
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 17 - Half First Kiss
Kaori menebak kalau
Ken menyamar menjadi bodyguard untuk masuk kesini. Tapi ia masih belum paham
apa maunya pria itu. Saat Kaori mengusap bagian tubuhnya yang berkeringat,
gadis itu baru sadar kalau ia memakai piyama tidur yang cukup tipis. Gadis
mengajarkan pada Kaori tentang jenis bahan pakaian yang tipis atau cukup tebal.
Pantas saja sentuhan Ken sangat terasa ditubuh Kaori.
Gadis itu berjalan
mendekati pinggir tempat tidurnya. Ia meletakkan jubah tidur di sana tadi
karena sudah mau tidur. Tapi Kaori hanya menyentuh bed covernya, jubah tidurnya
entah ada dimana.
“Ken, kamu lihat
jubah tidurku nggak? Tadi aku taruh disini,” kata Kaori sambil meraba pinggir
tempat tidurnya. Ken melemparkan jubah tidur itu ke atas sofa dengan cepat.
Kaori tentu saja mendengar suara benda dilempar. Belum sempat Kaori berbalik,
Ken sudah menarik tubuhnya ke atas tempat tidur.
“Aihh!! Ken!!” pekik
Kaori tanpa sadar.
Tok, tok, tok! Suara
ketukan di pintu kamarnya membuat Kaori panik. Ia segera menarik selimut di
bawah mereka lalu menyelimuti tubuhnya dengan Ken bersembunyi di samping tubuh
Kaori.
“Apa sudah tertutup
semua? Ken jangan berisik ya. Diamlah dulu,” bisik Kaori.
“Nona Kaori? Nona
baik-baik saja?” tanya maid yang sepertinya sedang patroli malam itu.
“I—iya. Aku cuma
tersandung bonekaku,” kata Kaori sedikit keras.
“Boleh saya masuk,
nona? Saya akan membereskan kamar nona agar tidak tersandung lagi,” kata maid
itu.
Kaori tidak bisa
menolak atau maid itu akan mengatakan sesuatu pada Renata. Pintu kamar Kaori
terbuka dan seorang maid masuk ke dalam. Dengan tatapan curiga, maid itu
menatap Kaori yang duduk di atas tempat tidurnya. Maid itu melihat boneka yang
sempat dijatuhkan Ken di samping tempat tidur Kaori.
“Nona, bonekanya saya
taruh di tempat semula ya. Apa nona perlu air minum lagi?” tanya maid itu.
“T—tidak, sepertinya
masih penuh. Terima kasih, kak,” kata Kaori yang mulai berkeringat. Ken berada
sangat dekat dengan pahanya dan pria itu tidak bisa diam. Tangan Ken menyentuh
paha Kaori membuat gadis itu merinding.
“Ada apa, nona? Apa
AC-nya kurang dingin?” tanya maid yang melihat Kaori berkeringat.
“Ach, tidak. Sudah
cukup dingin. Aku dari kamar mandi tadi, ini air, bukan keringat. Kakak boleh
keluar, aku mau tidur. Selamat malam, kak,” kata Kaori memberi alasan.
Maid itu menatap
Kaori sekali lagi sebelum keluar dari kamar gadis itu. Kaori bernafas lega
setelah mendengar pintu menutup, ia segera bergeser sampai ke pinggir tempat
tidurnya. Ken duduk di belakang Kaori, memeluk pinggang gadis itu.
“Ken, kamu aneh
banget hari ini. Biasanya nggak meluk-meluk gini. Kamu mau apa?” tanya Kaori
grogi.
“Aku kangen banget sama
kamu, Kaori. Enam bulan nggak ketemu kamu, kangen tau,” bisik Ken manja.
Kaori tersenyum malu,
Ken menciumi tengkuk Kaori dengan gemas. Ia juga sangat senang bisa berduaan
lagi dengan Kaori setelah sekian lama. Ken ingin mendengar sendiri ucapan
selamat ulang tahun dari Kaori, makanya pria itu nekat menyelinap ke mansion
__ADS_1
Steven.
Ken menceritakan apa
saja yang ia lakukan selama beberapa bulan terakhir ini. Ia selalu mengikuti
kemanapun kakek Martin pergi. Mempelajari semua strategi bisnis dan juga
mencari solusi untuk masalah yang terjadi di perusahaan. Ken mengeluh
sepertinya rambutnya semakin tipis karena memikirkan masalah perusahaan.
Kaori mengelus rambut
Ken dan mengatakan kalau Ken tidak perlu mengkuatirkan rambutnya. Gadis itu
bisa merasakan kalau rambut Ken masih baik-baik saja seperti sebelumnya. Tapi
Ken tetap mengeluh tentang rambutnya sampai Kaori menarik sedikit ujung rambut
Ken.
“Adoowww....!!” pekik
Ken kesakitan.
Kaori buru-buru
menutup mulut Ken dengan tangannya dan memasang telinganya dengan baik. Untung
saja saat itu tidak ada orang di dekat kamar Kaori. Ken malah menciumi tangan
Kaori, sampai gadis itu menarik kedua pipinya.
“Ken, jangan cium
lagi. Kan aku udah bilang harus ijin dulu sama opa. Kamu pelanggaran, tau,”
ucap Kaori.
“Aku udah bilang, aku
mau sah-in kamu. Dengan nyiumin kamu kayak gini, aku harap kamu bisa selalu
inget sama aku,” kata Ken ngeles.
“Idih, itu namanya
modus. Ken, kamu harus pikirkan lagi. Lihat kekuranganku, aku buta, Ken. Orang
tuamu tidak akan menerimaku. Lebih baik jangan memulai kalau akan berakhir,
Ken,” ucap Kaori sendu.
Ken tidak peduli
kalau Endy dan Kinanti akan menolak kehadiran Kaori. Ia hanya perlu dukungan
kakek Martin dan Alex untuk bisa memiliki Kaori. Sejauh ini belum ada orang
lain yang tahu tentang identitas dirinya yang sebenarnya. Ken akan siap menjaga
Kaori mendengarkan
isi hati Ken malam itu juga. Baginya semua orang pasti punya kelemahan dan
kelebihan. Memangnya kenapa kalau Kaori buta, tidak ada yang salah dengan itu.
Penting bagi Ken kalau Kaori bisa menyayanginya apapun yang terjadi.
“Ken, kenapa kamu
bicara begitu? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Kaori cemas.
“Aku hanya takut,
Kaori. Besok aku akan mulai melawan seseorang yang bisa dibilang musuh tapi
bukan musuh. Aku tidak boleh menunjukkan kelemahanku pada siapapun. Tapi jujur,
aku takut, Kaori. Takut semua yang sudah kusiapkan tidak cukup untuk melawan
dia.” Ken terdengar lemah dan putus asa.
Kaori menggeser
duduknya menghadap Ken. Ia menarik sedikit piyama tidurnya agar pahanya tidak
terbuka. Ken membantu Kaori duduk diantara pahanya dengan kaki menyamping. Ken
jadi tampak seperti sedang menggendong gadis itu.
“Ken, ingatlah untuk
apa kamu melakukan ini. Apa tujuanmu? Semasih itu untuk kebaikan, aku yakin
Tuhan pun akan membantumu. Aku yakin, kamu adalah orang yang baik, Ken. Kamu
pasti bisa,” kata Kaori memberi semangat pada Ken.
“Andaikan kita bisa
bersama sekarang, aku ingin sekali membagi perasaanku ini sama kamu. Kita bisa
pelukan terus. Aku bisa bebas cium kamu bukan cuma ditempat yang tadi aku cium.
Kita bisa menghabiskan malam sampai pagi dengan melakukan itu.” Ken hanya ingin
mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikirannya.
“Melakukan itu? Itu
apa?” tanya Kaori bingung.
“Sesuatu yang boleh
dilakukan setelah kita menikah nanti, Kaori,” ucap Ken sambil menyentuh paha
Kaori lagi.
__ADS_1
Kaori menepuk tangan
Ken yang mendarat di pahanya. Wajah gadis itu merona merah gara-gara perlakuan
Ken. Pria itu berbisik di telinga Kaori, kalau ia akan memperlakukan Kaori dengan
lembut. Bisikan kata-kata mesra dan sedikit mengarah kearah itu, membuat Kaori
jadi penasaran.
Gadis itu memang
rajin membaca, tapi ia belum pernah membaca tentang hal-hal yang lebih dewasa. Kosakata
yang barusan dikatakan Ken, membuat Kaori meminta penjelasan pada pria itu. Ken
beralasan mau dijelaskan dengan kata-kata, tidak akan membuat Kaori mengerti.
Ketika pria itu minta praktek, Kaori langsung menahan tangan Ken.
“A—aku... nggak jadi nanya. Ken... jangan...,” cegah Kaori yang mulai merasa takut. “Aku takut nanti
hamil,” ucap Kaori dengan wajah memerah.
Ken tersenyum lebar, kata-kata dewasa yang tadi ia ucapkan belum bisa membuat seorang gadis hamil. Bahkan prakteknya juga belum bisa. Saking gemesnya pada Kaori, Ken hanya memeluk gadis
itu dengan erat sampai Kaori megap-megap tidak bisa bernafas dengan baik.
Tinggal beberapa menit lagi sampai tengah malam, Ken seharusnya kembali ke pos jaga untuk
berpura-pura menjadi bodyguard lagi. Tapi Melisa sudah menggantikannya duluan
tadi. Ken bisa tetap berduaan dengan Kaori di kamar gadis itu.
“Sudah hampir jam duabelas malam, Kaori. Kamu udah nyiapin sesuatu untuk hadiah ulang tahunku?” tanya
Ken.
“Aku udah nyiapin ado, tapi kan semua kado ada dibawah. Aku ambil dulu ya,” kata Kaori hampir menurunkan
kakinya dari atas paha Ken.
“Kamu aja yang jadi kadonya ya,” pinta Ken.
Kaori menanyakan maksud pria itu. Ken malah bertanya apa Kaori pernah berciuman. Gadis itu
menggeleng, lalu spontan menjauh sambil menutup mulutnya dengan tangan.
“Kaori, aku kan sudah bilang, aku nggak akan cium kamu kalo kamu nggak ngijinin,” kata Ken.
“Apanya nggak cium kalau nggak ada ijin, dari tadi kamu cium aku dimana-mana. Itu juga nggak
boleh, Ken,” kata Kaori sambil menggeser duduknya sedikit menjauh.
“Aku boleh minta kadonya kan? Ciuman pertamamu?” pinta Ken membuat Kaori semakin tersipu.
“Nggak minta kado yang lain aja, Ken. Ada kok dibawah, beneran,” ucap Kaori malu banget.
Ken tetap minta ciuman pertama Kaori sebagai kadonya di ulang tahunnya yang ke duapuluh kali
ini. Kaori ingin sekali berteriak agar seseorang mendengarnya dan memergoki
Ken. Tapi Kaori tidak setega itu. Akhirnya Kaori mengangguk, mengijinkan Ken
menciumnya.
Tepat jam duabelas malam, Ken melihat kembang api memenuhi langit diatas mansion. Perayaan ulang
tahunnya jadi seperti perayaan tahun baru saja. Kaori yang mendengar suara
ledakan di langit, mencengkeram lengan Ken, ia tidak tahu apa yang sedang
terjadi.
“Sepertinya kejutan ulang tahun untuk Renata sedang berlangsung. Tadi aku lihat persiapannya di
kolam renang. Reynold itu suka banget ya sama Renata,” kata Ken sambil melihat
cahaya kembang api yang masuk lewat jendela kamar Kaori.
“Ya, kak Rey memang suka banget sama aunty Renata. Wah, kejutannya pasti seru sekali ya.” Kaori hanya
bisa mendengar suara ledakan kembang api tanpa bisa melihatnya.
Ken mengusap kedua mata Kaori hingga terpejam, dikecupnya kedua mata Kaori dengan lembut.
“Ken, aku ijinin kamu cium aku, tapi tolong jangan mainin aku ya. Aku nggak punya apapun yang
berharga selain kehormatanku. Kalau sampai itu hilang dan kamu pergi...,”
ucapan Kaori terhenti saat Ken menutup mulutnya dengan selembar kain.
“Aku janji akan kembali. Meskipun hanya tersisa ragaku saja. Aku pasti akan kembali untuk kamu,
Kaori,” ucap Ken.
Kaori merasakan bibirnya yang tertutup kain, menempel pada sesuatu yang lembut. Ken tetap
mencium Kaori tapi membatasi ciuman itu dengan selembar kain. Tubuh Kaori
sedikit tersentak saat Ken menekan tengkuk gadis itu. Memperdalam ciuman mereka
yang masih terbatas.
“Ken... udah...,” lirih Kaori saat jeda ciuman mereka.
“Sekali lagi ya. Boleh?” pinta Ken sambil merapikan rambut Kaori yang sedikit berantakan.
“Jangan, Ken. Aku udah ngantuk. Mau tidur dulu,” ucap Kaori sambil menggeser duduknya.
Kaori mulai berbaring, menarik selimut menutupi tubuhnya. Ken juga ikut berbaring di
sampingnya membuat Kaori bangun lagi. Gadis itu bingung kenapa Ken malah ikut
berbaring dan tidak segera keluar dari kamarnya. Ken beralasan kalau dia ingin
segera pergi, tapi pergantian bodyguard berikutnya masih beberapa jam lagi.
“Jadi kamu mau tetap disini sampai kapan, Ken?” tanya Kaori mulai kesal.
__ADS_1