
Pagi itu Mia berada di kampusnya untuk mengurus pendaftaran wisudanya. Jadwal wisuda berikutnya sekitar 2 minggu lagi.
Jadi setelah pernikahannya, ia baru bisa ikut wisuda. Setelah ini, Mia harus segera ke studio foto untuk foto prawedding bersama Alex.
Sambil menunggu waktu Mia berjalan-jalan di sekeliling kampusnya. Ia melihat beberapa kelas yang tampak penuh karena ada kuliah.
Baru saja ia ingin ke parkiran, Mia melihat sosok Jodi lewat di depannya. Kening Mia mengkerut karena melihat Jodi membawa sesuatu yang tampak seperti tas Rara.
Mia mengenali tas itu karena itu tas kesayangan Rara. Ia sering memakainya ke kampus.
Tapi bukannya Rara sedang libur kuliah, ia mengatakannya tadi pagi waktu Mia menelponnya.
Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Mia mulai mengikuti Jodi yang berjalan menuju ruang olahraga.
Kalau tidak dipakai, ruang olahraga cenderung sepi dan jarang dilalui orang.
Sebelum masuk, Mia mengirimkan pesan pada Alex. Kampus, ruang olahraga, tolong.
Ia men-silent ponselnya dan memasukkannya ke saku celananya. Perlahan Mia masuk ke ruang olahraga itu.
Suasana sangat tenang dan cukup terang karena masih pagi. Mia mendengarkan suara dari balik gudang di dalam ruangan itu.
Ia mendekat ke arah gudang dan mulai menguping.
Jodi : "Rara, sayang. Ternyata kamu polos banget ya. Bisa-bisanya ketipu sama trik murahan."
Rara : "Mmm... mmm...!!"
Jodi : "Heh! Aku gak akan lepasin kamu, kamu harus jadi milik aku sekarang. Apa Arnold sudah menyentuhmu? Sayang sekali barang bagus sepertimu. Tapi aku gak keberatan berbagi."
Rara : "Mmmpp...!!"
Mia berpikir cepat, ia tidak bisa melawan Jodi sendirian. Tapi memanggil orang untuk membantu juga kurang tepat. Ia takut Rara sudah jadi bulan-bulanan Jodi.
Mia melihat tumpukan bola di sudut ruangan dan menendangnya dengan keras hingga terjatuh. Ia mengambil balok kayu di dekat sana dan bersiap di depan pintu.
Keributan di luar gudang, menarik perhatian Jodi. Ia keluar dari gudang, dan hampir kena balok kayu yang dipukulkan Mia ke arah punggungnya.
Jodi berbalik dengan cepat, dan menatap Mia dengan geram. Mia tetap bertahan dengan balok kayu di tangannya tapi ia kalah tenaga.
Jodi mencengkeram kemeja Mia dan melemparkan tubuhnya ke dalam gudang. Ia jatuh di samping Rara yang kondisinya sudah berantakan dengan tangan dan kaki terikat dan mulut di lakban.
Pakaian Rara sudah robek, memperlihatkan sebagian tubuhnya. Mia beranjak ke depan Rara, menutupi tubuh Rara dari Jodi.
Jodi : "Beruntung sekali aku hari ini, dapat dua gadis cantik. Siapa yang duluan ya?"
Mia : "Lepasin Rara, Jodi. Kamu gila! Mahasiswa macam apa kamu, kelakuanmu bejat."
Jodi : "Aku gak bejat, salah sendiri Rara selalu mengejarku, menggodaku. Aku cuma menuruti keinginannya. Apa salahku?"
Mia : "Rara gak suka sama kamu. Dia sudah punya calon suami. Kata-katamu cuma khayalan palsu."
Jodi : "Diam kau. Aku akan buat kau diam setelah ini."
Jodi terkekeh jahat, ia mulai mendekati Mia yang bersiap melawan. Mia meraih apapun yang bisa ia raih dan melemparkannya ke arah Jodi.
Dengan cepat Jodi menangkis semua benda itu dan mencengkeram tangan Mia.
__ADS_1
Plak! Tamparan keras mengenai pipi Mia yang langsung merasa pusing. Ia tetap mempertahankan tubuhnya yang akan di seret Jodi agar terlentang.
Jodi menarik kemeja Mia agar terbuka memperlihatkan tubuhnya yang masih tertutup tanktop. Kaki Mia terkunci sebagian oleh kaki Jodi.
Mia berusaha menendang pinggang dan bagian bawah tubuh Jodi. Ia menggunakan sisa kesadarannya untuk melawan sekuat tenaga.
Jodi kembali ingin memukul Mia, kali ini meleset. Saat Jodi limbung, Mia mengambil kesempatan dengan menendang bagian tubuh Jodi hingga tersungkur.
Bukannya tenang, Jodi semakin kalap. Ia menjambak rambut Mia dan kembali menampar pipinya. Bruk! Mia terjatuh dengan luka di sudut bibirnya.
Jodi tertawa mengejek, ia membalik tubuh Mia dan merobek tanktop-nya. Mia masih berusaha melawan, dengan mencakar tangan Jodi. Tapi situasinya tidak juga membaik.
Rara yang melihat bagaimana Mia berjuang untuk menyelamatkannya hanya bisa meneteskan air mata. Ia berdoa agar ada orang yang datang menyelamatkan mereka.
Saat keputusasaan hampir meredupkan semangatnya, tiba-tiba pintu gudang terbuka lebar. Brak!!
Alex : "Kurang ajar!!!"
Alex menarik tubuh Jodi yang sudah telanjang dada dengan celana terbuka dari atas tubuh Mia yang terkapar tidak berdaya.
Bag! Bug! Suara pukulan memenuhi ruang olahraga itu. Rara mencoba melihat siapa yang sedang memukuli Jodi.
Matanya buram karena air mata yang terus menetes sejak Jodi menangkapnya tadi pagi.
Flash back...
Rara mendapat notif kalau hari ini ada kelas pagi. Jadi mereka batal libur. Chat itu dari teman sekelasnya yang jadi wakil ketua kelas.
Rara yang tidak konfirmasi lagi ke grup kelas, langsung berangkat ke kampus. Sampai di kampus, Jodi sudah menunggunya di kelas.
Rara masuk perangkap dengan mudahnya, apalagi kondisi kampus yang masih pagi membuat Jodi leluasa menyekap Rara.
Rara memejamkan matanya kuat-kuat mencoba mengeringkan air matanya.
Rara : "Mmpp...! mmmpp...!"
Tiba-tiba ada orang yang menarik orang yang memukuli Jodi yang sudah terkapar tidak sadarkan diri.
Mereka berdua berlari mendekati Mia dan Rara. Alex mengguncang tubuh Mia yang hampir pingsan. Sementara Arnold menenangkan Rara yang shock.
Alex : "Mia! Mia! Bangun...!"
Mia sudah pingsan dalam dekapan Alex. Sementara Rara mulai histeris ketika Arnold melepaskan ikatan tangan dan kakinya.
Rara : "Jangan...!! Jangan mendekat...!!"
Arnold : "Rara! Ini aku Arnold. Sadar...!! Kamu akan baik-baik saja!"
Rara kembali menangis dalam dekapan Arnold.
Alex : "Arnold, bawa Rara keluar. Ini tutup badannya pakai ini. Laporkan ke security kampus apa yang terjadi disini."
Alex melemparkan jas yang masih dipakainya ke Arnold. Ia masih mencoba menyadarkan Mia, sambil mengawasi Jodi.
Tak lama security kampus masuk bersama dekan dan petugas medis. Mia segera dibawa menggunakan bed ke dalam ambulance. Sementara Jodi diangkut menggunakan ambulance yang berbeda.
Kejadian pagi itu cukup menggemparkan pihak kampus, terutama saat tahu siapa dalangnya.
__ADS_1
Sudah jadi rahasia umum kalau Jodi memang laki-laki brengsek, tapi kekuasaan ayahnya membuat Jodi tetap nyaman melakukan perbuatan sesuka hatinya.
Kali ini Jodi akan kena batunya, karena sepertinya Alex tidak main-main. Ia langsung melaporkan perbuatan Jodi ke polisi.
Ruang olahraga segera digeledah dan ditemukan barang bukti berupa video yang merekam aksi Jodi. Termasuk penyalahgunaan narkoba.
-------
Rara berbaring di bed rumah sakit di sebelah Mia yang belum sadar. Ia terus melihat ke arah Mia dan berdoa agar mamanya cepat sadar.
Arnold masih menunggui Rara, tidak melepas pegangan tangannya.
Rara : "Kak, mama kenapa belum sadar juga."
Arnold : "Sabar, Ra. Dokter bilang kan mama Rara masih perlu istirahat. Kondisinya baik-baik saja."
Alex masuk bersama mama Mia. Ia sudah menyerahkan hasil visum dan keterangan dari Rara kepada polisi agar bisa segera memproses Jodi.
Mama Mia : "Mia sayang..."
Mama Mia menggenggam tangan Mia yang mulai bergerak. Mia mulai membuka matanya, pipinya terasa sakit.
Mia : "Aduh..."
Alex : "Sayang, apa yang sakit?"
Mama Mia : "Mia, apa yang sakit nak?"
Mia mengelus pipinya, ia menatap sekeliling ruangan berwarna putih itu.
Mia : "Rara?! Rara!!"
Rara : "Mah, aku disini."
Mendengar suara Rara, hati Mia sedikit tenang. Ia menoleh ke samping dan melihat Rara berjalan menghampirinya dipapah Arnold.
Rara : "Mamah..."
Rara kembali menangis, ia memeluk erat Mia yang kembali mengaduh.
Rara : "Maafin Rara, mah... Rara ceroboh..."
Mia : "Kamu gak pa-pa kan... Gak luka?"
Mia memeluk Rara dan mengusap rambutnya dengan sayang.
Alex yang melihat pemandangan itu semakin yakin kalau pilihannya dari awal tidak salah. Mia sanggup mengorbankan dirinya untuk keluarganya.
Alex semakin mencintai Mia.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
--------