
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 12
Sebenarnya pakaian dalam Kaori juga sedikit basah.
Tapi ia tidak mungkin melepas pakaian dalamnya dan memprovokasi Ken. Biar
bagaimanapun Kaori selalu ingat pesan opa dan omanya. Laki-laki dan perempuan
yang belum menikah, tidak baik berada di dalam kamar berduaan.
“Da—dalemanku juga sedikit basah. Tapi nggak
apa-apa. Ntar juga kering sendiri,” kata Kaori malu.
Wajah Ken merona merah mendengar gadis itu
membicarakan daleman. Ken mendekati pinggir tempat tidurnya, ia memiliki
penghangat di balik selimutnya.
“Kaori, kamu bisa berbaring? Dibalik selimut ini
ada penghangat. Kalau kamu berbaring di dalamnya, mungkin itu bisa kering,”
kata Ken yang susah menyebut kata ‘daleman’ di depan Kaori.
Kaori meraba kebalik selimut di belakangnya, ia
memang merasakan tempat tidur Ken lebih hangat. Ken melihat Kaori menggeser
duduknya lebih ke tengah tempat tidur, ia membantu Kaori menarik selimut lalu
menutupi tubuh bagian bawah Kaori. Didekatkannya buku yang tadi dibaca Kaori ke
pangkuan gadis itu.
“Aku keluar sebentar ya. Tongkatmu aku taruh
disampingmu. Kamu mau makan sesuatu?” tanya Ken.
“Nggak usah, Ken. Makasih ya. Jangan lama-lama,”
kata Kaori.
Ken berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan
Kaori sendiri. Ken sama sekali tidak merasakan ada yang aneh saat ia sampai di
lantai bawah. Suasana cukup sepi, tidak ada seorang pun yang terlihat. Dress
basah yang dipegangnya tampak meninggalkan tetesan air sepanjang jalan yang Ken
lalui. Ia mendekati dapur, mencoba menemukan seorang pelayan yang bisa
membantunya.
Sepi dan sunyi, rumah besar itu benar-benar kosong.
Tiba-tiba Ken merasakan firasat buruk, ia buru-buru berlari menaiki tangga kembali
kamarnya. Saat Ken membuka pintu, kamarnya kosong. Kaori tidak ada di atas
tempat tidurnya bahkan selimutnya juga sudah kembali seperti semula seolah
Kaori tidak pernah berbaring disana.
“Kaori?!” teriak Ken sambil berjalan cepat menuju
kamar mandi.
Kamar mandi juga kosong. Panik, Ken berlari keluar
dari kamarnya lagi menuju ruang kerja kakek Martin. Sebelum membuka pintu, Ken mengetuk
lebih dulu. Hening. Tidak ada suara dari dalam sana. Ken membuka pintu ruang
kerja kakek Martin dan mendapati ruangan itu juga kosong.
Ken mengambil ponselnya, ia ingin menelpon kakek
Martin. Apapun itu akan ia lakukan tapi jangan sampai terjadi sesuatu pada
Kaori.
“Ken,” panggil kakek Martin yang sudah siap duduk
di depan papan catur.
“Kakek, dimana Kaori? Dia nggak apa-apa kan?” tanya
Ken sambil berjalan cepat mendekati kakek Martin.
“Oho, kenapa dengan gadis itu? Apa dia cukup
berharga disini?” tanya kakek Martin sambil menunjuk dada Ken dengan ujung
tongkatnya.
Ken terdiam, ia tidak boleh bertindak gegabah kalau
berhubungan dengan kakek Martin. Kakeknya itu bisa sangat berbahaya kalau sudah
tidak nyaman dengan sesuatu. Melihat cara kakek Martin yang tidak akan menjawab
pertanyaannya sebelum mereka selesai bermain catur, Ken memutuskan mengikuti
permainan dulu.
Pria itu duduk di depan kakek Martin, siap untuk
permainan catur berikutnya. Kakek Martin mengambil langkah lebih dulu. Ken
memfokuskan dirinya untuk memenangkan permainan kali ini. Ia ingin menolong
Kaori secepatnya. Kakek Martin menatap perubahan wajah Ken yang jadi serius.
Kekuatirannya tadi menghilang dengan cepat berganti Ken yang fokus. Dalam
__ADS_1
hatinya, Ken berharap Kaori sedang ada disuatu tempat dalam keadaan aman dan
nyaman.
Permainan berakhir dengan kemenangan Ken, pria itu
berada dalam dilema sekarang. Disatu sisi, ia ingin menanyakan tentang warisan
kakek Martin, tapi disisi lain Ken sangat penasaran tentang keberadaan Kaori.
Saat Ken menatap kakek Martin lagi, pria paruh baya itu tersenyum.
Menjadi kejam atau tidak, Ken harus memilih salah
satu. Akhirnya Ken menegakkan tubuhnya, ia bertanya tentang keberadaan Kaori.
“Kek, dimana Kaori? Tadi dia ada di kamarku, tapi
sekarang menghilang. Tolong jangan apa-apa kan dia, kek,” pinta Ken dengan
perasaan campur aduk.
“Apa kamu yakin ingin menanyakan tentang gadis itu?
Bukan hal lain?” tanya kakek Martin mencoba menggoyahkan Ken.
“Tidak, kek. Aku hanya ingin menemui Kaori saat
ini. Masih ada waktu untuk menanyakan hal lainnya,” sahut Ken membuat kakek
Martin mengangguk-angguk.
Seorang pelayan datang membawa sebuah Ipad dan
menyerahkan Ipad itu pada Ken. Tampak Kaori sedang menikmati menicure dan
pedicure bersama beberapa pelayan wanita. Gadis itu sedang tertawa dan
mengobrol dengan akrab. Ada juga pelayan yang sedang memijat kepalanya. Ken
bernafas lega, Kaori masih ada di rumah besar itu.
“Kek, apa aku boleh kesana?” tanya Ken.
“Oho, tidak boleh, Ken. Kamu jangan mengganggu
kesenangan seorang gadis. Biarkan Kaori menikmati spa. Kalian bisa makan siang
bersama nanti. Untuk sekarang, kakek akan berikan satu kesempatan bertanya
lagi. Well, minta sesuatu, apapun.” Kakek Martin masih memberikan kesempatan
pada Ken.
Ken memejamkan matanya, ia harus mengambil
kesempatan ini sekarang. “Aku tidak sengaja mendengar sesuatu tentang warisan
kakek. Saat usiaku menginjak duapuluh tahun nanti, kakek akan mewariskan semua
harta kakek menjadi atas namaku. Kenapa? Maksudku, aku juga punya adik, ada
“Sebelum kakek jawab pertanyaanmu ini, kakek mau
tanya satu hal. Kenapa kamu memilih menanyakan tentang gadis itu dulu daripada
tentang warisan?” tanya kakek Martin.
Wajah Ken merona, ia ingin mencari alasan yang
sangat masuk akal tapi otaknya tiba-tiba blank. Ken harus cepat menjawab
sesuatu yang ditanyakan kakek Martin atau orang tua itu akan pergi
meninggalkannya begitu saja.
“Itu karena aku kuatir sama Kaori, kek. Salah ya?”
sahut Ken mencoba berkilah.
“Apa kamu pikir, kakek akan memerintahkan seseorang
untuk melenyapkan gadis itu?” tanya kakek Martin lagi.
Ken menggeleng cepat, Kaori tidak bersalah apa-apa.
Gadis itu sangat baik dan cantik. Tidak mungkin kakek Martin akan melenyapkan Kaori.
Kakek Martin hanya ingin pengakuan tentang perasaan Ken pada Kaori. Tapi Ken
malah mengelak dengan halus. Tok! Tongkat kakek Martin mengetuk meja dengan
keras. Itu artinya Ken harus menjawab sesuai dengan apa yang ada dihatinya,
sekarang juga.
“Aku suka sama Kaori, kek. Aku nggak mau dia
kenapa-kenapa,” jawab Ken cepat.
Pundak Ken naik turun seiring nafasnya yang
memburu. Jawaban Ken membuat kakek Martin tertawa terpingkal-pingkal. Pria tua
itu menepuk-nepuk pinggiran sofa besar dengan sangat heboh.
“Takdir yang mempermainkan perasaan manusia.
Sungguh lucu. Meskipun kamu tahu, gadis itu buta, tapi kamu masih suka sama
dia. Apa yang membuat dia seberharga itu?” tanya kakek Martin lagi.
“Hatinya baik, kek. Cantik juga kan? Dia bisa
ngademin hati sama kepala yang panas, kek,” ucap Ken sambil senyum-senyum malu.
“Tapi kan nggak bisa dibawa ke mall. Kalau
__ADS_1
jalan-jalan, harus dituntun. Nggak oke buat diajak ke pesta. Jadi pasangan
dansa nggak bisa,” kata kakek Martin mempengaruhi Ken.
“Kaori bisa dansa, kek. Nggak mahir, tapi bisa.
Buat apa ke mall, nonton, kita kan punya bioskop mini. Kalau untuk ke pesta,
aku nggak mau ngajak Kaori ke pesta kolega. Bukan karena aku malu, tapi Kaori
tidak perlu mengenal orang-orang yang tidak perlu dia kenal. Kaori tidak perlu
menunjukkan siapa dirinya. Dia hanya perlu jadi dirinya sendiri,” kata Ken
dengan percaya diri.
“Bagaimana kalau orang tuamu tidak setuju dengan
hubungan kalian?” tanya kakek Martin lagi.
“Nah, itu yang berat, kek. Makanya aku perlu warisan
kakek. Hehehe...,” kata Ken mulai kurang ajar.
Pria itu menunduk siap menerima pukulan tongkat
kakek Martin. Ken sudah paham kebiasaan kakek kalau cucunya mulai bersikap
tidak sopan. Pukulan di lengan atau di kaki pasti diterima Ken. Buk! Buk! Dua
pukulan diterima Ken di bagian lengannya. Ken sudah biasa menerimanya, tapi
tetap saja Ken selalu ingin menggoda kakeknya. Dengan melakukan itu, Ken bisa
tetap merasakan kasih sayang keluarga.
Kakek Martin terdiam untuk beberapa menit, ia tidak
ingin menjawab pertanyaan Ken sebenarnya sampai waktunya tiba nanti. Tapi
sepertinya Ken memiliki rencana yang besar dan kakek Martin ingin tahu tentang
hal itu.
“Berhenti bercanda, Ken. Kamu sudah semakin dewasa,
seharusnya kakek menghukummu karena lari dari mansion seperti ini. Kamu
beruntung, papamu belum tahu tentang ini. Kakek akan melupakan tentang
pelarianmu ini dan untuk pertanyaanmu. Jawabannya adalah karena kamu bukan cucu
kandung kakek,” jawab kakek Martin membuat Ken ternganga.
“Ka—kakek sudah tahu?” tanya Ken tidak percaya.
Ken menutup mulutnya, dia lupa siapa kakek dan
neneknya. Kekuasaan mereka berdua bahkan belum hilang meskipun usia mereka
terus bertambah tua. Ken teringat akan kata-kata Kaori tentang kebangkrutan
Alex. Kakek Martin sepertinya bisa membaca pikiran Ken. Ancaman kebangkrutan
Alex hanya salah satu yang bisa dilakukan kakek Martin dengan mudah. Tapi
setelah Kaori mau ikut ke rumah besar itu, perusahaan Alex langsung normal
kembali.
“Setelah tahu tentang kebenaran ini, kenapa kakek
belum merevisi surat wasiat kakek? Aku kan tidak berhak sama sekali,” kata Ken
pasrah.
“Salah satu yang kakek suka dari keluarga Alex
Pratama adalah kebaikan mereka. Keluarga mereka hidup rukun, saling membantu,
saling menghargai. Kamu sendiri sudah tahu bagaimana rasanya tinggal bersama
mereka kan, Ken. Kakek rasa semua keturunan keluarga itu tidak akan tumbuh
menjadi seseorang yang tamak akan harta. Kamu contohnya. Meskipun hidup jauh
dari papa dan mama kandungmu, di dalam darahmu mengalir darah mereka. Gen
mereka, Ken. Kamu tidak terpengaruh dengan ajaran Endy dan Kinanti yang
mementingkan uang diatas segalanya. Kebaikan mereka hanya terlihat di permukaan
saja. Di dalamnya busuk,” ucap kakek Martin membuat Ken bingung.
Endy dan Kinanti adalah anak dan menantu kakek
Martin, orang yang selama ini Ken kira sebagai orang tua kandungnya. Tapi
bagaimana bisa kakek Martin mengatakan hal seperti itu tentang putranya
sendiri. Melihat Ken kebingungan, kakek Martin menghentikan pembicaraan mereka.
Pria tua itu mengeluh lapar dan ingin makan siang.
Pelayan tiba-tiba datang memberi tahu kalau makan
siang sudah disiapkan dan Kaori sudah ada di meja makan menunggu mereka. Mendengar
nama Kaori, Ken sudah tidak sabar ingin segera menemui gadis itu lagi. Tapi
kakek Martin menghentikan langkah Ken, ia ingin berjalan bersama Ken menuju
meja makan.
“Hubungan kalian berdua agak rumit ya. Kalau Kaori
adalah cucu dari Alex, bukannya kamu jadinya suka sama keponakanmu sendiri ya?
__ADS_1
Memangnya boleh seperti itu?” tanya kakek Martin ingin menggoda Ken.