Duren Manis

Duren Manis
Extra part 28


__ADS_3

Extra part 28


“Ehem!” Airin yang sudah kembali dari toilet,


menyadarkan Ken yang langsung memotong tiramisu untuk Kaori.


“Kaori, mau cake-nya? Ini sudah kupotong, buka


mulutmu,” kata Ken mengabaikan tatapan Airin.


Ken merasa sedang kencan dengan Kaori, dan Airin


yang jadi ibu protektif. Kaori membuka mulutnya dan potongan cake langsung


masuk ke mulutnya.


“Enak banget!” seru Kaori senang.


“Kaori, kamu mau cake juga, aku pesenin ya.” Airin


hampir beranjak tapi Kaori menghentikannya. Ia sudah cukup berbagi dengan


Ken.  langsung masuk ke mulutnya.


“Enak banget!” seru Kaori senang.


“Kaori, kamu mau cake juga, aku pesenin ya.” Airin


hampir beranjak tapi Kaori menghentikannya. Ia sudah cukup hanya berbagi dengan


Ken.


“Eh, tapi cake-nya Ken jadi berkurang dong. Kak


Airin, pesenin lagi kalo gitu,” kata Kaori yang baru sadar kalau ia


menghabiskan cake milik Ken.


“Nggak usah, Kaori. Aku udah mau pulang kok. Nich,


makan lagi,” kata Ken sambil mendekatkan potongan cake ke bibir Kaori.


Airin tidak berkomentar lagi, ia tampak sibuk


dengan ponselnya sambil mengawasi Kaori dan Ken. Ketika Airin menjauh dari


mereka untuk menjawab telpon, Ken bertanya lagi pada Kaori.


“Kamu yakin, kakak itu bukan bodyguardmu? Masa iya


dia itu pengidap sister complex? Serem banget,” kata Ken sedikit berbisik di


dekat Kaori.


“Hahaha.... Kamu ngaco ach. Ken, makasih banyak ya.


Aku nggak kenal banyak teman yang mau terima kekuranganku. Jujur, aku seneng


banget bisa kenal sama kamu,” ucap Kaori tulus.


Ken tersenyum senang, ia juga baru mendapatkan


teman yang baik seperti Kaori dan Renata. Meskipun Ken memiliki perasaan lebih


untuk Renata, tapi ia juga menyukai Kaori.


“Aku juga senang bisa mengenalmu dan Renata. Selama


ini aku tidak punya teman baik. Orang tuaku selalu menyuruhku belajar dan


belajar. Aku sangat lelah, Kaori. Sesekali aku membangkang pada mereka. Seperti


saat ini, seharusnya aku belajar di rumah, tapi aku malah berkeliaran di


jalanan.” Ken mengeluh pada Kaori yang tersenyum manis.


Tangan Kaori meraba meja, ia ingin mengambil iced


capucinonya yang mulai meleleh es batunya. Ken menyodorkan gelas iced capucino


itu ke dekat tangan Kaori. Perlahan Kaori mengangkat gelas itu mendekati


bibirnya dan lagi-lagi busa putih menempel di sudut bibir Kaori. Gadis itu


menjilat sudut bibirnya dengan cepat.


Ken sampai menunduk dengan wajah merah ketika


melihat Kaori melakukan itu tanpa sadar. Sedang asyik menatap wajah cantik


Kaori, sopir Ken muncul dan memberi kode untuk mengikutinya.


“Kaori, sepertinya aku harus pulang sekarang. Oh


ya, ini masih ada busanya,” kata Ken langsung mengusap sudut bibir Kaori dengan


ibu jarinya, membuat Kaori sedikit kaget.


Airin yang sudah kembali dari urusannya menjawab


telpon dari Reynold, duduk lagi di tempat semula. Ia hanya mengangguk saat Ken berpamitan


lalu berjalan ke arah pintu lalu keluar dari coffee shop lewat pintu samping. Tak

__ADS_1


lama kemudian, Renata dan Reynold tampak masuk ke coffee shop lewat pintu yang


satunya lagi.


**


Keesokan harinya saat keluarga Alex baru tiba di


taman bermain, Ken beneran muncul disana. Ia melambaikan tangannya pada Renata


yang langsung menghampiri Ken.


“Ken!” panggil Renata.


Ekor kuda gadis itu bergerak seiring dengan gerakan


kepalanya. Renata menarik tangan Ken mendekati keluarganya. Reynold yang baru


kembali dari mengambil gelang tiket masuk mereka, menyerahkan semua gelang di


tangannya kepada Alex. Ia langsung mengejar Renata dan Ken yang sudah masuk


lebih dulu.


“Aunty, ini gelangnya belum dibawa!” seru Reynold


berharap penjaga taman bermain menghentikan langkah Renata untuk masuk.


Ken tersenyum smirk, melihat Reynold mengejar


Renata yang terus berjalan sambil menarik Ken mendekati sebuah wahana raksasa. Renata


sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam salah satu wahana bermain yang


menegangkan yaitu roller coaster. Sedikit ragu dan takut, Ken berpikir untuk


menemani Renata naik ke roller coaster itu.


Tapi ketika Ken tersadar, Reynold sudah duduk duluan


di samping Renata. Kedua pria itu saling menatap sengit untuk bersaing memperebutkan


perhatian Renata. Reynold melihat di tangan Renata sudah ada gelang tiket masuk


yang melingkar. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ken.


“Ken, kamu duduk di belakangku ya. Ayo, cepat!”


ajak Renata.


Mereka menunggu Flora dan Reva untuk bergabung,


sementara Kaori, Alex, dan Mia memperhatikan mereka dari jauh. Teriakan riuh


mereka semua naik ke tempat yang lebih tinggi.


Renata menggenggam tangan Reynold, ia sedikit takut


tapi penasaran juga dengan sensasinya. Reynold sengaja mengangkat kedua tangan


mereka yang saling bertautan, menunjukkan pada Ken tentang hubungannya dengan


Renata. Sekali lagi, Ken hanya bisa mengepalkan tangannya geram.


Seharian berada di taman bermain itu membuat Ken


dan Reynold berlomba untuk menemani Renata. Terlihat jelas kalau mereka sedang


bersaing memperebutkan cinta Renata yang masih belum paham apa sebenarnya yang


dilakukan oleh kedua pria di depannya.


Ken dan Reynold sama-sama menariknya tangan Renata


hanya untuk menunjukkan wahana yang lebih seru. Sampai gadis itu harus


berteriak untuk menenangkan kedua pria itu.


“Ken! Kak Rey! Lepasin tanganku! Kalian duduk di


sana. Duduk!” kata Renata galak.


Kedua pria itu menurut lalu duduk di bangku yang


ada disana, sementara Renata berkacak pinggang di depan mereka. Renata meminta


kedua pria itu untuk suit dan menentukan pemenangnya yang boleh memilih


permainan duluan.


Reynold dan Ken sama-sama mengeluarkan bentuk jari


yang sama hingga tiga kali dan ketika mereka menoleh menatap Renata, gadis itu


sudah pergi duluan menuju wahana rumah hantu.


“Kau diam disini! Renata milikku. Pergi sana!” usir


Reynold kesal pada Ken.


“Kalian belum berpacaran, lagipula kalian itu


ponakan dan tante. Mana boleh bersama-sama. Psikopat,” desis Ken berani melawan

__ADS_1


Reynold.


“Kau!!” bentak Reynold membuat Ken sedikit ciut.


Biar bagaimanapun, tubuh Reynold lebih tinggi dan lebih besar dari tubuhnya. Tapi


demi dewi Renata, Ken memberanikan dirinya melawan Reynold.


Keduanya saling menatap sengit, melupakan Renata


yang sudah berdiri di depan pintu rumah hantu. Ketika suara merdu Renata


memanggil mereka berdua, keduanya langsung start lari menghampiri Renata. Tentu


saja lagi-lagi Ken kalah start. Kakinya yang sedikit pendek, tidak bisa


mengimbangi kaki panjang Reynold.


Ken melempar remasan kertas brosur ke arah Reynold


yang sudah masuk duluan menyusul Renata, tapi ia cepat-cepat mengambilnya


kembali sebelum kena denda karena buang sampah sembarangan. Ketika Ken ingin


menyusul masuk ke rumah hantu, ia celingak-celinguk mencari teman tapi tidak


ada siapapun di dekatnya.


Akhirnya Ken berjalan ke pintu keluar rumah hantu,


ia ingin menunggu Renata keluar dari sana. Dalam perjalanannya kesana, Ken


berpapasan dengan Kaori dan Alex.


“Hai, Kaori. Om, selamat siang,” sapa Ken ramah.


“Kamu... siapa namanya ya? Kenny?” tanya Alex salah


sebut nama.


“Namanya Ken, opa. Ken, kamu mau kemana?” tanya


Kaori.


“Kamu mau kemana? Om, aku boleh ngajak Kaori


jalan-jalan di sekitar sini?” tanya Ken dengan berani pada Alex.


Pria kecil itu tidak tahu kalau Alex sedikit over


protectif terhadap Kaori.


“Boleh, opa?” tanya Kaori sedang senyum mengembang


penuh harap.


Alex terpaksa mengijinkan Kaori pergi dengan Ken,


ia akan mengawasi kedua remaja itu dari jauh. ”Kalau kau sampai berani


macam-macam dengan cucuku, akan kupastikan kalian tidak akan bisa bertemu lagi,”


Opa posesif mode on.


Ken menggandeng tangan Kaori berjalan perlahan di


sepanjang jalan menuju ke wahana komedi putar. Kaori ingin mencoba wahana itu


setelah Ken bercerita kalau Kaori bisa merasakan rasanya naik kuda. Ken


membantu Kaori naik ke salah satu kuda di komedi putar. Untuk menjaga agar


Kaori tidak jatuh, Ken berdiri di sampingnya.


“Ach...,” pekik Kaori yang kaget ketika wahana


komedi putar itu mulai bergerak. Ken dengan sigap menahan pinggang Kaori.


Hembusan angin nakal menyibak rambut Kaori, memisahkan antara wajah Ken dan


Kaori yang hampir bersentuhan karena jarak yang sangat dekat.


Semakin dekat dengan Kaori, Ken bisa melihat mata


coklat yang berbinar bahagia. Entah kenapa Ken menyukai apa yang dilihatnya.


Sungguh, ia ingin selalu bisa menatap mata itu.


“Kaori..., matamu indah sekali,” bisik Ken mulai


merayu Kaori tanpa sadar.


“Ken, kamu bicara apa sich. Ach..., naik kuda


seperti ini ya? Aku agak takut,” kata Kaori sambil menggenggam tangan Ken


erat-erat.


Dag, dig, dug... jantung Ken mulai berdebar dua kali


lebih kencang, ia merasa bingung dengan apa yang dirasakannya. Pada Renata, ia


juga berdebar seperti itu. Sekarang pada Kaori juga. ”Sebenarnya aku suka yang

__ADS_1


mana?” batin Ken bingung sendiri diantara dua gadis yang sama cantiknya.


__ADS_2