
Extra part 58 Alan & Ginara
“Mungkin kita tidak perlu mengundang mereka,” kata
Ginara masih mengelus rambut Alan.
“Atau kita bisa pikirkan cara lain. Undangan
virtual, mereka bisa menonton dari ponsel mereka. Para undangan tidak perlu
hadir, kita bisa siapkan layar besar. Kamu nggak perlu takut dengan kehadiran
orang lain,” kata Alan kembali bersemangat.
Ginara mengangguk setuju, gadis itu terbawa suasana
berpelukan yang nyaman dengan Alan. Keduanya memejamkan mata, meresapi aroma
tubuh masing-masing. Saat Alan merenggangkan pelukannya, keduanya saling
menatap dalam. Ginara memejamkan matanya, mengundang Alan untuk mendekat lagi,
hampir mengecup bibir gadis itu.
Glegarr!! Suara petir mengagetkan keduanya, Alan
melihat sekeliling lewat kaca mobil. Hujan deras tiba-tiba mengguyur tempat
mereka berhenti. Ginara tersenyum malu saat Alan tersenyum padanya.
“Maaf, Ra. Aku nggak maksud kurang ajar.” Alan memegang
kemudi, siap berangkat lagi.
Keduanya terus tersenyum selama perjalanan pulang
sampai ke rumah Ginara.
**
Pernikahan Alan dan Ginara akhirnya digelar dengan
undangan virtual. Ijab di rumah Ginara hanya dihadiri keluarga inti dan saudara
kandung Ginara saja. Bahkan saksi yang hadir sengaja dipilih Katty dan Rara.
Jodi dan Arnold juga hadir tapi menunggu di luar rumah bersama keluarga Ginara.
Setelah Alan mengucapkan sepenggal kalimat dengan
lantang, para saksi berteriak sah bersamaan. Ginara mencium tangan Alan yang
juga mengecup kening gadis yang sudah menjadi istri sah-nya itu. Seluruh keluarga
dan undangan mendoakan kebahagiaan keduanya.
Karena undangan tidak hadir secara langsung, pesta
pernikahan mereka juga berlangsung cukup singkat. Kedua pengantin duduk bersama
keluarga sambil mengobrol ringan. Ginara sudah bisa menerima kehadiran Jodi dan
Arnold, ia berusaha mengatasi kecemasannya untuk kebahagiaan mereka hari itu.
Godaan dan gurauan mulai terdengar saat Alan
mengajak Ginara untuk ganti pakaian di kamar gadis itu.
“Cuma ganti baju aja. Nggak ngapa-ngapain kok,”
kata Alan berusaha menahan wajahnya agar tidak merona.
Ginara berjalan lebih dulu menaiki tangga,
sementara Alan naik sambil membawa tas ranselnya. Ketika keduanya sudah berada
di dalam kamar, Ginara kebingungan mencari ujung retsleting kebaya yang
dipakainya.
“Ginara, kamu perlu bantuan? Mau aku panggilin
mama?” tanya Alan saat melihat Ginara bolak-balik di depan cermin.
“Aku cuma lupa retsletingnya dimana. Ntar juga
ketemu, kamu mau ganti baju dimana?” tanya Ginara sambil melepas hiasan di
rambutnya.
“Disini aja.” Alan membelakangi Ginara, ia melepas
jas-nya. Lalu melepas satu persatu kancing kemejanya. Alan ingin memakai kaos
oblong dan celana pendek agar lebih nyaman di rumah. Mereka baru akan pulang ke
rumah Alan, keesokan harinya.
Saat Alan akan mengambil kaos dari dalam tas
ranselnya, Ginara mendekati pria itu lalu mengambil kemeja dan jasnya. Ginara
menggantung kemeja dan jas Alan agar tidak lecek. Rona merah muncul di kedua
pipi Ginara saat melirik tubuh Alan yang jelas terlihat di sampingnya.
Alan melihat saat Ginara melirik tubuhnya, ia ingin
menggoda Ginara dengan menarik tangan istrinya itu. Diluar dugaan, Ginara malah
menunduk malu-malu sambil tersenyum manis.
“Berat kalo gini,” kata Alan sambil menggarukkan kepalanya.
“Apanya yang berat? Aku nggak gemukan kok. Malah
__ADS_1
turun dua kilo,” ucap Ginara polos dengan pandangan mata bingung.
“Bukan berat badan, Ginara. Tapi berat menahan
diri. Kamu tahu kan kalau sudah suami istri itu, boleh tidur bareng,” kata Alan.
Ginara mengangguk, “Iya. Kayak papa sama mama kan?
Tidur di kamar yang sama. Kita juga nanti tidur disini sama-sama,” kata Ginara
masih belum paham maksud Alan.
“Trus menurutmu gimana caranya bisa lahir kamu sama
kakak dan adikmu?” tanya Alan masih sabar. Ia sangat terhibur melihat ekspresi
bingung Ginara.
Ginara tampak berpikir sejenak, ia ingat kata-kata
mamanya yang pernah berpesan kalau pria dan wanita yang belum menikah tidak
boleh berduaan di dalam kamar karena wanitanya bisa hamil.
“Kan kalo berduaan di dalam kamar, nanti bisa
hamil. Itu kata mama,” ucap Ginara membuat Alan menepuk jidatnya.
“Trus gimana caranya bisa hamil?” tanya Alan lagi.
Ia mulai geregetan dengan kepolosan Ginara.
Istrinya itu kembali berpikir, mungkin mengingat
pesan dari orang tuanya. Alan yang sudah gemas, harus menahan dirinya agar Ginara
tidak ketakutan. Tapi Alan juga tidak bisa lama-lama menahan dirinya.
Setidaknya ia ingin mencoba menyerempet kearah sana meskipun resikonya akan
gagal total.
“Mikirnya sambil aku bantuin lepas kebayamu ya,”
pinta Alan pura-pura polos.
“Eh, iya. Haduh, kasian make-upnya masih bagus gini
udah dihapus,” kata Ginara sambil duduk di depan meja riasnya.
“Kamu nggak perlu makeup tebal udah cantik,
istriku,” gombal Alan.
“Makasih, suamiku. Hihihi... kayak sinetron aja
manggilnya. Aneh kedengerannya, Lan,” kata Ginara yang tidak menyadari kalau
Alan sedang melucuti pakaiannya.
“Panggil mas aja kalo gitu,” pinta Alan.
mulai terlepas. Alan menelan salivanya melihat tubuh Ginara yang hanya tertutup
pakaian dalam. Gadis itu tercekat saat tangan Alan menyusuri punggungnya.
“M—mas... geli,” lirih Ginara memancing Alan
bertindak lebih lanjut.
“Sayang, tahan sebentar,” bisik Alan.
**
Sementara itu di ruang bawah, undangan yang hadir
termasuk keluarga Ginara dan Alan masih menikmati hidangan yang tersedia sambil
mengobrol ringan. Anisa yang beberapa kali melirik ke arah tangga, menoleh
ketika Melda menyikut lengannya.
“Udah, jangan ditungguin. Ntar juga turun sendiri.
Kasih kesempatan mereka saling mengenal lebih jauh. Bonusnya kita bisa cepat
dapet cucu,” kata Melda sambil menaikturunkan alisnya.
“Haduh, nanti kalo Alan maksa gimana? Ginara kan
masih trauma gitu,” sahut Anisa sedikit kuatir.
“Iya, juga ya. Apa kita nguping aja? Hayuk,” ajak
Melda semangat.
Tapi Anisa juga tidak mau sampai menguping ke kamar
Ginara. Bagaimana kalau mereka sudah mulai melakukan itu, bisa-bisa Anisa malu
setengah mati kalau sampai ketahuan.
Sampai para undangan berpamitan termasuk Melda dan
X, kedua mempelai belum juga turun dari lantai atas. Anisa masih penasaran apa
yang terjadi diatas sana. Ia bahkan melarang anak-anaknya yang lain untuk naik
ke lantai atas agar Alan dan Ginara tidak terganggu. Guntur yang pusing melihat
Anisa tidak bisa diam, memanggil istrinya itu.
“Nisa, duduk dulu. Kamu nggak capek bolak-balik
kayak setrikaan gitu?” tanya Guntur.
__ADS_1
“Aku kan kuatir sama Ginara, pah. Kalau traumanya
kumat, gimana?” tanya Anisa balik.
“Dari tadi kan adem ayem aja diatas. Mungkin mereka
lagi bicara dari hati ke hati atau mungkin lagi sibuk itu. Ya, itu. Kayak kita
dulu,” kata Guntur dengan tenangnya.
Anisa akhirnya duduk di samping Guntur, ia masih
mengeluh pada suaminya itu. Guntur menghibur Anisa dengan menggombali istrinya
itu. Mereka berpelukan di ruang keluarga yang sudah sepi, hanya ada tawa mereka
berdua.
Mereka tidak menyadari kehadiran Alan dan Ginara
yang sudah turun dari lantai atas. Ginara tersenyum malu melihat kedua orang
tuanya sangat dekat dan intim. Ia baru pertama merasakan hal yang sama beberapa
saat yang lalu bersama Alan.
“Ehem...,” Alan sengaja berdehem ketika melihat
Guntur hampir mencium Anisa. “Ra, kita naik lagi ya. Makannya nanti aja,” ajak
Alan.
“Tapi aku lapar, mas,” rengek Ginara manja.
“Kalian udah selesai, eh, maksudnya udah turun. Makanannya
di dapur, sebentar mama ambilin ya,” kata Anisa sambil beranjak dari pangkuan
Guntur.
Alan menuntun Ginara berjalan mendekati Guntur.
Pria paruh baya itu tersenyum melihat cara jalan Ginara yang sedikit aneh. Sepertinya
malam pertama mereka baru saja terjadi.
“Anak muda selalu tidak sabaran ya,” kata Guntur
melirik Alan.
“Emangnya mau kemana, pah?” tanya Ginara lola.
“Mau makan. Katanya laper,” sahut Guntur.
Ginara dan Alan memilih makan dulu karena mereka
tidak sempat makan siang tadi. Keduanya tampak mesra sesekali saling menyuapi
satu sama lain. Sampai suara ponsel Alan menarik perhatian mereka berdua.
“Bosku telpon. Sebentar ya,” kata Alan cepat-cepat
naik ke lantai atas untuk mengambil laptopnya.
Anisa dan Guntur langsung bertanya pada Ginara
tentang apa yang terjadi di dalam kamar mereka setelah Alan tidak terlihat
lagi. Ginara tersipu malu dan mengatakan kalau mungkin ia sudah hamil sekarang.
Anisa dan Guntur saling pandang sebelum tertawa bersama. Mereka lupa kalau
putri mereka sangat polos.
Alan yang kembali dari lantai atas, tampak sedikit
pucat. Ia menatap tiga orang yang kompak menatapnya setelah dirinya mendekat
lagi.
“Mas, kenapa?” tanya Ginara.
“Alan, apa yang terjadi?” tanya Guntur.
“Ginara, sepertinya kita tidak bisa pindah ke
rumahku. Ini darurat,” kata Alan ragu.
“Tapi kenapa? Kita sudah beli perabotan baru,”
keluh Ginara kecewa.
Alan tersenyum melihat wajah kuatir Ginara, ia
mengusap pipi Ginara. Endy menelpon Alan dan meminta pria itu untuk segera
berangkat menyusul Ken. Endy ingin agar Ken segera menyelesaikan pelajarannya
dengan Alan dan metode belajar secara langsung akan memudahkan Ken belajar
lebih cepat.
Ketika Alan mengatakan tentang pernikahannya dengan
Ginara, Endy tidak keberatan kalau Alan membawa Ginara ikut bersamanya. Semakin
cepat Ken menyelesaikan pelajarannya, semakin cepat Alan bisa pulang kembali.
“Ginara, bosku minta aku pergi secepatnya. Kamu mau
ikut aku, kan? Disana kita akan menemani Ken,” kata Alan.
Ginara menatap kedua orang tuanya yang mengangguk
setuju. Ginara harus ikut dengan suaminya kemanapun Alan pergi. Wanita itu
__ADS_1
mengangguk setuju untuk ikut dengan Alan dan Alan segera memberitahu pada Endy
kalau mereka akan berangkat dalam beberapa hari lagi.