Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 21


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 21


“Kita bertaruh. Keliling benua A dulu dan kita


lihat bagaimana perkembangannya. Deal?” tanya Endy.


“Kau sudah gila. Aku tidak mau menyerahkan


perusahaanku dengan resiko sebesar itu. Bagaimana kalau kita jatuh miskin? Kamu


nggak akan bisa bayar dokter kalau sakit lagi. Aku nggak mau,” ucap Kinanti


nyaris berteriak.


“Kenapa kamu nggak bisa percaya dengan pria yang


mencintai putrimu yang terlahir buta?” tanya Endy lagi.


Kinanti tidak menjawab, dalam pikirannya hanya


terbayang saat melihat keadaan Endy yang lemah dengan jarum infus menancap di


tangannya. Kalau sampai Ken mengambil perusahaannya juga, Kinanti tidak akan


bisa membayar dokter untuk mengobati Endy. Beban pikiran yang terlalu berat,


membuat Kinanti kembali gemetar dan pusing. Endy menahan tubuh Kinanti yang


hampir jatuh lalu menuntunnya ke kamar di samping kamar Kenzo.


“Aku sudah sering bilang kan jangan terlalu banyak


pikiran. Istirahatlah. Aku ambilkan obatmu dulu ya,” kata Endy lalu beranjak


keluar dari kamar itu.


Ditangga, Ken dan Kaori berpapasan dengan Endy yang


berjalan menuruni tangga. Ken melihat Endy tersenyum tipis tanpa mengatakan


apa-apa pada mereka berdua.


“Pah, Kaori menginap disini,” kata Ken yang merasa


perlu untuk menjelaskan.


“Trus?” tanya Endy yang berhenti melangkah.


“Boleh, pah?” tanya Ken masih berusaha menghormati


orang yang lebih tua.


“Kamu pemilik rumah ini, lakukan saja apa yang kamu


mau. Tapi jangan kasar sama wanita, Ken,” kata Endy kembali menuruni tangga.


Ken menatap Kaori yang bingung dengan kata-kata


Endy. Pria itu menuntun Kaori sampai ke depan kamarnya, lalu membuka pintu.


“Kaori, ayo masuk. Ini kamarku,” kata Ken.


“K—Kenapa kita kesini? Ken, aku mau tidur dikamar


lain. Kita nggak mungkin tidur sekamar, kan?” tanya Kaori yang merasa keberatan


sekamar dengan Ken.


“Nanti kalau kakek Martin tahu, bisa repot, Kaori.


Lagian aku nggak ngapa-ngapain. Beneran,” kata Ken.


Mendengar kakek Martin, Kaori langsung nurut masuk


ke kamar Ken. Gadis itu sudah pasrah asalkan Alex tidak mengalami kesulitan.


Ken menuntun Kaori duduk di pinggir tempat tidurnya.


“Kamu mau ganti baju? Aku ada kaos sama celana


pendek yang bisa kamu pake dulu.” Ken beranjak mendekati lemarinya.


“Ken, aku nggak bawa bra. Bisa sekalian pinjem


bathrobe, nggak?” tanya Kaori tidak bermaksud menggoda Ken. Tapi Kaori tidak


mungkin tidur tanpa memakai bra di kamar Ken.


Ken tidak menjawab, ia sedang mengamati sesuatu


yang tergantung di lemari pakaiannya. Entah perbuatan siapa yang memasukkan


lingerie seksi itu sampai membuat Ken menelan salivanya beberapa kali. Ken


melirik Kaori yang masih duduk di tempat semula. Akhirnya Ken mengambil lingerie


itu, kaos dan celana pendeknya.


“Kaori, aku sungguh nggak tahu siapa yang naruh ini


di lemariku. Tapi kamu bisa coba pakai, trus ditutup pake kaos sama celana ini.”


Ken memberikan lingerie, kaos dan celana pendek itu ke tangan Kaori.


“Kalau gitu, kamu keluar dulu ya. Aku mau ganti


baju,” pinta Kaori.


“Yakin nggak mau aku bantu?” tanya Ken mulai jahil.


Kaori menggeleng, ia bisa mengganti pakaiannya


sendiri. Ken mengusap punggung Kaori, menempelkan keningnya ke kening Kaori


juga.


“Coba kalau udah sah, aku kan boleh bantuin kamu


ganti baju,” bisik Ken menggoda Kaori.


Wajah Kaori semakin merona mendengar kata-kata Ken.

__ADS_1


Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh, Ken segera membukakan pintu


dan Ginara berjalan masuk sambil membawa pembersih make up.


“Kaori, kak Ginara ada disini. Biar kak Ginara yang


bantu kamu ya. Aku ke bawah dulu mau ambil susu hangat,” kata Ken sambil


meninggalkan mereka berdua saja.


Ken menuruni tangga menuju dapur, ia terbiasa


mengambil minuman sendiri kalau sudah malam dan para maid sudah beristirahat. Saat


Ken sampai di dapur, ia memergoki Endy sedang mengambil sesuatu di kulkas.


“Pah, lagi ngapain?” tanya Ken mengagetkan Endy.


Pria paruh baya itu menoleh menatap Ken dengan


tangan memegang boks es krim. Ken menaikkan kedua alisnya, ia baru saja


memergoki Endy mengambil es krim di tengah malam. Ken tidak menunggu jawaban


Endy, ia memilih mengambil susu di dalam kulkas disamping kulkas khusus makanan


manis dan es krim yang sedang dibuka Endy.


Es krim yang diambil Endy rasa huzelnut dan vanila,


rasa kesukaan Kaori juga. Ken baru tahu tadi kalau Kaori suka minum susu yang


dicampur es krim hazelnut sebelum tidur.


“Papa suka hazelnut juga?” tanya Ken.


“Iya. Kenapa? Nggak boleh?” tanya Endy


bertubi-tubi.


“Boleh minta dikit, pah. Kaori juga suka hazelnut,”


kata Ken yang sudah terbiasa dengan sikap ketus Endy.


Endy menyodorkan boks es krim ke dekat Ken yang


masih sibuk menuangkan susu segar ke atas panci kecil. Ia menghidupkan kompor


dan membiarkan panci itu diatas api kecil untuk beberapa saat. Ken mengambil es


krim rasa strawberry sebelum duduk di samping Endy. Ia menyendok es krim


hazelnut dan menuangkannya ke gelas untuk susu.


“Lebih enak kalau kamu bikin milkshake hangat dari


es krim dan susu itu. Susunya jangan terlalu panas, ambil handmix. Kita punya


handmix-kan?” tanya Endy.


Tentu saja Ken tahu dimana letak handmix, ia hafal


isi dapur di mansion itu karena sering membantu Ginara memasak kalau sedang


wadah lalu mengambil sesendok es krim huzelnut. Suara handmix mulai terdengar


di dapur.


Segelas milkshake hangat langsung terhidang di atas


meja. Ken hampir mengambil gelas itu, tapi Endy duluan mengambilnya.


“Pah, itu buat Kaori.” Ken bengong melihat Endy


meneguk milkshake itu dengan nikmat tanpa basa-basi.


“Buat sendiri dong. Belajar. Masa papa yang buatin


untuk Kaori. Apa gunanya kamu?!” tegur Endy cuek.


Ken menggaruk kepalanya, ia tidak memperhatikan


bagaimana Endy membuat milkshake itu tadi. Ragu-ragu Ken mencoba membuat


milkshake yang sama, Endy yang melihat cara kerja Ken, menahan senyumnya.


“Tambahkan lagi susunya. Jangan banyak-banyak.


Jangan lama-lama di mix. Sudah, stop. Coba dulu, masih hangat nggak. Kalau


nggak hangat, panaskan lagi susunya. Sini bawa yang itu,” pinta Endy mengerjai


Ken.


Ken terpaksa menghangatkan susu lagi diatas kompor,


ia mengulang membuat milkshake hangat dan berhasil membuatnya. Endy hanya


melirik hasil milkshake buatan Ken yang sibuk mencuci perabotan yang ia pakai


barusan.


“Pah, aku ke kamar dulu ya. Papa masih mau duduk


disini?” tanya Ken.


“Hmm,” sahut Endy irit.


Ken membawa milkshake itu keluar dari dapur, ia


hampir menaiki tangga, tapi kembali lagi ke dapur karena ia melupakan sesuatu.


Saat itu ia melihat Endy sedang menyendok besar es krim huzelnut dan vanila


masuk ke dalam mulutnya. Untuk sesaat Ken melihat Endy bertingkah seperti Kenzo


yang sedang ngambek.


Endy tampak terkejut lalu cepat-cepat mengelap


bibirnya yang belepotan es krim. Ken lupa memasukkan es krim strawberry kembali

__ADS_1


ke dalam kulkas. Ia melewati Endy sambil menahan senyumnya. Malam itu Ken


melihat sisi lain dari Endy, papanya itu ternyata bisa menjelma menjadi anak


kecil.


“Pah, jangan banyak-banyak makan es krim


malem-malem, nanti sakit perut,” ucap Ken jahil.


Endy berdecih mendengar Ken menasihatinya seperti


menasihati anak kecil. Ken buru-buru keluar dari dapur, ia tidak mau mendengar


Endy berteriak padanya karena kurang ajar. Sampai di kamarnya, Ginara masih ada


disana menemani Kaori. Gadis itu sudah berganti pakaian dengan kaos dan celana


pendek milik Ken. Wajahnya juga sudah bersih dari makeup tipis yang tadi


menghiasi wajahnya.


“Kak Ginara, makasih udah bantu Kaori. Kaori, ini


susumu,” kata Ken.


Ginara keluar dari kamar Ken setelah memberikan


sesuatu yang dititipkan Melisa. Ken membolak-balik benda persegi yang ada di


tangannya. Wajahnya langsung merah merona saat melihat kegunaan benda itu.


“Melisa kamp*et! Bisa-bisanya dia ngasi ko**om.


Emang dia pikir aku mau ngapain?!” teriak Ken emosi.


“K—Ken, kenapa kamu teriak-teriak? Itu apa?” tanya


Kaori sedikit takut.


“Nggak. Maaf, Kaori. Mentorku udah nggak waras.


Jangan dipikirkan, cepat minum susumu. Aku mau ganti baju dulu,” kata Ken cepat


sambil melempar kotak di tangannya ke dalam keranjang sampah.


Ken mengganti pakaiannya di kamar mandi. Ia


benar-benar mendinginkan tubuh dan kepalanya agar tidak memikirkan hal yang


aneh-aneh. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan malam itu, tentu


saja hal yang tidak diinginkan Kaori. Ken keluar dari kamar mandi, ia melihat


Kaori masuk duduk di tempat semula dengan gelas susu yang sudah kosong.


“Sudah habis susunya? Enak nggak? Tadi aku baru


belajar bikinnya,” kata Ken mencoba membuat Kaori rileks.


“Iya, enak, Ken. Biasanya susunya lebih encer, ini


lebih kental. Gimana cara buatnya?” tanya Kaori.


Untuk sesaat Ken tidak bisa fokus mendengar


kata-kata Kaori yang membahas tentang susu. Ia menggeleng cepat, lalu


mengatakan kalau besok ia akan memberitahu caranya. Ken mengatur tempat tidur


agar Kaori bisa mulai berbaring,


“Kaori, nanti kalau kamu mau ke toilet, bangunkan


aku ya. Atau kamu sudah tahu dimana kamar mandinya?” tanya Ken.


“U—udah kok. Ken, tolong jangan apa-apakan aku dulu


ya. Jujur, aku takut sama kamu, Ken. Tapi aku lebih takut kalau misalnya ada


apa-apa sama perusahaan opa. Nanti opa jadi sedih dan stress,” kata Kaori imut.


Ken menahan dirinya untuk tidak menyergap Kaori


yang tampak menggemaskan. Ia menggelengkan kepalanya sebelum menyeringai jahil.


Kaori sangat peduli pada Alex dan sepertinya gadis itu sanggup mengorbankan


apapun untuk kebahagiaan Alex.


“Jadi kalau kakek Martin minta buyut sekarang, kamu


bersedia?” tanya Ken hanya ingin menggoda Kaori.


“Ka—kan nggak bisa langsung jadi... maksudku


itu..., ach, bukan... aduh, aku ngomong apa sich?” kata Kaori gugup.


Ketenangan gadis itu menghilang entah kemana, Kaori


menjadi sangat gelisah setelah mendengar kata-kata Ken. Tangan Kaori saling


bertaut, sesekali menggosok, sesekali menggenggam. Melihat Kaori hampir


menangis, Ken ingin memastikan sekali lagi.


“Apa kamu bersedia, Kaori? Demi om Alex?” tanya


Ken.


Kaori memejamkan matanya, perlahan Kaori menarik


nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Ken. Gadis itu menenangkan suaranya


yang hampir tercekat.


“Iya, Ken. Aku bersedia,” ucap Kaori dengan mata


berkaca-kaca.


“Kenapa kamu rela melakukan sesuatu yang bertentangan

__ADS_1


dengan hatimu, demi om Alex?” tanya Ken ingin tahu.


__ADS_2