
Setelah Rara dinyatakan hamil, semangat Arnold untuk sembuh terus bertambah. Ia tidak mau menyerah sesakit apapun tubuhnya menjalani terapi.
Terlebih lagi ketika melihat bentuk calon anak mereka di dalam perut Rara. Masih berbentuk bulatan kecil yang kata dokter kandungan hanya sebesar biji kacang hijau.
Mereka sedang ada temu janji dengan dokter kandungan yang ada di rumah sakit tempat Arnold terapi.
Dokter : "Ibunya tidak boleh stress ya. Harus banyak istirahat dan makan teratur. Boleh minum susu juga."
Rara : "Saya masih bisa kerja, kan dokter?"
Dokter : "Masih bisa, tapi jangan dipaksakan. Perbanyak asupan makanan bergizi dan juga istirahat yang baik."
Rara : "Ya, dokter."
Dokter kandungan memberikan resep vitamin penambah darah untuk Rara.
Dokter : "Ibunya ada mual?"
Rara : "Gak ada, dokter. Cuma lemes saja."
Dokter : "Mual muntah itu tidak terjadi pada semua wanita hamil ya. Jadi jangan takut. Kalau memang nantinya merasa tidak nyaman, bisa hubungi saya langsung. 24 jam."
Rara : "Ok, dokter."
Dokter kandungan menyerahkan resep vitamin dan mereka segera menebusnya di apotik rumah sakit.
Hari itu, Arnold sudah boleh pulang setelah menjalani terapi. Ia merasa lebih segar dan juga bersemangat.
Hal berbeda tampak dari Rara yang terlihat pucat dan lemah. Mereka akan mampir menjenguk Mia dulu sebelum pulang ke rumah.
Rara : "Mas, jangan bilang mama dulu ya. Bilang aja aku emang kecapean gitu."
Rara tidak bisa berbohong pada Mia, jadi dia minta Arnold yang bicara kalau Mia bertanya padanya.
Arnold : "Kenapa, sayang?"
Rara : "Aku gak mau mama kepikiran. Mama kan gak boleh stress."
Arnold : "Iya dech. Tapi aku gak tahan mau bilangnya. Gimana dong?"
Rara : "Tahan dulu, mas. Sampai mama keluar dari rumah sakit."
Arnold : "Oh, ok."
Mereka tiba di rumah sakit tempat Mia dirawat. Saat itu Mia sedang diperiksa dokter yang berkunjung.
Mia : "Gimana, dokter? Saya bisa pulang kan?"
Dokter : "Iya. Sudah bisa pulang. Ingat jangan stres ya. Perbanyak istirahat. Jaga pola makan juga."
Mia : "Akhirnya, makasi dokter."
Dokter pamit keluar bersama suster.
Mia : "Hai, Ra. Arnold. Kamu kenapa, Ra? Sakit? Kok pucet gitu."
Arnold : "Rara cuma kecapean aja, mah. Uda dikasi vitamin sama dokter juga."
Mia : "Jaga kesehatan, Ra. Kamu uda makan?"
Rara : "Belum, mah. Ini maunya mesen makan disini."
Mia : "Iya, pesen-pesen. Mau makan apa?"
Mia berusaha turun dari ranjang. Tubuh bulatnya hampir menggelinding kalau saja Alex tidak segera menahannya.
__ADS_1
Alex : "Hati-hati, sayang. Hihi..."
Mia : "Kenapa ketawa?"
Alex : "Bulet..."
Mia mencubiti lengan Alex yang berkata sangat jujur padanya. Rara melihat kemesraan mama dan papanya dan tersenyum menatap Arnold.
Sebentar lagi mereka juga akan merasakan kebahagiaan yang sama. Tinggal tunggu waktu di publikasikan.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Arnold tetap menjalani terapinya tanpa mengeluh. Sampai dokter menyarankan agar Arnold menjalani operasi saja.
Sekali operasi dengan kemungkinan sembuh 50:50 dan kelumpuhan yang akan dihadapi Arnold, membuatnya mempertimbangkan mengambil resikonya.
Arnold belum memberitahukan kemungkinan itu pada Rara. Ia tidak mau membebani pikiran Rara saat ini. Arnold sudah mengambil keputusan untuk melakukan operasi.
Semua surat-surat yang berhubungan dengan pemindahan aset Arnold ke Rara sudah selesai dikerjakan. Pengacara akan menjelaskan semuanya pada Rara jika terjadi sesuatu setelah operasi Arnold.
Masalahnya sekarang bagaimana cara ia mengatakan pada Rara kalau ia akan menjalani operasi?
Arnold meminta bantuan pada Jodi. Ia mengundang Jodi makan siang bersama di sebuah restauran private.
Arnold : "Aku perlu bantuanmu, bro."
Jodi : "Apa, bro?"
Arnold : "Aku mau operasi, tapi takut bilang sama Rara."
Jodi : "Kenapa takut? Tinggal ngomong, 'sayang, aku mau operasi', gampang kan?"
Arnold : "Masalahnya Rara lagi hamil, bro."
Arnold tampak bangga memberitahukan kehamilan Rara pada Jodi.
Arnold : "Baru kamu yang tahu. Keluarga kami belum ada yang tahu."
Jodi : "Kenapa kalian rahasiakan?"
Arnold : "Kamu tahu kondisi mama Mia? Kehamilannya gak boleh stress dan kondisi Rara masih lemah. Rara takut mama Mia kepikiran."
Jodi : "Jadi apa rencanamu?"
Arnold : "Entahlah. Kau punya rencana?"
Jodi : "Kalau kau tidak bisa mengatakannya secara langsung, ajak saja dia ke doktermu. Biar dokter yang mengatakannya. Kau tinggal bilang iya. Gimana?"
Arnold : "Kalau Rara nanya apa kemungkinannya gimana?"
Jodi : "Suruh dokter yang jelasin pelan-pelan sama Rara. Kita yakinkan dia kalau semuanya akan baik-baik saja."
Arnold menyeruput minumannya. Ia melamun sebentar memikirkan kemungkinan lumpuh atau malah lebih parah.
Jodi : "Jangan memikirkan sesuatu yang belum pasti, bro. Satu hal yang pasti dalam hidupmu sekarang, kau akan jadi papa."
Arnold : "Ya, kau benar. Berjanjilah satu hal padaku."
Jodi : "Hei, aku gak suka nada bicaramu nih. Sepertinya kau mau pergi atau semacamnya."
Arnold : "Dengar dulu, kalau terjadi sesuatu padaku, sesuatu yang membuatku tertahan dan tidak bisa menjaga Rara. Berjanjilah kau akan selalu menjaganya dan membantunya."
Jodi : "Bro! Hentikan sikap seperti ini. Rara masih punya orang tua, ada orang tuamu juga. Aku bukanlah orang yang tepat untuk menjaga Rara."
Arnold : "Berjanjilah, bro. Demi aku. Aku lebih tenang menjalani ini kalau aku yakin ada seseorang yang bisa Rara andalkan."
__ADS_1
Jodi : "Rara masih punya adik-adik yang bisa jagain dia. Aku ini cuma orang luar yang pernah nyakitin dia, bro."
Arnold : "Aku percaya kamu gak akan melakukannya lagi, bro. Tolong aku ya."
Jodi : "Ok, ok. Aku janji. Kau akan terus merengek kalau aku tidak bilang iya, kan."
Arnold : "Makasi, bro. Suka dech."
Jodi menunjukkan wajah jelek sambil pura-pura mau muntah mendengar Arnold sok imut.
Arnold tertawa terbahak-bahak sambil memegangi dadanya yang terasa sesak karena menahan perasaan yang membuncah.
Dirinya lebih siap menjalani operasi sekarang. Apapun hasilnya, ia sudah menyerahkan hidupnya pada Yang Kuasa.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Setelah membuat janji dengan dokter dan mengatakan tentang kondisi Rara, Arnold membawa Rara menemui dokter untuk mengatakan tentang operasi Arnold.
Rara mendengarkan dengan seksama penjelasan dari dokter tentang kondisi tulang di pinggang Arnold.
Dan bagaimana terapi hanya membuat Arnold bertahan sementara tapi tidak menyembuhkannya.
Jalan lainnya adalah dengan melakukan operasi. Tapi kemungkinannya Arnold akan mengalami kelumpuhan sebagian.
Rara : "Maksud dokter mungkin setelah operasi, suami saya bisa lumpuh?"
Dokter : "Kalau operasinya berhasil, tanpa mengenai saraf belakangnya, Arnold bisa sembuh dan normal lagi. Tapi kalau tidak, kemungkinannya adalah kelumpuhan."
Rara : "Tapi dengan operasi, mas Arnold gak akan kesakitanΒ lagi kan? Gak perlu ikut terapi lagi?"
Dokter : "Hanya terapi penyembuhan habis operasi. Setelahnya tidak perlu lagi."
Rara : "Jadi mas mau operasi?"
Arnold : "Iya, Ra. Demi kamu, demi bayi kita. Tapi kemungkinannya lumpuh, Ra."
Rara : "Mas, apapun itu yang penting kamu sembuh."
Arnold : "Kamu gak keberatan kalau itu terjadi?"
Rara : "Bisa kita bicara ditempat lain, mas?"
Arnold mendengar nada kecewa dari suara Rara. Mereka berpamitan pada dokter dan berjanji akan kembali lagi secepatnya.
Masalahnya tim dokter yang dikumpulkan Jodi, tidak bisa menunggu lama lagi karena harus mengurus urusan mereka masing-masing.
Arnold mengikuti langkah Rara yang berjalan agak cepat menuju parkiran mobil. Sopir segera menghidupkan mobil ketika melihat mereka berjalan mendekat.
Rara : "Balik ke apartment ya, pak."
Rara meminta sopir mengantar mereka kembali ke apartment. Selama dijalan, Rara hanya diam. Arnold yang melihat reaksi Rara, jadi berdebar-debar sendiri.
Ia ingin tahu apa keputusan Rara kalau akhirnya suaminya jadi lumpuh. Arnold seketika menjadi sedih memikirkan kemungkinan ia akan menjadi beban Rara seumur hidupnya.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²
__ADS_1