
Keesokan harinya,
Elena terbangun sambil memegangi pinggangnya. Ia tersenyum puas melihat
punggung Elo yang masih tidur disebelahnya.
Elena : “Semalam
luar biasa. Kalau tahu kamu sekuat ini, aku minum obat juga semalam. Angeloku sayang.”
Elena tersenyum
semakin lebar, ia tidak menyangka akan diserang sampai 5 kali oleh Elo. Sekali
lagi Elena membelai punggung Elo, ia melihat punggung Elo penuh bekas cakaran
dan tanda merah yang sengaja ia buat kemarin.
Elena : “Hihihi...
Aku gak bisa bayangkan wajah Ririmu yang tersayang saat melihatmu tidur
denganku semalam.”
Elena mengambil
ponselnya, ia berpose dengan sangat seksi dan mengambil beberapa gambar dirinya
bersama Elo yang sebagian wajahnya terlihat. Ia mengirimkan foto-foto itu ke
nomor Elo dan juga Riri. Elena kembali tersenyum lebar, ia merenggangkan
tubuhnya sekali lagi dan menatap punggung Elo.
Elena merapatkan
tubuhnya dan menempelkan dadanya yang besar ke punggung Elo. Ia kembali
bergairah melihat punggung Elo dan tahi lalatnya yang terlihat di beberapa
bagian punggungnya.
Elena : “Tahi
lalat? Sejak kapan Elo punya tahi lalat di punggungnya?”
Pria disebelahnya
menggeliat dan mulai terbangun. Pria itu berbalik dan menatap Elena yang
terkejut setengah mati.
Elena : “Si...
siapa kamu??!!” Elena sangat terkejut melihat bukan Elo yang tidur di
sebelahnya. Wajah dan tubuhnya memang mirip Elo, tapi dia bukan Elo.
Pria : “Pagi,
sayang. Semalam kau hebat sekali.” Pria itu menjilat bibirnya dan menangkap
tangan Elena.
Elena : “Kamu...
lepas!!!”
Pria : “Kau bahkan
belum berpakaian, sayangku. Kita lakukan sekali lagi atau dua kali lagi.
Tubuhmu tidak bisa bohong, sayang. Kau menginginkan aku.”
Elena : “Tidak...!!
Siapa kamu? Dimana, Elo!!”
Heru : “Elo, Elo,
Elo. Namaku Heru. Lain kali jangan salah sebut ya. Ayo, sayang.”
Elena menendang
pria itu dengan kuat, tapi dengan lihai pria itu berkelit dan menarik tubuh
Elena ke bawahnya.
Heru : “Semalam kau
sangat binal, sayang. Aku yakin video kita akan sangat mahal harganya.”
Elena : “Video?!
Video apa?!”
Heru : “Kau tidak
perlu memikirkannya. Ayo, sayang. Puaskan aku.”
Elena : “Tidak!
Kurang ajar kau! Lepaskan aku!”
Heru : “Heh! Kau juga
sama, ******. Aku hanya salah satu pria yang bisa mencicipi tubuhmu.”
Elena : “Kamu gak
pantas!! Dimana video itu!”
Heru : “Sombong
sekali. Tapi aku suka wanita sombong sepertimu. Apalagi mendengarmu merintih
dibawahku. Video itu akan dikirim padamu secepatnya. Kau bisa menontonnya
nanti, sayang.”
Elena : “Apa maumu?
Jangan sebarkan video itu!”
Heru : “Asal kau
mau melayaniku setiap aku mau, akan kupertimbangkan. Dan aku mau sekarang!”
Elena meronta
__ADS_1
sekuat yang ia bisa tapi Heru tidak membiarkannya lepas begitu saja. Tubuh
Elena berguncang hebat saat lagi-lagi Heru memasukinya. Teriakannya kembali
terdengar di pagi hari yang cerah itu.
*****
Dikamar lain di
mansion itu, Elo terbangun dengan rasa sakit di kepalanya. Ia memicingkan
matanya dan mencoba untuk duduk sambil bersandar di pinggiran ranjang. Keningnya
berkerut ketika melihat pakaiannya berserakan di pinggir ranjang.
Elo : “Apa yang
terjadi?”
Elo memijat
kepalanya yang berdenyut lagi. Deg! Elo teringat kejadian kemarin saat ia
mencari Riri. Saat ia terpaksa harus makan malam dengan Elena dan merasa tidak
nyaman setelah meminum minuman yang diberikan Elena. Apa mungkin sudah terjadi
sesuatu padanya semalam?
Elo : “Tidak! Riri!
Riri!”
Elo berteriak
memanggil nama Riri di dalam kamar itu. Dia masih berada dikamar yang sama,
kamar yang sangat ia sukai di mansion itu. Semalam ia tidak melihat Riri di
kamar itu.
Elo : “Dimana kamu,
Ri?”
Elo mencoba
bangkit, tapi tubuhnya masih lemah. Perlahan ia mengangkat selimutnya, mencoba
melihat apa yang masih ia pakai, tapi ia sama sekali tidak memakai apa-apa
dibawah sana.
Tiba-tiba sesuatu
bergerak di samping Elo, ia memasang mode waspada. Dalam hatinya memohon jangan
sampai itu Elena. Kalau sampai terjadi, betapa bodohnya dirinya.
Elo mendengar suara
seseorang di sebelahnya. Tangannya gemetar mencoba menarik selimut di
sebelahnya. Ia mengenali suara itu, dan itu bukan suara Elena.
Wajah manis Riri
matanya sambil memegangi kepalanya yang sakit.
Riri : “’Aduh...”
Elo : “Riri?! Riri?
Ini beneran kamu kan? Kamu gak pa-pa?”
Riri : “Mas? Aku
dimana?”
Elo membantu Riri
bangun, selimut yang menutupi tubuh Riri hampir melorot memperlihatkan tubuhnya.
Wajah Elo memerah melihat pemandangan indah di depannya, Riri belum sadar
sepenuhnya.
Elo : “Ri,
selimutmu...”
Riri : “Kenapa,
mas? Aaarrgg!!! Apa yang terjadi?!!”
Riri membenamkan
tubuhnya kembali ke bawah selimut. Wajahnya memerah ketika ia menyadari hanya
memakai pakaian dalam saja.
Elo : “Ri, kamu
kemana kemarin? Aku nyariin kamu terus.”
Riri : “Aku... Ada
orang yang bekap mulut aku, mas. Aku mau teriak tapi gak bisa. Habis itu aku
gak sadar.”
Elo : “Kamu... kamu
diculik sama Elena, Ri. Maafkan aku gak bisa jaga kamu.”
Riri : “Elena, mas?
Terus kenapa aku bisa disini?”
Elo : “Nah, itu
yang aku gak ngerti. Aku juga baru bangun, uda begini aja. Ri...”
Riri melihat Elo
mendekat dan mengukungnya dengan kedua tangan Elo.
Riri : “Mas mau
__ADS_1
apa? Mas, tolong ambilin bajuku.”
Riri memalingkan
wajahnya dari Elo, ia ingin menutup wajahnya dengan selimut tapi selimutnya
sudah ditahan Elo.
Elo : “Kamu gak
pa-pa, kan?”
Riri : “Kalo mas
terus mendekat, bakalan apa-apa, loh.”
Elo : “Boleh aku
peluk?”
Riri : “Ambilin
bajuku dulu, mas. Aku gak nyaman gini terus.”
Elo : “Aku gak
boleh peluk kamu?”
Riri : “Bo...
Boleh, mas. Tapi pakai baju dulu ya.”
Elo : “Ri...
Syukurlah kamu baik-baik aja. Tapi beneran kan?”
Riri : “Iya, mas.
Aku baik-baik aja.”
Ceklek! Pintu kamar
tiba-tiba terbuka. Mama Ratna masuk bersama pelayan yang membawa pakaian.
Elo : “Mama?!”
Riri : “Mas, ada
mama. Cepat minggir.”
Mama Ratna : “Pagi,
sayang. Kalian sudah bangun? Masih pusing?”
Sepasang kekasih
itu saling pandang kebingungan.
Elo : “Mah, apa
yang terjadi?”
Mama Ratna : “Kalian
pake baju dulu ya atau mau dilanjutkan lagi.”
Riri : “Gak, mah! Riri
mau pake baju dulu.”
Riri bangkit dari
tidurannya, tapi kembali menarik selimutnya sampai ke leher dengan wajah merah.
Riri : “Kak Elo, jangan
lihat!”
Elo : “Iya, iya. Aku
gak lihat. Sana cepat ke kamar mandi, aku uda tutup mata.”
Riri memastikan Elo
menutup matanya, mama Ratna memberi tanda pada pelayan untuk memberikan
bathrobe pada Riri. Pelayan dengan cepat mendekati Riri dan membantunya memakai
bathrobe.
Riri : “Thank you,
miss.”
Mama Ratna
tersenyum melihat kesopanan Riri, pelayan mengikuti Riri ke dalam kamar mandi
dan meletakkan pakaian ganti Riri di dalam sana.
Mama Ratna : “Mama
tinggal dulu ya. Kalian cepat keluar dan sarapan. Kita bicara lagi nanti.”
Elo ditinggalkan
sendiri di atas ranjang dengan Riri yang mulai mandi di kamar mandi. Ia masih
kebingungan kenapa bisa terbangun dengan Riri disampingnya dan bukan Elena.
Tapi hatinya merasa lega sekali karena itu Riri.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
🌲🌲🌲🌲🌲