Duren Manis

Duren Manis
Jebakan jahat


__ADS_3

Jebakan jahat


“V-call sana. Ngecek mereka lagi ngapain. Kalo selimutan,


dah tau dah.”kata Mia sambil bersiap menekan icon video di ponselnya untuk


menelpon Rio.


Mia beneran menekan icon video itu dan Rio langsung


mengangkat telpon tanpa memeriksa sambungan yang masuk.


“Papa!”teriak Rio kaget ketika gak sengaja melihat


wajah papanya di layar ponsel.


“Papa ngapain v-call malem-malem?”


“Bukan papa, mamamu tuch mau ngomong sama Gadis. Mana


dia?”tanya Alex.


Tampak di belakang, Gadis keluar dari kamar mandi


cuma pake handuk doang. Rio juga terlihat nggak pake baju.


“Kalian abis ngapain? Jangan aneh-aneh gayanya.”kata


Alex to the point.


“Apa sich, papa nich. Mana mama? Katanya mau


ngomong sama Gadis.”


“Rio, aku belum pake baju. Tunggu.”ujar Gadis


panik.


“Pake kaosku, tuch ambil di lemari.”kata Rio sambil


menoleh ke belakang.


Alex dan Mia bisa melihat Rio cengengesan sambil


melihat ke samping. Rio merubah posisinya menjadi bersandar di tempat tidur.


Gadis menyusul duduk di sebelah Rio.


“Ya, mah? Kenapa?”tanya Gadis.


“Mama besok mau ke salon. Gadis ikut ya. Kita luluran,


tapi Gadis gak boleh pijet ya.”


“Gimana ya, mah?tanya Gadis ragu.


“Udah, dateng aja jam 11 ya. Ntar mama shareloc


salonnya. Kalian lagi ngapain?”tanya Mia yang ketularan kepo.


“Gadis habis mandi, mah. Ini Rio belum mandi.”jelas


Gadis.


“Rio, kamu mandi sana. Mama mau bicara sama Gadis.


Penting.”usir Mia.


Rio menuruti mamanya. Coba kalau Alex yang nyuruh,


alasannya banyak banget. Ia masuk ke kamar mandi tapi tidak menutup pintu dengan


benar. Ia masih bisa menguping pembicaraan Gadis dan Mia.


“Gadis, kehamilanmu masih muda. Kalau mau itu,


boleh. Tapi jangan sering-sering ya. Kalau ngerasa nyeri atau gak enak di


perutmu, cepat kasi tau mama atau Rio. Mama pernah ngerasain keguguran, Gadis.


Mama tahu rasa sakitnya. Mama harap kamu gak ngalamin yang mama alami ya.”kata


Mia tersenyum pada Gadis.


“Tapi tadi kami khilaf, mah. Itu gak pa-pa ya?”kata


Gadis bongkar rahasia.


“Gak pa-pa. Tapi jangan sering-sering ya. Inget

__ADS_1


pesan mama, Gadis. Istirahat ya. Sampai ketemu besok.”


Gadis meletakkan kembali ponsel Rio di atas nakas.


Ia berbaring dengan nyaman diatas tempat tidur, tapi bangun lagi karena melihat


bekas makanan mereka masih berantakan diatas meja makan. Gadis membereskan meja


makan dengan cepat. Ia mengambil gelas air putih dan meminumnya sampai habis.


Rio yang keluar dari kamar mandi, langsung masuk ke


bawah selimut tanpa memakai pakaiannya.


“Bisa-bisanya kamu tuch ya. Kenapa gak pake baju


dulu, sich?”kata Gadis yang malu melihat kelakuan Rio.


“Dingin. Sini, peluk.”


Gadis ikut berbaring juga di samping Rio yang


langsung merapatkan selimut mereka. Rio memeluk Gadis lagi, mencium kening


wanita itu dan juga pipinya.


“Rio, kamu mau lagi?”


“Kalo dikasi mau lagi. Tapi ntar kamu capek. Bobok


ya.”


“Aku mencintaimu, Rio. Selamat malam.”


“Gadis, aku gak bisa bilang gitu. Bukan karena gak


ada cinta, tapi aku takut. Aku tahu kamu pasti kecewa sama aku. Aku ingin kamu


merasakan sejauh apa perasaanku sama kamu lewat perbuatanku. Aku harap kamu


sabar ya.”


“Iya, aku tau. Jujur aku kecewa sama kamu. Tapi


buat apa juga aku maksa. Yang penting kamu jagain aku sama anak kita. Itu dah


Rio tersenyum pada Gadis, ia kembali mencium bibir


wanita yang ia cintai itu dan mereka terlelap saling berpelukan.


*****


Romi mengkerutkan keningnya ketika melihat


penampilan Gadis pagi itu. Ia memakai dress pendek milik Mia yang tertinggal di


apartment Alex karena gak mungkin memakai pakaian kerja yang sama seperti


kemarin.


“Gadis? Tumben pake dress.”komen Romi.


“Iya, pak. Lagi pengen ganti penampilan aja.”


“Oh, kirain kamu gak pulang semalem.”kata Romi asal


tebak.


Wajah Gadis merona mendengar kata-kata Romi dan


akhirnya Romi sadar kalau tebakannya benar. Romi menepuk pundak Rio yang juga


merona.


“Anak muda, sebaiknya kalian cepat menikah. Jadi sah


kalau melakukan itu.”kata Romi.


“Tiga minggu lagi, om. Bantuin ya, om.”pinta Rio.


“Beres.”


Siang itu, Rio mengantar Gadis ke salon tempat Mia


perawatan setelah Mia mengirimkan lokasi salonnya.


“Kamu yakin gak mau aku tungguin?”kata Rio.


“Gak usah. Nanti lama kamu bosen lagi.”

__ADS_1


“Ya, udah. Aku anter sampe ketemu mama ya. Biar


kamu gak sendirian.”


Gadis mengangguk. Mereka sampai di salon yang


dimaksud Mia dan turun dari mobil. Rio menggandeng tangan Gadis masuk. Gadis menanyakan


keberadaan Mia dan resepsionis meminta Gadis menunggu sebentar.


Rio mendengar ponselnya berdering, Alex menelponnya


dan memintanya segera kembali ke kantor. Gadis menyuruh Rio segera kembali ke


kantor dan ia akan menunggu disana sebentar lagi. Rio terpaksa meninggalkan


Gadis di ruang tunggu.


Rio sempat berpapasan dengan Manta yang masuk ke salon


memakai topi dan masker. Ia sempat curiga karena melihat perawakan pria yang


berpapasan dengannya, tapi Rio menepis rasa curiganya itu dan kembali ke mobilnya.


Manta masuk ke ruangan tempat Mia perawatan. Ia


tetap memakai maskernya dan berpura-pura menanyakan keadaan Mia yang hampir


tidak sadar.


...Flash back...


Setelah Mia datang tadi, ia diantar ke sebuah ruangan


dan disuguhi minuman selamat datang. Mia tidak menyadari minuman itu sudah


dicampurkan dengan obat milik Manta. Therapist mulai melakukan perawatan


terhadap Mia yang baru mengirimkan shareloc pada Gadis setelah 10 menit


berlalu.


Karena pijatan therapis yang sangat nyaman


dirasakan Mia, ia hampir tertidur dan therapist itu meninggalkannya sendirian.


...Flash back end...


“Mb gak pa-pa?”tanya Manta sambil membantu Mia


duduk di kursi.


Manta sengaja menyentuh lengan Mia untuk memancing


reaksinya. Saat Mia merasakan kulitnya disentuh pria, ia segera mendekat dan


menatap Manta.


“Mas Alex...”panggil Mia yang mulai halu.


“Iya, sayang. Aku disini.”bisik Manta sambil


tersenyum girang.


Gadis yang baru menemukan ruangan Mia, terkejut


melihat apa yang terjadi didalam ruangan itu. Ia melihat Mia dengan tubuh


berbalut handuk sedang memeluk seorang pria yang jelas-jelas bukan Alex. Mata


Gadis terbelalak mencoba melihat lebih jelas dan berharap itu bukan Mia.


“Alex. Aku panas, mas peluk.”lirih Mia sambil


memeluk lengan pria itu.


“Sayang, sini ya. Baring sini.”


Gadis mencoba mengenali suara Manta, ia belum bisa


melihat dengan jelas siapa pria itu. Terus terang ia sangat terkejut memergoki


kelakuan calon mertuanya itu.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2