
dr. Merry kembali
lebih dulu dari Riri dan Mia. Ia duduk dengan baik, sebelum mulai bicara.
dr. Merry : “Saya
sudah melakukan pemeriksaan dengan teliti dan sangat yakin kalau nona Riri
masih perawan.”
Kakek : “Ooww...
Jadi, kalian tetap menikah kan?”
Elo menatap wajah
kakek yang tampak kecewa sekali, Alex berdehem melihat ekspresi kakek. Mia
kembali ke ruang tamu tanpa Riri.
Alex : “Mana Riri?”
Mia : “Dia malu
sekali dan merasa sedikit tidak nyaman. Aku suruh istirahat dulu, mas.”
Kakek : “Tapi Riri
masih tetap mau menikah kan?”
Mia : “Iya, pak
Michael. Sudah saya tanyakan tadi.”
Kakek : “Bagus
sekali. Kim, kita bisa kembali sekarang. Pak Alex dan Ibu Mia, kami permisi
dulu. Kami akan datang lagi untuk membawa seserahan dalam waktu dekat.”
Alex : “Baik, pak
Michael. Terima kasih sudah berkunjung ke rumah kami dan juga terima kasih
sudah membawa anak-anak liburan.”
Kakek : “Hahaha...
mereka bisa datang kapan saja. Kalian juga harus ikut, kita bisa mengobrol
lebih banyak lagi. Angelo, ayo.”
Elo : “Saya bisa
ketemu Riri, sebentar saja? Kakek duluan saja pulangnya.”
Rio dan Kaori yang
mendengar kakek akan pergi, segera ke depan untuk mengantar mereka.
Rio : “Kak Elo,
biar saya yang antar pulang, kakek.”
Kakek : “Bagus
sekali.”
Mia : “Pak Kim, Riri
menyampaikan ucapan terima kasih, sebenarnya dia ingin menyampaikan langsung
tapi kondisinya seperti ini. Kata Riri terima kasih sudah menolongnya saat
diculik.”
Pak Kim : “Sudah
tugas saya menjaga nona muda Riri, Ibu Mia.”
Mereka berjalan
keluar bersama-sama dan kakek pergi bersama Pak Kim dan limosin juga.
*****
Riri berada di
dalam kamarnya, ia merasa sangat tidak nyaman setelah dr. Merry memeriksanya.
Tapi ia sangat lega setelah mendengar hasilnya, dirinya masih utuh terjaga. Tok,
tok, tok. Riri menoleh menatap pintu kamarnya.
Riri : “Iya,
masuk.”
Riri kembali
menatap buku yang sejak tadi dibacanya. Ia duduk di atas ranjangnya, memakai
piyama tidur yang ketat dan masuk ke dalam selimutnya yang nyaman. Rambut
ikalnya yang panjang, tergerai bebas menutupi sebagian wajahnya.
Riri : “Mah, kakek
sudah pulang?”
Elo : “Sudah, Ri.”
Riri menoleh dengan
cepat, ia tidak menyangka kalau Elo yang sudah masuk ke kamarnya.
Riri : “Kak Elo...”
Riri spontan
menarik selimutnya menutupi pundaknya yang terlihat. Ia memalingkan wajah dan
menunduk malu.
Riri : “Kakak
ngapain disini?”
Elo : “Jadi...
tidak ada yang terjadi.”
Riri : “Iya, kak.
Apa kakak kecewa?”
Tidak mendengar
jawaban Elo, membuat Riri menoleh padanya. Mata Riri terbelalak melihat senyum
lebar Elo yang menambah kadar kegantengannya. Ia ikut tersenyum malu dan
kembali menunduk.
Elo : “Jangan
selalu menunduk di depanku. Aku tidak bisa melihat senyumanmu.”
Elo menyibak rambut
Riri dan mencium pundak Riri. Tangan Elo menarik dagu Riri agar mendekat dan
sebuah kecupan mendarat di pipi Riri.
Elo : “Kamu cantik
sekali, Ri.”
Riri : “Kakak juga
ganteng...”
Elo : “Jangan
panggil aku kakak lagi ya. Panggil mas.”
Riri : “Iya, mas.”
Elo : “Boleh
peluk?”
Riri : “Nanti ada
__ADS_1
yang masuk, mas.”
Elo : “Sebentar
aja, 5 menit.”
Riri hanya
mengangguk malu, Elo bergerak mendekati Riri dan memeluknya dari belakang.
Elo : “Besok kamu
kuliah ya?”
Riri : “Iya, mas.
Ntar malem balik ke asrama.”
Elo : “Ntar jalan
yuk.”
Riri : “Mau kemana,
mas?”
Elo : “Kita
dinner.”
Riri : “Iya, mas.”
Elo : “Kamu lagi
baca apa?”
Riri : “Buku yang
mas kasi waktu itu.”
Elo melepas
pelukannya dan duduk dibelakang Riri, ia menyandarkan tubuh Riri ke tubuhnya
dan mereka melanjutkan membaca buku bersama-sama.
*****
Mia mengintip ke
dalam kamar Riri, ia tersenyum melihat Elo dan Riri membaca buku bersama.
Ketika Mia ingin menutup pintu, Alex muncul di belakangnya.
Alex : “Mereka lagi
apa?” Alex bisik-bisik.
Mia : “Sstt... lagi
baca buku. Kita ke bawah aja.”
Alex : “Gak pa-pa
tuch dibiarin berduaan. Ntar setan lewat...”
Mia : “Mas tuch
setannya. Elo gak kayak mas ya. Pikirannya mesum melulu.”
Alex : “Uda berani
ya sama mas. Ayo, ikut.”
Alex menarik Mia
masuk ke kamar Rio dan menciumnya disana.
Mia : “Mas, ntar
Rio masuk!”
Alex : “Dia lagi
sibuk sama Kaori.”
Mia : “Tangan mas
tuch jangan pencet-pencet. Basah bajuku, mas.”
ribut, ntar Riri denger.”
Alex mencium Mia lagi
agar tidak berisik. Aktifitas mereka semakin panas sampai pintu kamar Rio
tiba-tiba terbuka,
Kaori : “Aaa...!
Maaf!”
Brak! Pintu kamar
Rio tertutup lagi.
Rio : “Ada apa?”
Kaori : “Mama sama
papamu didalam...”
Kaori berjalan
cepat menuruni tangga dengan wajah merah, Rio mengejarnya. Mereka berdua tadi
naik keatas karena Kaori ingin mengganti bajunya dengan baju yang mereka beli
di negara S.
Rio : “Mama papaku
ngapain di kamarku.”
Kaori : “Aku gak
tau... Ya, ampun malu banget!”
Rio : “Coba cerita
pelan-pelan...”
Kaori : “Kepo
banget sich kamu! Aku malu tau.”
Rio : “Ya, aku kan
perlu tau orang tuaku ngapain di kamarku.”
Kaori jadi gemes
dengan Rio, ia menarik lengan Rio dan berbisik padanya,
Kaori : “Mamamu
lagi nyusuin papamu.”
Rio : “Oooww...
Enak tuch.”
Kaori : “Enak,
enak... Lemper kali enak.”
Rio : “Aku juga mau
coba...”
Rio melirik dada
Kaori yang langsung memukulinya,
Kaori : “Awas aja
kalau kamu berani.”
Rio : “Addooww!!
Jangan pukul... Aku cuma bercanda.”
Saat Kaori sedang
__ADS_1
memukuli Rio, Alex dan Mia sudah turun dari lantai 2. Kaori langsung berhenti
memukul dan menunduk di samping Rio.
Rio : “Uda selesai,
pah?”
Alex : “Apanya?”
Rio : “Ngabisin
jatahnya si kembar...”
Rio nyengir lebar
menggoda papa dan mamanya. Apalagi melihat wajah merah Mia sejak turun tangga. Mia
ngibrit ke dapur, sementara Alex duduk di meja makan, menunggu Mia membuatkan
kopi untuknya.
*****
Sore harinya, Rio sedang
memasukkan barang-barang belanjaan Katty ke dalam mobilnya. Kaori juga ikut
membantunya. Rara dan Arnold sedang duduk di meja makan menikmati pisang
goreng. Elo dan Riri baru turun dari lantai 2, Mia senyum-senyum kearah mereka
berdua.
Mia : “Kalian gak
makan siang dulu?”
Riri : “Mas lapar
gak?”
Elo : “Lapar dikit.
Kita makan di apartmentku ya, mau?”
Riri : “Kakak masak
lagi?”
Elo : “Iya.”
Mia : “Ntar keburu
sakit perutnya loh, terlambat makan. Nyemil mau? Mama buat pisang goreng tuch
di meja.”
Keduanya memilih
menikmati makan pisang goreng sambil minum teh dulu. Sementara Rio dan Kaori
sudah selesai memasukkan semua yang mereka akan bawa.
Rio : “Ri, ada yang
ketinggalan, gak?”
Kaori : “Gak ada.
Yang didalem tinggal oleh-oleh untuk disini.”
Rio : “Loh, belum
kamu kasi toh?”
Kaori : “Kapan aku
sempat, coba.”
Rio : “Oh iya.
Bagiin sekarang aja.”
Kaori duduk di
ruang keluarga dan mengeluarkan beberapa benda dari dalam paper bag yang masih
tergeletak disana. Rio terkejut melihat hoddie dan kaos yang ia inginkan ada di
dalam paper bag itu.
Rio : “Buat aku?”
Kaori : “Iya. Yang
ini buat Riri dan parfum ini buat kak Mia sama om Alex. Oh, aku juga beliin
lingeri untuk kak Rara dan kaos yang ini untuk kak Arnold. Eh, kok aku gak beli
buat kak Elo ya?”
Elo : “Gak usah,
Ri. Buat kalian aja.”
Rio : “Gak usah
dibeliin, bisa beli sendiri. Hehe...”
Mia menyemprotkan parfum
ke bagian dalam tangannya dan menempelkannya ke leher.
Mia : “Harum
banget. Pinter kamu milihnya, Ri.”
Alex : “Iya, harum
banget. Ntar malem pake ya.”
Alex bisik-bisik
lagi ke telinga Mia, membuat istrinya tersenyum malu.
Rara : “Ini
lingerie muat gak ya?” Rara mengangkat tinggi lingerie itu dan
membolak-baliknya.
Arnold : “Ra,
jangan tinggi-tinggi ngangkatnya, aku salfok nich.”
Rara : “Tukar, mas.
Mas pake lingerie ini, aku pake kaos mas.”
Arnold : “Idih,
mulai deh iseng.”
Kaori : “Muat, kok
kak. Itu talinya bisa dilepas.” Arnold menarik tali yang dimaksud Kaori dan senyumnya
merekah.
Arnold : “Pake ntar
malem, ya.” Arnold berbisik pada Rara yang langsung merona.
Begitulah kesibukan
2 pasangan suami istri dan 2 pasangan kekasih di ruang keluarga Alex sore itu.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲