Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 17 - Half First Kiss


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 17 - Half First Kiss


Kaori menebak kalau


Ken menyamar menjadi bodyguard untuk masuk kesini. Tapi ia masih belum paham


apa maunya pria itu. Saat Kaori mengusap bagian tubuhnya yang berkeringat,


gadis itu baru sadar kalau ia memakai piyama tidur yang cukup tipis. Gadis


mengajarkan pada Kaori tentang jenis bahan pakaian yang tipis atau cukup tebal.


Pantas saja sentuhan Ken sangat terasa ditubuh Kaori.


Gadis itu berjalan


mendekati pinggir tempat tidurnya. Ia meletakkan jubah tidur di sana tadi


karena sudah mau tidur. Tapi Kaori hanya menyentuh bed covernya, jubah tidurnya


entah ada dimana.


“Ken, kamu lihat


jubah tidurku nggak? Tadi aku taruh disini,” kata Kaori sambil meraba pinggir


tempat tidurnya. Ken melemparkan jubah tidur itu ke atas sofa dengan cepat.


Kaori tentu saja mendengar suara benda dilempar. Belum sempat Kaori berbalik,


Ken sudah menarik tubuhnya ke atas tempat tidur.


“Aihh!! Ken!!” pekik


Kaori tanpa sadar.


Tok, tok, tok! Suara


ketukan di pintu kamarnya membuat Kaori panik. Ia segera menarik selimut di


bawah mereka lalu menyelimuti tubuhnya dengan Ken bersembunyi di samping tubuh


Kaori.


“Apa sudah tertutup


semua? Ken jangan berisik ya. Diamlah dulu,” bisik Kaori.


“Nona Kaori? Nona


baik-baik saja?” tanya maid yang sepertinya sedang patroli malam itu.


“I—iya. Aku cuma


tersandung bonekaku,” kata Kaori sedikit keras.


“Boleh saya masuk,


nona? Saya akan membereskan kamar nona agar tidak tersandung lagi,” kata maid


itu.


Kaori tidak bisa


menolak atau maid itu akan mengatakan sesuatu pada Renata. Pintu kamar Kaori


terbuka dan seorang maid masuk ke dalam. Dengan tatapan curiga, maid itu


menatap Kaori yang duduk di atas tempat tidurnya. Maid itu melihat boneka yang


sempat dijatuhkan Ken di samping tempat tidur Kaori.


“Nona, bonekanya saya


taruh di tempat semula ya. Apa nona perlu air minum lagi?” tanya maid itu.


“T—tidak, sepertinya


masih penuh. Terima kasih, kak,” kata Kaori yang mulai berkeringat. Ken berada


sangat dekat dengan pahanya dan pria itu tidak bisa diam. Tangan Ken menyentuh


paha Kaori membuat gadis itu merinding.


“Ada apa, nona? Apa


AC-nya kurang dingin?” tanya maid yang melihat Kaori berkeringat.


“Ach, tidak. Sudah


cukup dingin. Aku dari kamar mandi tadi, ini air, bukan keringat. Kakak boleh


keluar, aku mau tidur. Selamat malam, kak,” kata Kaori memberi alasan.


Maid itu menatap


Kaori sekali lagi sebelum keluar dari kamar gadis itu. Kaori bernafas lega


setelah mendengar pintu menutup, ia segera bergeser sampai ke pinggir tempat


tidurnya. Ken duduk di belakang Kaori, memeluk pinggang gadis itu.


“Ken, kamu aneh


banget hari ini. Biasanya nggak meluk-meluk gini. Kamu mau apa?” tanya Kaori


grogi.


“Aku kangen banget sama


kamu, Kaori. Enam bulan nggak ketemu kamu, kangen tau,” bisik Ken manja.


Kaori tersenyum malu,


Ken menciumi tengkuk Kaori dengan gemas. Ia juga sangat senang bisa berduaan


lagi dengan Kaori setelah sekian lama. Ken ingin mendengar sendiri ucapan


selamat ulang tahun dari Kaori, makanya pria itu nekat menyelinap ke mansion

__ADS_1


Steven.


Ken menceritakan apa


saja yang ia lakukan selama beberapa bulan terakhir ini. Ia selalu mengikuti


kemanapun kakek Martin pergi. Mempelajari semua strategi bisnis dan juga


mencari solusi untuk masalah yang terjadi di perusahaan. Ken mengeluh


sepertinya rambutnya semakin tipis karena memikirkan masalah perusahaan.


Kaori mengelus rambut


Ken dan mengatakan kalau Ken tidak perlu mengkuatirkan rambutnya. Gadis itu


bisa merasakan kalau rambut Ken masih baik-baik saja seperti sebelumnya. Tapi


Ken tetap mengeluh tentang rambutnya sampai Kaori menarik sedikit ujung rambut


Ken.


“Adoowww....!!” pekik


Ken kesakitan.


Kaori buru-buru


menutup mulut Ken dengan tangannya dan memasang telinganya dengan baik. Untung


saja saat itu tidak ada orang di dekat kamar Kaori. Ken malah menciumi tangan


Kaori, sampai gadis itu menarik kedua pipinya.


“Ken, jangan cium


lagi. Kan aku udah bilang harus ijin dulu sama opa. Kamu pelanggaran, tau,”


ucap Kaori.


“Aku udah bilang, aku


mau sah-in kamu. Dengan nyiumin kamu kayak gini, aku harap kamu bisa selalu


inget sama aku,” kata Ken ngeles.


“Idih, itu namanya


modus. Ken, kamu harus pikirkan lagi. Lihat kekuranganku, aku buta, Ken. Orang


tuamu tidak akan menerimaku. Lebih baik jangan memulai kalau akan berakhir,


Ken,” ucap Kaori sendu.


Ken tidak peduli


kalau Endy dan Kinanti akan menolak kehadiran Kaori. Ia hanya perlu dukungan


kakek Martin dan Alex untuk bisa memiliki Kaori. Sejauh ini belum ada orang


lain yang tahu tentang identitas dirinya yang sebenarnya. Ken akan siap menjaga


Kaori mendengarkan


isi hati Ken malam itu juga. Baginya semua orang pasti punya kelemahan dan


kelebihan. Memangnya kenapa kalau Kaori buta, tidak ada yang salah dengan itu.


Penting bagi Ken kalau Kaori bisa menyayanginya apapun yang terjadi.


“Ken, kenapa kamu


bicara begitu? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Kaori cemas.


“Aku hanya takut,


Kaori. Besok aku akan mulai melawan seseorang yang bisa dibilang musuh tapi


bukan musuh. Aku tidak boleh menunjukkan kelemahanku pada siapapun. Tapi jujur,


aku takut, Kaori. Takut semua yang sudah kusiapkan tidak cukup untuk melawan


dia.” Ken terdengar lemah dan putus asa.


Kaori menggeser


duduknya menghadap Ken. Ia menarik sedikit piyama tidurnya agar pahanya tidak


terbuka. Ken membantu Kaori duduk diantara pahanya dengan kaki menyamping. Ken


jadi tampak seperti sedang menggendong gadis itu.


“Ken, ingatlah untuk


apa kamu melakukan ini. Apa tujuanmu? Semasih itu untuk kebaikan, aku yakin


Tuhan pun akan membantumu. Aku yakin, kamu adalah orang yang baik, Ken. Kamu


pasti bisa,” kata Kaori memberi semangat pada Ken.


“Andaikan kita bisa


bersama sekarang, aku ingin sekali membagi perasaanku ini sama kamu. Kita bisa


pelukan terus. Aku bisa bebas cium kamu bukan cuma ditempat yang tadi aku cium.


Kita bisa menghabiskan malam sampai pagi dengan melakukan itu.” Ken hanya ingin


mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikirannya.


“Melakukan itu? Itu


apa?” tanya Kaori bingung.


“Sesuatu yang boleh


dilakukan setelah kita menikah nanti, Kaori,” ucap Ken sambil menyentuh paha


Kaori lagi.

__ADS_1


Kaori menepuk tangan


Ken yang mendarat di pahanya. Wajah gadis itu merona merah gara-gara perlakuan


Ken. Pria itu berbisik di telinga Kaori, kalau ia akan memperlakukan Kaori dengan


lembut. Bisikan kata-kata mesra dan sedikit mengarah kearah itu, membuat Kaori


jadi penasaran.


Gadis itu memang


rajin membaca, tapi ia belum pernah membaca tentang hal-hal yang lebih dewasa. Kosakata


yang barusan dikatakan Ken, membuat Kaori meminta penjelasan pada pria itu. Ken


beralasan mau dijelaskan dengan kata-kata, tidak akan membuat Kaori mengerti.


Ketika pria itu minta praktek, Kaori langsung menahan tangan Ken.


“A—aku... nggak jadi nanya. Ken... jangan...,” cegah Kaori yang mulai merasa takut. “Aku takut nanti


hamil,” ucap Kaori dengan wajah memerah.


Ken tersenyum lebar, kata-kata dewasa yang tadi ia ucapkan belum bisa membuat seorang gadis hamil. Bahkan prakteknya juga belum bisa. Saking gemesnya pada Kaori, Ken hanya memeluk gadis


itu dengan erat sampai Kaori megap-megap tidak bisa bernafas dengan baik.


Tinggal beberapa menit lagi sampai tengah malam, Ken seharusnya kembali ke pos jaga untuk


berpura-pura menjadi bodyguard lagi. Tapi Melisa sudah menggantikannya duluan


tadi. Ken bisa tetap berduaan dengan Kaori di kamar gadis itu.


“Sudah hampir jam duabelas malam, Kaori. Kamu udah nyiapin sesuatu untuk hadiah ulang tahunku?” tanya


Ken.


“Aku udah nyiapin ado, tapi kan semua kado ada dibawah. Aku ambil dulu ya,” kata Kaori hampir menurunkan


kakinya dari atas paha Ken.


“Kamu aja yang jadi kadonya ya,” pinta Ken.


Kaori menanyakan maksud pria itu. Ken malah bertanya apa Kaori pernah berciuman. Gadis itu


menggeleng, lalu spontan menjauh sambil menutup mulutnya dengan tangan.


“Kaori, aku kan sudah bilang, aku nggak akan cium kamu kalo kamu nggak ngijinin,” kata Ken.


“Apanya nggak cium kalau nggak ada ijin, dari tadi kamu cium aku dimana-mana. Itu juga nggak


boleh, Ken,” kata Kaori sambil menggeser duduknya sedikit menjauh.


“Aku boleh minta kadonya kan? Ciuman pertamamu?” pinta Ken membuat Kaori semakin tersipu.


“Nggak minta kado yang lain aja, Ken. Ada kok dibawah, beneran,” ucap Kaori malu banget.


Ken tetap minta ciuman pertama Kaori sebagai kadonya di ulang tahunnya yang ke duapuluh kali


ini. Kaori ingin sekali berteriak agar seseorang mendengarnya dan memergoki


Ken. Tapi Kaori tidak setega itu. Akhirnya Kaori mengangguk, mengijinkan Ken


menciumnya.


Tepat jam duabelas malam, Ken melihat kembang api memenuhi langit diatas mansion. Perayaan ulang


tahunnya jadi seperti perayaan tahun baru saja. Kaori yang mendengar suara


ledakan di langit, mencengkeram lengan Ken, ia tidak tahu apa yang sedang


terjadi.


“Sepertinya kejutan ulang tahun untuk Renata sedang berlangsung. Tadi aku lihat persiapannya di


kolam renang. Reynold itu suka banget ya sama Renata,” kata Ken sambil melihat


cahaya kembang api yang masuk lewat jendela kamar Kaori.


“Ya, kak Rey memang suka banget sama aunty Renata. Wah, kejutannya pasti seru sekali ya.” Kaori hanya


bisa mendengar suara ledakan kembang api tanpa bisa melihatnya.


Ken mengusap kedua mata Kaori hingga terpejam, dikecupnya kedua mata Kaori dengan lembut.


“Ken, aku ijinin kamu cium aku, tapi tolong jangan mainin aku ya. Aku nggak punya apapun yang


berharga selain kehormatanku. Kalau sampai itu hilang dan kamu pergi...,”


ucapan Kaori terhenti saat Ken menutup mulutnya dengan selembar kain.


“Aku janji akan kembali. Meskipun hanya tersisa ragaku saja. Aku pasti akan kembali untuk kamu,


Kaori,” ucap Ken.


Kaori merasakan bibirnya yang tertutup kain, menempel pada sesuatu yang lembut. Ken tetap


mencium Kaori tapi membatasi ciuman itu dengan selembar kain. Tubuh Kaori


sedikit tersentak saat Ken menekan tengkuk gadis itu. Memperdalam ciuman mereka


yang masih terbatas.


“Ken... udah...,” lirih Kaori saat jeda ciuman mereka.


“Sekali lagi ya. Boleh?” pinta Ken sambil merapikan  rambut Kaori yang sedikit berantakan.


“Jangan, Ken. Aku udah ngantuk. Mau tidur dulu,” ucap Kaori sambil menggeser duduknya.


Kaori mulai berbaring, menarik selimut menutupi tubuhnya. Ken juga ikut berbaring di


sampingnya membuat Kaori bangun lagi. Gadis itu bingung kenapa Ken malah ikut


berbaring dan tidak segera keluar dari kamarnya. Ken beralasan kalau dia ingin


segera pergi, tapi pergantian bodyguard berikutnya masih beberapa jam lagi.


“Jadi kamu mau tetap disini sampai kapan, Ken?” tanya Kaori mulai kesal.

__ADS_1


__ADS_2