
Extra part 25
Alan membuka matanya, ia melihat Melda berbaring di sampingnya. Wajah wanita itu tampak lelah tapi tidak bisa menyembunyikan kecantikannya.
“Mah...,” panggil Alan setengah sadar.
“Hmm....” Melda menggeliat bangun. Ia langsung menyentuh kening Alan yang sudah membaik. “Lan, kamu mau minum? Gimana rasanya?” tanya Melda sambil mengambilkan Alan segelas air.
Melda membantu Alan bangun dari berbaringnya. Meskipun kakinya masih sakit, Melda tetap membantu Alan sebisanya. Remaja itu menghabiskan segelas air minum lalu mengusap keringat yang membasahi lehernya.
Melda juga mengusap keringat di keningnya. Untuk menormalkan suhu tubuh Alan, Melda mengatur AC sesuai dengan suhu kamar.
“Aku udah mendingan. Kenapa kamarnya panas sekali? AC-nya rusak?” Alan mencari remote AC, ia ingin mendinginkan kamarnya agar bisa tidur nyenyak.
“Jangan terlalu dingin. Nanti kamu masuk angin lagi. Lap dulu ya badanmu. Ganti baju.” Alan tentu saja malas melakukan apa yang dikatakan Melda. Tapi melihat Melda bangun dari duduknya dan berjalan mengambil baskom dan handuk kecil, Alan memilih membantunya wanita itu.
Melda sangat terampil merawat orang sakit, ia mengelap tubuh kurus Alan dengan handuk kecil yang sudah dicelupkan di air hangat. Sesekali Alan menaikkan tangannya untuk memudahkan Melda mengelap bagian bawah lengannya.
“Lan, dari tadi kamu manggil mama terus, kangen sama mamamu ya?” tanya Melda sambil mengusap wajah Alan sampai remaja itu memalingkan wajahnya.
“Sakit, mah!” pekik Alan keceplosan.
Melda terbengong sebentar lalu tersenyum tulus pada Alan. Dirapikannya rambut Alan yang sedikit berantakan. Meskipun Melda tidak mengatakan apa-apa, Alan tersenyum tipis melihat reaksi Melda.
“Sudah. Kamu mau mama temenin disini atau...,” kata Melda menggantung ucapannya sambil menunjuk pintu kamar Alan. Remaja itu tidak menjawab tapi menarik piyama yang dipakai Melda. “Ya, udah. Mama ke kamar
bentar ya, mau ganti baju. Nanti mama kesini lagi. Kamu lapar? Mau sup ayam?” tanya Melda dan Alan mengangguk.
Melda keluar dari kamar Alan lalu masuk ke kamarnya. X yang belum tidur, menoleh dan tersenyum senang melihat Melda sudah kembali. Tapi ia bingung karena Melda langsung membuka pakaiannya dan membuka
lemari baju.
“Yank, jangan sekarang ya. Aku perlu refill dulu. Besok aku siap, kok,” kata X yang salah mengira Melda ingin bercinta lagi dengannya.
“Aku cuma mau ganti baju, yank. Putraku mau mamanya menemani dia malam ini,” kata Melda dengan senyum mengembang.
__ADS_1
“Mana bisa gitu! Kamu istriku, dia kan sudah besar. Bisa tidur sendiri. Biar aku yang bicara cama dia.” X hampir keluar dari kamar tapi Melda menghentikannya.
“Alan baru kehilangan orang tuanya. Dia terus memanggil mama, mama. Kalau kamu mau bicara, tolong jangan pakai emosi. Jiwa remaja seperti dia sangat labil. Persis seseorang yang sudah dewasa tapi masih
saja bertingkah seperti ABG,” sindir Melda pada X. “Lagipula sepertinya ia sudah menerimaku jadi mamanya. Yah, aku mungkin tidak akan bisa punya anakku sendiri. Tapi aku suka ada yang memanggilku mama.”
Melda menatap X yang mengelus pipinya lembut, “Maafkan aku, ya. Seharusnya aku bisa menjagamu dan anak kita.”
Melda menangis lagi teringat bayi mereka yang telah pergi. Ia juga sedih karena sudah meragukan cinta suaminya yang bahkan tidak pernah mempermasalahkan ketidakhadiran seorang anak diantara mereka. X memeluk Melda dengan erat, menenangkan istrinya dengan kata-kata manis.
Keasyikan mereka berpelukan, harus terhenti ketika Alan masuk ke dalam kamar mereka. “Aku harus mengatakan sesuatu,” kata Alan.
Melda dan X saling pandang sebelum meminta Alan duduk. Melda ingin mengambilkan sup ayam dulu untuk Alan makan, tapi X mengatakan akan mengambilkan makanan untuk mereka.
X membawakan sup ayam yang sudah dihangatkan dan beberapa roti panggang beraroma bawang putih yang sangat enak. Mereka membiarkan Alan menghabiskan sup ayam itu dulu sebelum mendengarkan apa yang ingin disampaikan remaja itu.
“Aku minta maaf karena sudah tidak sopan sama... mama Melda dan papa X. Aku nggak tahu apa boleh memanggil seperti itu. Waktu itu, aku nggak sengaja dengar waktu papa sama mama bertengkar. Mereka
keceplosan bilang kalau aku bukan anak kandung papa. Aku lahir dari donor sp**ma. Mama juga nggak tahu kalau itu punya papa X, sampai mama melihat apa yang kutemukan di bank data. Mama shock waktu itu dan mereka berdua bertengkar sampai kecelakaan. Aku yang membunuh mereka berdua....” Alan terlihat sedih dan depresi.
“Kalau kebenaran itu tidak terungkap, papa sama mama pasti masih ada. Mama ingin memberitahu papa X waktu itu tapi papa melarangnya agar aku tidak terluka semakin dalam. Tidak tahunya, hari itu adalah hari terakhir aku bertemu orang tuaku,” lirih Alan.
Melda mengusap-usap kepala Alan dengan sayang. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Alan yang terluka karena sebuah kebenaran. X memeluk Alan juga untuk menenangkan remaja itu.
“Kalau kamu tidak keberatan, anggap saja kami sebagai pengganti orang tuamu, Alan. Yah, meskipun kita sama-sama tahu, om ini ayah kandung kamu. Ya?” tanya X.
Alan malah menatap Melda, wanita cantik itu juga menatap Alan. X menatap keduanya dengan keringat mengalir di keningnya. Ia belum mendapat jawaban dari Melda tentang keberadaan Alan.
“Kenapa kalian ngeliatin aku begitu?” tanya Melda bingung.
Melda merasa kalau yang harus menjawab hanya Alan, tapi kedua laki-laki di sampingnya itu malah menatap dirinya.
“Yank, kamu belum jawab pertanyaanku tadi,” kata X masih menunggu jawaban Melda.
“Aku nggak mau terima Alan,” jawab Melda.
__ADS_1
Alan dan X saling pandang sebelum Alan menunduk, “Aku minta maaf karena bikin kaki... tante luka. Harusnya aku nggak memprovokasi tante kayak gitu. Kalau tante nggak bisa terima aku..., aku ngerti kok, tante.” Alan hampir beranjak saat mendengar kata-kata Melda berikutnya.
“Mama belum selesai bicara. Mama nggak mau terima kalau Alan nggak manggil mama cantik. Alan juga nggak boleh bohong sama mama. Ngerti, nak?” tanya Melda sambil tersenyum merentangkan tangannya.
Alan langsung memeluk Melda dengan erat. X juga ikut terharu melihat Melda dan Alan bisa saling menerima sebagai ibu dan anak. X mengatakan kalau sebagai pewaris asset Bella dan suaminya, Alan memiliki sebuah
rumah di negara B dan juga simpanan uang di bank. X sudah mengurus semuanya menjadi atas nama Alan.
“Kalau kamu mau kuliah, papa sama mama sudah siap membiayai semua kebutuhanmu. Atau kamu mau langsung kerja?” tanya Melda.
Alan terdiam, ia masih menikmati pelukan hangat Melda. Masih ada satu rahasia yang harus ia sampaikan tapi Alan masih berpikir untuk mengatakannya. Bahkan orang taunya sendiri tidak tahu apa pekerjaannya.
Mereka hanya mengira Alan suka bermain game di dalam kamarnya sepanjang hari selain pergi ke sekolah.
Tapi mereka tidak tahu kalau Alan bekerja pada sebuah perusahaan besar yang dimiliki keluarga Endy. Alan termasuk salah satu hacker muda berbakat yang berperan penting dalam menjaga keamanan data
perusahaan Endy.
Kalau dulu Melda bertugas sebagai bodyguard yang menjaga anggota keluarga Endy, sekarang Alan bertugas menjaga data perusahaan Endy. Sebenarnya Melda juga punya keahlian hacker seperti Alan dan keahliannya
sudah berkembang membangun pelindung untuk menyusup. Keduanya bahkan tidak tahu kalau mereka sempat berpapasan di dunia hacker.
“Aku nggak mau kuliah, mah. Mending kerja aja dan aku udah kerja jadi IT di salah satu perusahaan di negara B. Bos-nya minta aku tetap kerja secara online waktu aku bilang mau pindah kesini. Tapi mereka punya
cabang disini, jadi sewaktu-waktu, aku harus datang kesana,” kata Alan akhirnya.
“Ya, sudah kalau gitu. Sekarang, kita istirahat dulu ya. Udah malem banget ini. Alan, balik ke kamar sana,” kata X ingin berduaan dengan Melda lagi. Tapi Alan malah berbaring di sisi tengah tempat tidur X dan Melda.
“Mah, aku tidur sini ya,” pinta Alan sambil menatap Melda dengan pandangan imut.
Saat Melda ikut berbaring di samping Alan, remaja itu memeletkan lidahnya pada X yang ingin mengusir Alan dari kamar mereka. X hanya bisa mengeluh, akhirnya Alan menunjukkan sifatnya yang sebenarnya. Tapi X bersyukur karena akhirnya keluarganya bisa utuh.
**
Next, hubungan Alan dan Ken.
__ADS_1