
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 21
“Kita bertaruh. Keliling benua A dulu dan kita
lihat bagaimana perkembangannya. Deal?” tanya Endy.
“Kau sudah gila. Aku tidak mau menyerahkan
perusahaanku dengan resiko sebesar itu. Bagaimana kalau kita jatuh miskin? Kamu
nggak akan bisa bayar dokter kalau sakit lagi. Aku nggak mau,” ucap Kinanti
nyaris berteriak.
“Kenapa kamu nggak bisa percaya dengan pria yang
mencintai putrimu yang terlahir buta?” tanya Endy lagi.
Kinanti tidak menjawab, dalam pikirannya hanya
terbayang saat melihat keadaan Endy yang lemah dengan jarum infus menancap di
tangannya. Kalau sampai Ken mengambil perusahaannya juga, Kinanti tidak akan
bisa membayar dokter untuk mengobati Endy. Beban pikiran yang terlalu berat,
membuat Kinanti kembali gemetar dan pusing. Endy menahan tubuh Kinanti yang
hampir jatuh lalu menuntunnya ke kamar di samping kamar Kenzo.
“Aku sudah sering bilang kan jangan terlalu banyak
pikiran. Istirahatlah. Aku ambilkan obatmu dulu ya,” kata Endy lalu beranjak
keluar dari kamar itu.
Ditangga, Ken dan Kaori berpapasan dengan Endy yang
berjalan menuruni tangga. Ken melihat Endy tersenyum tipis tanpa mengatakan
apa-apa pada mereka berdua.
“Pah, Kaori menginap disini,” kata Ken yang merasa
perlu untuk menjelaskan.
“Trus?” tanya Endy yang berhenti melangkah.
“Boleh, pah?” tanya Ken masih berusaha menghormati
orang yang lebih tua.
“Kamu pemilik rumah ini, lakukan saja apa yang kamu
mau. Tapi jangan kasar sama wanita, Ken,” kata Endy kembali menuruni tangga.
Ken menatap Kaori yang bingung dengan kata-kata
Endy. Pria itu menuntun Kaori sampai ke depan kamarnya, lalu membuka pintu.
“Kaori, ayo masuk. Ini kamarku,” kata Ken.
“K—Kenapa kita kesini? Ken, aku mau tidur dikamar
lain. Kita nggak mungkin tidur sekamar, kan?” tanya Kaori yang merasa keberatan
sekamar dengan Ken.
“Nanti kalau kakek Martin tahu, bisa repot, Kaori.
Lagian aku nggak ngapa-ngapain. Beneran,” kata Ken.
Mendengar kakek Martin, Kaori langsung nurut masuk
ke kamar Ken. Gadis itu sudah pasrah asalkan Alex tidak mengalami kesulitan.
Ken menuntun Kaori duduk di pinggir tempat tidurnya.
“Kamu mau ganti baju? Aku ada kaos sama celana
pendek yang bisa kamu pake dulu.” Ken beranjak mendekati lemarinya.
“Ken, aku nggak bawa bra. Bisa sekalian pinjem
bathrobe, nggak?” tanya Kaori tidak bermaksud menggoda Ken. Tapi Kaori tidak
mungkin tidur tanpa memakai bra di kamar Ken.
Ken tidak menjawab, ia sedang mengamati sesuatu
yang tergantung di lemari pakaiannya. Entah perbuatan siapa yang memasukkan
lingerie seksi itu sampai membuat Ken menelan salivanya beberapa kali. Ken
melirik Kaori yang masih duduk di tempat semula. Akhirnya Ken mengambil lingerie
itu, kaos dan celana pendeknya.
“Kaori, aku sungguh nggak tahu siapa yang naruh ini
di lemariku. Tapi kamu bisa coba pakai, trus ditutup pake kaos sama celana ini.”
Ken memberikan lingerie, kaos dan celana pendek itu ke tangan Kaori.
“Kalau gitu, kamu keluar dulu ya. Aku mau ganti
baju,” pinta Kaori.
“Yakin nggak mau aku bantu?” tanya Ken mulai jahil.
Kaori menggeleng, ia bisa mengganti pakaiannya
sendiri. Ken mengusap punggung Kaori, menempelkan keningnya ke kening Kaori
juga.
“Coba kalau udah sah, aku kan boleh bantuin kamu
ganti baju,” bisik Ken menggoda Kaori.
Wajah Kaori semakin merona mendengar kata-kata Ken.
__ADS_1
Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh, Ken segera membukakan pintu
dan Ginara berjalan masuk sambil membawa pembersih make up.
“Kaori, kak Ginara ada disini. Biar kak Ginara yang
bantu kamu ya. Aku ke bawah dulu mau ambil susu hangat,” kata Ken sambil
meninggalkan mereka berdua saja.
Ken menuruni tangga menuju dapur, ia terbiasa
mengambil minuman sendiri kalau sudah malam dan para maid sudah beristirahat. Saat
Ken sampai di dapur, ia memergoki Endy sedang mengambil sesuatu di kulkas.
“Pah, lagi ngapain?” tanya Ken mengagetkan Endy.
Pria paruh baya itu menoleh menatap Ken dengan
tangan memegang boks es krim. Ken menaikkan kedua alisnya, ia baru saja
memergoki Endy mengambil es krim di tengah malam. Ken tidak menunggu jawaban
Endy, ia memilih mengambil susu di dalam kulkas disamping kulkas khusus makanan
manis dan es krim yang sedang dibuka Endy.
Es krim yang diambil Endy rasa huzelnut dan vanila,
rasa kesukaan Kaori juga. Ken baru tahu tadi kalau Kaori suka minum susu yang
dicampur es krim hazelnut sebelum tidur.
“Papa suka hazelnut juga?” tanya Ken.
“Iya. Kenapa? Nggak boleh?” tanya Endy
bertubi-tubi.
“Boleh minta dikit, pah. Kaori juga suka hazelnut,”
kata Ken yang sudah terbiasa dengan sikap ketus Endy.
Endy menyodorkan boks es krim ke dekat Ken yang
masih sibuk menuangkan susu segar ke atas panci kecil. Ia menghidupkan kompor
dan membiarkan panci itu diatas api kecil untuk beberapa saat. Ken mengambil es
krim rasa strawberry sebelum duduk di samping Endy. Ia menyendok es krim
hazelnut dan menuangkannya ke gelas untuk susu.
“Lebih enak kalau kamu bikin milkshake hangat dari
es krim dan susu itu. Susunya jangan terlalu panas, ambil handmix. Kita punya
handmix-kan?” tanya Endy.
Tentu saja Ken tahu dimana letak handmix, ia hafal
isi dapur di mansion itu karena sering membantu Ginara memasak kalau sedang
wadah lalu mengambil sesendok es krim huzelnut. Suara handmix mulai terdengar
di dapur.
Segelas milkshake hangat langsung terhidang di atas
meja. Ken hampir mengambil gelas itu, tapi Endy duluan mengambilnya.
“Pah, itu buat Kaori.” Ken bengong melihat Endy
meneguk milkshake itu dengan nikmat tanpa basa-basi.
“Buat sendiri dong. Belajar. Masa papa yang buatin
untuk Kaori. Apa gunanya kamu?!” tegur Endy cuek.
Ken menggaruk kepalanya, ia tidak memperhatikan
bagaimana Endy membuat milkshake itu tadi. Ragu-ragu Ken mencoba membuat
milkshake yang sama, Endy yang melihat cara kerja Ken, menahan senyumnya.
“Tambahkan lagi susunya. Jangan banyak-banyak.
Jangan lama-lama di mix. Sudah, stop. Coba dulu, masih hangat nggak. Kalau
nggak hangat, panaskan lagi susunya. Sini bawa yang itu,” pinta Endy mengerjai
Ken.
Ken terpaksa menghangatkan susu lagi diatas kompor,
ia mengulang membuat milkshake hangat dan berhasil membuatnya. Endy hanya
melirik hasil milkshake buatan Ken yang sibuk mencuci perabotan yang ia pakai
barusan.
“Pah, aku ke kamar dulu ya. Papa masih mau duduk
disini?” tanya Ken.
“Hmm,” sahut Endy irit.
Ken membawa milkshake itu keluar dari dapur, ia
hampir menaiki tangga, tapi kembali lagi ke dapur karena ia melupakan sesuatu.
Saat itu ia melihat Endy sedang menyendok besar es krim huzelnut dan vanila
masuk ke dalam mulutnya. Untuk sesaat Ken melihat Endy bertingkah seperti Kenzo
yang sedang ngambek.
Endy tampak terkejut lalu cepat-cepat mengelap
bibirnya yang belepotan es krim. Ken lupa memasukkan es krim strawberry kembali
__ADS_1
ke dalam kulkas. Ia melewati Endy sambil menahan senyumnya. Malam itu Ken
melihat sisi lain dari Endy, papanya itu ternyata bisa menjelma menjadi anak
kecil.
“Pah, jangan banyak-banyak makan es krim
malem-malem, nanti sakit perut,” ucap Ken jahil.
Endy berdecih mendengar Ken menasihatinya seperti
menasihati anak kecil. Ken buru-buru keluar dari dapur, ia tidak mau mendengar
Endy berteriak padanya karena kurang ajar. Sampai di kamarnya, Ginara masih ada
disana menemani Kaori. Gadis itu sudah berganti pakaian dengan kaos dan celana
pendek milik Ken. Wajahnya juga sudah bersih dari makeup tipis yang tadi
menghiasi wajahnya.
“Kak Ginara, makasih udah bantu Kaori. Kaori, ini
susumu,” kata Ken.
Ginara keluar dari kamar Ken setelah memberikan
sesuatu yang dititipkan Melisa. Ken membolak-balik benda persegi yang ada di
tangannya. Wajahnya langsung merah merona saat melihat kegunaan benda itu.
“Melisa kamp*et! Bisa-bisanya dia ngasi ko**om.
Emang dia pikir aku mau ngapain?!” teriak Ken emosi.
“K—Ken, kenapa kamu teriak-teriak? Itu apa?” tanya
Kaori sedikit takut.
“Nggak. Maaf, Kaori. Mentorku udah nggak waras.
Jangan dipikirkan, cepat minum susumu. Aku mau ganti baju dulu,” kata Ken cepat
sambil melempar kotak di tangannya ke dalam keranjang sampah.
Ken mengganti pakaiannya di kamar mandi. Ia
benar-benar mendinginkan tubuh dan kepalanya agar tidak memikirkan hal yang
aneh-aneh. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan malam itu, tentu
saja hal yang tidak diinginkan Kaori. Ken keluar dari kamar mandi, ia melihat
Kaori masuk duduk di tempat semula dengan gelas susu yang sudah kosong.
“Sudah habis susunya? Enak nggak? Tadi aku baru
belajar bikinnya,” kata Ken mencoba membuat Kaori rileks.
“Iya, enak, Ken. Biasanya susunya lebih encer, ini
lebih kental. Gimana cara buatnya?” tanya Kaori.
Untuk sesaat Ken tidak bisa fokus mendengar
kata-kata Kaori yang membahas tentang susu. Ia menggeleng cepat, lalu
mengatakan kalau besok ia akan memberitahu caranya. Ken mengatur tempat tidur
agar Kaori bisa mulai berbaring,
“Kaori, nanti kalau kamu mau ke toilet, bangunkan
aku ya. Atau kamu sudah tahu dimana kamar mandinya?” tanya Ken.
“U—udah kok. Ken, tolong jangan apa-apakan aku dulu
ya. Jujur, aku takut sama kamu, Ken. Tapi aku lebih takut kalau misalnya ada
apa-apa sama perusahaan opa. Nanti opa jadi sedih dan stress,” kata Kaori imut.
Ken menahan dirinya untuk tidak menyergap Kaori
yang tampak menggemaskan. Ia menggelengkan kepalanya sebelum menyeringai jahil.
Kaori sangat peduli pada Alex dan sepertinya gadis itu sanggup mengorbankan
apapun untuk kebahagiaan Alex.
“Jadi kalau kakek Martin minta buyut sekarang, kamu
bersedia?” tanya Ken hanya ingin menggoda Kaori.
“Ka—kan nggak bisa langsung jadi... maksudku
itu..., ach, bukan... aduh, aku ngomong apa sich?” kata Kaori gugup.
Ketenangan gadis itu menghilang entah kemana, Kaori
menjadi sangat gelisah setelah mendengar kata-kata Ken. Tangan Kaori saling
bertaut, sesekali menggosok, sesekali menggenggam. Melihat Kaori hampir
menangis, Ken ingin memastikan sekali lagi.
“Apa kamu bersedia, Kaori? Demi om Alex?” tanya
Ken.
Kaori memejamkan matanya, perlahan Kaori menarik
nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Ken. Gadis itu menenangkan suaranya
yang hampir tercekat.
“Iya, Ken. Aku bersedia,” ucap Kaori dengan mata
berkaca-kaca.
“Kenapa kamu rela melakukan sesuatu yang bertentangan
__ADS_1
dengan hatimu, demi om Alex?” tanya Ken ingin tahu.