
Tingkat akut
Keributan di ruang pribadi Alex, menarik
perhatian Alex yang baru kembali dari mengantar Mia dan si kembar. Ia mendekati
pintu ruangan itu, mulai menguping.
“Waduh, Rio mau ngapain Gadis lagi.”Alex
cepat-cepat menelpon Rio yang diabaikan olehnya. Merasa usahanya tidak
berhasil, Alex sengaja menggedor pintu ruang pribadinya.
“Rio! Cepat keluar!”teriak Alex.
Hening didalam sana. Alex menunggu dengan
gelisah di depan pintu. Saat pintu akhirnya terbuka, Rio dan Gadis keluar dari
sana sambil menunduk malu.
“Papa. Aduch!”Rio langsung mengaduh karena
Alex menjewer telinganya.
“Kamu mau ngapain? Gadis belum sembuh, gak
boleh nakal, Rio.”
“Iya, pah. Lepasin dong, kuping Rio bisa
putus.”
Alex meminta keduanya duduk di sofa,
sementara ia duduk di depan mereka. Alex menimbang apa yang akan ia katakan
berikutnya, “Papa tau kamu tidak sabaran, Rio. Tapi jangan maksa Gadis kayak
gitu. Ngerti.”
“Rio gak ngapa-ngapain kok, pah.”
“Sebaiknya gitu atau papa mutasi kamu ke
bagian lain.”
“Yah, kok gitu sich, pah.”
“Kali ini papa serius, Rio. Gadis, kembali
ke mejamu. Dan Rio, ini peringatan pertama dan terakhir ya.”
Rio dan Gadis keluar dari ruang kerja Alex
dengan ekspresi wajah yang berbeda. Satunya sangat senang, satunya terlihat
depresi. Romi menumpuk dokumen untuk dikembalikan oleh Rio hingga pria itu
tidak sempat merajuk padanya.
Sepulang kerja, Rio mengajak Gadis ke rumah
Thalia untuk mengantar proposal yang diminta wanita itu. Ia sengaja menyuruh
Gadis turun dan masuk ke rumah itu. Gadis kembali dengan cepat sedikit tertawa geli.
“Kenapa ketawa?”
“Habis lucu banget. Kayaknya dia nungguin
kamu dech. Dandanannya total banget, pake baju seksi lagi. Dia pikir tadi yang
ketuk pintu itu kamu. Suaranya lembut banget, pas buka pintu ngliat aku,
langsung ketus.”
“Oh, harusnya aku yang turun ya.”goda Rio
sambil melirik Gadis.
Gadis tersenyum manis tapi tangannya
mencubit pinggang Rio sampai pria itu melintir-melintir di dalam mobil. Tin!!
Tangan Rio tidak sengaja menekan klakson mobilnya. Mereka segera pergi dari
__ADS_1
sana pulang kerumah Alex.
Mia yang melihat mereka masuk ke dalam
rumah, bertanya darimana saja mereka berdua. Rio mengatakan kalau mereka harus
mampir ke rumah client dulu tadi. Rio dan Gadis bergantian mandi dan ganti
pakaian. Rio tampak berdiri di depan kamarnya yang sedang direnovasi. Kamar itu
akan mereka tempati setelah pernikahan mereka nanti.
Kamar itu sudah ditempel peredam suara di
dindingnya dan juga wallpaper yang dipilih Gadis. Mereka akan mengisinya dengan
tempat tidur baru dan juga lemari yang lebih besar untuk mereka berdua. Rio
tidak mau meletakkan apa-apa lagi didalam sana kecuali tambahan meja kecil dan
karpet dengan banyak bantal.
Gadis ikut melihat-lihat ke dalam kamar itu
setelah selesai mandi. “Rio, boleh nanya gak? Tapi kalo kamu gak mau jawab, gak
pa-pa.”
“Tanya apa?”
“Waktu terakhir aku ke apartment kamu, foto
besar Kaori sudah gak ada disana. Kamu bawa kemana?”
“Aku pasang di kamarnya di rumah orang tua
Kaori. Aku juga bilang waktu itu tentang kamu dan kejadian di malam itu.”
“Apa reaksi orang tua Kaori?”
Rio menatap Gadis dan mengambil handuk di
tangannya. Ia mengeringkan rambut Gadis yang masih sedikit basah. “Reaksi
mereka sama seperti kak Katty. Mereka berharap kita bisa bahagia dan mendoakan
keselamatan anak kita.”
Rio berlutut di depan Gadis dan memeluk pinggang wanita itu. “Kita sudah
membicarakan ini, kan. Jangan bersedih lagi. Kalau kita tidak bisa memilikinya,
kita bisa saling menjaga sampai tua, kan?”
“Aku masih berharap akan memilikinya
setidaknya satu.”
“Aku juga tidak akan menyerah membuatnya
jadi kenyataan.”seringai Rio.
“Dasar mesum. Rio, kenapa kamu pasang
peredam suara disini? Mau setel musik kenceng?”
“Itu, biar kamu bisa bebas jerit-jerit
tanpa takut kedengeran orang rumah.”
“Kenapa aku harus jerit-jerit? Rio!
Kamu...” Gadis mendesah cukup keras saat Rio tiba-tiba menyentuhnya lagi di
bagian sensitifnya. Wanita itu memukul lengan Rio agar mau melepaskankannya.
“Iih!! Dasar mesum!”
“Tuch, kan. Baru segitu aja udah ribut. Aku
kasian sama orang rumah kalau kita lagi itu terus mereka denger suara kamu lagi
mendesah.”
“Gak dijelasin juga, Rio!” Gadis keluar
dari kamar itu dengan wajah memerah. Sudah cukup ia bersama pria mesum itu hari
__ADS_1
ini. Bisa-bisanya setiap interaksi mereka selalu berakhir dengan tingkat
kemesuman Rio yang semakin akut.
Mia memanggil semua orang untuk makan malam
bersama. Mereka makan lebih awal karena Riri akan melakukan tele-conference agar
mereka semua bisa melihat pernikahan Lili dan Dion. Sekalian Riri ingin melihat
Gadis dengan lebih jelas.
Selesai makan malam, Rio membantu Alex
memasang peralatan untuk tele-conference yang mereka bawa dari kantor. Riri
sedang mencoba melakukan sambungan dan mereka bisa melihat kesibukan di tempat
pernikahan Lili dan Dion.
Riri tampak cantik ketika ia melambai pada
semua orang di rumah Alex. Ia memakai kebaya berwarna biru yang serasi dengan
kemeja Elo. Mereka mengobrol dengan latar belakang orang yang sibuk lalu
lalang. Tidak banyak tamu undangan yang diundang ke pernikahan itu. Hanya
beberapa teman Dion dan Elo. Sedangkan dari pihak Lili ada ibunya, sepupu
laki-laki dan istrinya. Sepupu Lili yang akan menikahkan Lili dengan Dion
nanti.
Pernikahan Lili dan Dion hampir dimulai
ketika ada seorang wanita cantik hadir disana tanpa diundang. Dia, Elena datang
ke pernikahan Lili dan Dion seolah dirinya yang paling ditunggu disana. Dion
mengepalkan tangannya dan hampir beranjak mendekati Elena. Rencana Elena kali
ini adalah untuk menghancurkan orang-orang di sekitar Elo dan Riri. Karena
perintahnya juga, Lili mengalami peristiwa yang memalukan.
Lili menahan lengan Dion agar tidak
meninggalkannya. Tubuhnya sudah gemetar melihat dalang peristiwa yang sudah
menghancurkan masa depannya. Dion menggenggam tangan Lili dan tersenyum.
“Dendam ini akan kubalas segera, sayang.”
Elo bersikap acuh ketika Elena ingin
mengobrol dengannya. Ia hanya menatap Riri yang masih asyik mengobrol dengan
keluarganya. Melihat Elo mengacuhkannya, Elena mendengus kesal. Sementara itu
video panas antara Elena dan Heru sudah terkirim ke ponsel Pak Brian berikut
detail kapan video itu dibuat.
Pak Brian mengontak orang kepercayaannya
untuk mencari dimana Elena saat itu. Sebenarnya ia sudah curiga ketika ia
mendengar ada video yang disebutkan Elena. Tapi karena tidak punya bukti dan Elena
sangat pandai merayu, ia masih bisa menahan dirinya. Kali ini Pak Brian benar-benar
marah sampai ingin menangkap Elena dan menghajarnya langsung. Setelah mengetahui
dimana Elena berada, Pak Brian segera meluncur kesana.
Ijab hampir dimulai. Petugas yang berwenang
sudah siap di depan Dion dan Lili. Dion menjabat tangan sepupu laki-laki Lili
yang mengucapkan sebaris kalimat. Dion menjawabnya dengan lantang dan tegas.
Kelegaan muncul diwajah sepupu Lili ketika pada saksi mengatakan sah. Mereka
berdoa bersama dan dikejutkan dengan kedatangan Pak Brian.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.