
Kelimpungan
Beberapa hari kemudian, persiapan
pernikahan Gadis dan Rio sudah hampir rampung. Rumah mereka sudah dihias untuk
acara siraman Rio besok pagi. Wajah Rio ditekuk sejak pagi karena ia tidak
boleh ketemu Gadis sampai acara pernikahan mereka.
“Rio, bantu mama bentar sini.”panggil Mia
dari dapur.
Rio melangkah dengan gontai menuju dapur,
Mia sedang membuat makan siang untuk mereka semua. Rumah Alex kembali ramai
dengan sanak saudara yang menginap disana. Bahkan Riri dan Elo juga sudah
datang.
“Apa, mah?”
“Duh, jangan lemes gitu dong. Semangat
dikit. Bantuin mama bawa mangkok nich ke meja makan.”
Rio melakukan apa yang diminta Mia. Riri yang
melihat kembarannya sibuk ngbabu, merekam kegiatan Rio dan mengirimkannya
kepada Gadis. Ia ketawa-ketiwi sendiri ketika Gadis membalas chatnya dan
menanyakan itu beneran Rio. Karena biasanya Rio tidak mau melakukan pekerjaan
rumah.
Rio yang curiga, sengaja duduk disamping
Riri dan merebut HP kakaknya itu. “Kamu ngapain ngirim ginian sama Gadis? Malu,
tau.”
“Biarin. Wek.”
Keduanya asyik mengobrol sambil sesekali
membalas chat dari Gadis juga. Elo membiarkan Riri mengobrol sangat lama dengan
Rio. Ia tahu kalau Riri banyak melewatkan kejadian yang terjadi selama ia
tinggal bersama Elo di luar negeri.
Terkadang keduanya menangis sedih sambil berpelukan.
Detik berikutnya tertawa bersama-sama. “Kalian ini bukannya makan dulu malam
ngobrol.”tegur Mia pada si kembar.
“Mama, sini. Dulu kita sering banget nich,
giniin mama.”
Mia ditarik duduk diantara mereka dan
dipeluk dari dua sisi, kanan dan kiri. Si kembar bersandar dengan sangat nyaman
menikmati aroma tubuh Mia yang menenangkan mereka. “Bentar lagi papa dateng
__ADS_1
nich.”ucap Rio.
Benar saja, Alex yang merasakan sesuatu
yang tidak beres sedang terjadi, memergoki Rio memeluk Mia dengan erat. Ia langsung
menarik-narik lengan Rio agar berhenti memeluk Mia.
“Pah! Kasi sebentar aja, kenapa sich?”
“Gak boleh. Mama punya papa. Kamu peluk
Gadis sana.”
Dan terjadilah tarik-tarikan yang sudah
lama tidak pernah terjadi lagi dalam hidup mereka. Semua momen bahagia itu
diabadikan Elo melalui kameranya.
*****
Tak terasa besok adalah hari pernikahan
Gadis dan Rio. Malam itu, kerinduan Rio sudah sampai pada puncaknya. Ia nekat
v-call dengan Gadis. Padahal ia ingin sekali mendatangi rumah Gadis, tapi
mamanya mewanti-wanti dirinya agar tidak terjadi apa-apa di jalan.
“Gadis!”panggil Rio saat panggilan sudah
tersambung.
“Rio, ngapain kamu v-call?”Gadis
mengarahkan kamera ke tempat lain karena mereka tidak boleh saling melihat satu
“Aku kangen sampe mau mati rasanya.”
“Besok juga ketemu, kan.”jawab Gadis
santai.
“Besok masih lama. Kamu dimana sich? Kok
mukanya gak keliatan.”
“Kita gak boleh ketemu, kan. Pamali kata
mama. Denger suaraku aja dech.”
“Gadis, besok aku dapet jatah kan? Datang
bulanmu udah selesai, kan?”
“Iya, udah. Kamu nich, gak bisa mikir yang
lain ya?”
“Gak bisa dan gak mau. Gadis, aku sayang
sama kamu.”
“Iya, aku tau.”
“Kalau kamu disini ya, udah aku...”Rio
mengatakan semua yang ingin ia lakukan pada Gadis sampai telinga Gadis memerah
__ADS_1
mendengarnya.
“Rio! Stop! Udah, aku malu dengernya.”pekik
Gadis.
“Apa sich? Aku belum selesai tau. Habis itu
ya...”Rio kembali mengoceh dengan kata-kata erotis tanpa sensor. Gadis sampai
ikutan ngos-ngosan mendengarnya.
“Rio, berhenti ngomong gitu atau kumatiin
nich.”ancam Gadis.
“Eh, jangan dong. Iya, aku berhenti
ngomong. Jangan ngambek gitu dong. Tapi beneran loh besok aku praktekin ya.”
“Iih, dasar mesum!”
Mereka terus mengobrol sampai lewat tengah
malam. Gadis mulai iseng dan ingin membuat Rio kelimpungan juga. “Rio, bentar
ya. Aku mau kasi liat sesuatu.”
Rio menunggu dengan harap-harap cemas,
tentu saja berharap yang iya-iya. Kamera berpindah dan memperlihatkan dua
lingeri beda warna dan model. Rio menelan salivanya membayangkan Gadis memakai
salah satu lingerie itu besok.
“Bagusan yang mana? Atau kamu tebak besok
aku pake yang mana ya.”
“Ka...kamu mau pake itu dibalik baju
pengantin?”Rio langsung tergagap mendengar kata-kata Gadis.
“Iya. Coba dech tebak. Kalo bener, aku kasi
kejutan.”
“Yank, aku gak bisa nebak. Kamu kok tega
sich. Aku gak kuat...”
“Sabar ya, Rio. Tinggal beberapa jam lagi.
Tidur sana. Aku mau tidur. Bye.”
Sambungan diputuskan Gadis tanpa menunggu
jawaban Rio yang bersusah payah menahan hasratnya. “Awas besok ya. Gak akan
kukasi ampun. Haduh, aku harus mandi air dingin nich.”
Rio sibuk mendinginkan tubuhnya yang
memanas karena ulah Gadis.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya
__ADS_1
author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.