Duren Manis

Duren Manis
Extra part 39


__ADS_3

Extra part 39


Keira memalingkan wajahnya, ia berbalik


membelakangi Bilar. Sejujurnya ia ingin sekali melakukan apa yang Bilar minta,


tapi Keira tidak mau terlibat masalah lagi dengan Bianca. Melihat tidak ada


jalan lain untuk keluar dari sana secepatnya, Keira terpaksa berbalik lagi lalu


mengecup pipi Bilar dengan cepat.


“Udah, sekarang gue mau pulang,” kata Keira sambil


berjalan mendekati pintu kamar Bilar.


Keira memcoba membuka pintu itu tapi sepertinya


masih terkunci. Ada panel angka di samping pintu itu, Keira harus menekan


password agar bisa membuka pintu dan keluar dari sana.


“Bilar, tolong buka pintunya. Mama lo ntar keburu


dateng. Please, gue mau pulang,” ucap Keira tanpa berani berbalik.


“Kei... jangan pergi. Kamu nginep sini ya,” bisik


Bilar yang ternyata sudah berdiri di belakang Keira.


Mata gadis itu terbelalak saat mendengar permintaan


Bilar, lebih merinding lagi saat pria itu mengecup leher Keira. Bilar persis


sama seperti Ilham, papanya. Menaklukkan hati Bianca lewat ciuman di leher. Gen


vampir nurun ke anak.


“Mamaku nggak ada. Lagi keluar kota,” alasan Bilar.


Justru itu yang berbahaya. Keira menepis pikiran


kotor yang sempat hinggap di kepalanya. Ia lebih takut pada Bianca daripada


Bilar.


“Apa lo cuma mau tidur sama gue?” tanya Keira


sambil balik badan.


Gadis itu mulai mendekatkan tubuh mereka berdua,


menantang Bilar. Keira harus nekat melakukan itu atau ia akan terjebak


sepanjang malam di kamar Bilar. Perlahan tubuh Bilar mulai mundur hingga


terduduk di pinggir tempat tidur.


“Bilar, jawab dong. Hmm...,” ucap Keira manja


sambil duduk di pangkuan Bilar.


Keira akan mengerahkan semua jurus menggoda Bilar


sampai pria itu menyerah dan melepaskannya. Jemari Keira mulai nakal, membuka


kancing kemeja yang dipakai Bilar. Sentuhan lembut jemari Keira di otot


dadanya, membuat Bilar kegelian.


“Kei, geli...,” lirih Bilar.


Tiba-tiba Keira menerjang Bilar sampai jatuh


terbaring diatas tempat tidurnya. Bilar melotot kaget ketika merasakan berat di


dadanya. Gadis itu sudah menekan dadanya dengan siku.


“Lo pura-pura mabuk kan? Apa maksud lo ngjebak gue


kayak gini?” tanya Keira dengan ekspresi marah yang jauh berbeda dengan


ekspresi menggodanya barusan.


Bukannya menjawab, Bilar malah terpesona dengan


sikap galak Keira. Sepertinya karena punya mama yang galak, membuat Bilar suka


dengan cewek galak.


“Kamu ini seperti angin ya, kadang berhembus


kencang, kadang tenang menyejukkan. Aku makin suka sama kamu, Kei.” Bilar bucin


tingkat tinggi.


“Heh! Gue nggak suka sama lo, sama mama lo. Baru


ketemu lo, kaki gue udah luka. Ketemu mama lo, tambah berdarah-darah. Jalan


sama lo, gue bakalan lebih babak belur lagi. Nggak mau!” Keira berteriak di


depan wajah Bilar.


Keira yang kesal mulai menangis, menjerit histeris,

__ADS_1


sambil menendang-nendang ke segala arah. Bilar yang terkena tendangan Keira,


refleks menangkap kaki gadis itu lalu menjatuhkannya ke tempat tidur. Sungguh


pose yang kalau dilihat orang lain, otaknya auto traveling.


“Ach! Sakit!” pekik Keira yang keberatan ditimpa


Bilar.


Keduanya saling menatap dengan posisi yang sangat


intim. Keira mati-matian menjaga pikirannya tetap fokus, mekipun gerakan Bilar


yang tidak disengaja, mulai menendang akal sehatnya. Tubuh pria itu terlihat


jelas dari balik kemejanya yang terbuka.


Delapan otot perut plus dua otot data plus garis V


yang seksi. Keira hampir mimisan melihat tubuh seksi Bilar. ”Kacamata yang


jelek, kenapa kamu nggak pergi aja dari wajah Bilar.” Tanpa sadar Keira


menarik kacamata Bilar lalu meletakkannya diatas kepalanya sendiri.


“Bilar...,” lirik Keira membelai leher pria itu.


“Kei... hmmm...,” gumam Bilar.


Keduanya tanpa sadar mulai membuka penutup atas


tubuh satu sama lain. Dua insan tanpa hubungan apapun, hanya berdua di dalam


kamar, tentu saja setan mampir.


Brug! Saking asyiknya mendaki gunung, Bilar tidak


sengaja menggulingkan tubuh mereka sampai terjatuh dari atas tempat tidurnya. Author


belum mau mereka khilaf, saudara pembaca sekalian. Tolong jangan baper.


“Addoww!!” pekik Keira kesakitan. Rasa sakit di


pinggangnya membuat Keira tersadar kalau ia hampir menyerahkan dirinya pada


Bilar. Dengan wajah merah merona, keduanya segera merapikan penampilan


masing-masing.


“Bilar, gue mau pulang. Udah malem banget. Lo


istirahat ya, besok kan lo harus kerja,” ucap Keira basa-basi.


“Kei, tolong jangan pergi. Kamu bisa tidur di kamar


Keira tetap menggeleng, ia tidak mau menginap di


rumah orang lain yang baru dikenalnya. Bilar akhirnya menyerah membukakan pintu


kamarnya untuk Keira. Ia ingin mengantar Keira pulang, tapi gadis itu


menolaknya. Dengan pandangan sendu, Bilar menatap kepergian Keira dengan


mobilnya.


**


Hari ujian skripsi Keira akhirnya tiba juga. Sejak


pagi, Keira cukup gelisah menunggu gilirannya. Tidak ada seorangpun yang datang


karena kebanyakan teman-temannya sudah lulus dan bekerja. Keira menoleh saat


namanya dipanggil. Gilirannya untuk sidang akhirnya tiba juga.


Dengan langkah percaya diri dan juga senyum manis


yang menawan dosen, Keira memasuki ruang sidang dengan gaya bak model papan


penggilesan. Dosen penguji auto melirik sepatu boots yang dikenakannya. Khusus


untuk hari itu, Keira tampil all out. Lebih mirip mau fashion show daripada


sidang skripsi.


Saatnya presentasi, Keira mulai bicara dengan penuh


percaya diri. Ia sangat yakin kalau skripsinya tidak akan banyak revisi. Belum


selesai presentasi, salah satu dosen penguji bertanya apa Keira sudah bekerja


karena ia sangat terlambat sidang.


“Ya, pak. Saya sempat bekerja. Memangnya kenapa ya,


pak?” tanya Keira kepo.


“Oh, saya pikir kamu kelamaan belanja, makanya


sidangnya baru sekarang,” sindir dosen itu membuat seisi ruangan tertawa.


“Bapak bisa aja. Saya kalo belanja nggak pernah


lama, pak. Tidur yang lama,” sahut Keira cuek.

__ADS_1


Dosen penguji yang lain malah bertanya dimana Keira


biasa belanja. Keira menjawabnya dengan santai, bahkan menambahkan sedikit tips


untuk belanja murah di tempat-tempat yang cukup bonafit. Sidang skripsi Keira


berubah jadi ajang gosip antara dosen penguji dengan Keira. Sesekali ada


pernyataan seputar skripsi yang bisa dijawab Keira dengan mudah.


Sampai akhir sidang, Keira mengucapkan terima kasih


sebelum keluar dari ruang sidang itu. Senyum cerah menghiasi bibir Keira. Ia


yakin akan lulus, entah berapapun nilainya karena mereka malah membahas hal


yang lain. Seorang dosen penguji yang keluar lebih dulu, menyuruh Keira ke


ruang jurusan dan menunggu nilainya disana.


Lagi-lagi seorang diri, Keira berjalan menuju ruang


jurusan yang dekat dengan tempat parkir. Ia masuk dan duduk di salah satu sofa


disana. Tidak ada seorangpun di dalam ruang jurusan itu karena mahasiswa yang ujian


hari itu, masih ada di ruang sidang.


Kepala jurusan tampak memasuki ruangan berukuran


empat kali tiga itu. Ia meminta Keira mengikutinya duduk di meja kerjanya.


Setelah berbasa-basi sejenak, Keira mendapatkan pengumuman tentang nilainya. A


untuk skripsinya. Ingin rasanya Keira melompat kegirangan, tapi ia menjaga


sikapnya di depan kepala jurusan. Salah-salah nilainya akan ditarik lagi kalau


ia membuat ulah sekarang.


Ketika Keira keluar dari ruang jurusan, ia tidak


melihat seseorang menunggunya di parkiran. Keira fokus menyerahkan berkas untuk


pendaftaran wisudanya ke bagian tata usaha. Ia langsung diminta membayar biaya


wisuda di loket yang dekat dengan parkiran.


“Hai, Kei,” sapa Bilar.


Keira bengong melihat sosok yang menyapanya. “Mana


kacamatamu?” tanya Keira tanpa sadar. Ia celingukan mencari kebawah dekat kaki


Bilar. Pria itu ikutan mencari ke bawah juga.


“Kamu nyari apa sich?” tanya Bilar bingung.


“Kacamatamu jatuh dimana?” tanya Keira salfok.


Bilar benar-benar berubah jadi Superman yang


ganteng maksimal. Keira menelan salivanya, otaknya sejenak blank. Ia bingung


mau ngapain.


“Kamu mau kemana, Kei?” tanya Bilar.


“Aku... kemana? Nggak kemana-mana,” sahut Keira


polos.


Bilar tersenyum manis, saking manisnya sampai


semut-semut gatel tiba-tiba sudah mengerubunginya. Keira melihat ke kanan dan


ke kiri. Sejak kapan mahasiswi di kampus bisa seramai ini. Keira menggelengkan


kepalanya, ia hampir lupa membayar biaya wisuda.


Keira berusaha keluar dari kerumunan yang sibuk


minta nomor ponsel Bilar. Ia cepat-cepat membayar biaya wisudanya, lalu kembali


ke tata usaha.


Setelah menyerahkan bukti pembayaran wisuda, Keira


mendapat perlengkapannya yang cukup banyak. Ia kewalahan membawa buku wisuda,


toga, ada majalah kampus. Belum lagi tas tangan dan tas laptopnya.


Bilar yang berhasil menerobos kerumunan, mendekati


Keira dengan cepat lalu mengambil alih barang bawaannya. Tersisa tas tangan


yang masih dibawa Keira.


“Gimana hasil ujianmu? Lulus kan?” tanya Bilar.


Keira hanya mengangguk, tanpa mengatakan apa-apa. Bilar


berjalan mendekati mobilnya, sementara mobil Keira ada di parkiran paling ujung


kampus.

__ADS_1


“Bilar, mobilku di ujung saja. Sini barang-barangnya


aku bawa sendiri,” pinta Keira.


__ADS_2