Duren Manis

Duren Manis
DM2 - Daya tarik


__ADS_3

DM2 - Daya tarik


“Aduduh... pinggangku.”


Gadis mencoba tengkurap sambil berdesis


memegangi pinggangnya.


“Kenapa sayang?”


“Pinggangku sakit banget, Rio.”


”Hehe, apa aku terlalu bersemangat?”


“Kamu sich!!”jerit Gadis menyalahkan Rio.


Rio menggendong Gadis dengan hati-hati,


membuat Gadis memegangi lehernya. Ia membawa Gadis masuk ke kamar mandi dan


mendudukkannya di dalam bathup. Rio menambahkan sedikit air panas lagi agar


tubuh Gadis lebih hangat.


“Berendem dulu ya. Aku ambilin sarapan.”


Rio mengambil makanan di atas meja, dan


menyuapi Gadis makan. Ia meminta maaf beberapa kali karena sudah membuat Gadis


benar-benar lemas tak berdaya. Rio membiarkan dirinya dicubiti istrinya itu,


“Maafin aku ya, sayang.”


Gadis hanya mengangguk, menatap wajah Rio


yang memelas, langsung membuat hati Gadis luluh dibuatnya. Rio membantu


memandikan Gadis sampai bersih, ia kembali membopong tubuh istrinya yang sudah


kering dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Rio juga memakaikan baju Gadis, sakit


pinggang yang dirasakan Gadis sudah mendingan. Setelah Gadis rapi dan cantik


kembali, Rio baru memakai pakaiannya sendiri. Semburat merah masih menghiasi


daun telinga Gadis setelah mereka sama-sama berpakaian lengkap.


Bagaimana tidak, Rio bahkan tidak memakai


apapun, meskipun sudah pernah melihatnya, tetap saja Gadis masih merasa gugup. “Kenapa


malu-malu gitu? Semalem kamu gak malu pake baju seksi itu.”


“Auk ah.”


Gadis merapikan rambutnya untuk menyamarkan


rona merah yang muncul di pipinya mendengar kata-kata Rio. Dia juga bingung


kenapa punya ide gila memberi kejutan seliar itu untuk suaminya. Memikirkannya


dirinya berpikir mesum, membuat wajah Gadis semakin memerah.


“Oh, astaga. Lihat jam-nya. Ayo, kita


pulang.”ajak Gadis.


“Buru-buru amat.”


“Aku kangen sama mama.”jawab Gadis asal.


Rio tersenyum mendekati Gadis yang mulai


gugup lagi. Dia hampir meraih bantal, tapi Rio hanya ingin mengecup keningnya


saja.


“Terima kasih yang semaleman kemarin ya. Aku


mencintaimu. Ayo, kita pulang.”


Hati Gadis berbunga-bunga mendengar


kata-kata cinta dari suaminya. Kata-kata yang ia harapkan diucapkan Rio secara


sadar di telinganya. Senyuman manis terukir di wajah keduanya ketika mereka

__ADS_1


berjalan keluar dari kamar sambil mendorong koper-koper mereka.


Rio berjalan tanpa menggandeng Gadis, ia


memang tidak peka untuk urusan seperti itu. Gadis yang belum sepenuhnya


memahami bagaimana sifat Rio yang sebenarnya, jadi sedikit kecewa. Apalagi


ketika mereka sampai di depan lift yang sudah ramai dengan wanita-wanita cantik


yang entah datang darimana.


Gadis melirik Rio yang cuek, memainkan


ponselnya sambil menunggu pintu lift terbuka. Dirinya tidak sadar sudah jadi


pusat perhatian dan bahan pembicaraan wanita cantik yang berdiri di samping


mereka berdua.


“Ehem... Ehem...”


Gadis melirik wanita yang berdehem keras


mencoba menarik perhatian Rio. Rio hanya menoleh sekilas dan kembali asyik


memainkan ponselnya. Hati Gadis girang melihat Rio tidak mempedulikan wanita


itu.


Satu wanita cantik maju mendekati Rio,


mengajaknya berkenalan, “Hai, boleh kenalan gak? Namaku Meta.”


“Rio. Ini Gadis...”Rio belum selesai menjelaskan


siapa Gadis, tapi wanita itu mulai nyerocos dan sok akrab dengan Rio.


Gadis sedikit kecewa melihat Rio mau


menanggapi Meta meski hanya menjawab hmm, hmm aja. Saat pintu lift terbuka,


Gadis merasa tangannya digandeng Rio masuk ke dalam lift. Agak sulit karena Rio


harus membawa dua koper dan paper bag besar berisi baju pengantin mereka. Gadis


menarik kopernya sendiri, berdiri di pojokan lift.


Rio. Padahal Rio masih sibuk melihat ponselnya, ia memeriksa e-mail dari kantor


yang tidak libur meskipun dirinya libur sampai besok. Gadis menerima ponsel


yang disodorkan Rio, pria itu beranjak ke sampingnya, meraih pinggang Gadis,


mengabaikan Meta.


“Kalian kok akrab banget ya. Kamu adiknya


Rio ya?”tebak Meta gak suka melihat Rio merangkul pinggang Gadis.


“Ada e-mail dari client itu. Coba cek. Kamu


tanya apa tadi?”tanya Rio pada Meta.


“Aku tanya apa dia adik kamu, Rio?”


“Gadis istriku.”


Hanya dua kata yang diucapkan Rio membuat


Gadis sumringah dan membuat Meta bungkam seketika. Pintu lift terbuka, Meta


menghentakkan kakinya melihat Rio menggandeng tangan Gadis keluar dari lift.


Bahkan tidak berpamitan padanya.


Teman-teman Meta juga kesal melihat Rio


tersenyum pada Gadis. Mereka menuju resepsionis untuk check out. Meta masih


belum menyerah. Ia mengejar Rio meminta nomor WA-nya dan Rio memberikannya


dengan mudah.


Sambil menunggu proses check out, Meta


masih membayangi Rio. Ikut duduk bersama mereka di sofa besar di lobby hotel. Wanita


cantik yang lain, merubung Meta untuk minta nomor WA Rio. Gadis jadi sebal

__ADS_1


melihat Rio dengan mudahnya memberikan nomor WA-nya pada wanita lain.


“Rio, kenapa kamu kasi nomor WA-mu?”bisik


Gadis di telinga Rio.


“Kamu yakin yang kukasi nomor-ku? Coba


periksa HP-mu.”


Gadis memeriksa ponselnya dan melihat chat


dari Meta yang disertai banyak icon love. Gadis tersenyum sendiri melihat chat itu.


Rio memberikan nomor WA Gadis untuk Meta.


“Dibales gak nich?”bisik Gadis lagi.


“Terserah kamu, sayang. Aku ke toilet dulu


ya.”


Rio bangkit dari sisi Gadis, ia menuju


toilet di dekat pintu masuk hotel. Saat keluar dari toilet, lagi-lagi Rio


berpapasan dengan wanita cantik yang mengajaknya kenalan.


“Hai, boleh kenalan gak? Aku Cintya. Namamu


siapa?”


“Rio.”


Cintya juga minta nomor WA Rio. Gadis yang


tidak melihat Rio berbicara dengan Cintya, memeriksa HP-nya yang kembali


berbunyi notif chat. Ada wanita cantik bernama Cintya yang memuji Rio sangat


ganteng. Gadis mengedarkan pandangnya mencari sosok Rio.


Ia melihat Rio tampak bicara dengan wanita


cantik yang mirip dengan foto profil yang Gadis lihat tadi. Wajah Gadis jadi


cemberut melihat Rio menarik perhatian banyak wanita cantik di lobby hotel itu.


“Baru sebentar ngilang aja uda banyak yang


ngincar. Harus ekstra ketat mengawasinya. Tapi sepertinya Rio gak gampang


tergoda. Cuma daya tariknya itu mengerikan.”


Rio kembali lagi ke samping Gadis. Ia duduk


sangat dekat sampai Gadis agak terhimpit ke sofa besar itu.


“Dapet lagi nih. Kamu kayak nelayan mancing


ikan ya.”


“Soalnya suamimu ini sangat tampan, sayang.


Kamu harus jagain aku dengan ketat.”


“Gitu ya. Tapi aku gak bisa genit-genit


sama kamu di depan umum kayak mereka.”


“Gak perlu genit di depan umum. Cukup di


kamar aja, kayak semalem. Nanti malem pake yang kayak gitu lagi ya.”


“Kamu masih mau?”


Rio mengangguk, wajahnya terlihat serius


membuat Gadis ingin mencium bibir Rio lagi. Gadis menepuk-nepuk pipinya yang


merah, mencoba menghilangkan pikiran mesum dari otaknya.


“Kamu mikir apa sih? Kenapa mukamu merah


gitu?”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya

__ADS_1


author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2