
Extra part 39
Keira memalingkan wajahnya, ia berbalik
membelakangi Bilar. Sejujurnya ia ingin sekali melakukan apa yang Bilar minta,
tapi Keira tidak mau terlibat masalah lagi dengan Bianca. Melihat tidak ada
jalan lain untuk keluar dari sana secepatnya, Keira terpaksa berbalik lagi lalu
mengecup pipi Bilar dengan cepat.
“Udah, sekarang gue mau pulang,” kata Keira sambil
berjalan mendekati pintu kamar Bilar.
Keira memcoba membuka pintu itu tapi sepertinya
masih terkunci. Ada panel angka di samping pintu itu, Keira harus menekan
password agar bisa membuka pintu dan keluar dari sana.
“Bilar, tolong buka pintunya. Mama lo ntar keburu
dateng. Please, gue mau pulang,” ucap Keira tanpa berani berbalik.
“Kei... jangan pergi. Kamu nginep sini ya,” bisik
Bilar yang ternyata sudah berdiri di belakang Keira.
Mata gadis itu terbelalak saat mendengar permintaan
Bilar, lebih merinding lagi saat pria itu mengecup leher Keira. Bilar persis
sama seperti Ilham, papanya. Menaklukkan hati Bianca lewat ciuman di leher. Gen
vampir nurun ke anak.
“Mamaku nggak ada. Lagi keluar kota,” alasan Bilar.
Justru itu yang berbahaya. Keira menepis pikiran
kotor yang sempat hinggap di kepalanya. Ia lebih takut pada Bianca daripada
Bilar.
“Apa lo cuma mau tidur sama gue?” tanya Keira
sambil balik badan.
Gadis itu mulai mendekatkan tubuh mereka berdua,
menantang Bilar. Keira harus nekat melakukan itu atau ia akan terjebak
sepanjang malam di kamar Bilar. Perlahan tubuh Bilar mulai mundur hingga
terduduk di pinggir tempat tidur.
“Bilar, jawab dong. Hmm...,” ucap Keira manja
sambil duduk di pangkuan Bilar.
Keira akan mengerahkan semua jurus menggoda Bilar
sampai pria itu menyerah dan melepaskannya. Jemari Keira mulai nakal, membuka
kancing kemeja yang dipakai Bilar. Sentuhan lembut jemari Keira di otot
dadanya, membuat Bilar kegelian.
“Kei, geli...,” lirih Bilar.
Tiba-tiba Keira menerjang Bilar sampai jatuh
terbaring diatas tempat tidurnya. Bilar melotot kaget ketika merasakan berat di
dadanya. Gadis itu sudah menekan dadanya dengan siku.
“Lo pura-pura mabuk kan? Apa maksud lo ngjebak gue
kayak gini?” tanya Keira dengan ekspresi marah yang jauh berbeda dengan
ekspresi menggodanya barusan.
Bukannya menjawab, Bilar malah terpesona dengan
sikap galak Keira. Sepertinya karena punya mama yang galak, membuat Bilar suka
dengan cewek galak.
“Kamu ini seperti angin ya, kadang berhembus
kencang, kadang tenang menyejukkan. Aku makin suka sama kamu, Kei.” Bilar bucin
tingkat tinggi.
“Heh! Gue nggak suka sama lo, sama mama lo. Baru
ketemu lo, kaki gue udah luka. Ketemu mama lo, tambah berdarah-darah. Jalan
sama lo, gue bakalan lebih babak belur lagi. Nggak mau!” Keira berteriak di
depan wajah Bilar.
Keira yang kesal mulai menangis, menjerit histeris,
__ADS_1
sambil menendang-nendang ke segala arah. Bilar yang terkena tendangan Keira,
refleks menangkap kaki gadis itu lalu menjatuhkannya ke tempat tidur. Sungguh
pose yang kalau dilihat orang lain, otaknya auto traveling.
“Ach! Sakit!” pekik Keira yang keberatan ditimpa
Bilar.
Keduanya saling menatap dengan posisi yang sangat
intim. Keira mati-matian menjaga pikirannya tetap fokus, mekipun gerakan Bilar
yang tidak disengaja, mulai menendang akal sehatnya. Tubuh pria itu terlihat
jelas dari balik kemejanya yang terbuka.
Delapan otot perut plus dua otot data plus garis V
yang seksi. Keira hampir mimisan melihat tubuh seksi Bilar. ”Kacamata yang
jelek, kenapa kamu nggak pergi aja dari wajah Bilar.” Tanpa sadar Keira
menarik kacamata Bilar lalu meletakkannya diatas kepalanya sendiri.
“Bilar...,” lirik Keira membelai leher pria itu.
“Kei... hmmm...,” gumam Bilar.
Keduanya tanpa sadar mulai membuka penutup atas
tubuh satu sama lain. Dua insan tanpa hubungan apapun, hanya berdua di dalam
kamar, tentu saja setan mampir.
Brug! Saking asyiknya mendaki gunung, Bilar tidak
sengaja menggulingkan tubuh mereka sampai terjatuh dari atas tempat tidurnya. Author
belum mau mereka khilaf, saudara pembaca sekalian. Tolong jangan baper.
“Addoww!!” pekik Keira kesakitan. Rasa sakit di
pinggangnya membuat Keira tersadar kalau ia hampir menyerahkan dirinya pada
Bilar. Dengan wajah merah merona, keduanya segera merapikan penampilan
masing-masing.
“Bilar, gue mau pulang. Udah malem banget. Lo
istirahat ya, besok kan lo harus kerja,” ucap Keira basa-basi.
“Kei, tolong jangan pergi. Kamu bisa tidur di kamar
Keira tetap menggeleng, ia tidak mau menginap di
rumah orang lain yang baru dikenalnya. Bilar akhirnya menyerah membukakan pintu
kamarnya untuk Keira. Ia ingin mengantar Keira pulang, tapi gadis itu
menolaknya. Dengan pandangan sendu, Bilar menatap kepergian Keira dengan
mobilnya.
**
Hari ujian skripsi Keira akhirnya tiba juga. Sejak
pagi, Keira cukup gelisah menunggu gilirannya. Tidak ada seorangpun yang datang
karena kebanyakan teman-temannya sudah lulus dan bekerja. Keira menoleh saat
namanya dipanggil. Gilirannya untuk sidang akhirnya tiba juga.
Dengan langkah percaya diri dan juga senyum manis
yang menawan dosen, Keira memasuki ruang sidang dengan gaya bak model papan
penggilesan. Dosen penguji auto melirik sepatu boots yang dikenakannya. Khusus
untuk hari itu, Keira tampil all out. Lebih mirip mau fashion show daripada
sidang skripsi.
Saatnya presentasi, Keira mulai bicara dengan penuh
percaya diri. Ia sangat yakin kalau skripsinya tidak akan banyak revisi. Belum
selesai presentasi, salah satu dosen penguji bertanya apa Keira sudah bekerja
karena ia sangat terlambat sidang.
“Ya, pak. Saya sempat bekerja. Memangnya kenapa ya,
pak?” tanya Keira kepo.
“Oh, saya pikir kamu kelamaan belanja, makanya
sidangnya baru sekarang,” sindir dosen itu membuat seisi ruangan tertawa.
“Bapak bisa aja. Saya kalo belanja nggak pernah
lama, pak. Tidur yang lama,” sahut Keira cuek.
__ADS_1
Dosen penguji yang lain malah bertanya dimana Keira
biasa belanja. Keira menjawabnya dengan santai, bahkan menambahkan sedikit tips
untuk belanja murah di tempat-tempat yang cukup bonafit. Sidang skripsi Keira
berubah jadi ajang gosip antara dosen penguji dengan Keira. Sesekali ada
pernyataan seputar skripsi yang bisa dijawab Keira dengan mudah.
Sampai akhir sidang, Keira mengucapkan terima kasih
sebelum keluar dari ruang sidang itu. Senyum cerah menghiasi bibir Keira. Ia
yakin akan lulus, entah berapapun nilainya karena mereka malah membahas hal
yang lain. Seorang dosen penguji yang keluar lebih dulu, menyuruh Keira ke
ruang jurusan dan menunggu nilainya disana.
Lagi-lagi seorang diri, Keira berjalan menuju ruang
jurusan yang dekat dengan tempat parkir. Ia masuk dan duduk di salah satu sofa
disana. Tidak ada seorangpun di dalam ruang jurusan itu karena mahasiswa yang ujian
hari itu, masih ada di ruang sidang.
Kepala jurusan tampak memasuki ruangan berukuran
empat kali tiga itu. Ia meminta Keira mengikutinya duduk di meja kerjanya.
Setelah berbasa-basi sejenak, Keira mendapatkan pengumuman tentang nilainya. A
untuk skripsinya. Ingin rasanya Keira melompat kegirangan, tapi ia menjaga
sikapnya di depan kepala jurusan. Salah-salah nilainya akan ditarik lagi kalau
ia membuat ulah sekarang.
Ketika Keira keluar dari ruang jurusan, ia tidak
melihat seseorang menunggunya di parkiran. Keira fokus menyerahkan berkas untuk
pendaftaran wisudanya ke bagian tata usaha. Ia langsung diminta membayar biaya
wisuda di loket yang dekat dengan parkiran.
“Hai, Kei,” sapa Bilar.
Keira bengong melihat sosok yang menyapanya. “Mana
kacamatamu?” tanya Keira tanpa sadar. Ia celingukan mencari kebawah dekat kaki
Bilar. Pria itu ikutan mencari ke bawah juga.
“Kamu nyari apa sich?” tanya Bilar bingung.
“Kacamatamu jatuh dimana?” tanya Keira salfok.
Bilar benar-benar berubah jadi Superman yang
ganteng maksimal. Keira menelan salivanya, otaknya sejenak blank. Ia bingung
mau ngapain.
“Kamu mau kemana, Kei?” tanya Bilar.
“Aku... kemana? Nggak kemana-mana,” sahut Keira
polos.
Bilar tersenyum manis, saking manisnya sampai
semut-semut gatel tiba-tiba sudah mengerubunginya. Keira melihat ke kanan dan
ke kiri. Sejak kapan mahasiswi di kampus bisa seramai ini. Keira menggelengkan
kepalanya, ia hampir lupa membayar biaya wisuda.
Keira berusaha keluar dari kerumunan yang sibuk
minta nomor ponsel Bilar. Ia cepat-cepat membayar biaya wisudanya, lalu kembali
ke tata usaha.
Setelah menyerahkan bukti pembayaran wisuda, Keira
mendapat perlengkapannya yang cukup banyak. Ia kewalahan membawa buku wisuda,
toga, ada majalah kampus. Belum lagi tas tangan dan tas laptopnya.
Bilar yang berhasil menerobos kerumunan, mendekati
Keira dengan cepat lalu mengambil alih barang bawaannya. Tersisa tas tangan
yang masih dibawa Keira.
“Gimana hasil ujianmu? Lulus kan?” tanya Bilar.
Keira hanya mengangguk, tanpa mengatakan apa-apa. Bilar
berjalan mendekati mobilnya, sementara mobil Keira ada di parkiran paling ujung
kampus.
__ADS_1
“Bilar, mobilku di ujung saja. Sini barang-barangnya
aku bawa sendiri,” pinta Keira.