
DM2 – Gatot
Gadis tidak bisa mengatakan apa-apa,
dirinya sangat terharu mendengar kata-kata Reynold yang sangat tulus
mendoakannya punya anak kembar.
“Mama kenapa nangis? Rey nakal?”tanya Rey
tidak mengerti mengapa mata Gadis tampak berkaca-kaca dengan senyum mengembang
di bibirnya.
Gadis menggeleng, “Mama seneng banget, Rey.
Iya, mama akan kasi adik kembar buat Rey ya. Rey doakan biar terkabul ya, nak.”
“Amin.”saut Rey. Ia kembali asyik menggambar.
Gadis mengusap sudut matanya, ia ingin
menarik tangannya yang tadi menggenggam tangan Rio tapi Rio sudah menggenggam
tangannya erat. “Rio?”panggil Gadis. Mata Rio bergerak menatap mata Gadis. “Rio,
kamu dengar aku?”
“Papa Rio.”panggil Rey.
Rio hanya menatap Gadis tanpa ekspresi.
Gadis tersenyum manis sekali lagi, dadanya bergemuruh ketika Rio menatap
matanya. “Rio, kamu bisa denger aku kan? Akhirnya kamu mau respon.”kata Gadis
sambil memeluk Rio.
“Mama Gadis, papa Rio sudah sembuh?”
“Belum, sayang. Tapi sebentar lagi pasti
sembuh. Rey jangan bilang siapa-siapa ya. Biar papa Rio cepet sembuhnya.”
Rey mengangguk-angguk. Mereka memeluk Rio
bersama-sama dengan senyum mengembang di wajah mereka.
Kembali lagi ke pintu hotel,
Rara melotot saat melihat Kinanti yang membuka
pintu kamar hotel. “Kak Rara? Ngapain kesini?”tanya Kinanti.
“Aku...”Rara bingung mau bicara apa.
“Kami lagi nyari kamar 469, ini kamar 469
kan?”tanya Arnold. Mereka menoleh ke pintu kamar, kamar Kinanti itu nomor 496. “Tuch,
salah kamar kan. Sory Kinanti, kami salah kamar.”
“Kalo nyari kamar, kenapa ngetok pintu,
kak?”tanya Kinanti sinis.
“Oh, kedengerannya ngetuk ya? Aku gak sadar
tadi habis bercandain Rara. Yank, ayo dong. Kamar kita disana kayaknya.”kata
Arnold melambaikan kartu di tangannya.
Rara mengikuti Arnold tanpa mengatakan
apa-apa pada Kinanti. Ia bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Setelah
mereka masuk ke kamar 469, yang beneran ada, Rara langsung menyerang Arnold
minta penjelasan.
“Mas, apa maksudnya itu tadi? Kok bisa
Kinanti? Kenapa kita bisa di kamar ini? Kapan mas pesennya?”
Arnold yang diserang pertanyaan
bertubi-tubi, mencium bibir Rara agar diam dulu. “Maass...”protes Rara.
“Diem dulu. Banyak sekali pertanyaanmu, aku
harus jawab yang mana dulu?”
__ADS_1
Arnold menceritakan saat Rara menyetujui
untuk pergi ke hotel, Jodi memperingatkan Arnold kalau mereka harus berhati-hati
dengan Endy. Jodi memesankan kamar 469 kalau sewaktu-waktu terjadi hal seperti
tadi. Seseorang di lift memberikan kartunya pada Arnold tanpa setahu Rara. Ternyata
Endy lebih licik dari yang mereka kira. Ia membawa Kinanti kembali tepat pada
waktunya.
“Hadeh, mama pasti kecewa berat nich.”
“Mungkin benar kata papa Alex. Kita baiknya
menunggu saja, cepat atau lambat pasti terbongkar. Mereka akan lengah dan saat
itu terjadi, mereka sendiri yang akan membongkar siasat mereka.”
“Sia-sia kita ngejar kesini.”keluh Rara.
“Nggak juga. Kita bisa nginep semalem.
Anggap aja bulan madu gratis. Jodi ini yang bayar.”
Rara hanya bisa memonyongkan bibirnya
kearah suaminya itu. Tapi tangannya tetap mengetik chat ke grup kalau rencana
mereka memergoki Kinanti KW, gatot alias gagal total.
Tiga bulan kemudian,
Gadis ada temu janji dengan dokter
kandungan untuk pertemuan terakhir sesi terapinya. Ia masih harus minum obat
untuk 3 bulan ke depan. Saat Gadis sampai di rumah sakit, Kinanti juga datang
bersama Endy untuk memeriksakan kandungannya.
Padahal Kinanti mengatakan pada Gadis kalau
dia ingin ke mall. Gadis tidak melihat kedatangan Kinanti, begitu juga dengan
Kinanti dan Endy. Kebetulan tempat dokter praktek mereka terletak di lantai
yang sama. Gadis sudah lebih dulu masuk ke dalam lift.
sebelahnya. Gadis keluar dari lift, ia sempat tertahan di depan lift karena ada
pasien yang lewat didorong suster.
Kinanti dan Endy keluar dari lift sebelah, Kinanti melihat mereka berdua.
Ia mengenali pakaian yang dikenakan Kinanti
sama dengan yang tadi ia pakai sebelum keluar dari rumah Alex. “Itu Kinanti
bukan ya? Trus dia sama siapa, sich?”gumam Gadis penasaran. Gadis jadi galau mau ngikutin wanita yang
mirip Kinanti itu atau menghampiri tempat praktek dokter kandungannya.
Akhirnya Gadis memilih mengikuti Kinanti
dan Endy, ia mencoba melihat wajah wanita itu yang sedang memakai masker dan
kaca mata. Kening Gadis mengkerut melihat wanita itu berjalan tertatih sambil
memegangi perutnya yang besar.
Keduanya sampai di ruang tunggu sebelum
menemui dokter. Endy tampak cemas, sesekali ia memanggil suster untuk memanggil
dokternya segera. Gadis melihat kalau sepertinya dokter yang ditunggu belum
juga datang.
Wanita yang memakai masker itu menurunkan
maskernya dan melepas kacamatanya. Ia tampak pucat berkeringat, “Astaga, itu
Kinanti.”pekik Gadis melihat dengan jelas wajah wanita itu. Tanpa berpikir
panjang, Gadis berjalan cepat mendekati Kinanti. Ia tidak sengaja menabrak
seseorang dan Kinanti menoleh menatapnya.
“Gadis!”pekik Kinanti panik. Ia berdiri
__ADS_1
dengan cepat, berjalan tertatih menuju pintu darurat.
“Kinanti, tunggu!”panggil Gadis.
Endy yang mendengar nama Kinanti dipanggil,
berlari mengejar mereka. Gadis hampir mencapai pintu keluar, tapi Endy lebih
cepat mendahuluinya. Pintu darurat terbuka, Endy tertegun melihat tubuh Kinanti
berguling menuruni tangga dan tergeletak tak bergerak dibawah sana.
Gadis yang menyusul Endy, terkesiap melihat
tubuh Kinanti sudah tergeletak dibawah tangga. “Kinanti! Tolong! Tolong!”jerit
Kinanti menarik perhatian perawat dan dokter di lorong rumah sakit itu. “Cepat
tolong dia!”teriak Gadis di telinga Endy yang masih tertegun di pintu.
Endy menuruni tangga disusul Gadis, ia
mengangkat tubuh Kinanti dengan cepat. Gadis menatap ngeri melihat kaki Kinanti
sudah berlumuran cairan merah. Kinanti langsung dibawa ke ruang periksa dengan
menggunakan bed rumah sakit.
Gadis menunggu dengan cemas di depan pintu,
ia tidak bisa memikirkan apa-apa selain berharap Kinanti dan bayinya baik-baik
saja. Bagaimanapun juga dia pernah ada di posisi Kinanti, sangat tidak nyaman
baginya memikirkan Kinanti akan merasakan apa yang ia rasakan juga.
“Kau puas sekarang! Dia jatuh, bayinya...”ucap
Endy tertahan.
“Tidak akan terjadi apa-apa. Dia akan
selamat, bayinya juga. Aku pernah berada di situasi yang sama dengannya, tidak
sedikitpun rasa puas di dalam sini.”kata Gadis menunjuk dadanya. “Meskipun dia
ingin merebut suamiku, tapi dia juga akan menjadi ibu. Aku tidak bisa
mengharapkan kematian seorang bayi tidak bersalah, apalagi kematian seorang
ibu.”ucap Gadis sambil menatap tajam Endy.
Setengah jam kemudian, dokter keluar dari
dalam sana. “Siapa keluarga pasien Kinanti?”
“Saya, dokter.”saut Gadis cepat.
“Anda siapanya?”tanya dokter.
“Saya kakaknya.”jawaban Gadis membuat Endy
menatapnya.
”Terbuat dari apa hati wanita ini. Dia
sangat tegar mengatakan kalau Kinanti adalah adiknya. Padahal jelas-jelas
hubungan mereka tidak seperti itu.”
“Saya harus melakukan operasi cecar
sekarang juga. Kondisi pasien kritis, dimana suaminya?”
Gadis hampir menjawab, tapi Endy sudah
mengatakan duluan kalau dirinyalah suami Kinanti. Gadis ganti menatap Endy.
“Tanda tangan dan isi formulir ini. Suster
akan membantu anda. Silakan diurus administrasinya dulu.”
Gadis membiarkan Endy mengurus semuanya
tentang Kinanti. Ia masih bertanya-tanya benarkah orang di harapannya ini
adalah Endy. Pria yang sudah dicari sekian bulan lamanya, sekarang muncul begitu
saja di hadapannya.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.