Duren Manis

Duren Manis
Tingkat akut


__ADS_3

Tingkat akut


Keributan di ruang pribadi Alex, menarik


perhatian Alex yang baru kembali dari mengantar Mia dan si kembar. Ia mendekati


pintu ruangan itu, mulai menguping.


“Waduh, Rio mau ngapain Gadis lagi.”Alex


cepat-cepat menelpon Rio yang diabaikan olehnya. Merasa usahanya tidak


berhasil, Alex sengaja menggedor pintu ruang pribadinya.


“Rio! Cepat keluar!”teriak Alex.


Hening didalam sana. Alex menunggu dengan


gelisah di depan pintu. Saat pintu akhirnya terbuka, Rio dan Gadis keluar dari


sana sambil menunduk malu.


“Papa. Aduch!”Rio langsung mengaduh karena


Alex menjewer telinganya.


“Kamu mau ngapain? Gadis belum sembuh, gak


boleh nakal, Rio.”


“Iya, pah. Lepasin dong, kuping Rio bisa


putus.”


Alex meminta keduanya duduk di sofa,


sementara ia duduk di depan mereka. Alex menimbang apa yang akan ia katakan


berikutnya, “Papa tau kamu tidak sabaran, Rio. Tapi jangan maksa Gadis kayak


gitu. Ngerti.”


“Rio gak ngapa-ngapain kok, pah.”


“Sebaiknya gitu atau papa mutasi kamu ke


bagian lain.”


“Yah, kok gitu sich, pah.”


“Kali ini papa serius, Rio. Gadis, kembali


ke mejamu. Dan Rio, ini peringatan pertama dan terakhir ya.”


Rio dan Gadis keluar dari ruang kerja Alex


dengan ekspresi wajah yang berbeda. Satunya sangat senang, satunya terlihat


depresi. Romi menumpuk dokumen untuk dikembalikan oleh Rio hingga pria itu


tidak sempat merajuk padanya.


Sepulang kerja, Rio mengajak Gadis ke rumah


Thalia untuk mengantar proposal yang diminta wanita itu. Ia sengaja menyuruh


Gadis turun dan masuk ke rumah itu. Gadis kembali dengan cepat sedikit tertawa geli.


“Kenapa ketawa?”


“Habis lucu banget. Kayaknya dia nungguin


kamu dech. Dandanannya total banget, pake baju seksi lagi. Dia pikir tadi yang


ketuk pintu itu kamu. Suaranya lembut banget, pas buka pintu ngliat aku,


langsung ketus.”


“Oh, harusnya aku yang turun ya.”goda Rio


sambil melirik Gadis.


Gadis tersenyum manis tapi tangannya


mencubit pinggang Rio sampai pria itu melintir-melintir di dalam mobil. Tin!!


Tangan Rio tidak sengaja menekan klakson mobilnya. Mereka segera pergi dari

__ADS_1


sana pulang kerumah Alex.


Mia yang melihat mereka masuk ke dalam


rumah, bertanya darimana saja mereka berdua. Rio mengatakan kalau mereka harus


mampir ke rumah client dulu tadi. Rio dan Gadis bergantian mandi dan ganti


pakaian. Rio tampak berdiri di depan kamarnya yang sedang direnovasi. Kamar itu


akan mereka tempati setelah pernikahan mereka nanti.


Kamar itu sudah ditempel peredam suara di


dindingnya dan juga wallpaper yang dipilih Gadis. Mereka akan mengisinya dengan


tempat tidur baru dan juga lemari yang lebih besar untuk mereka berdua. Rio


tidak mau meletakkan apa-apa lagi didalam sana kecuali tambahan meja kecil dan


karpet dengan banyak bantal.


Gadis ikut melihat-lihat ke dalam kamar itu


setelah selesai mandi. “Rio, boleh nanya gak? Tapi kalo kamu gak mau jawab, gak


pa-pa.”


“Tanya apa?”


“Waktu terakhir aku ke apartment kamu, foto


besar Kaori sudah gak ada disana. Kamu bawa kemana?”


“Aku pasang di kamarnya di rumah orang tua


Kaori. Aku juga bilang waktu itu tentang kamu dan kejadian di malam itu.”


“Apa reaksi orang tua Kaori?”


Rio menatap Gadis dan mengambil handuk di


tangannya. Ia mengeringkan rambut Gadis yang masih sedikit basah. “Reaksi


mereka sama seperti kak Katty. Mereka berharap kita bisa bahagia dan mendoakan


keselamatan anak kita.”


Rio berlutut di depan Gadis dan memeluk pinggang wanita itu. “Kita sudah


membicarakan ini, kan. Jangan bersedih lagi. Kalau kita tidak bisa memilikinya,


kita bisa saling menjaga sampai tua, kan?”


“Aku masih berharap akan memilikinya


setidaknya satu.”


“Aku juga tidak akan menyerah membuatnya


jadi kenyataan.”seringai Rio.


“Dasar mesum. Rio, kenapa kamu pasang


peredam suara disini? Mau setel musik kenceng?”


“Itu, biar kamu bisa bebas jerit-jerit


tanpa takut kedengeran orang rumah.”


“Kenapa aku harus jerit-jerit? Rio!


Kamu...” Gadis mendesah cukup keras saat Rio tiba-tiba menyentuhnya lagi di


bagian sensitifnya. Wanita itu memukul lengan Rio agar mau melepaskankannya.


“Iih!! Dasar mesum!”


“Tuch, kan. Baru segitu aja udah ribut. Aku


kasian sama orang rumah kalau kita lagi itu terus mereka denger suara kamu lagi


mendesah.”


“Gak dijelasin juga, Rio!” Gadis keluar


dari kamar itu dengan wajah memerah. Sudah cukup ia bersama pria mesum itu hari

__ADS_1


ini. Bisa-bisanya setiap interaksi mereka selalu berakhir dengan tingkat


kemesuman Rio yang semakin akut.


Mia memanggil semua orang untuk makan malam


bersama. Mereka makan lebih awal karena Riri akan melakukan tele-conference agar


mereka semua bisa melihat pernikahan Lili dan Dion. Sekalian Riri ingin melihat


Gadis dengan lebih jelas.


Selesai makan malam, Rio membantu Alex


memasang peralatan untuk tele-conference yang mereka bawa dari kantor. Riri


sedang mencoba melakukan sambungan dan mereka bisa melihat kesibukan di tempat


pernikahan Lili dan Dion.


Riri tampak cantik ketika ia melambai pada


semua orang di rumah Alex. Ia memakai kebaya berwarna biru yang serasi dengan


kemeja Elo. Mereka mengobrol dengan latar belakang orang yang sibuk lalu


lalang. Tidak banyak tamu undangan yang diundang ke pernikahan itu. Hanya


beberapa teman Dion dan Elo. Sedangkan dari pihak Lili ada ibunya, sepupu


laki-laki dan istrinya. Sepupu Lili yang akan menikahkan Lili dengan Dion


nanti.


Pernikahan Lili dan Dion hampir dimulai


ketika ada seorang wanita cantik hadir disana tanpa diundang. Dia, Elena datang


ke pernikahan Lili dan Dion seolah dirinya yang paling ditunggu disana. Dion


mengepalkan tangannya dan hampir beranjak mendekati Elena. Rencana Elena kali


ini adalah untuk menghancurkan orang-orang di sekitar Elo dan Riri. Karena


perintahnya juga, Lili mengalami peristiwa yang memalukan.


Lili menahan lengan Dion agar tidak


meninggalkannya. Tubuhnya sudah gemetar melihat dalang peristiwa yang sudah


menghancurkan masa depannya. Dion menggenggam tangan Lili dan tersenyum.


“Dendam ini akan kubalas segera, sayang.”


Elo bersikap acuh ketika Elena ingin


mengobrol dengannya. Ia hanya menatap Riri yang masih asyik mengobrol dengan


keluarganya. Melihat Elo mengacuhkannya, Elena mendengus kesal. Sementara itu


video panas antara Elena dan Heru sudah terkirim ke ponsel Pak Brian berikut


detail kapan video itu dibuat.


Pak Brian mengontak orang kepercayaannya


untuk mencari dimana Elena saat itu. Sebenarnya ia sudah curiga ketika ia


mendengar ada video yang disebutkan Elena. Tapi karena tidak punya bukti dan Elena


sangat pandai merayu, ia masih bisa menahan dirinya. Kali ini Pak Brian benar-benar


marah sampai ingin menangkap Elena dan menghajarnya langsung. Setelah mengetahui


dimana Elena berada, Pak Brian segera meluncur kesana.


Ijab hampir dimulai. Petugas yang berwenang


sudah siap di depan Dion dan Lili. Dion menjabat tangan sepupu laki-laki Lili


yang mengucapkan sebaris kalimat. Dion menjawabnya dengan lantang dan tegas.


Kelegaan muncul diwajah sepupu Lili ketika pada saksi mengatakan sah. Mereka


berdoa bersama dan dikejutkan dengan kedatangan Pak Brian.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2