata, gadis itu
sudah pergi duluan menuju wahana rumah hantu.
“Kau diam disini! Renata milikku. Pergi sana!” usir
Reynold kesal pada Ken.
“Kalian belum berpacaran, lagipula kalian itu
ponakan dan tante. Mana boleh bersama-sama. Psikopat,” desis Ken berani melawan
__ADS_1
Reynold.
“Kau!!” bentak Reynold membuat Ken sedikit ciut.
Biar bagaimanapun, tubuh Reynold lebih tinggi dan lebih besar dari tubuhnya. Tapi
demi dewi Renata, Ken memberanikan dirinya melawan Reynold.
Keduanya saling menatap sengit, melupakan Renata
yang sudah berdiri di depan pintu rumah hantu. Ketika suara merdu Renata
memanggil mereka berdua, keduanya langsung start lari menghampiri Renata. Tentu
saja lagi-lagi Ken kalah start. Kakinya yang sedikit pendek, tidak bisa
mengimbangi kaki panjang Reynold.
Ken melempar remasan kertas brosur ke arah Reynold
yang sudah masuk duluan menyusul Renata, tapi ia cepat-cepat mengambilnya
kembali sebelum kena denda karena buang sampah sembarangan. Ketika Ken ingin
menyusul masuk ke rumah hantu, ia celingak-celinguk mencari teman tapi tidak
ada siapapun di dekatnya.
Akhirnya Ken berjalan ke pintu keluar rumah hantu,
ia ingin menunggu Renata keluar dari sana. Dalam perjalanannya kesana, Ken
berpapasan dengan Kaori dan Alex.
“Hai, Kaori. Om, selamat siang,” sapa Ken ramah.
“Kamu... siapa namanya ya? Kenny?” tanya Alex salah
sebut nama.
“Namanya Ken, opa. Ken, kamu mau kemana?” tanya
Kaori.
“Kamu mau kemana? Om, aku boleh ngajak Kaori
jalan-jalan di sekitar sini?” tanya Ken dengan berani pada Alex.
Pria kecil itu tidak tahu kalau Alex sedikit over
protectif terhadap Kaori.
“Boleh, opa?” tanya Kaori sedang senyum mengembang
penuh harap.
Alex terpaksa mengijinkan Kaori pergi dengan Ken,
ia akan mengawasi kedua remaja itu dari jauh. ”Kalau kau sampai berani
macam-macam dengan cucuku, akan kupastikan kalian tidak akan bisa bertemu lagi,”
Opa posesif mode on.
Ken menggandeng tangan Kaori berjalan perlahan di
sepanjang jalan menuju ke wahana komedi putar. Kaori ingin mencoba wahana itu
setelah Ken bercerita kalau Kaori bisa merasakan rasanya naik kuda. Ken
membantu Kaori naik ke salah satu kuda di komedi putar. Untuk menjaga agar
Kaori tidak jatuh, Ken berdiri di sampingnya.
“Ach...,” pekik Kaori yang kaget ketika wahana
komedi putar itu mulai bergerak. Ken dengan sigap menahan pinggang Kaori.
Hembusan angin nakal menyibak rambut Kaori, memisahkan antara wajah Ken dan
Kaori yang hampir bersentuhan karena jarak yang sangat dekat.
Semakin dekat dengan Kaori, Ken bisa melihat mata
coklat yang berbinar bahagia. Entah kenapa Ken menyukai apa yang dilihatnya.
Sungguh, ia ingin selalu bisa menatap mata itu.
“Kaori..., matamu indah sekali,” bisik Ken mulai
merayu Kaori tanpa sadar.
“Ken, kamu bicara apa sich. Ach..., naik kuda
seperti ini ya? Aku agak takut,” kata Kaori sambil menggenggam tangan Ken
erat-erat.
Dag, dig, dug... jantung Ken mulai berdebar dua kali
lebih kencang, ia merasa bingung dengan apa yang dirasakannya. Pada Renata, ia
juga berdebar seperti itu. Sekarang pada Kaori juga. ”Sebenarnya aku suka yang
__ADS_1
mana?” batin Ken bingung sendiri diantara dua gadis yang sama cantiknya.