Duren Manis

Duren Manis
Pinjam uang


__ADS_3

Rara berpandangan


dengan Ronald yang mengelus kepalanya dengan sayang. Rara mengangguk dan


berharap papa Kaori akan baik-baik saja.


Arnold muncul


dengan mobilnya dan Ronald membantu Rara berdiri. Mereka berjalan mendekati


mobil Arnold. Setelah membantu Rara duduk di kursi belakang, Ronald masuk ke


kursi penumpang sambil menggendong baby Reynold.


Arnold : “Loh,


mobil papa mana?”


Ronald : “Uda


meluncur duluan ke rumah Alex. Mobil itu penuh kado dari staf kantormu. Tadi


papa mampir bentar trus Ilham masukin semua kado untuk cucu papa kesana. Papa


sampai kejepit di kursi penumpang saking banyaknya tuch kado.”


Arnold : “Kenapa


Ilham gak ngirim mobil kantor ke rumah aja?”


Ronald : “Kayaknya


asistenmu itu lagi seneng sampai hampir gila.”


Arnold : “Wah, ada


apa nich? Dia belum cerita apa-apa.”


Ronald : “Ntar aja


tanya dia, ayo kita pulang. Cucu kakek, nanti kita main ya.”


Arnold tersenyum


melihat papanya sibuk menimang baby Reynold dalam gendongannya, sementara Rara


bersantai di kursi belakang.


Ketiganya sampai di


rumah Alex dan mendapati sopir Ronald sedang bolak-balik membawa kado masuk ke


dalam rumah. Ronald membawa baby Reynold masuk duluan ke dalam rumah. Arnold


membantu Rara turun sambil membawa banyak tas di tangannya.


Di dalam rumah, Mia


yang menunggu kedatangan mereka, sudah menyiapkan boks bayi tambahan di ruang


keluarga. Baby Reynold sudah berbaring bersama kedua pamannya.


Kebayang kalau


mereka besar nanti, baby Reynold harus memanggil baby Rava dan Reva, om.


Rara duduk


pelan-pelan di samping ketiga baby itu. Tumpukan kado menggunung di sudut ruang


keluarga yang kini terlihat lebih besar setelah pernikahan Riri. Alex merombak


ruang keluarga agar cukup untuk keluarga mereka yang semakin besar.


Ronald : “Okey,


papa balik ke kantor dulu ya. Kalau perlu apa-apa, just call me.”


Arnold : “Okey,


pah. Take care.”


Rara : “Makasih,


pah. Bye, bye.”


Mia meletakkan minuman


dan cemilan di dekat Rara yang memegangi dadanya.


Mia : “Kenapa?


Bengkak ya?”


Rara : ‘Iya, mah.”


Mia mendekat ke


boks bayi Reynold dan mengangkat bayi mungil itu. Mia meminta Rara membuka


kemejanya dan mulai menyusui baby Reynold. Bayi itu membuka mulutnya dan


menyedot dengan cepat sampai dada Rara terasa lebih ringan. Rara mencoba


memindahkan bayi Reynold ke dada satunya.


Arnold


memperhatikan Rara yang sibuk menyusui bayi mereka. Ia mengusap peluh yang membasahi


kening Rara. Menyusui bayi selalui membuat ibu bayi akan merasa kepanasan dan


kehausan. Arnold menyodorkan gelas minuman ke bibir Rara yang langsung menyedot

__ADS_1


habis isinya.


Arnold : “Aku


buatin susu ya?”


Rara mengangguk. Ia


mulai mengantuk dan Mia membantu meletakkan baby Reynold kembali ke boks


bayinya.


Mia : “Kamu


ngantuk, Ra? Tidur dulu sana.”


Rara : “Iya, mah.


Nyusuin bikin ngantuk ya.”


Mia : “He-eh.


Makanya mama pake bantai menyusui, biar gak jatuh kalau ngantuk.”


Rara berbaring di


samping boks bayinya, perlahan matanya hampir tertidur tapi Arnold datang


membawa susu. Rara bangun lagi dan menghabiskan susu itu sekaligus. Rasa kantuk


yang melandanya tadi lenyap seketika.


Rara melirik tumpukan


kado di sudut ruangan. Ia meminta Arnold mengambilkan satu persatu kado itu.


Mereka bertiga mulai membuka kado untuk baby Reynold. Ada baju bayi, pampers,


perlengkapan mandi, perlengkapan makan, sepatu, sandal, kaos kaki, dan banyak


lagi benda khas untuk bayi.


Rara : “Mas,


kayaknya kita belum beli lemari baju buat baju bayi dech.”


Mia : “Coba lihat


ke kamar dulu. Jodi yang ngurus semuanya. Bagus loh.”


Rara dan Arnold


saling pandang. Mereka beranjak masuk ke dalam kamar mereka yang sudah disulap


salah satu sudutnya menjadi tempat bayi. Ada boks bayi, lemari baju bayi dengan


peralatan lengkap dan meja portabel untuk memandikan bayi. Rara terpana melihat


kamarnya sendiri.


benar-benar senang menghabiskan uangku ya.” Cetus Arnold.


Rara : “Tapi


hasilnya bagus sekali, mas. Pelit.”


Arnold


mengangguk-angguk dan mengatakan dia gak pelit, cuma kalau terus gitu, kapan


Arnold bisa nabung untuk membelikan Rara sebuah rumah. Mendengar kata rumah,


Rara langsung menatap Arnold.


Rara : “Mas mau


beli rumah dimana?”


Arnold : “Yang


deket sini. Sekarang sudah ada baby Reynold, kita gak mungkin tinggal di


apartment. Mau tinggal disini terus, kamu tahu sendiri ibu-ibu sini mulutnya


gak ada yang sekolah.”


Rara : “Hehe, iya.


Berita terakhir malah mas dikatain miskin, nebeng tinggal sama mertua terus.


Pengen nunjukin daftar aset kalo dah gitu.”


Arnold : “Kamu lupa


ya kalo aku emang lagi miskin, gak punya aset.”


Rara cemberut lagi,


Arnold mengingatkannya tentang daftar harta yang Rara miliki sekarang. Rara


bukannya gak suka dengan tindakan Arnold, ia lebih tenang karena itu artinya


Arnold mencintainya sepenuh hati. Tapi ya itu, berat dengan segala macam tugas


dan tanggung jawab menjaga aset itu.


Arnold memeluk Rara


dengan erat dan mengatakan untuk tidak mengkhawatirkan apapun lagi.


Arnold : “Kalau aku


harus miskin untuk bisa memilikimu selamanya, aku rela, Ra.”

__ADS_1


Rara : “Manis


banget sich, mas. Trus baby Reynold gimana?”


Arnold : “Baby


Reynold, bukti kalau aku bisa membuatmu puas?”


Rara : “Mesum...”


Rara merentangkan


tangannya dan memeluk Arnold. Sungguh dirinya sangat bahagia bisa memiliki


Arnold sebagai suaminya.


*****


Kaori menatap cemas


pada mamanya yang mulai menangis mendengar keputusan dokter. Papanya harus segera


dioperasi dan biayanya sangat besar. Mama Kaori menggeleng kearah Kaori, mereka


tidak punya biaya sebanyak itu bahkan untuk DP-nya saja. Apalagi Katty akan


segera menikah, uang yang mereka miliki saat itu sedang digunakan untuk


keperluan persiapan pernikahan Katty.


Kaori melangkah


keluar ruangan dokter dengan lunglai. Ia hampir jatuh tersandung kalau saja Rio


tidak menahan tubuhnya. Rio menuntun Kaori duduk di kursi yang tersedia disana.


Kaori langsung memeluk tubuh Rio, saat ini ia sangat memerlukan pelukan Rio.


Rio menenangkan


Kaori dan menanyakan apa keputusan dokter. Kaori mengatakannya dengan


terbata-bata sambil menahan tangisannya. Rio menarik nafasnya, ia juga tidak


memiliki uang sebanyak itu.


Kaori menangis


dalam pelukan Rio, ia hampir putus asa saat Rio mengusulkan sesuatu,


Rio : “Kasi tahu


kak Katty, siapa tahu bisa bantu biayanya.”


Kaori : “Mama


ngelarang ngasih tau kak Katty. Dia lagi hamil, Rio.”


Rio : “Atau pakai


dulu uang di rekeningmu. Uang itu cukup kan?”


Kaori : “Itu uang


kak Jodi. Aku harus mengembalikannya.”


Rio : “Kasi tahu kak


Jodi saja. Jangan kak Katty.”


Kaori mendongak


menatap Rio dan langsung mencium bibir kekasihnya itu. Ia bisa bilang pada Jodi


kalau mereka akan meminjam uang itu dulu dan akan mengembalikannya dengan


mencicil. Kaori mencium Rio lagi dan segera menelpon kakak iparnya itu.


Kring! Kring!


Ponsel Jodi berdering diatas meja kerjanya. Ia melirik siapa yang menelpon dan


mengangkatnya dengan cepat.


Jodi : “Ya, halo


Kaori. Ada apa?”


Kaori : “Kakak


sibuk? Aku mau minta tolong.”


Jodi : “Bilang


saja. Ada apa?”


Kaori : “Kak, papa


harus operasi secepatnya, bisa... Kaori pinjam uang kakak kasi waktu dulu itu?”


Jodi : “Kamu di


rumah sakit mana?”


Kaori : “Aku di


rumah...”


🌻🌻🌻🌻🌻


“Aku di rumah mau ngasih vote buat novel ini. Kak


Jodi juga kasi vote ya.” Bujuk Kaori dengan manis.

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2