
Kaori membuka pintu
dan melihat Ratna berdiri di depan pintu kamar Riri, tampak cantik dengan
kebaya birunya.
Kaori : “Tante...
Masuk, tante.”
Riri : “Mama...”
Riri mencium tangan mertuanya itu.
Ratna : “Oh, dear.
You’re so beautiful.”
Riri : “Thanks, mom.”
MUA memberikan
sentuhan terakhir dan sempurnalah penampilan Riri. Kaori mengambil foto Riri
bersama MUA dan juga bersama Ratna. Tidak lupa berselfie ria sebelum Ratna
menuntun Riri keluar dari kamar dan membawanya ke lantai bawah.
Riri menahan
nafasnya saat mereka sampai di lantai bawah dan tatapan semua orang langsung
fokus padanya. Gumaman-gumaman mulai terdengar dari beberapa tamu undangan yang
memuji kecantikan Riri. Riri menggenggam erat tangan ibu mertuanya, ia
tersenyum pada Mia yang sudah berjalan mendekatinya.
Mia : “Ayo, Ri.
Kamu sudah siap?”
Riri mengangguk
malu-malu. Mia gantian menuntun Riri ke meja tempat penghulu dan Elo sudah
menunggunya. Alex juga ada di sana, duduk dengan senyum merekah melihat
putrinya yang terlihat sangat cantik.
Ratna bergabung
dengan kakek Elo duduk di belakang penghulu. Mia membantu Riri duduk di samping
Elo dan mengatur selendang putih menutup kepala kedua calon pengantin itu.
Keduanya sangat gugup sampai-sampai tidak berani menoleh satu sama lain.
Penghulu menanyakan
kesiapan kedua calon pengantin dan juga para saksi. Tampak Jodi memegang ponsel
yang memperlihatkan wajah Rara, Arnold dan juga baby Reynold. Mereka harus
melakukan v-call untuk menghadiri ijab Riri karena Rara belum pulih pasca
operasi cesar.
Alex mengulurkan
tangannya, Elo menarik nafas panjang menenangkan jantungnya yang deg-degan.
Alex : “Santai
saja, Elo. Apa mau minum dulu?”
Elo : “Hufh... Saya
siap, pah.”
Ratna : “Semangat,
sayang.”
Elo tersenyum
melihat mama dan papanya yang memberi semangat dengan tangan mereka.
Alex : “Kalo gagal,
gak bisa malam pertama loh.” Alex sengaja menggoda Elo di depan semua orang.
Buahahahahahaha!!!
Tawa membahana di dalam rumah itu sampai-sampai tamu undangan yang duduk di
luar kepo dengan apa yang terjadi di dalam.
Kebayang kan gimana
merahnya wajah Elo dan Riri menahan malu. Tapi semua ketegangan itu berlalu
ketika Elo mengucapkan satu baris kalimat yang membawanya menikahi Riri dengan
sah. Elo memejamkan matanya dan menggeser tubuhnya menhadap Riri.
Riri juga melakukan
hal yang sama. Keduanya sama-sama tidak berani membuka mata duluan.
Alex : “Kenapa
kalian kayak main petak umpet gitu? Riri, ayo cium tangan suamimu.”
Tawa membahana
kembali memenuhi rumah itu. Riri membuka matanya dan untuk pertama kalinya ia
__ADS_1
bertatapan dengan Elo sebagai suaminya. Riri bisa melihat senyum bahagia Elo
yang membuat pipi Riri memerah lagi.
Ketika Riri
menunduk hendak mencium tangan Elo, Elo juga bergerak ingin mencium kening
Riri. Gerakan Elo yang terlalu cepat, membuat bibirnya membentur hiasan kepala
Riri.
Elo : “Aduch!” Elo
memegangi bibirnya yang sakit.
Riri : “Mas, gak
pa-pa?”
Penghulu :
“Pengantin prianya tidak sabaran sekali ya.”
Dan berakhirlah
ritual pernikahan Elo dan Riri dengan tawa dari semua orang yang ada disana.
*****
Acara selanjutnya
adalah resepsi pernikahan Elo dan Riri. Resepsi itu akan diadakan di rumah
kakek Elo. Semua orang yang bisa masuk kesana harus memperlihatkan kartu
undangan resmi yang bisa discan dan memperlihatkan wajah para tamu undangan.
Riri sedang
bersiap-siap masuk ke mobil pengantin bersama Elo. Rio sudah membawakan koper
dan perlengkapan Riri lainnya, ia memberikannya pada sopir kakek untuk di taruh
di bagasi mobil.
Mobil pengantin
bergerak duluan dikawal mobil bodyguard keluarga Elo. Sebuah mobil lain juga
mengikuti mereka, didalamnya ada Lili dan Dion. Elo terus saja menatap
pengantinnya yang cantik.
Elo : “Ri, kamu
cantik sekali.”
Riri : “Mas juga
ganteng.”
Riri dan mencium punggung tangan istrinya itu.
Riri : “Mas, malu
ada pak sopir.”
Elo : “Aku rindu
kamu, Ri.”
Riri menunduk malu
saat tangan Elo menyusuri rangkaian bunga melati yang menjuntai di bahu Riri. Elo
mendekat ke telingan Riri dan berbisik,
Elo : “Nanti malam,
boleh gak?”
Wajah Riri memerah
sampai ke telinganya, ia tidak menjawab ataupun menunjukkan jawaban dengan
kepalanya. Riri malu sekali sampai rasanya ingin kembali lagi ke rumahnya.
Elo : “Apa kamu
malu?”
Elo tersenyum
melihat istrinya menunduk malu. Ia kembali duduk tegak di samping Riri.
Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah kakek Elo.
*****
Suasana berbeda
tampak di dalam mobil yang dikendarai Dion. Sesekali ia melirik Lili yang
terlihat cantik dengan kebaya berwarna hijau muda. Khusus acara pernikahan
Riri, Lili diwajibkan berdandan dan memakai kebaya. Sementara Dion tetap betah
memakai hoodie-nya.
Lili : “Fokus ke
jalan. Kamu mau mati?”
Dion : “Kalo pake
kebaya tuch harus santun ngomongnya. Masih aja ketus.”
__ADS_1
Lili : “Aku memang
gini. Gak suka?”
Dion :
“Sebaliknya...” bisik Dion.
Lili : “Apa?!” Lili
berteriak karena tidak mendengar ucapan Dion.
Dion : “Kita dah
mau sampai.”
Rumah kakek sudah
mulai ramai dengan petugas catering dan pengisi acara yang memang diminta untuk
memeriahkan pernikahan Elo. Beberapa wartawan dan peliput berita tampak bersiap
di depan gerbang. Saat mobil pengantin Elo dan Riri masuk ke dalam rumah,
mereka sempat mengambil beberapa foto.
Elo membantu Riri
turun dari mobil. Tampak kakek, Ratna dan Jason, papa Elo berdiri di dekat
pintu, menyambut kedatangan kedua mempelai. Elo terlihat gagah dengan baju
pengantin berwarna putih dan Riri terlihat cantik bersinar dengan baju
pengantin dengan warna senada.
Kakek : “Cucu
menantu, selamat datang di rumah kakek. Kelak, rumah ini akan jadi milikmu.”
Kakek memberikan
sebuah map pada Riri. Riri menoleh menatap Elo yang mengangguk, ia akhirnya
tersenyum dan menerima map itu. Riri mencium tangan kakek, Ratna dan juga
Jason.
Riri : “Terima
kasih, kakek.”
Riri tersenyum
manis, ia masih bingung apa isi map ditangannya itu. Lili berjalan mendekati
Riri dan berdiri di dekatnya.
Riri : “Lili, kamu
cantik sekali.” Bisik Riri membuat Lili membungkuk padanya tanpa bicara.
Kakek : “Ayo kita
ke depan. Konferensi pers akan dimulai sebentar lagi.”
Elo : “Ayo, sayang.
Tenang saja, aku akan bantu jawab kalau ada pertanyaan nanti.”
Riri : “Iya, mas.”
Riri berjalan di
samping Elo masih membawa map ditangannya. Di depan rumah, tepatnya di halaman
sudah disiapkan meja yang cukup untuk 4 orang. Riri, Elo, Kakek dan Ratna duduk
berderetan disana, siap melakukan konferensi pers.
Kakek : “Selamat
datang rekan-rekan sekalian. Terima kasih atas kedatangan dan restu dari kalian
semua, pernikahan cucu laki-lakiku sekaligus pewaris tunggalku bisa berjalan
dengan lancar. Ada yang mau bertanya?”
Semua orang di depan
mereka mengangkat tangan. Kilatan blitz dan sorot kamera membuat Riri sedikit
gugup. Kakek menunjuk salah satu wartawan yang menanyakan pada Riri apa isi map
yang dibawanya sejak tadi.
Riri : “Saya belum
tahu. Tadi kakek yang memberikan map ini untuk saya.”
Kakek : “Kenapa
tidak dibuka sekarang saja?”
Riri menatap Elo
yang lagi-lagi mengangguk. Perlahan Riri membuka map itu dan terkejut melihat
isinya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Nah, Riri kaget kan
lihat ada up lagi pasti karena Riri udah vote nich buat novel ini. Vote lagi
dong kk reader semuanya biar saya lebih semangat up-nya.
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).