Duren Manis

Duren Manis
Extra part 24


__ADS_3

Extra part 24


Alan melihat notif di ponselnya, ia membuka


laptopnya dengan cepat ketika membuka notif itu. Seseorang berusaha merentas


data lembaga yang menampung donor sp**ma. Alan segera bekerja memblock penyusup


itu, tapi ia kalah cepat. Penyusup itu mengirimkan semacam virus untuk


menghalau Alan sebelum menghilang dengan cepat.


“Gawat, dataku dicuri.  Tapi siapa yang melakukannya?” gerutu Alan


sambil mencoba mencari alamat IP penyusup itu, tapi ia tidak menemukan apapun.


Sementara itu di kamar Melda, wanita itu sedang


asyik menonton film komedi romantis. Ia sudah boleh keluar dari rumah sakit dan


mendapat cuti eksklusif dari kantor Alex selama seminggu penuh. Sejak pagi Rio


menelponnya untuk menanyakan dokumen dan file penyimpanan tempat pekerjaan


Melda. Pria itu beberapa kali mengatakan ingin menjenguk, tapi Melda melarangnya


dengan alasan kakinya terlihat jelek.


“Gue cuma mau jenguk lo, bukan mau ngejek. Lagian


kaki lo memang lagi luka, ya pasti kelihatan jelek. Dasarnya udah jelek sich,


kaki lobak,” kata Rio menyempatkan dirinya mengejek Melda.


“Bocah asem, jangan pancing amarah gue ya. Terserah


kalo lo mau dateng tapi jangan harap gue mau nemuin lo!” ketus Melda membuat


Rio ketawa ngakak di seberang sana.


Setelah puas tertawa, Rio bertanya sekali lagi


tentang masalah yang sedang dihadapi Melda. Tapi Melda belum bisa cerita karena


semuanya belum jelas. Untuk melakukan test DNA, mereka perlu waktu setidaknya


seminggu. Untung saja, rambut Alan tertinggal di bantal Melda. Mereka hanya


perlu menunggu hasilnya seminggu lagi.


“Pokoknya gue sembuh, ntar gue ceritain di kantor.


Kalo di rumah gue masih ribet. Stop dulu jiwa kepo lo,” kata Melda mengakhiri


pembicaraannya dengan Rio di telpon.


Melda sendiri sudah berhasil merentas masuk ke bank


data lembaga yang disebutkan X dan mendapat sedikit perlawanan dari seseorang. Beruntung


Melda sempat mengembangkan sebuah wall untuk membuatnya invisible. Melda bisa


masuk kemana saja tanpa diketahui siapapun. Tapi Melda tidak bisa mencari tahu


siapa yang sudah menghadangnya untuk masuk.


Wanita itu masih mencari nama X dan juga Bella di


dalam bank data lembaga penerima donor itu. Mesin pencarinya sedang bekerja


sendiri untuk menemukan apa yang Melda perlukan. Dan ternyata jumlah namanya


cukup banyak.


Melda masih harus menunggu sambil memikirkan kata kunci


yang tepat untuk mencari informasi yang tepat. Untuk mengisi waktunya, Melda


memilih menonton film. Saat itu Alan mengetuk pintu kamarnya.


“Boleh aku masuk?” tanya Alan dari luar.


“Masuk aja. Ada apa, Lan?” tanya Melda sambil


menekan tombol pause di laptopnya.


“Lagi ngapain?” tanya Alan sambil duduk di samping


Melda.


“Aku lagi nonton film lanjutan yang kemarin. Kamu


bosen ya? Jalan-jalan sana,” usul Melda.

__ADS_1


Alan menggeleng, ia lebih suka menghabiskan waktu


di rumah saja. Melda tidak bertanya lagi, ia menekan tombol play lalu


melanjutkan menonton film sambil ketawa sendiri. Alan bukannya menatap laptop,


malah menatap Melda terus sepanjang film diputar.


**


Melda membuka matanya, ia melirik ke samping melihat


Alan tertidur pulas di sampingnya. Wanita itu bangkit perlahan dari tempat


tidurnya lalu membawa laptopnya keluar dari kamar. Pencariannya sudah


membuahkan hasil menjadi beberapa nama saja. Melda hanya perlu mencari tahu


siapa yang ada hubungannya dengan X.


Mode pencarian wajah sudah hampir mendekati delapan


puluh lima persen. Melda sibuk berkutat membaca dokumen yang berisi data diri X


saat mengisi donor sp**ma itu. Semuanya cocok dengan profil pribadi X. Sebuah


foto terdeteksi, foto Bella saat bertugas bersama X. Wajah X terlihat lebih


muda dari yang sekarang di foro itu.


Melda beralih menatap foto Bella, Alan memiliki


mata dan hidung seperti milik Bella. Ia berpikir untuk mencari kecocokan wajah


antara Bella, Alan, dan X. Mode pengenalan wajah mencapai sembilan puluh delapan


persen dengan cepat. Melda terlalu sibuk membaca semua dokumen yang muncul di


layar laptopnya tanpa menyadari seseorang berjalan mendekatinya dengan tangan


terulur.


X memeluk tubuh Melda dari belakang. Melda


berjengit kaget saat merasakan tangan dingin X menyentuh perutnya. Diluar saat


itu sedang hujan lebat dan sepertinya X kehujanan.


“Yank! Jangan ngagetin aku kayak gitu!” jerit Melda


“Aku kedinginan, sayang. Perlu penghangat,” bisik


X.


Pria itu hampir menggendong Melda menuju kamar


mereka, tapi Melda menghentikannya. Alan masih tertidur di dalam kamar mereka. X


malah ingin membawanya ke ruang kerja di lantai bawah. Melda memaksa membawa


laptopnya, ia masih ingin melihat hasil pencarian wajah itu.


X tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia sibuk sendiri


mengecup tubuh Melda sementara wanita itu membuka laptopnya lagi.


“Kamu lagi ngapain sich, sayang? Aku udah on nich.


Ntar lagi buka laptopnya,” kata X sambil melepas penutup tubuh Melda.


“Lanjutin aja, aku masih buka dokumen ini. Bentar


lagi beres... ach!” jerit Melda saat X mulai menyatukan tubuh mereka.


Tubuh Melda ikut bergerak seiring hentakan yang


diberikan X. Sungguh sulit membagi perhatiannya antara menikmati permainan X


atau rasa penasaran akan dokumen yang sedang dibacanya. Melda melirik X yang


sibuk sekali di belakang sana. Ia tersenyum smirk lalu mulai bergerak lebih


cepat membuat X kewalahan.


“Ach! Yank! Pelan-pelan!” Malah X yang gantian


menjerit karena perlawanan dari Melda.


X sudah hampir mencapai keinginannya ketika Melda


tiba-tiba menghentikan gerakannya. Keinginan untuk menang, langsung buyar


padahal hampir mencapai finish.

__ADS_1


“Yank, kenapa berhenti!” protes X tapi ia langsung


terdiam melihat seringai mengerikan yang tercipta di bibir Melda.


“Habis ini kamu harus jelasin semuanya, sayang.


Itupun kalau kamu sanggup menghadapi seranganku kali ini,” kata Melda.


Entah apa yang dilihat Melda barusan, tapi wanita


cantik itu tidak membiarkan X beristirahat sampai pria itu terlentang di sofa


setelah berkali-kali mencapai puncak kenikmatan. Senyum mengembang di bibir X,


nafasnya masih ngos-ngosan ketika Melda menerjangnya lagi.


“Yank, istirahat bentar. Aku hampir kering nich,”


kata X minta tempo.


“Kalau nggak mau kuserang lagi, jawab jujur. Kamu


beneran nggak pernah tidur sama Bella?” tanya Melda sambil bersiap menyiksa X


lagi.


“Y—yank!! N—Nggaakk!! S—sumpah!!” jerit X ketika


merasakan sentuhan Melda lagi. “A—ampun, yank,” pinta X memelas.


Melda duduk diatas X, ia mengambil laptop dan


menunjukkan kecocokan data antara X, Alan dan Bella. Dengan kata lain, X adalah


ayah biologis Alan. Anak itu nggak bohong, dia tahu semua kebenarannya yang


entah dia tahu darimana.


X sudah tidak bisa berpikir lagi, ia hanya


mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Melda. Tapi X tetap kekeh kalau ia


tidak pernah tidur dengan wanita lain selain dengan Melda. Melda meminta X


bicara dengan Alan agar terus terang darimana dia tahu tentang asal-usulnya.


“Yank, setelah kamu tahu yang sebenarnya seperti


ini, apa yang akan kamu lakukan?” tanya X kuatir Melda tidak bisa menerima


Alan.


“Aku...,” Tok! Tok! Tok! Pintu ruang kerja diketuk


seseorang. Melda dan X saling menatap tubuh masing-masing dan mulai panik


mencari pakaian mereka. X yang cuma bisa menemukan boxernya, mendekati pintu


lebih dulu. Ia menutupi celah pintu dengan tubuhnya ketika pintu terbuka.


“Ada apa?” tanya X entah pada siapa. Melda masih


sibuk mengumpulkan pakaian mereka dan memakainya.


X menoleh ke dalam, memastikan Melda sudah selesai


membereskan kekacauan di dalam ruang kerja itu. Pintu ruang kerja terbuka


lebar, Alvin masuk kesana membawa tas kerja. Pria itu nyengir lebar sambil


mengacungkan jempolnya pada Melda ketika X berpaling untuk memakai pakaiannya.


Melda melotot kaget melihat banyaknya tanda merah


di tubuh X. Ia menepuk keningnya, malu sendiri dengan hasil perbuatannya. X dan


Alvin sibuk membahas sesuatu tentang pengamanan perusahaan. Melda yang ingin


mandi, beranjak keluar dari sana.


Ketika masuk ke kamar, Melda melihat Alan masih tidur


pulas diatas tempat tidurnya. Remaja pria itu tampak gelisah, keringat


membasahi keningnya. Melda mendekati tempat tidur, duduk di samping Alan.


Disentuhnya kening Alan, remaja itu demam tinggi. Melda cepat-cepat memanggil


mba Ulan untuk membawakan kompres dan memanggil dokter.


**


Next, pengakuan Alan.

__ADS_1


Yang mau cerita tokoh selanjutnya, boleh komen ya.


__ADS_2