Duren Manis

Duren Manis
Ijin Menginap


__ADS_3

Jodi : “Bukan Jodi, pah. Itu Katty yang beli. Mana


mau Katty pake uang Jodi. Belum nikah katanya gak boleh. Padahal bentar lagi


juga resmi.”


Papa Katty menatap sosok Katty yang sedang memberi


tahu orang yang sedang mendekorasi ruang tamu rumahnya. Perut Katty mulai


terlihat buncit dan beberapa bagian tubuhnya mulai mekar karena kehamilannya.


Katty : “Haduh, capek.”


Katty duduk di samping papanya, bersandar sedikit


di pundak papanya. Sifat manjanya kembali lagi setelah permintaan maaf


keduanya.


Papa Katty : “Kamu beli perabotan baru?”


Katty : “Iya, pah. Biar lebih nyaman. Katty pake tabungan


Katty sendiri kok. Hoaahhmm...”


Jodi : “Ngantuk, sayang. Ayo, tidur sana.”


Katty : “Gendong...”


Jodi semangat sekali kalau Katty kumat manja


padanya. Ia menggendong tubuh Katty dan membawanya masuk ke kamar Katty. Untuk


tiga hari ke depan, mereka akan tinggal di rumah Katty. Tetap saja Jodi tidak


mau pisah meski sehari saja.


Papa Katty : “Aku benar-benar senang Katty


mendapatkan jodoh yang baik. Tinggal Kaori ya.”


Mama Katty : “Kaori juga sepertinya sudah


mendapatkannya.”


Mereka melihat keluar lewat pintu yang terbuka.


Kaori sedang berjalan masuk ke halaman sambil dirangkul Rio yang membawa dua


tas ransel besar.


Papa Katty : “Coba lihat, mah. Kaori pucet gitu.”


Mama Katty bangkit dari duduknya dan menghampiri


mereka. Sepertinya Kaori sedang demam. Mereka masuk ke dalam rumah.


Papa Katty : “Kamu kenapa, Kaori?”


Rio : “Kaori demam, om. Kamu istirahat di kamar


dulu ya.”


Kaori hampir jatuh yang langsung di tangkap Rio


dengan cepat. Rio membopong Kaori masuk ke kamarnya. Mama Katty menyusul


membawakan kompres untuknya.


Rio : “Biar Rio aja, tante.”


Mama Katty melihat Rio merawat Kaori dengan sangat


baik. Tak lama Kaori tertidur pulas. Rio dan Mama Katty keluar dari kamar


Kaori. Mereka bergabung dengan papa Katty yang terus menatap Rio.


Papa Katty : “Nak, siapa namamu?”


Rio : “Saya Rio, om.”


Papa Katty : “Sudah lama kenal Kaori?”


Rio : “Sejak awal kuliah, om. Kaori teman sekamar


kembaran saya.”


Papa Katty : “Apa kalian pacaran?”


Rio : “Iya, om.”


Papa Katty terdiam. Untuk ukuran anak muda seperti

__ADS_1


Rio, mereka akan menjawab hanya teman kalau ditanya hubungannya dengan anak


gadisnya. Tapi Rio mengakui dengan tegas, bahkan tanpa keraguan terpancar di


matanya.


Papa Katty tersenyum, kedua bidadarinya sudah


menemukan pangeran mereka masing-masing. Ia meminta Rio minum teh yang sudah


disediakan diatas meja. Mereka bercakap-cakap ringan sambil menunggu waktu


berlalu.


Saat tiba waktu makan malam, Kaori belum juga


terbangun. Rio masuk ke kamarnya untuk mengecek dan melihat Kaori sedang duduk


di atas tempat tidurnya. Ia mimisan lagi. Kaori terkejut melihat Rio


memergokinya sedang mengelap darah dari hidungnya.


Rio : “Sayang, aku beneran takut sekarang. Kita ke


rumah sakit ya?”


Kaori : “Jangan sekarang, Rio. Tolong aku. Ambilkan


makanan ya. Bilang aja aku baru sembuh dan masih pusing.”


Rio melakukan apa yang diminta Kaori. Ia membawakan


makanan masuk ke dalam kamar diikuti mama Katty.


Mama Katty : “Kaori, kamu gak pa-pa?”


Kaori : “Nggak, mah. Kaori kecapean karena banyak


tugas.”


Mama Katty : “Ya, sudah. Istirahat saja ya.”


Kaori : “Mah, boleh gak Rio nginep sini? Kita punya


kasur tambahan kan? Kaori mau Rio tetap disini sama Kaori.”


Mama Katty : “Mama tanya papa dulu ya. Kayaknya


sich diijinkan.”


menelan setiap makanan yang disuapkan Rio sambil sesekali tersenyum manis. Rio


melihat wajah Kaori semakin pucat.


Rio : “Sayang, kamu cinta sama aku kan?”


Kaori : “Ya. Aku mencintaimu, Mario. Sangat


mencintaimu.”


Rio : “Jujur sama aku. Dimana sakitnya?”


Kaori : “Sekarang udah gak sakit lagi. Karena kamu


selalu sama aku.”


Rio : “Tapi kamu pucat sekali, sayang.”


Kaori : “Aku lagi demam, ya jelas pucet. Sini.”


Kaori memeluk erat tubuh Rio. Ia menangis menahan


sakit di kepalanya dan mengatakan kalau ia sangat senang memiliki Rio sebagai


kekasihnya. Kaori mengendurkan pelukannya, ia memegang kedua pipi Rio, perlahan


mendekat. Kaori mencium bibir Rio duluan. Papa dan mama Katty melihat kejadian


itu dari depan pintu.


Papa Katty : “Ijinkan saja dia menginap. Sepertinya


dia pemuda yang baik.”


Mama Katty : “Iya, pa. Oh, mereka ciuman.”


Malam itu Kaori tertidur dengan Rio di samping


tempat tidurnya. Tangan mereka bertautan satu sama lain tidak terpisahkan.


*****


Pagi berikutnya, pasangan pengantin baru kita Elo

__ADS_1


dan Riri baru selesai melakukan pekerjaan mereka yang mengasikkan. Elo menarik


selimut menutupi tubuh mereka berdua.


Riri : “Mas, kalau terus gini, aku keburu hamil


loh.”


Elo : “Aku selalu pakai pengaman, sayang. Aku gak


mau kamu hamil sekarang. Umurmu masih terlalu muda.”


Riri : “Iya, tau. Tapi kan gak perlu tiap hari juga.”


Elo : “Kita berangkat 5 hari lagi. Kamu uda gak


kuliah. Aku juga gak kerja. Anggap saja ini saat honeymoon kita.”


Riri : “Honeymoon tuch perasaan bisa jalan-jalan


dech. Ini dikurung dikamar terus seharian.”


Elo : “Habis mau gimana lagi, istriku sangat imut


dan manis. Aku jadi ingin memakannya setiap hari.”


Riri memukul lengan Elo dengan kesal. Elo


menggesekkan pipinya ke pipi Riri yang merasa sedikit tertusuk.


Riri : “Aouch... Mas, jenggot mas tumbuh tuch.


Tajem banget.”


Elo : “Aku kan belum cukur pagi ini. Cukurin dong.”


Riri : “Manja banget sich.”


Mau gak mau Riri bangkit juga dari atas tempat


tidur. Ia memakai bathrobe-nya sambil berjalan ke kamar mandi. Diambilnya pisau


cukur Elo diatas wastafel dan juga krim cukurnya. Setelah membawa handuk kecil


juga, Riri kembali duduk diatas ranjang.


Elo duduk sambil bersandar di tempat tidur.


Pelan-pelan Riri mengoleskan krim cukur merata ke dagu sampai pipi Elo. Iseng ia


menyentuh hidung Elo dengan sisa krim cukur di tangannya. Riri tertawa melihat


Elo mirip sinterklas.


Riri mulai mencukur rambut tipis di pipi sampai ke


dagu Elo. Ia melakukannya dengan teliti dan hati-hati. Karena saat pertama


melakukannya, pipi Elo tergores kena pisau cukur. Elo yang sudah kapok kena


gores pisau cukur, hanya diam menatap Riri.


Setelah membersihkan wajah Elo kembali dengan


handuk dan melihat hasil cukurannya sudah bersih, Riri mengelap pisau cukur di


tangannya. Ia tidak hati-hati dan tidak sengaja menggores jempolnya.


Riri : “Aduch! Yah, luka dech.”


Deg! Deg! Deg! Hati Riri terasa sakit. Ia memegangi


dadanya yang nyeri hebat dan air matanya langsung mengalir deras. Elo panik


melihat keadaan Riri yang sepertinya kesulitan juga untuk bernafas.


Elo : “Kamu kenapa, sayang?! Riri?!”


Riri terjatuh dipinggir tempat tidur. Elo dengan


sigap menahan tubuhnya dan membaringkannya diatas tempat tidur.


Riri : “Rio...”


Hanya itu yang dikatakan Riri sebelum ia pingsan di


pelukan Elo.


*****


Apa yang terjadi dengan Riri ya?


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2