
Rara berpandangan
dengan Ronald yang mengelus kepalanya dengan sayang. Rara mengangguk dan
berharap papa Kaori akan baik-baik saja.
Arnold muncul
dengan mobilnya dan Ronald membantu Rara berdiri. Mereka berjalan mendekati
mobil Arnold. Setelah membantu Rara duduk di kursi belakang, Ronald masuk ke
kursi penumpang sambil menggendong baby Reynold.
Arnold : “Loh,
mobil papa mana?”
Ronald : “Uda
meluncur duluan ke rumah Alex. Mobil itu penuh kado dari staf kantormu. Tadi
papa mampir bentar trus Ilham masukin semua kado untuk cucu papa kesana. Papa
sampai kejepit di kursi penumpang saking banyaknya tuch kado.”
Arnold : “Kenapa
Ilham gak ngirim mobil kantor ke rumah aja?”
Ronald : “Kayaknya
asistenmu itu lagi seneng sampai hampir gila.”
Arnold : “Wah, ada
apa nich? Dia belum cerita apa-apa.”
Ronald : “Ntar aja
tanya dia, ayo kita pulang. Cucu kakek, nanti kita main ya.”
Arnold tersenyum
melihat papanya sibuk menimang baby Reynold dalam gendongannya, sementara Rara
bersantai di kursi belakang.
Ketiganya sampai di
rumah Alex dan mendapati sopir Ronald sedang bolak-balik membawa kado masuk ke
dalam rumah. Ronald membawa baby Reynold masuk duluan ke dalam rumah. Arnold
membantu Rara turun sambil membawa banyak tas di tangannya.
Di dalam rumah, Mia
yang menunggu kedatangan mereka, sudah menyiapkan boks bayi tambahan di ruang
keluarga. Baby Reynold sudah berbaring bersama kedua pamannya.
Kebayang kalau
mereka besar nanti, baby Reynold harus memanggil baby Rava dan Reva, om.
Rara duduk
pelan-pelan di samping ketiga baby itu. Tumpukan kado menggunung di sudut ruang
keluarga yang kini terlihat lebih besar setelah pernikahan Riri. Alex merombak
ruang keluarga agar cukup untuk keluarga mereka yang semakin besar.
Ronald : “Okey,
papa balik ke kantor dulu ya. Kalau perlu apa-apa, just call me.”
Arnold : “Okey,
pah. Take care.”
Rara : “Makasih,
pah. Bye, bye.”
Mia meletakkan minuman
dan cemilan di dekat Rara yang memegangi dadanya.
Mia : “Kenapa?
Bengkak ya?”
Rara : ‘Iya, mah.”
Mia mendekat ke
boks bayi Reynold dan mengangkat bayi mungil itu. Mia meminta Rara membuka
kemejanya dan mulai menyusui baby Reynold. Bayi itu membuka mulutnya dan
menyedot dengan cepat sampai dada Rara terasa lebih ringan. Rara mencoba
memindahkan bayi Reynold ke dada satunya.
Arnold
memperhatikan Rara yang sibuk menyusui bayi mereka. Ia mengusap peluh yang membasahi
kening Rara. Menyusui bayi selalui membuat ibu bayi akan merasa kepanasan dan
kehausan. Arnold menyodorkan gelas minuman ke bibir Rara yang langsung menyedot
__ADS_1
habis isinya.
Arnold : “Aku
buatin susu ya?”
Rara mengangguk. Ia
mulai mengantuk dan Mia membantu meletakkan baby Reynold kembali ke boks
bayinya.
Mia : “Kamu
ngantuk, Ra? Tidur dulu sana.”
Rara : “Iya, mah.
Nyusuin bikin ngantuk ya.”
Mia : “He-eh.
Makanya mama pake bantai menyusui, biar gak jatuh kalau ngantuk.”
Rara berbaring di
samping boks bayinya, perlahan matanya hampir tertidur tapi Arnold datang
membawa susu. Rara bangun lagi dan menghabiskan susu itu sekaligus. Rasa kantuk
yang melandanya tadi lenyap seketika.
Rara melirik tumpukan
kado di sudut ruangan. Ia meminta Arnold mengambilkan satu persatu kado itu.
Mereka bertiga mulai membuka kado untuk baby Reynold. Ada baju bayi, pampers,
perlengkapan mandi, perlengkapan makan, sepatu, sandal, kaos kaki, dan banyak
lagi benda khas untuk bayi.
Rara : “Mas,
kayaknya kita belum beli lemari baju buat baju bayi dech.”
Mia : “Coba lihat
ke kamar dulu. Jodi yang ngurus semuanya. Bagus loh.”
Rara dan Arnold
saling pandang. Mereka beranjak masuk ke dalam kamar mereka yang sudah disulap
salah satu sudutnya menjadi tempat bayi. Ada boks bayi, lemari baju bayi dengan
peralatan lengkap dan meja portabel untuk memandikan bayi. Rara terpana melihat
kamarnya sendiri.
benar-benar senang menghabiskan uangku ya.” Cetus Arnold.
Rara : “Tapi
hasilnya bagus sekali, mas. Pelit.”
Arnold
mengangguk-angguk dan mengatakan dia gak pelit, cuma kalau terus gitu, kapan
Arnold bisa nabung untuk membelikan Rara sebuah rumah. Mendengar kata rumah,
Rara langsung menatap Arnold.
Rara : “Mas mau
beli rumah dimana?”
Arnold : “Yang
deket sini. Sekarang sudah ada baby Reynold, kita gak mungkin tinggal di
apartment. Mau tinggal disini terus, kamu tahu sendiri ibu-ibu sini mulutnya
gak ada yang sekolah.”
Rara : “Hehe, iya.
Berita terakhir malah mas dikatain miskin, nebeng tinggal sama mertua terus.
Pengen nunjukin daftar aset kalo dah gitu.”
Arnold : “Kamu lupa
ya kalo aku emang lagi miskin, gak punya aset.”
Rara cemberut lagi,
Arnold mengingatkannya tentang daftar harta yang Rara miliki sekarang. Rara
bukannya gak suka dengan tindakan Arnold, ia lebih tenang karena itu artinya
Arnold mencintainya sepenuh hati. Tapi ya itu, berat dengan segala macam tugas
dan tanggung jawab menjaga aset itu.
Arnold memeluk Rara
dengan erat dan mengatakan untuk tidak mengkhawatirkan apapun lagi.
Arnold : “Kalau aku
harus miskin untuk bisa memilikimu selamanya, aku rela, Ra.”
__ADS_1
Rara : “Manis
banget sich, mas. Trus baby Reynold gimana?”
Arnold : “Baby
Reynold, bukti kalau aku bisa membuatmu puas?”
Rara : “Mesum...”
Rara merentangkan
tangannya dan memeluk Arnold. Sungguh dirinya sangat bahagia bisa memiliki
Arnold sebagai suaminya.
*****
Kaori menatap cemas
pada mamanya yang mulai menangis mendengar keputusan dokter. Papanya harus segera
dioperasi dan biayanya sangat besar. Mama Kaori menggeleng kearah Kaori, mereka
tidak punya biaya sebanyak itu bahkan untuk DP-nya saja. Apalagi Katty akan
segera menikah, uang yang mereka miliki saat itu sedang digunakan untuk
keperluan persiapan pernikahan Katty.
Kaori melangkah
keluar ruangan dokter dengan lunglai. Ia hampir jatuh tersandung kalau saja Rio
tidak menahan tubuhnya. Rio menuntun Kaori duduk di kursi yang tersedia disana.
Kaori langsung memeluk tubuh Rio, saat ini ia sangat memerlukan pelukan Rio.
Rio menenangkan
Kaori dan menanyakan apa keputusan dokter. Kaori mengatakannya dengan
terbata-bata sambil menahan tangisannya. Rio menarik nafasnya, ia juga tidak
memiliki uang sebanyak itu.
Kaori menangis
dalam pelukan Rio, ia hampir putus asa saat Rio mengusulkan sesuatu,
Rio : “Kasi tahu
kak Katty, siapa tahu bisa bantu biayanya.”
Kaori : “Mama
ngelarang ngasih tau kak Katty. Dia lagi hamil, Rio.”
Rio : “Atau pakai
dulu uang di rekeningmu. Uang itu cukup kan?”
Kaori : “Itu uang
kak Jodi. Aku harus mengembalikannya.”
Rio : “Kasi tahu kak
Jodi saja. Jangan kak Katty.”
Kaori mendongak
menatap Rio dan langsung mencium bibir kekasihnya itu. Ia bisa bilang pada Jodi
kalau mereka akan meminjam uang itu dulu dan akan mengembalikannya dengan
mencicil. Kaori mencium Rio lagi dan segera menelpon kakak iparnya itu.
Kring! Kring!
Ponsel Jodi berdering diatas meja kerjanya. Ia melirik siapa yang menelpon dan
mengangkatnya dengan cepat.
Jodi : “Ya, halo
Kaori. Ada apa?”
Kaori : “Kakak
sibuk? Aku mau minta tolong.”
Jodi : “Bilang
saja. Ada apa?”
Kaori : “Kak, papa
harus operasi secepatnya, bisa... Kaori pinjam uang kakak kasi waktu dulu itu?”
Jodi : “Kamu di
rumah sakit mana?”
Kaori : “Aku di
rumah...”
🌻🌻🌻🌻🌻
“Aku di rumah mau ngasih vote buat novel ini. Kak
Jodi juga kasi vote ya.” Bujuk Kaori dengan manis.
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).