
Jodi : “Bukan Jodi, pah. Itu Katty yang beli. Mana
mau Katty pake uang Jodi. Belum nikah katanya gak boleh. Padahal bentar lagi
juga resmi.”
Papa Katty menatap sosok Katty yang sedang memberi
tahu orang yang sedang mendekorasi ruang tamu rumahnya. Perut Katty mulai
terlihat buncit dan beberapa bagian tubuhnya mulai mekar karena kehamilannya.
Katty : “Haduh, capek.”
Katty duduk di samping papanya, bersandar sedikit
di pundak papanya. Sifat manjanya kembali lagi setelah permintaan maaf
keduanya.
Papa Katty : “Kamu beli perabotan baru?”
Katty : “Iya, pah. Biar lebih nyaman. Katty pake tabungan
Katty sendiri kok. Hoaahhmm...”
Jodi : “Ngantuk, sayang. Ayo, tidur sana.”
Katty : “Gendong...”
Jodi semangat sekali kalau Katty kumat manja
padanya. Ia menggendong tubuh Katty dan membawanya masuk ke kamar Katty. Untuk
tiga hari ke depan, mereka akan tinggal di rumah Katty. Tetap saja Jodi tidak
mau pisah meski sehari saja.
Papa Katty : “Aku benar-benar senang Katty
mendapatkan jodoh yang baik. Tinggal Kaori ya.”
Mama Katty : “Kaori juga sepertinya sudah
mendapatkannya.”
Mereka melihat keluar lewat pintu yang terbuka.
Kaori sedang berjalan masuk ke halaman sambil dirangkul Rio yang membawa dua
tas ransel besar.
Papa Katty : “Coba lihat, mah. Kaori pucet gitu.”
Mama Katty bangkit dari duduknya dan menghampiri
mereka. Sepertinya Kaori sedang demam. Mereka masuk ke dalam rumah.
Papa Katty : “Kamu kenapa, Kaori?”
Rio : “Kaori demam, om. Kamu istirahat di kamar
dulu ya.”
Kaori hampir jatuh yang langsung di tangkap Rio
dengan cepat. Rio membopong Kaori masuk ke kamarnya. Mama Katty menyusul
membawakan kompres untuknya.
Rio : “Biar Rio aja, tante.”
Mama Katty melihat Rio merawat Kaori dengan sangat
baik. Tak lama Kaori tertidur pulas. Rio dan Mama Katty keluar dari kamar
Kaori. Mereka bergabung dengan papa Katty yang terus menatap Rio.
Papa Katty : “Nak, siapa namamu?”
Rio : “Saya Rio, om.”
Papa Katty : “Sudah lama kenal Kaori?”
Rio : “Sejak awal kuliah, om. Kaori teman sekamar
kembaran saya.”
Papa Katty : “Apa kalian pacaran?”
Rio : “Iya, om.”
Papa Katty terdiam. Untuk ukuran anak muda seperti
__ADS_1
Rio, mereka akan menjawab hanya teman kalau ditanya hubungannya dengan anak
gadisnya. Tapi Rio mengakui dengan tegas, bahkan tanpa keraguan terpancar di
matanya.
Papa Katty tersenyum, kedua bidadarinya sudah
menemukan pangeran mereka masing-masing. Ia meminta Rio minum teh yang sudah
disediakan diatas meja. Mereka bercakap-cakap ringan sambil menunggu waktu
berlalu.
Saat tiba waktu makan malam, Kaori belum juga
terbangun. Rio masuk ke kamarnya untuk mengecek dan melihat Kaori sedang duduk
di atas tempat tidurnya. Ia mimisan lagi. Kaori terkejut melihat Rio
memergokinya sedang mengelap darah dari hidungnya.
Rio : “Sayang, aku beneran takut sekarang. Kita ke
rumah sakit ya?”
Kaori : “Jangan sekarang, Rio. Tolong aku. Ambilkan
makanan ya. Bilang aja aku baru sembuh dan masih pusing.”
Rio melakukan apa yang diminta Kaori. Ia membawakan
makanan masuk ke dalam kamar diikuti mama Katty.
Mama Katty : “Kaori, kamu gak pa-pa?”
Kaori : “Nggak, mah. Kaori kecapean karena banyak
tugas.”
Mama Katty : “Ya, sudah. Istirahat saja ya.”
Kaori : “Mah, boleh gak Rio nginep sini? Kita punya
kasur tambahan kan? Kaori mau Rio tetap disini sama Kaori.”
Mama Katty : “Mama tanya papa dulu ya. Kayaknya
sich diijinkan.”
menelan setiap makanan yang disuapkan Rio sambil sesekali tersenyum manis. Rio
melihat wajah Kaori semakin pucat.
Rio : “Sayang, kamu cinta sama aku kan?”
Kaori : “Ya. Aku mencintaimu, Mario. Sangat
mencintaimu.”
Rio : “Jujur sama aku. Dimana sakitnya?”
Kaori : “Sekarang udah gak sakit lagi. Karena kamu
selalu sama aku.”
Rio : “Tapi kamu pucat sekali, sayang.”
Kaori : “Aku lagi demam, ya jelas pucet. Sini.”
Kaori memeluk erat tubuh Rio. Ia menangis menahan
sakit di kepalanya dan mengatakan kalau ia sangat senang memiliki Rio sebagai
kekasihnya. Kaori mengendurkan pelukannya, ia memegang kedua pipi Rio, perlahan
mendekat. Kaori mencium bibir Rio duluan. Papa dan mama Katty melihat kejadian
itu dari depan pintu.
Papa Katty : “Ijinkan saja dia menginap. Sepertinya
dia pemuda yang baik.”
Mama Katty : “Iya, pa. Oh, mereka ciuman.”
Malam itu Kaori tertidur dengan Rio di samping
tempat tidurnya. Tangan mereka bertautan satu sama lain tidak terpisahkan.
*****
Pagi berikutnya, pasangan pengantin baru kita Elo
__ADS_1
dan Riri baru selesai melakukan pekerjaan mereka yang mengasikkan. Elo menarik
selimut menutupi tubuh mereka berdua.
Riri : “Mas, kalau terus gini, aku keburu hamil
loh.”
Elo : “Aku selalu pakai pengaman, sayang. Aku gak
mau kamu hamil sekarang. Umurmu masih terlalu muda.”
Riri : “Iya, tau. Tapi kan gak perlu tiap hari juga.”
Elo : “Kita berangkat 5 hari lagi. Kamu uda gak
kuliah. Aku juga gak kerja. Anggap saja ini saat honeymoon kita.”
Riri : “Honeymoon tuch perasaan bisa jalan-jalan
dech. Ini dikurung dikamar terus seharian.”
Elo : “Habis mau gimana lagi, istriku sangat imut
dan manis. Aku jadi ingin memakannya setiap hari.”
Riri memukul lengan Elo dengan kesal. Elo
menggesekkan pipinya ke pipi Riri yang merasa sedikit tertusuk.
Riri : “Aouch... Mas, jenggot mas tumbuh tuch.
Tajem banget.”
Elo : “Aku kan belum cukur pagi ini. Cukurin dong.”
Riri : “Manja banget sich.”
Mau gak mau Riri bangkit juga dari atas tempat
tidur. Ia memakai bathrobe-nya sambil berjalan ke kamar mandi. Diambilnya pisau
cukur Elo diatas wastafel dan juga krim cukurnya. Setelah membawa handuk kecil
juga, Riri kembali duduk diatas ranjang.
Elo duduk sambil bersandar di tempat tidur.
Pelan-pelan Riri mengoleskan krim cukur merata ke dagu sampai pipi Elo. Iseng ia
menyentuh hidung Elo dengan sisa krim cukur di tangannya. Riri tertawa melihat
Elo mirip sinterklas.
Riri mulai mencukur rambut tipis di pipi sampai ke
dagu Elo. Ia melakukannya dengan teliti dan hati-hati. Karena saat pertama
melakukannya, pipi Elo tergores kena pisau cukur. Elo yang sudah kapok kena
gores pisau cukur, hanya diam menatap Riri.
Setelah membersihkan wajah Elo kembali dengan
handuk dan melihat hasil cukurannya sudah bersih, Riri mengelap pisau cukur di
tangannya. Ia tidak hati-hati dan tidak sengaja menggores jempolnya.
Riri : “Aduch! Yah, luka dech.”
Deg! Deg! Deg! Hati Riri terasa sakit. Ia memegangi
dadanya yang nyeri hebat dan air matanya langsung mengalir deras. Elo panik
melihat keadaan Riri yang sepertinya kesulitan juga untuk bernafas.
Elo : “Kamu kenapa, sayang?! Riri?!”
Riri terjatuh dipinggir tempat tidur. Elo dengan
sigap menahan tubuhnya dan membaringkannya diatas tempat tidur.
Riri : “Rio...”
Hanya itu yang dikatakan Riri sebelum ia pingsan di
pelukan Elo.
*****
Apa yang terjadi dengan Riri ya?
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).