
Kaori menoleh ke pintu kamar asrama saat Riri masuk ke dalam kamar.
Kaori : "Sudah pulang, Ri."
Riri : "Oh, iya. Tumben kamu duluan."
Kaori : "Iya, ada kejadian seru tau tadi."
Kaori ingin cerita pada Riri tapi ia mengurungkan niatnya melihat Riri yang lesu.
Kaori : "Kamu kenapa, Ri?"
Riri : "Aku gak pa-pa."
Kaori : "Kalau gak kenapa, terus kenapa kamu lesu gini? Kamu gak diapa-apain kan sama Pak Elo?"
Riri : "Gak lah. Berani dia, aku tendang."
Kaori : "Terus kenapa?"
Riri : "Entahlah, aku ngrasa jadi orang ketiga."
Kaori : "Maksudnya?"
Riri memperlihatkan foto Elo dan Elena pada Kaori.
Riri : "Orang yang ngirim ini bilang aku gak sebanding sama Elena. Dan kakek kak Elo mengenalnya juga."
Kaori : "Ya, siapa tau Elena ini cuma masa lalu pak Elo kan?"
Riri : "Kalau emang gitu, harusnya bisa cerita aja kan. Ini gak mau cerita sedikitpun."
Kaori : "Gara-gara foto ini kamu galau gini?"
Riri : "Aku kan penasaran Elena ini siapa. Gak mungkin aku tanya kakeknya, kan."
Kaori : "Trus kamu bertengkar sama pak Elo?"
Riri : "Aku bilang gak mau ketemu sama dia sampai kak Elo mau cerita."
Kaori : "Astaga, Riri. Kamu kok gitu? Gak kasian sama pak Elo. Kalian kan jarang ketemu."
Riri : "Aku salah ya..."
Mata Riri berkaca-kaca siap menangis, Kaori langsung memeluknya.
Kaori : "Cep, cep, cep... Sayang... Jangan nangis dong. Besok bengkak matamu."
Riri : "Aku gak maksud gitu... Hiks..."
Kaori terus memeluk Riri sampai dia tenang lagi. Saat itu notif chat masuk ke ponsel Riri.
Elo : "Ri, maaf. Aku akan cerita. Ayo, kita ketemu akhir pekan ini."
Riri membaca chat Elo dan minta pendapat Kaori.
Kaori : "Bilang iya. Biar pak Elo tenang."
Riri : "Iya, kak."
Riri membalas chat dari Elo.
Elo : "Sabar ya. Jangan marah lagi sama aku, sayang."
Kaori : "Ecciieee.... Sayang..."
Riri merona digoda Kaori yang membaca chatnya dengan Elo.
Riri : "Iya... sayang..."
Riri belum mengirim chat itu, ia menimbang lagi dan ingin menghapus kata "sayang", tapi Kaori menyenggolnya dan chat itu terkirim ke Elo.
Riri : "Kaori... Yah, udah dibaca lagi... Gimana dong?"
Riri membeku ketika Elo menelponnya.
Kaori : "Angkat cepat!"
Kaori menekan tombol hijau dan menghindar dari sisi Riri.
Elo : "Halo...? Ri? Halo?"
__ADS_1
Riri : "Iya, kak..."
Elo : "Tadi kamu chat itu... Aku mau denger langsung."
Riri : "Chat apa sich, kak?"
Elo : "Panggil aku sayang..."
Riri : "Kakak salah liat kali."
Elo : "Apa perlu aku kirim screenshotnya?"
Riri : "Kakak screenshotnya?!"
Elo : "Iya. Daripada kamu hapus. Boleh aku denger langsung? Sekali aja."
Riri : "Harus ya?"
Elo : "Sekali aja. Ri..."
Riri : "Sa... Sayang..." Riri berbisik tapi masih bisa didengar Elo yang langsung berbunga-bunga.
Elo : "Apa...? Sekali lagi."
Riri : "Kata kakak cuma sekali."
Elo : "Aku gak denger."
Riri : "Gak mau lagi."
Elo : "Yah, jangan ngambek dong. Aku cuma bercanda, Ri."
Kaori tersenyum melihat sahabatnya itu tersenyum malu-malu sambil terus bicara di telpon dengan Elo.
Ia melihat ponselnya, tidak ada chat dari Rio. Kaori menghela nafas, pacarnya ini tidak pernah chat duluan. Ia memutuskan tidur saja.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Malam itu di kamar rawat inap Arnold, orang tua Arnold baru saja pulang, meninggalkan Rara dan Arnold berdua saja.
Rara akan pulang bersama Jodi nanti.
Arnold : "Kapan Jodi kesini?"
Arnold : "Masih ada waktu. Sayang, buka bajumu."
Rara : "Apa?!"
Arnold : "Cepetan."
Rara : "Serius?!"
Arnold : "Kunci dulu pintunya."
Rara melangkah ke pintu dan menguncinya. Ia melepas cardigan yang dipakainya dan duduk di samping Arnold.
Arnold : "Buka, cepetan..."
Rara : "Mas..."
Arnold menurunkan tank top yang dipakai Rara. Mata Rara terbelalak saat Arnold mulai menyentuh dadanya. Sungguh ia merindukan sentuhan Arnold.
Kedua insan itu saling melepaskan kerinduan satu sama lain. Meski harus berbaring, Arnold memaksimalkan tangannya untuk membantu Rara memenuhi hasratnya.
Setengah jam kemudian, Rara masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Ia meninggalkan Arnold yang masih ngos-ngosan.
Ketika Rara kembali lagi ke sisinya, Arnold tersenyum menatap Rara.
Arnold : "Gimana rasanya?"
Rara : "Masih sama seperti dulu, mas."
Arnold : "Kayaknya aku harus rajin terapi ya. Biar lebih kuat dari yang dulu."
Rara : "Sempat ya mikir gituan."
Arnold : "Kamu gak kangen sama aku?"
Rara : "Kangen banget, mas. Tiga bulan ini... Aku kangen banget sama kamu, mas."
Arnold memperhatikan wajah Rara yang lebih cubby dari yang terakhir diingatnya. Ia mulai menangis mengingat dirinya yang koma selama tiga bulan.
__ADS_1
Rara : "Mas, jangan nangis dong."
Arnold : "Selama ini kamu sendirian, Ra. Aku gak bisa jadi suami yang bertanggung jawab."
Rara : "Mas cukup bertanggung jawab kok. Semua biaya yang harus kubayar, mas yang bayar lewat kak Jodi."
Arnold : "Tapi kamu ke dokter sendiri."
Rara : "Ada kak Jodi sich. Sebenarnya berapa uang yang mas titipin di kak Jodi?"
Arnold : "Kenapa? Uda habis?"
Rara : "Aku hitung pengeluaranku sekitar 25 juta selama 3 bulan ini yang uda dikeluarkan kak Jodi."
Arnold : "Masih ada sisa banyak artinya."
Rara : "Berapa sich, mas?"
Arnold : "500..."
Rara : "500rb?"
Arnold : "Juta, sayang."
Rara : "Oh, astaga. Itu uang darimana? Aku liat rekeningmu masih segitu aja saldonya."
Arnold : "Itu uang hasil bisnisku sama Jodi. Aku juga gak nyangka hasilnya akan sebanyak itu. Tapi pembukuannya memang segitu."
Rara : "Bisnis apa, mas?"
Arnold : "Macem-macem. Ada jual beli mobil, property, saham juga. Jodi itu pinter melihat peluang, dengan sedikit motivasi, dia bisa menghasilkan ratusan juta sebulan."
Rara : "Oh, gitu ya mas."
Arnold : "Sayang, cium aku."
Rara mendekat lagi dan mencium bibir Arnold sambil menahan tubuhnya.
Mereka terlalu asyik berciuman sampai tidak sadar kalau Jodi sedang mengetuk pintu kamar rawat inap Arnold.
Rara yang mulai mendengar ketukan di pintu, menegakkan tubuhnya lagi.
Rara : "Mas, ada orang didepan pintu."
Arnold : "Cepat buka."
Rara membuka kunci pintu dan Jodi masuk ke dalam kamar.
Jodi : "Kalian habis ngapain sich? Kenapa pake dikunci segala?"
Mata Jodi menangkap tanda merah di leher Rara dan mencibir,
Jodi : "Dih, habis mesum ya. Ini rumah sakit, woi..."
Arnold : "Bodo... Daripada kamu jomblo."
Jodi : "Hehe... Belum tau dia, aku ga jomblo lagi sekarang."
Arnold : "Emang ada yang mau sama kamu?"
Jodi : "Ngeremehin aku nich? Tunggu aku kenalin Katty ya."
Arnold : "Namanya Katty? Kok kayak kucing?"
Jodi : "Emang dia kucing liar. Ganas."
Rara dan Arnold saling pandang, mereka bisa melihat dengan jelas wajah Jodi yang berbunga-bunga.
Rara : "Bucin..."
Arnold : "Bucin..."
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
π²π²π²π²π²