Duren Manis

Duren Manis
Sah


__ADS_3

Kaori membuka pintu


dan melihat Ratna berdiri di depan pintu kamar Riri, tampak cantik dengan


kebaya birunya.


Kaori : “Tante...


Masuk, tante.”


Riri : “Mama...”


Riri mencium tangan mertuanya itu.


Ratna : “Oh, dear.


You’re so beautiful.”


Riri : “Thanks, mom.”


MUA memberikan


sentuhan terakhir dan sempurnalah penampilan Riri. Kaori mengambil foto Riri


bersama MUA dan juga bersama Ratna. Tidak lupa berselfie ria sebelum Ratna


menuntun Riri keluar dari kamar dan membawanya ke lantai bawah.


Riri menahan


nafasnya saat mereka sampai di lantai bawah dan tatapan semua orang langsung


fokus padanya. Gumaman-gumaman mulai terdengar dari beberapa tamu undangan yang


memuji kecantikan Riri. Riri menggenggam erat tangan ibu mertuanya, ia


tersenyum pada Mia yang sudah berjalan mendekatinya.


Mia : “Ayo, Ri.


Kamu sudah siap?”


Riri mengangguk


malu-malu. Mia gantian menuntun Riri ke meja tempat penghulu dan Elo sudah


menunggunya. Alex juga ada di sana, duduk dengan senyum merekah melihat


putrinya yang terlihat sangat cantik.


Ratna bergabung


dengan kakek Elo duduk di belakang penghulu. Mia membantu Riri duduk di samping


Elo dan mengatur selendang putih menutup kepala kedua calon pengantin itu.


Keduanya sangat gugup sampai-sampai tidak berani menoleh satu sama lain.


Penghulu menanyakan


kesiapan kedua calon pengantin dan juga para saksi. Tampak Jodi memegang ponsel


yang memperlihatkan wajah Rara, Arnold dan juga baby Reynold. Mereka harus


melakukan v-call untuk menghadiri ijab Riri karena Rara belum pulih pasca


operasi cesar.


Alex mengulurkan


tangannya, Elo menarik nafas panjang menenangkan jantungnya yang deg-degan.


Alex : “Santai


saja, Elo. Apa mau minum dulu?”


Elo : “Hufh... Saya


siap, pah.”


Ratna : “Semangat,


sayang.”


Elo tersenyum


melihat mama dan papanya yang memberi semangat dengan tangan mereka.


Alex : “Kalo gagal,


gak bisa malam pertama loh.” Alex sengaja menggoda Elo di depan semua orang.


Buahahahahahaha!!!


Tawa membahana di dalam rumah itu sampai-sampai tamu undangan yang duduk di


luar kepo dengan apa yang terjadi di dalam.


Kebayang kan gimana


merahnya wajah Elo dan Riri menahan malu. Tapi semua ketegangan itu berlalu


ketika Elo mengucapkan satu baris kalimat yang membawanya menikahi Riri dengan


sah. Elo memejamkan matanya dan menggeser tubuhnya menhadap Riri.


Riri juga melakukan


hal yang sama. Keduanya sama-sama tidak berani membuka mata duluan.


Alex : “Kenapa


kalian kayak main petak umpet gitu? Riri, ayo cium tangan suamimu.”


Tawa membahana


kembali memenuhi rumah itu. Riri membuka matanya dan untuk pertama kalinya ia

__ADS_1


bertatapan dengan Elo sebagai suaminya. Riri bisa melihat senyum bahagia Elo


yang membuat pipi Riri memerah lagi.


Ketika Riri


menunduk hendak mencium tangan Elo, Elo juga bergerak ingin mencium kening


Riri. Gerakan Elo yang terlalu cepat, membuat bibirnya membentur hiasan kepala


Riri.


Elo : “Aduch!” Elo


memegangi bibirnya yang sakit.


Riri : “Mas, gak


pa-pa?”


Penghulu :


“Pengantin prianya tidak sabaran sekali ya.”


Dan berakhirlah


ritual pernikahan Elo dan Riri dengan tawa dari semua orang yang ada disana.


*****


Acara selanjutnya


adalah resepsi pernikahan Elo dan Riri. Resepsi itu akan diadakan di rumah


kakek Elo. Semua orang yang bisa masuk kesana harus memperlihatkan kartu


undangan resmi yang bisa discan dan memperlihatkan wajah para tamu undangan.


Riri sedang


bersiap-siap masuk ke mobil pengantin bersama Elo. Rio sudah membawakan koper


dan perlengkapan Riri lainnya, ia memberikannya pada sopir kakek untuk di taruh


di bagasi mobil.


Mobil pengantin


bergerak duluan dikawal mobil bodyguard keluarga Elo. Sebuah mobil lain juga


mengikuti mereka, didalamnya ada Lili dan Dion. Elo terus saja menatap


pengantinnya yang cantik.


Elo : “Ri, kamu


cantik sekali.”


Riri : “Mas juga


ganteng.”


Riri dan mencium punggung tangan istrinya itu.


Riri : “Mas, malu


ada pak sopir.”


Elo : “Aku rindu


kamu, Ri.”


Riri menunduk malu


saat tangan Elo menyusuri rangkaian bunga melati yang menjuntai di bahu Riri. Elo


mendekat ke telingan Riri dan berbisik,


Elo : “Nanti malam,


boleh gak?”


Wajah Riri memerah


sampai ke telinganya, ia tidak menjawab ataupun menunjukkan jawaban dengan


kepalanya. Riri malu sekali sampai rasanya ingin kembali lagi ke rumahnya.


Elo : “Apa kamu


malu?”


Elo tersenyum


melihat istrinya menunduk malu. Ia kembali duduk tegak di samping Riri.


Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah kakek Elo.


*****


Suasana berbeda


tampak di dalam mobil yang dikendarai Dion. Sesekali ia melirik Lili yang


terlihat cantik dengan kebaya berwarna hijau muda. Khusus acara pernikahan


Riri, Lili diwajibkan berdandan dan memakai kebaya. Sementara Dion tetap betah


memakai hoodie-nya.


Lili : “Fokus ke


jalan. Kamu mau mati?”


Dion : “Kalo pake


kebaya tuch harus santun ngomongnya. Masih aja ketus.”

__ADS_1


Lili : “Aku memang


gini. Gak suka?”


Dion :


“Sebaliknya...” bisik Dion.


Lili : “Apa?!” Lili


berteriak karena tidak mendengar ucapan Dion.


Dion : “Kita dah


mau sampai.”


Rumah kakek sudah


mulai ramai dengan petugas catering dan pengisi acara yang memang diminta untuk


memeriahkan pernikahan Elo. Beberapa wartawan dan peliput berita tampak bersiap


di depan gerbang. Saat mobil pengantin Elo dan Riri masuk ke dalam rumah,


mereka sempat mengambil beberapa foto.


Elo membantu Riri


turun dari mobil. Tampak kakek, Ratna dan Jason, papa Elo berdiri di dekat


pintu, menyambut kedatangan kedua mempelai. Elo terlihat gagah dengan baju


pengantin berwarna putih dan Riri terlihat cantik bersinar dengan baju


pengantin dengan warna senada.


Kakek : “Cucu


menantu, selamat datang di rumah kakek. Kelak, rumah ini akan jadi milikmu.”


Kakek memberikan


sebuah map pada Riri. Riri menoleh menatap Elo yang mengangguk, ia akhirnya


tersenyum dan menerima map itu. Riri mencium tangan kakek, Ratna dan juga


Jason.


Riri : “Terima


kasih, kakek.”


Riri tersenyum


manis, ia masih bingung apa isi map ditangannya itu. Lili berjalan mendekati


Riri dan berdiri di dekatnya.


Riri : “Lili, kamu


cantik sekali.” Bisik Riri membuat Lili membungkuk padanya tanpa bicara.


Kakek : “Ayo kita


ke depan. Konferensi pers akan dimulai sebentar lagi.”


Elo : “Ayo, sayang.


Tenang saja, aku akan bantu jawab kalau ada pertanyaan nanti.”


Riri : “Iya, mas.”


Riri berjalan di


samping Elo masih membawa map ditangannya. Di depan rumah, tepatnya di halaman


sudah disiapkan meja yang cukup untuk 4 orang. Riri, Elo, Kakek dan Ratna duduk


berderetan disana, siap melakukan konferensi pers.


Kakek : “Selamat


datang rekan-rekan sekalian. Terima kasih atas kedatangan dan restu dari kalian


semua, pernikahan cucu laki-lakiku sekaligus pewaris tunggalku bisa berjalan


dengan lancar. Ada yang mau bertanya?”


Semua orang di depan


mereka mengangkat tangan. Kilatan blitz dan sorot kamera membuat Riri sedikit


gugup. Kakek menunjuk salah satu wartawan yang menanyakan pada Riri apa isi map


yang dibawanya sejak tadi.


Riri : “Saya belum


tahu. Tadi kakek yang memberikan map ini untuk saya.”


Kakek : “Kenapa


tidak dibuka sekarang saja?”


Riri menatap Elo


yang lagi-lagi mengangguk. Perlahan Riri membuka map itu dan terkejut melihat


isinya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Nah, Riri kaget kan


lihat ada up lagi pasti karena Riri udah vote nich buat novel ini. Vote lagi


dong kk reader semuanya biar saya lebih semangat up-nya.

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2