Duren Manis

Duren Manis
Bala bantuan


__ADS_3

Keesokan harinya,


Elena terbangun sambil memegangi pinggangnya. Ia tersenyum puas melihat


punggung Elo yang masih tidur disebelahnya.


Elena : “Semalam


luar biasa. Kalau tahu kamu sekuat ini, aku minum obat juga semalam. Angeloku sayang.”


Elena tersenyum


semakin lebar, ia tidak menyangka akan diserang sampai 5 kali oleh Elo. Sekali


lagi Elena membelai punggung Elo, ia melihat punggung Elo penuh bekas cakaran


dan tanda merah yang sengaja ia buat kemarin.


Elena : “Hihihi...


Aku gak bisa bayangkan wajah Ririmu yang tersayang saat melihatmu tidur


denganku semalam.”


Elena mengambil


ponselnya, ia berpose dengan sangat seksi dan mengambil beberapa gambar dirinya


bersama Elo yang sebagian wajahnya terlihat. Ia mengirimkan foto-foto itu ke


nomor Elo dan juga Riri. Elena kembali tersenyum lebar, ia merenggangkan


tubuhnya sekali lagi dan menatap punggung Elo.


Elena merapatkan


tubuhnya dan menempelkan dadanya yang besar ke punggung Elo. Ia kembali


bergairah melihat punggung Elo dan tahi lalatnya yang terlihat di beberapa


bagian punggungnya.


Elena : “Tahi


lalat? Sejak kapan Elo punya tahi lalat di punggungnya?”


Pria disebelahnya


menggeliat dan mulai terbangun. Pria itu berbalik dan menatap Elena yang


terkejut setengah mati.


Elena : “Si...


siapa kamu??!!” Elena sangat terkejut melihat bukan Elo yang tidur di


sebelahnya. Wajah dan tubuhnya memang mirip Elo, tapi dia bukan Elo.


Pria : “Pagi,


sayang. Semalam kau hebat sekali.” Pria itu menjilat bibirnya dan menangkap


tangan Elena.


Elena : “Kamu...


lepas!!!”


Pria : “Kau bahkan


belum berpakaian, sayangku. Kita lakukan sekali lagi atau dua kali lagi.


Tubuhmu tidak bisa bohong, sayang. Kau menginginkan aku.”


Elena : “Tidak...!!


Siapa kamu? Dimana, Elo!!”


Heru : “Elo, Elo,


Elo. Namaku Heru. Lain kali jangan salah sebut ya. Ayo, sayang.”


Elena menendang


pria itu dengan kuat, tapi dengan lihai pria itu berkelit dan menarik tubuh


Elena ke bawahnya.


Heru : “Semalam kau


sangat binal, sayang. Aku yakin video kita akan sangat mahal harganya.”


Elena : “Video?!


Video apa?!”


Heru : “Kau tidak


perlu memikirkannya. Ayo, sayang. Puaskan aku.”


Elena : “Tidak!


Kurang ajar kau! Lepaskan aku!”


Heru : “Heh! Kau juga


sama, ******. Aku hanya salah satu pria yang bisa mencicipi tubuhmu.”


Elena : “Kamu gak


pantas!! Dimana video itu!”


Heru : “Sombong


sekali. Tapi aku suka wanita sombong sepertimu. Apalagi mendengarmu merintih


dibawahku. Video itu akan dikirim padamu secepatnya. Kau bisa menontonnya


nanti, sayang.”


Elena : “Apa maumu?


Jangan sebarkan video itu!”


Heru : “Asal kau


mau melayaniku setiap aku mau, akan kupertimbangkan. Dan aku mau sekarang!”


Elena meronta

__ADS_1


sekuat yang ia bisa tapi Heru tidak membiarkannya lepas begitu saja. Tubuh


Elena berguncang hebat saat lagi-lagi Heru memasukinya. Teriakannya kembali


terdengar di pagi hari yang cerah itu.


*****


Dikamar lain di


mansion itu, Elo terbangun dengan rasa sakit di kepalanya. Ia memicingkan


matanya dan mencoba untuk duduk sambil bersandar di pinggiran ranjang. Keningnya


berkerut ketika melihat pakaiannya berserakan di pinggir ranjang.


Elo : “Apa yang


terjadi?”


Elo memijat


kepalanya yang berdenyut lagi. Deg! Elo teringat kejadian kemarin saat ia


mencari Riri. Saat ia terpaksa harus makan malam dengan Elena dan merasa tidak


nyaman setelah meminum minuman yang diberikan Elena. Apa mungkin sudah terjadi


sesuatu padanya semalam?


Elo : “Tidak! Riri!


Riri!”


Elo berteriak


memanggil nama Riri di dalam kamar itu. Dia masih berada dikamar yang sama,


kamar yang sangat ia sukai di mansion itu. Semalam ia tidak melihat Riri di


kamar itu.


Elo : “Dimana kamu,


Ri?”


Elo mencoba


bangkit, tapi tubuhnya masih lemah. Perlahan ia mengangkat selimutnya, mencoba


melihat apa yang masih ia pakai, tapi ia sama sekali tidak memakai apa-apa


dibawah sana.


Tiba-tiba sesuatu


bergerak di samping Elo, ia memasang mode waspada. Dalam hatinya memohon jangan


sampai itu Elena. Kalau sampai terjadi, betapa bodohnya dirinya.


Elo mendengar suara


seseorang di sebelahnya. Tangannya gemetar mencoba menarik selimut di


sebelahnya. Ia mengenali suara itu, dan itu bukan suara Elena.


Wajah manis Riri


matanya sambil memegangi kepalanya yang sakit.


Riri : “’Aduh...”


Elo : “Riri?! Riri?


Ini beneran kamu kan? Kamu gak pa-pa?”


Riri : “Mas? Aku


dimana?”


Elo membantu Riri


bangun, selimut yang menutupi tubuh Riri hampir melorot memperlihatkan tubuhnya.


Wajah Elo memerah melihat pemandangan indah di depannya, Riri belum sadar


sepenuhnya.


Elo : “Ri,


selimutmu...”


Riri : “Kenapa,


mas? Aaarrgg!!! Apa yang terjadi?!!”


Riri membenamkan


tubuhnya kembali ke bawah selimut. Wajahnya memerah ketika ia menyadari hanya


memakai pakaian dalam saja.


Elo : “Ri, kamu


kemana kemarin? Aku nyariin kamu terus.”


Riri : “Aku... Ada


orang yang bekap mulut aku, mas. Aku mau teriak tapi gak bisa. Habis itu aku


gak sadar.”


Elo : “Kamu... kamu


diculik sama Elena, Ri. Maafkan aku gak bisa jaga kamu.”


Riri : “Elena, mas?


Terus kenapa aku bisa disini?”


Elo : “Nah, itu


yang aku gak ngerti. Aku juga baru bangun, uda begini aja. Ri...”


Riri melihat Elo


mendekat dan mengukungnya dengan kedua tangan Elo.


Riri : “Mas mau

__ADS_1


apa? Mas, tolong ambilin bajuku.”


Riri memalingkan


wajahnya dari Elo, ia ingin menutup wajahnya dengan selimut tapi selimutnya


sudah ditahan Elo.


Elo : “Kamu gak


pa-pa, kan?”


Riri : “Kalo mas


terus mendekat, bakalan apa-apa, loh.”


Elo : “Boleh aku


peluk?”


Riri : “Ambilin


bajuku dulu, mas. Aku gak nyaman gini terus.”


Elo : “Aku gak


boleh peluk kamu?”


Riri : “Bo...


Boleh, mas. Tapi pakai baju dulu ya.”


Elo : “Ri...


Syukurlah kamu baik-baik aja. Tapi beneran kan?”


Riri : “Iya, mas.


Aku baik-baik aja.”


Ceklek! Pintu kamar


tiba-tiba terbuka. Mama Ratna masuk bersama pelayan yang membawa pakaian.


Elo : “Mama?!”


Riri : “Mas, ada


mama. Cepat minggir.”


Mama Ratna : “Pagi,


sayang. Kalian sudah bangun? Masih pusing?”


Sepasang kekasih


itu saling pandang kebingungan.


Elo : “Mah, apa


yang terjadi?”


Mama Ratna : “Kalian


pake baju dulu ya atau mau dilanjutkan lagi.”


Riri : “Gak, mah! Riri


mau pake baju dulu.”


Riri bangkit dari


tidurannya, tapi kembali menarik selimutnya sampai ke leher dengan wajah merah.


Riri : “Kak Elo, jangan


lihat!”


Elo : “Iya, iya. Aku


gak lihat. Sana cepat ke kamar mandi, aku uda tutup mata.”


Riri memastikan Elo


menutup matanya, mama Ratna memberi tanda pada pelayan untuk memberikan


bathrobe pada Riri. Pelayan dengan cepat mendekati Riri dan membantunya memakai


bathrobe.


Riri : “Thank you,


miss.”


Mama Ratna


tersenyum melihat kesopanan Riri, pelayan mengikuti Riri ke dalam kamar mandi


dan meletakkan pakaian ganti Riri di dalam sana.


Mama Ratna : “Mama


tinggal dulu ya. Kalian cepat keluar dan sarapan. Kita bicara lagi nanti.”


Elo ditinggalkan


sendiri di atas ranjang dengan Riri yang mulai mandi di kamar mandi. Ia masih


kebingungan kenapa bisa terbangun dengan Riri disampingnya dan bukan Elena.


Tapi hatinya merasa lega sekali karena itu Riri.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2