Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Gatot


__ADS_3

DM2 – Gatot


Gadis tidak bisa mengatakan apa-apa,


dirinya sangat terharu mendengar kata-kata Reynold yang sangat tulus


mendoakannya punya anak kembar.


“Mama kenapa nangis? Rey nakal?”tanya Rey


tidak mengerti mengapa mata Gadis tampak berkaca-kaca dengan senyum mengembang


di bibirnya.


Gadis menggeleng, “Mama seneng banget, Rey.


Iya, mama akan kasi adik kembar buat Rey ya. Rey doakan biar terkabul ya, nak.”


“Amin.”saut Rey. Ia kembali asyik menggambar.


Gadis mengusap sudut matanya, ia ingin


menarik tangannya yang tadi menggenggam tangan Rio tapi Rio sudah menggenggam


tangannya erat. “Rio?”panggil Gadis. Mata Rio bergerak menatap mata Gadis. “Rio,


kamu dengar aku?”


“Papa Rio.”panggil Rey.


Rio hanya menatap Gadis tanpa ekspresi.


Gadis tersenyum manis sekali lagi, dadanya bergemuruh ketika Rio menatap


matanya. “Rio, kamu bisa denger aku kan? Akhirnya kamu mau respon.”kata Gadis


sambil memeluk Rio.


“Mama Gadis, papa Rio sudah sembuh?”


“Belum, sayang. Tapi sebentar lagi pasti


sembuh. Rey jangan bilang siapa-siapa ya. Biar papa Rio cepet sembuhnya.”


Rey mengangguk-angguk. Mereka memeluk Rio


bersama-sama dengan senyum mengembang di wajah mereka.


Kembali lagi ke pintu hotel,


Rara melotot saat melihat Kinanti yang membuka


pintu kamar hotel. “Kak Rara? Ngapain kesini?”tanya Kinanti.


“Aku...”Rara bingung mau bicara apa.


“Kami lagi nyari kamar 469, ini kamar 469


kan?”tanya Arnold. Mereka menoleh ke pintu kamar, kamar Kinanti itu nomor 496. “Tuch,


salah kamar kan. Sory Kinanti, kami salah kamar.”


“Kalo nyari kamar, kenapa ngetok pintu,


kak?”tanya Kinanti sinis.


“Oh, kedengerannya ngetuk ya? Aku gak sadar


tadi habis bercandain Rara. Yank, ayo dong. Kamar kita disana kayaknya.”kata


Arnold melambaikan kartu di tangannya.


Rara mengikuti Arnold tanpa mengatakan


apa-apa pada Kinanti. Ia bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Setelah


mereka masuk ke kamar 469, yang beneran ada, Rara langsung menyerang Arnold


minta penjelasan.


“Mas, apa maksudnya itu tadi? Kok bisa


Kinanti? Kenapa kita bisa di kamar ini? Kapan mas pesennya?”


Arnold yang diserang pertanyaan


bertubi-tubi, mencium bibir Rara agar diam dulu. “Maass...”protes Rara.


“Diem dulu. Banyak sekali pertanyaanmu, aku


harus jawab yang mana dulu?”

__ADS_1


Arnold menceritakan saat Rara menyetujui


untuk pergi ke hotel, Jodi memperingatkan Arnold kalau mereka harus berhati-hati


dengan Endy. Jodi memesankan kamar 469 kalau sewaktu-waktu terjadi hal seperti


tadi. Seseorang di lift memberikan kartunya pada Arnold tanpa setahu Rara. Ternyata


Endy lebih licik dari yang mereka kira. Ia membawa Kinanti kembali tepat pada


waktunya.


“Hadeh, mama pasti kecewa berat nich.”


“Mungkin benar kata papa Alex. Kita baiknya


menunggu saja, cepat atau lambat pasti terbongkar. Mereka akan lengah dan saat


itu terjadi, mereka sendiri yang akan membongkar siasat mereka.”


“Sia-sia kita ngejar kesini.”keluh Rara.


“Nggak juga. Kita bisa nginep semalem.


Anggap aja bulan madu gratis. Jodi ini yang bayar.”


Rara hanya bisa memonyongkan bibirnya


kearah suaminya itu. Tapi tangannya tetap mengetik chat ke grup kalau rencana


mereka memergoki Kinanti KW, gatot alias gagal total.


Tiga bulan kemudian,


Gadis ada temu janji dengan dokter


kandungan untuk pertemuan terakhir sesi terapinya. Ia masih harus minum obat


untuk 3 bulan ke depan. Saat Gadis sampai di rumah sakit, Kinanti juga datang


bersama Endy untuk memeriksakan kandungannya.


Padahal Kinanti mengatakan pada Gadis kalau


dia ingin ke mall. Gadis tidak melihat kedatangan Kinanti, begitu juga dengan


Kinanti dan Endy. Kebetulan tempat dokter praktek mereka terletak di lantai


yang sama. Gadis sudah lebih dulu masuk ke dalam lift.


sebelahnya. Gadis keluar dari lift, ia sempat tertahan di depan lift karena ada


pasien yang lewat didorong  suster.


Kinanti dan Endy keluar dari lift sebelah, Kinanti melihat mereka berdua.


Ia mengenali pakaian yang dikenakan Kinanti


sama dengan yang tadi ia pakai sebelum keluar dari rumah Alex. “Itu Kinanti


bukan ya? Trus dia sama siapa, sich?”gumam Gadis penasaran.  Gadis jadi galau mau ngikutin wanita yang


mirip Kinanti itu atau menghampiri tempat praktek dokter kandungannya.


Akhirnya Gadis memilih mengikuti Kinanti


dan Endy, ia mencoba melihat wajah wanita itu yang sedang memakai masker dan


kaca mata. Kening Gadis mengkerut melihat wanita itu berjalan tertatih sambil


memegangi perutnya yang besar.


Keduanya sampai di ruang tunggu sebelum


menemui dokter. Endy tampak cemas, sesekali ia memanggil suster untuk memanggil


dokternya segera. Gadis melihat kalau sepertinya dokter yang ditunggu belum


juga datang.


Wanita yang memakai masker itu menurunkan


maskernya dan melepas kacamatanya. Ia tampak pucat berkeringat, “Astaga, itu


Kinanti.”pekik Gadis melihat dengan jelas wajah wanita itu. Tanpa berpikir


panjang, Gadis berjalan cepat mendekati Kinanti. Ia tidak sengaja menabrak


seseorang dan Kinanti menoleh menatapnya.


“Gadis!”pekik Kinanti panik. Ia berdiri

__ADS_1


dengan cepat, berjalan tertatih menuju pintu darurat.


“Kinanti, tunggu!”panggil Gadis.


Endy yang mendengar nama Kinanti dipanggil,


berlari mengejar mereka. Gadis hampir mencapai pintu keluar, tapi Endy lebih


cepat mendahuluinya. Pintu darurat terbuka, Endy tertegun melihat tubuh Kinanti


berguling menuruni tangga dan tergeletak tak bergerak dibawah sana.


Gadis yang menyusul Endy, terkesiap melihat


tubuh Kinanti sudah tergeletak dibawah tangga. “Kinanti! Tolong! Tolong!”jerit


Kinanti menarik perhatian perawat dan dokter di lorong rumah sakit itu. “Cepat


tolong dia!”teriak Gadis di telinga Endy yang masih tertegun di pintu.


Endy menuruni tangga disusul Gadis, ia


mengangkat tubuh Kinanti dengan cepat. Gadis menatap ngeri melihat kaki Kinanti


sudah berlumuran cairan merah. Kinanti langsung dibawa ke ruang periksa dengan


menggunakan bed rumah sakit.


Gadis menunggu dengan cemas di depan pintu,


ia tidak bisa memikirkan apa-apa selain berharap Kinanti dan bayinya baik-baik


saja. Bagaimanapun juga dia pernah ada di posisi Kinanti, sangat tidak nyaman


baginya memikirkan Kinanti akan merasakan apa yang ia rasakan juga.


“Kau puas sekarang! Dia jatuh, bayinya...”ucap


Endy tertahan.


“Tidak akan terjadi apa-apa. Dia akan


selamat, bayinya juga. Aku pernah berada di situasi yang sama dengannya, tidak


sedikitpun rasa puas di dalam sini.”kata Gadis menunjuk dadanya. “Meskipun dia


ingin merebut suamiku, tapi dia juga akan menjadi ibu. Aku tidak bisa


mengharapkan kematian seorang bayi tidak bersalah, apalagi kematian seorang


ibu.”ucap Gadis sambil menatap tajam Endy.


Setengah jam kemudian, dokter keluar dari


dalam sana. “Siapa keluarga pasien Kinanti?”


“Saya, dokter.”saut Gadis cepat.


“Anda siapanya?”tanya dokter.


“Saya kakaknya.”jawaban Gadis membuat Endy


menatapnya.


”Terbuat dari apa hati wanita ini. Dia


sangat tegar mengatakan kalau Kinanti adalah adiknya. Padahal jelas-jelas


hubungan mereka tidak seperti itu.”


“Saya harus melakukan operasi cecar


sekarang juga. Kondisi pasien kritis, dimana suaminya?”


Gadis hampir menjawab, tapi Endy sudah


mengatakan duluan kalau dirinyalah suami Kinanti. Gadis ganti menatap Endy.


“Tanda tangan dan isi formulir ini. Suster


akan membantu anda. Silakan diurus administrasinya dulu.”


Gadis membiarkan Endy mengurus semuanya


tentang Kinanti. Ia masih bertanya-tanya benarkah orang di harapannya ini


adalah Endy. Pria yang sudah dicari sekian bulan lamanya, sekarang muncul begitu


saja di hadapannya.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2