
DM2 - Daya tarik
“Aduduh... pinggangku.”
Gadis mencoba tengkurap sambil berdesis
memegangi pinggangnya.
“Kenapa sayang?”
“Pinggangku sakit banget, Rio.”
”Hehe, apa aku terlalu bersemangat?”
“Kamu sich!!”jerit Gadis menyalahkan Rio.
Rio menggendong Gadis dengan hati-hati,
membuat Gadis memegangi lehernya. Ia membawa Gadis masuk ke kamar mandi dan
mendudukkannya di dalam bathup. Rio menambahkan sedikit air panas lagi agar
tubuh Gadis lebih hangat.
“Berendem dulu ya. Aku ambilin sarapan.”
Rio mengambil makanan di atas meja, dan
menyuapi Gadis makan. Ia meminta maaf beberapa kali karena sudah membuat Gadis
benar-benar lemas tak berdaya. Rio membiarkan dirinya dicubiti istrinya itu,
“Maafin aku ya, sayang.”
Gadis hanya mengangguk, menatap wajah Rio
yang memelas, langsung membuat hati Gadis luluh dibuatnya. Rio membantu
memandikan Gadis sampai bersih, ia kembali membopong tubuh istrinya yang sudah
kering dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Rio juga memakaikan baju Gadis, sakit
pinggang yang dirasakan Gadis sudah mendingan. Setelah Gadis rapi dan cantik
kembali, Rio baru memakai pakaiannya sendiri. Semburat merah masih menghiasi
daun telinga Gadis setelah mereka sama-sama berpakaian lengkap.
Bagaimana tidak, Rio bahkan tidak memakai
apapun, meskipun sudah pernah melihatnya, tetap saja Gadis masih merasa gugup. “Kenapa
malu-malu gitu? Semalem kamu gak malu pake baju seksi itu.”
“Auk ah.”
Gadis merapikan rambutnya untuk menyamarkan
rona merah yang muncul di pipinya mendengar kata-kata Rio. Dia juga bingung
kenapa punya ide gila memberi kejutan seliar itu untuk suaminya. Memikirkannya
dirinya berpikir mesum, membuat wajah Gadis semakin memerah.
“Oh, astaga. Lihat jam-nya. Ayo, kita
pulang.”ajak Gadis.
“Buru-buru amat.”
“Aku kangen sama mama.”jawab Gadis asal.
Rio tersenyum mendekati Gadis yang mulai
gugup lagi. Dia hampir meraih bantal, tapi Rio hanya ingin mengecup keningnya
saja.
“Terima kasih yang semaleman kemarin ya. Aku
mencintaimu. Ayo, kita pulang.”
Hati Gadis berbunga-bunga mendengar
kata-kata cinta dari suaminya. Kata-kata yang ia harapkan diucapkan Rio secara
sadar di telinganya. Senyuman manis terukir di wajah keduanya ketika mereka
__ADS_1
berjalan keluar dari kamar sambil mendorong koper-koper mereka.
Rio berjalan tanpa menggandeng Gadis, ia
memang tidak peka untuk urusan seperti itu. Gadis yang belum sepenuhnya
memahami bagaimana sifat Rio yang sebenarnya, jadi sedikit kecewa. Apalagi
ketika mereka sampai di depan lift yang sudah ramai dengan wanita-wanita cantik
yang entah datang darimana.
Gadis melirik Rio yang cuek, memainkan
ponselnya sambil menunggu pintu lift terbuka. Dirinya tidak sadar sudah jadi
pusat perhatian dan bahan pembicaraan wanita cantik yang berdiri di samping
mereka berdua.
“Ehem... Ehem...”
Gadis melirik wanita yang berdehem keras
mencoba menarik perhatian Rio. Rio hanya menoleh sekilas dan kembali asyik
memainkan ponselnya. Hati Gadis girang melihat Rio tidak mempedulikan wanita
itu.
Satu wanita cantik maju mendekati Rio,
mengajaknya berkenalan, “Hai, boleh kenalan gak? Namaku Meta.”
“Rio. Ini Gadis...”Rio belum selesai menjelaskan
siapa Gadis, tapi wanita itu mulai nyerocos dan sok akrab dengan Rio.
Gadis sedikit kecewa melihat Rio mau
menanggapi Meta meski hanya menjawab hmm, hmm aja. Saat pintu lift terbuka,
Gadis merasa tangannya digandeng Rio masuk ke dalam lift. Agak sulit karena Rio
harus membawa dua koper dan paper bag besar berisi baju pengantin mereka. Gadis
menarik kopernya sendiri, berdiri di pojokan lift.
Rio. Padahal Rio masih sibuk melihat ponselnya, ia memeriksa e-mail dari kantor
yang tidak libur meskipun dirinya libur sampai besok. Gadis menerima ponsel
yang disodorkan Rio, pria itu beranjak ke sampingnya, meraih pinggang Gadis,
mengabaikan Meta.
“Kalian kok akrab banget ya. Kamu adiknya
Rio ya?”tebak Meta gak suka melihat Rio merangkul pinggang Gadis.
“Ada e-mail dari client itu. Coba cek. Kamu
tanya apa tadi?”tanya Rio pada Meta.
“Aku tanya apa dia adik kamu, Rio?”
“Gadis istriku.”
Hanya dua kata yang diucapkan Rio membuat
Gadis sumringah dan membuat Meta bungkam seketika. Pintu lift terbuka, Meta
menghentakkan kakinya melihat Rio menggandeng tangan Gadis keluar dari lift.
Bahkan tidak berpamitan padanya.
Teman-teman Meta juga kesal melihat Rio
tersenyum pada Gadis. Mereka menuju resepsionis untuk check out. Meta masih
belum menyerah. Ia mengejar Rio meminta nomor WA-nya dan Rio memberikannya
dengan mudah.
Sambil menunggu proses check out, Meta
masih membayangi Rio. Ikut duduk bersama mereka di sofa besar di lobby hotel. Wanita
cantik yang lain, merubung Meta untuk minta nomor WA Rio. Gadis jadi sebal
__ADS_1
melihat Rio dengan mudahnya memberikan nomor WA-nya pada wanita lain.
“Rio, kenapa kamu kasi nomor WA-mu?”bisik
Gadis di telinga Rio.
“Kamu yakin yang kukasi nomor-ku? Coba
periksa HP-mu.”
Gadis memeriksa ponselnya dan melihat chat
dari Meta yang disertai banyak icon love. Gadis tersenyum sendiri melihat chat itu.
Rio memberikan nomor WA Gadis untuk Meta.
“Dibales gak nich?”bisik Gadis lagi.
“Terserah kamu, sayang. Aku ke toilet dulu
ya.”
Rio bangkit dari sisi Gadis, ia menuju
toilet di dekat pintu masuk hotel. Saat keluar dari toilet, lagi-lagi Rio
berpapasan dengan wanita cantik yang mengajaknya kenalan.
“Hai, boleh kenalan gak? Aku Cintya. Namamu
siapa?”
“Rio.”
Cintya juga minta nomor WA Rio. Gadis yang
tidak melihat Rio berbicara dengan Cintya, memeriksa HP-nya yang kembali
berbunyi notif chat. Ada wanita cantik bernama Cintya yang memuji Rio sangat
ganteng. Gadis mengedarkan pandangnya mencari sosok Rio.
Ia melihat Rio tampak bicara dengan wanita
cantik yang mirip dengan foto profil yang Gadis lihat tadi. Wajah Gadis jadi
cemberut melihat Rio menarik perhatian banyak wanita cantik di lobby hotel itu.
“Baru sebentar ngilang aja uda banyak yang
ngincar. Harus ekstra ketat mengawasinya. Tapi sepertinya Rio gak gampang
tergoda. Cuma daya tariknya itu mengerikan.”
Rio kembali lagi ke samping Gadis. Ia duduk
sangat dekat sampai Gadis agak terhimpit ke sofa besar itu.
“Dapet lagi nih. Kamu kayak nelayan mancing
ikan ya.”
“Soalnya suamimu ini sangat tampan, sayang.
Kamu harus jagain aku dengan ketat.”
“Gitu ya. Tapi aku gak bisa genit-genit
sama kamu di depan umum kayak mereka.”
“Gak perlu genit di depan umum. Cukup di
kamar aja, kayak semalem. Nanti malem pake yang kayak gitu lagi ya.”
“Kamu masih mau?”
Rio mengangguk, wajahnya terlihat serius
membuat Gadis ingin mencium bibir Rio lagi. Gadis menepuk-nepuk pipinya yang
merah, mencoba menghilangkan pikiran mesum dari otaknya.
“Kamu mikir apa sih? Kenapa mukamu merah
gitu?”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya
__ADS_1
author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.