Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 12


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 12


Sebenarnya pakaian dalam Kaori juga sedikit basah.


Tapi ia tidak mungkin melepas pakaian dalamnya dan memprovokasi Ken. Biar


bagaimanapun Kaori selalu ingat pesan opa dan omanya. Laki-laki dan perempuan


yang belum menikah, tidak baik berada di dalam kamar berduaan.


“Da—dalemanku juga sedikit basah. Tapi nggak


apa-apa. Ntar juga kering sendiri,” kata Kaori malu.


Wajah Ken merona merah mendengar gadis itu


membicarakan daleman. Ken mendekati pinggir tempat tidurnya, ia memiliki


penghangat di balik selimutnya.


“Kaori, kamu bisa berbaring? Dibalik selimut ini


ada penghangat. Kalau kamu berbaring di dalamnya, mungkin itu bisa kering,”


kata Ken yang susah menyebut kata ‘daleman’ di depan Kaori.


Kaori meraba kebalik selimut di belakangnya, ia


memang merasakan tempat tidur Ken lebih hangat. Ken melihat Kaori menggeser


duduknya lebih ke tengah tempat tidur, ia membantu Kaori menarik selimut lalu


menutupi tubuh bagian bawah Kaori. Didekatkannya buku yang tadi dibaca Kaori ke


pangkuan gadis itu.


“Aku keluar sebentar ya. Tongkatmu aku taruh


disampingmu. Kamu mau makan sesuatu?” tanya Ken.


“Nggak usah, Ken. Makasih ya. Jangan lama-lama,”


kata Kaori.


Ken berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan


Kaori sendiri. Ken sama sekali tidak merasakan ada yang aneh saat ia sampai di


lantai bawah. Suasana cukup sepi, tidak ada seorang pun yang terlihat. Dress


basah yang dipegangnya tampak meninggalkan tetesan air sepanjang jalan yang Ken


lalui. Ia mendekati dapur, mencoba menemukan seorang pelayan yang bisa


membantunya.


Sepi dan sunyi, rumah besar itu benar-benar kosong.


Tiba-tiba Ken merasakan firasat buruk, ia buru-buru berlari menaiki tangga kembali


kamarnya. Saat Ken membuka pintu, kamarnya kosong. Kaori tidak ada di atas


tempat tidurnya bahkan selimutnya juga sudah kembali seperti semula seolah


Kaori tidak pernah berbaring disana.


“Kaori?!” teriak Ken sambil berjalan cepat menuju


kamar mandi.


Kamar mandi juga kosong. Panik, Ken berlari keluar


dari kamarnya lagi menuju ruang kerja kakek Martin. Sebelum membuka pintu, Ken mengetuk


lebih dulu. Hening. Tidak ada suara dari dalam sana. Ken membuka pintu ruang


kerja kakek Martin dan mendapati ruangan itu juga kosong.


Ken mengambil ponselnya, ia ingin menelpon kakek


Martin. Apapun itu akan ia lakukan tapi jangan sampai terjadi sesuatu pada


Kaori.


“Ken,” panggil kakek Martin yang sudah siap duduk


di depan papan catur.


“Kakek, dimana Kaori? Dia nggak apa-apa kan?” tanya


Ken sambil berjalan cepat mendekati kakek Martin.


“Oho, kenapa dengan gadis itu? Apa dia cukup


berharga disini?” tanya kakek Martin sambil menunjuk dada Ken dengan ujung


tongkatnya.


Ken terdiam, ia tidak boleh bertindak gegabah kalau


berhubungan dengan kakek Martin. Kakeknya itu bisa sangat berbahaya kalau sudah


tidak nyaman dengan sesuatu. Melihat cara kakek Martin yang tidak akan menjawab


pertanyaannya sebelum mereka selesai bermain catur, Ken memutuskan mengikuti


permainan dulu.


Pria itu duduk di depan kakek Martin, siap untuk


permainan catur berikutnya. Kakek Martin mengambil langkah lebih dulu. Ken


memfokuskan dirinya untuk memenangkan permainan kali ini. Ia ingin menolong


Kaori secepatnya. Kakek Martin menatap perubahan wajah Ken yang jadi serius.


Kekuatirannya tadi menghilang dengan cepat berganti Ken yang fokus. Dalam

__ADS_1


hatinya, Ken berharap Kaori sedang ada disuatu tempat dalam keadaan aman dan


nyaman.


Permainan berakhir dengan kemenangan Ken, pria itu


berada dalam dilema sekarang. Disatu sisi, ia ingin menanyakan tentang warisan


kakek Martin, tapi disisi lain Ken sangat penasaran tentang keberadaan Kaori.


Saat Ken menatap kakek Martin lagi, pria paruh baya itu tersenyum.


Menjadi kejam atau tidak, Ken harus memilih salah


satu. Akhirnya Ken menegakkan tubuhnya, ia bertanya tentang keberadaan Kaori.


“Kek, dimana Kaori? Tadi dia ada di kamarku, tapi


sekarang menghilang. Tolong jangan apa-apa kan dia, kek,” pinta Ken dengan


perasaan campur aduk.


“Apa kamu yakin ingin menanyakan tentang gadis itu?


Bukan hal lain?” tanya kakek Martin mencoba menggoyahkan Ken.


“Tidak, kek. Aku hanya ingin menemui Kaori saat


ini. Masih ada waktu untuk menanyakan hal lainnya,” sahut Ken membuat kakek


Martin mengangguk-angguk.


Seorang pelayan datang membawa sebuah Ipad dan


menyerahkan Ipad itu pada Ken. Tampak Kaori sedang menikmati menicure dan


pedicure bersama beberapa pelayan wanita. Gadis itu sedang tertawa dan


mengobrol dengan akrab. Ada juga pelayan yang sedang memijat kepalanya. Ken


bernafas lega, Kaori masih ada di rumah besar itu.


“Kek, apa aku boleh kesana?” tanya Ken.


“Oho, tidak boleh, Ken. Kamu jangan mengganggu


kesenangan seorang gadis. Biarkan Kaori menikmati spa. Kalian bisa makan siang


bersama nanti. Untuk sekarang, kakek akan berikan satu kesempatan bertanya


lagi. Well, minta sesuatu, apapun.” Kakek Martin masih memberikan kesempatan


pada Ken.


Ken memejamkan matanya, ia harus mengambil


kesempatan ini sekarang. “Aku tidak sengaja mendengar sesuatu tentang warisan


kakek. Saat usiaku menginjak duapuluh tahun nanti, kakek akan mewariskan semua


harta kakek menjadi atas namaku. Kenapa? Maksudku, aku juga punya adik, ada


“Sebelum kakek jawab pertanyaanmu ini, kakek mau


tanya satu hal. Kenapa kamu memilih menanyakan tentang gadis itu dulu daripada


tentang warisan?” tanya kakek Martin.


Wajah Ken merona, ia ingin mencari alasan yang


sangat masuk akal tapi otaknya tiba-tiba blank. Ken harus cepat menjawab


sesuatu yang ditanyakan kakek Martin atau orang tua itu akan pergi


meninggalkannya begitu saja.


“Itu karena aku kuatir sama Kaori, kek. Salah ya?”


sahut Ken mencoba berkilah.


“Apa kamu pikir, kakek akan memerintahkan seseorang


untuk melenyapkan gadis itu?” tanya kakek Martin lagi.


Ken menggeleng cepat, Kaori tidak bersalah apa-apa.


Gadis itu sangat baik dan cantik. Tidak mungkin kakek Martin akan melenyapkan Kaori.


Kakek Martin hanya ingin pengakuan tentang perasaan Ken pada Kaori. Tapi Ken


malah mengelak dengan halus. Tok! Tongkat kakek Martin mengetuk meja dengan


keras. Itu artinya Ken harus menjawab sesuai dengan apa yang ada dihatinya,


sekarang juga.


“Aku suka sama Kaori, kek. Aku nggak mau dia


kenapa-kenapa,” jawab Ken cepat.


Pundak Ken naik turun seiring nafasnya yang


memburu. Jawaban Ken membuat kakek Martin tertawa terpingkal-pingkal. Pria tua


itu menepuk-nepuk pinggiran sofa besar dengan sangat heboh.


“Takdir yang mempermainkan perasaan manusia.


Sungguh lucu. Meskipun kamu tahu, gadis itu buta, tapi kamu masih suka sama


dia. Apa yang membuat dia seberharga itu?” tanya kakek Martin lagi.


“Hatinya baik, kek. Cantik juga kan? Dia bisa


ngademin hati sama kepala yang panas, kek,” ucap Ken sambil senyum-senyum malu.


“Tapi kan nggak bisa dibawa ke mall. Kalau

__ADS_1


jalan-jalan, harus dituntun. Nggak oke buat diajak ke pesta. Jadi pasangan


dansa nggak bisa,” kata kakek Martin mempengaruhi Ken.


“Kaori bisa dansa, kek. Nggak mahir, tapi bisa.


Buat apa ke mall, nonton, kita kan punya bioskop mini. Kalau untuk ke pesta,


aku nggak mau ngajak Kaori ke pesta kolega. Bukan karena aku malu, tapi Kaori


tidak perlu mengenal orang-orang yang tidak perlu dia kenal. Kaori tidak perlu


menunjukkan siapa dirinya. Dia hanya perlu jadi dirinya sendiri,” kata Ken


dengan percaya diri.


“Bagaimana kalau orang tuamu tidak setuju dengan


hubungan kalian?” tanya kakek Martin lagi.


“Nah, itu yang berat, kek. Makanya aku perlu warisan


kakek. Hehehe...,” kata Ken mulai kurang ajar.


Pria itu menunduk siap menerima pukulan tongkat


kakek Martin. Ken sudah paham kebiasaan kakek kalau cucunya mulai bersikap


tidak sopan. Pukulan di lengan atau di kaki pasti diterima Ken. Buk! Buk! Dua


pukulan diterima Ken di bagian lengannya. Ken sudah biasa menerimanya, tapi


tetap saja Ken selalu ingin menggoda kakeknya. Dengan melakukan itu, Ken bisa


tetap merasakan kasih sayang keluarga.


Kakek Martin terdiam untuk beberapa menit, ia tidak


ingin menjawab pertanyaan Ken sebenarnya sampai waktunya tiba nanti. Tapi


sepertinya Ken memiliki rencana yang besar dan kakek Martin ingin tahu tentang


hal itu.


“Berhenti bercanda, Ken. Kamu sudah semakin dewasa,


seharusnya kakek menghukummu karena lari dari mansion seperti ini. Kamu


beruntung, papamu belum tahu tentang ini. Kakek akan melupakan tentang


pelarianmu ini dan untuk pertanyaanmu. Jawabannya adalah karena kamu bukan cucu


kandung kakek,” jawab kakek Martin membuat Ken ternganga.


“Ka—kakek sudah tahu?” tanya Ken tidak percaya.


Ken menutup mulutnya, dia lupa siapa kakek dan


neneknya. Kekuasaan mereka berdua bahkan belum hilang meskipun usia mereka


terus bertambah tua. Ken teringat akan kata-kata Kaori tentang kebangkrutan


Alex. Kakek Martin sepertinya bisa membaca pikiran Ken. Ancaman kebangkrutan


Alex hanya salah satu yang bisa dilakukan kakek Martin dengan mudah. Tapi


setelah Kaori mau ikut ke rumah besar itu, perusahaan Alex langsung normal


kembali.


“Setelah tahu tentang kebenaran ini, kenapa kakek


belum merevisi surat wasiat kakek? Aku kan tidak berhak sama sekali,” kata Ken


pasrah.


“Salah satu yang kakek suka dari keluarga Alex


Pratama adalah kebaikan mereka. Keluarga mereka hidup rukun, saling membantu,


saling menghargai. Kamu sendiri sudah tahu bagaimana rasanya tinggal bersama


mereka kan, Ken. Kakek rasa semua keturunan keluarga itu tidak akan tumbuh


menjadi seseorang yang tamak akan harta. Kamu contohnya. Meskipun hidup jauh


dari papa dan mama kandungmu, di dalam darahmu mengalir darah mereka. Gen


mereka, Ken. Kamu tidak terpengaruh dengan ajaran Endy dan Kinanti yang


mementingkan uang diatas segalanya. Kebaikan mereka hanya terlihat di permukaan


saja. Di dalamnya busuk,” ucap kakek Martin membuat Ken bingung.


Endy dan Kinanti adalah anak dan menantu kakek


Martin, orang yang selama ini Ken kira sebagai orang tua kandungnya. Tapi


bagaimana bisa kakek Martin mengatakan hal seperti itu tentang putranya


sendiri. Melihat Ken kebingungan, kakek Martin menghentikan pembicaraan mereka.


Pria tua itu mengeluh lapar dan ingin makan siang.


Pelayan tiba-tiba datang memberi tahu kalau makan


siang sudah disiapkan dan Kaori sudah ada di meja makan menunggu mereka. Mendengar


nama Kaori, Ken sudah tidak sabar ingin segera menemui gadis itu lagi. Tapi


kakek Martin menghentikan langkah Ken, ia ingin berjalan bersama Ken menuju


meja makan.


“Hubungan kalian berdua agak rumit ya. Kalau Kaori


adalah cucu dari Alex, bukannya kamu jadinya suka sama keponakanmu sendiri ya?

__ADS_1


Memangnya boleh seperti itu?” tanya kakek Martin ingin menggoda Ken.


__ADS_2