Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 48


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 48


“Kaori, sini, sayang. Kita istirahat disini dulu  ya,” pinta Ken.


“Tapi masih rame di luar, Ken. Nggak enak,” kata Kaori.


Melihat pose Ken yang cukup menggodanya, Kaori mau tidak mau berjalan mendekati suaminya itu. Ia bisa melihat lebih jelas ketika jarak mereka hanya tinggal sejengkal saja. Ken duduk di atas tempat tidur kecil di


ruang kerja itu dengan tangan terentang ke depan. Grep! Ken memeluk Kaori dengan erat, saat tubuh istrinya itu sudah duduk dipangkuannya.


Kali ini tanpa rasa takut ataupun kuatir kalau mereka akan kebablasan menuju tahap berikutnya. Kaori bersandar pada dada bidang Ken, mendengarkan detak jantung suaminya yang sedikit cepat. Senyum


mengembang di bibir Kaori, ia ingin menggoda Ken.


“Sayang, kok kamu deg-degan sich? Lagi mikirin apa?” tanya Kaori sambil memutar-mutar telunjuknya di dada Ken.


“Gimana nggak deg-degan, sayang. Tinggal beberapa jam lagi aku bisa ituin kamu. Boleh kan?” sahut Ken mulai genit.


“Gitu banget sich bahasanya, Ken. Kamu mau ngapain aku? Hmm...?” tanya Kaori masih menggoda Ken.


Ken menunduk ingin mengecup leher Kaori, tapi bunga melati yang menjuntai di pundak Kaori, menghalangi bibir Ken untuk mendekat.


“Haduh, kalo nggak inget masih banyak orang di luar, udah aku buka nich semua aksesoris di kepala sama badan kamu. Ini pasti lama ngelepasnya ya,” tebak Ken.


Kaori tersenyum dan mengangguk. Mereka memang sudah


sah melakukan apa yang dipikirkan Ken. Tapi entah kenapa Kaori merasa sangat


tenang. Mungkin karena sebelum menikah, Kaori sudah mempersiapkan dirinya untuk


Ken.


“Kaori, kita sudah menikah sekarang. Aku mau bilang


kalau seharusnya kita saling jujur satu sama lain, tidak ada rahasia. Tapi...


aku menyimpan satu rahasia. Aku janji, kalau waktunya sudah tepat nanti, aku


akan mengatakan semuanya sama kamu, sayang,” ucap Ken sambil mengeratkan


pelukannya.


“Rahasia apa sich? Kayaknya penting banget. Kamu


udah punya anak?” tanya Kaori mencoba memancing Ken untuk bicara.


“Belum lah. Kita belum buat, kapan punya anaknya?


Ini rahasia yang belum bisa aku kasih tahu sekarang. Please, sayang. Sabar ya.


Waktunya sebentar lagi kok,” bujuk Ken takut kalau Kaori sampai marah padanya.


Kaori mencoba memahami kalau Ken juga ingin punya


privasi dan Ken memberitahunya seperti itu agar mereka tidak punya keterbukaan


satu sama lain. Masalahnya, Kaori jadi penasaran dengan rahasia yang dimiliki


Ken.


“Kalo aku ngambek, trus kita nggak jadi malam


pertama, kamu mau ngasi tahu rahasiamu sekarang nggak?” tanya Kaori sedikit


mengancam.


Ken terdiam, ia mulai bimbang. Masalahnya kalau Ken


jujur pada Kaori tentang dia adalah putra kandung Alex dan Mia, istrinya itu


pasti bertanya tentang status Renata. Ken mulai penasaran bagaimana reaksi


Kaori kalau sampai tahu ternyata Renata adalah adik kandungnya. Apakah akan


sama dengan reaksinya dulu saat tahu kalau dia adalah putri kandung Endy dan


Kinanti.


Melihat Ken bengong saja, Kaori mencium bibir


suaminya itu. Ken yang terprovokasi mulai mengikuti permainan yang dimulai


Kaori. Meskipun belum bisa membuka pakaian mereka, tangan Ken sudah mulai aktif


menyentuh bagian tubuh Kaori. Sedang asyik berciuman, tiba-tiba ada yang


membuka pintu ruang kerja.


“Kaori!” panggil Renata. Mata gadis itu langsung


melotot kaget melihat Ken dan Kaori sedang asyik bercumbu. “Oh, astaga, maaf!!”


jerit Renata kaget. Gadis itu menutup matanya, tapi berjalan masuk ke dalam


ruang kerja.


Ken dan Kaori saling pandang bingung melihat Renata


berjalan masuk bersama Reynold. Ken kembali memonyongkan bibirnya, ia belum


puas mencium Kaori. Tapi Kaori dengan cepat menutup bibir suaminya itu dengan


tangannya.


“Ada apa, aunty?” tanya Kaori tenang.


Bukannya menjawab, Renata malah berjalan


mondar-mandir di depan Kaori dan Ken yang masih betah duduk dalam posisi mesra.


Ken yang lebih tertarik menciumi telinga Kaori, tidak terlalu mempedulikan


kegalauan Renata.


“Diem dulu, Ken. Aunty Renata kenapa mondar-mandir


gitu? Ada yang ilang?” tanya Kaori ikutan melihat kebawah.

__ADS_1


Reynold yang geli melihat sikap sok mesra Ken pada


Kaori, melempar kacang yang dibawanya ke arah suami Kaori itu. Ken mengerdikkan


kepalanya kearah Reynold seolah bertanya apa yang terjadi pada Renata. Reynold


hanya mengatakan kata galau tanpa suara.


“Aunty! Ada cicak di bawah!” teriak Ken tiba-tiba.


Renata yang terkejut, refleks melompat keatas tubuh


Reynold yang masih berdiri di dekatnya. Untung saja Reynold sigap menangkap


tubuh Renata. Kalau tidak, mereka berdua mungkin sudah celaka. Tapi akibatnya,


kacang yang dipegang Reynold jadi berhamburan di lantai.


“Mana??!! KEENNN, MANA ADA CICAK DI BAWAH!!” pekik


Renata menggelagar.


“Ada kok. Kalo lagi jatuh kan cicaknya dibawah,”


sahut Ken sambil memeletkan lidahnya.


Renata mendengus kesal, ia selalu bilang kalau dia


tidak suka cicak. Gadis itu geli melihat binatang itu dan selalu parno kalau


ada yang mengatakan kata cicak. Reynold yang ketiban rejeki bisa memeluk


Renata, cuma cengar-cengir mesum sambil tetap menggendong gadis itu.


Ken tentu saja tidak mau kalah, ia meraih dagu


Kaori lalu mencium istrinya tanpa malu. Kaori sampai mencubit lengan Ken karena


malu dilihat Renata dan Reynold.


“Apa sich, yang? Aku kan nyium ISTRIku sendiri,”


kata Ken memanas-manasi Reynold.


Pria itu langsung cemberut melihat Ken bisa mencium


Kaori dengan bebas. Reynold melirik Renata yang segera turun dari gendongannya.


Gadis itu menarik nafas panjang sebelum mulai bicara serius.


“Aku harus tahu apa yang terjadi. Apa maksud ucapan


nenek Almira tadi? Ken, kau harus jelaskan semuanya sama kami. Apa semua itu


benar? Pernikahan kalian nggak sah dong kalau itu benar. Kalian bersaudara,


kakak beradik. Tidak sepantasnya menikah,” cerocos Renata tanpa bernafas.


Kaori sudah hampir bicara, tapi Ken menahannya. Ken


ingin memastikan apa yang sebenarnya sudah di dengar Renata. “Aunty tenang dulu


“Aku nggak denger semuanya sich. Cuma bagian terakhir


yang nenek Almira bilang kalau Kaori harus dinikahkan oleh tuan Endy. Kaori,


apa ini beneran? Oh, astaga,” kata Renata sambil mendekat pada Kaori.


Ken mengangguk pada Kaori yang menatapnya minta


pertimbangan. Akhirnya Kaori juga mengangguk membenarkan apa yang didengar


Kaori. Memang benar kalau Kaori adalah putri kandung Endy dan Kinanti. Dengan


kata lain, Kaori adalah cucu kandung kakek Martin dan nenek Almira.


“Jadi, kalian bersaudara kandung kan?” tanya Renata


ragu-ragu.


Sejujurnya gadis itu juga bingung kenapa Ken dan


Kaori terlihat sangat tenang. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Melihat


Renata kebingungan, Ken akhirnya mengatakan kalau dia bukan anak kandung Endy


dan Kinanti.


“Kok bisa?” tanya Renata masih ragu.


“Ya, bisa. Mereka hanya ingin mendapatkan warisan


kakek Martin. Tapi semua itu sudah berlalu. Yang penting sekarang, aku sudah


bahagia dengan Kaori,” ucap Ken tidak mau membahas luka di hati Kaori.


Renata yang masih ingin bertanya, juga memilih diam


ketika menatap Kaori. Pasti berat rasanya menerima kenyataan seperti itu.


Padahal Renata ingin sekali tahu apa yang terjadi dengan hubungan antara Kaori


dan orang tua kandungnya sekarang.


“Aku sudah memutuskan hubungan dengan mereka,


aunty. Sekarang aku adalah putri dari papa Rio dan cucu dari opa Alex. Hanya


itu,” sahut Kaori seolah bisa membaca pikiran Renata.


“Dan juga istri Ken Wiranata, tentu saja,” sambar


Ken sambil memeluk Kaori erat-erat.


Suasana yang tadinya sempat tegang, mulai mencair


ketika Ken menggoda Reynold agar segera menikahi Renata. Tentu saja Renata tahu

__ADS_1


kalau Ken hanya bercanda, tapi reaksinya agak sedikit berlebihan menurut Ken.


“Apaan sich?! Siapa juga yang mau menikah sekarang.


Aku masih mau kerja, mau cari duit dulu. Nikah, nikah. Emangnya nikah nggak


pake duit,” sembur Renata galak.


“Kalo aunty nikah sama Reynold, kan nggak usah mikirin


duit. Biarin dia yang cari. Reynold kan laki-laki, pria sejati,” sahut Ken


dengan mimik wajah mengejek.


“Jangan ngaco dech, Ken. Kak Rey kan keponakanku.


Gimana sich?” sahut Renata lagi.


“Kalau bukan, mau nggak nikah sama Reynold?” tanya


Ken cepat.


Renata langsung terdiam, ia melirik Reynold yang


balas meliriknya. Kedua jempol Reynold teracung di samping tubuhnya, memberi


tanda pada Ken kalau ia sangat senang mendengar pertanyaan Ken pada Renata. Dalam


pandangan Ken, pria itu mengatakan kalau semua itu nggak gratis. Ken akan


membuat tagihan yang sangat panjang untuk Reynold, termasuk pajaknya juga.


“Jawab dong, aunty. Aku nanya, ya harus dijawab.


Gimana sich?” protes Ken menekan Renata.


“Itu... mungkin mau... eh, apa sich?! Kak Rey kan


mau cari pacar. Ya kan, kak?” tanya Renata minta dukungan Reynold.


Reynold tidak menjawab, hanya mengangkat kedua


tangannya menutup telinganya sendiri. Ia tidak mau mendengar atau mengiyakan


pertanyaan Renata barusan.


“Nah, loh. Reynold nggak mau jawab, berarti ada


sesuatu nich. Jadi aunty beneran mau sama Reynold kalau dia bukan keponakan


aunty?” tanya Ken malah mempertegas kata-katanya tadi.


Kaori juga jadi bingung kenapa Ken bertanya hal-hal


seperti itu. Meskipun bingung, Kaori tetap diam sambil fokus memperhatikan reaksi


Renata dan Reynold. Kalau Kaori berkonsentrasi, ia bisa melihat dengan jelas


apa yang sedang terjadi di depannya.


Wajah Renata jelas-jelas terlihat kebingungan


menjawab pertanyaan Ken. Akhirnya Renata menyerah dan mengatakan akan menikah


dengan Reynold kalau pria itu bukan keponakannya. Reynold tersenyum puas


mendengar jawaban Renata. Meskipun ia menulikan telinganya ketika mendengar


bagian tentang ‘bukan keponakannya’. Artinya, Renata juga melihat dirinya


sebagai seorang pria yang baik dan pantas untuk mendampingi gadis cantik itu.


“Jadi aku masuk kategori nich?” tanya Reynold


girang.


“Iya. Tapi kan nggak mungkin. Bukan itu juga


fokusnya. Ini kenapa jadi ngbahas aku sich? Kak Rey tuch yang harusnya nikah


duluan,” kata Renata mulai merasa tidak nyaman.


“Loh kan, kak Rey bisa nikah sama aunty Renata,”


celetuk Kaori membuat Renata melotot padanya.


“Apa kamu bilang??!!” lengking Renata sambil


mendekati Kaori dan Ken lalu duduk diantara mereka berdua.


Ken terpaksa bangun dari duduknya daripada tidak


sengaja menyenggol tubuh Renata. Bisa-bisa ditonjok Reynold nanti. Pria itu


mendekati Reynold dan berbisik tentang persenan. Ken menghitung setidaknya ia


harus mendapatkan uang setara dengan harga satu unit mobil keluaran terbaru


karena berhasil membuat Renata mengatakan isi hatinya.


“Lo perhitungan amat, bro. Gue kasi paket honeymoon, gimana? First class. Ampe kalian berdua nggak bisa turun dari ranjang. Anggap


saja gue nyicil. Gue lunasin kalau gue sudah menikah sama Renata. Gimana? Deal?”


tanya Reynold.


Visual Kaori



Visual Ken



Visual Renata


__ADS_1


Visual Reynold



__ADS_2