
Rara menelpon Mia ketika liburan semester dimulai, saat itu Mia juga
sedang libur praktek kerja karena long weekend.
Rara : “Halo, kak. Kakak sibuk gak?”
Mia : “Halo, Rara. Gak juga aku lagi libur. Kenapa?”
Rara : “Kakak bisa ke rumah Rara, gak?”
Mia : “Ra, aku sudah pernah bilang aku gak bisa ke rumah kamu lagi.
Aku gak mau ketemu papa kamu. Di kantor aja kalau gak mendesak sekali waktu
itu, aku gak akan ketemu papamu. Aku baru tahu kalau perusahaan A itu punya
papamu.”
Rara : “Tapi Rara sendirian di rumah, kak. Yang lainnya uda pergi
liburan duluan.”
Mia : “Kenapa kamu gak ikut?” nada suara Mia mulai curiga.
Rara : “Rara mau ikut juga kok, tapi berangkat belakangan. Soalnya
Rara masih ada tugas yang belum selesai dan harus selesai hari ini juga. Tolong
Rara, kak.”
Mia : “Kirim aja via WA, Ra. Aku bantu jawabnya.”
Rara : “Kakak kesini aja dech bentar. Tugasku banyak jadi bingung
gimana jelasinnya lewat WA. Beneran di rumah sepi nich.”
Mia : “Ya, uda dech. Aku kesana sekarang, tapi aku gak mau lama-lama
ya.”
Rara : “Iya, kak. Makasih banyak ya kak.”
Mia : “Iya, iya…”
Mia mengganti pakaiannya dengan tank top hitam ketat dan span jeans.
Ia menutupi tubuh bagian atasnya dengan cardigan putih. Motornya sedang
dipinjam sepupunya, jadi Mia berangkat naik taxi online.
Beberapa waktu kemudian, Mia tiba di depan rumah Rara. Ia menatap
rumah yang tampak sepi, yang sangat ia rindukan juga, entah sudah berapa bulan
ia tidak pernah kesini lagi.
Mia menekan bel pintu rumah Rara, dan Rara keluar membuka pintu
gerbang.
Rara : “Maaf ya kakak repot-repot kesini.”
Mia : “Gak pa-pa, Ra. Biar tugasmu cepat selesai.”
Rara dan Mia masuk ke dalam rumah, Mia memilih duduk di ruang tamu,
Mia : “Aku duduk sini aja ya. Cepat ambilkan tugasmu.”
Rara : “Iya, kak. Aku ambil minuman dulu. Tugasku sudah kuturunkan
tadi.”
Mia menunggu sambil memainkan jemarinya, perasaannya benar-benar tidak
nyaman kembali ke rumah itu. Tapi tidak mungkin Rara berbohong karena rumah itu
memang terlihat sepi, bahkan tidak terlihat ada mobil di garasi rumah.
Bruk! Tiba-tiba terdengar suara benda besar yang jatuh dan teriakan
Rara,
Rara : “Aaaaoooowwww… adduhhh!!”
Mia : “Rara??!! Kamu dimana?”
Mia berlari ke dapur tapi tidak ada siapapun disana, rintihan Rara
terdengar dari kamar Alex. Cepat-cepat Mia mendorong pintu yang sedikit terbuka
dan masuk ke dalamnya. Suara Rara terdengar dari sisi ranjang Alex, tapi Mia
tidak melihat siapapun disana.
Brak! Klik! Pintu kamar Alex tertutup rapat dan dikunci, bulu kuduk
__ADS_1
Mia meremang, disana didepan pintu kamarnya yang sudah tertutup, Alex berdiri
menatapnya tajam. Tubuh Mia terasa kaku dan gemetar, ia sangat takut karena
Rara ada di rumah itu juga. Tapi hasratnya menggebu melihat Alex berjalan
mendekatinya.
Perang antara hasrat dan akal sehat Mia, membuatnya diam mematung.
Yang manakah yang akan menang?
Alex : “Mia…”
Alex melumat bibir manis Mia, merengkuh tubuhnya dalam pelukan yang
hangat dan sangat mereka rindukan. Tubuh Mia merespon sentuhan Alex dan mulai
melingkarkan tangannya ke leher Alex. Alex terus mencium bibir Mia, lidahnya
menyapu rongga mulut Mia semuanya tanpa terlewatkan.
Tangan Alex menarik cardigan yang menutup tubuh Mia dan melemparkannya
ke bawah. Ia merasakan tangan Mia meraba kancing kemejanya dan mulai membukanya
satu persatu, tapi Alex tidak sabar menarik kemejanya hingga terbuka dan
melemparkannya sembarangan.
Alex : “Katakan kau rindu padaku.”
Mia : “Aku sangat rindu kamu.”
Alex : “Katakan kau mencintaiku.”
Mia : “Aku sangat mencintaimu, sayang kamu…”
Alex : “Sebut namaku?”
Mia : “Alex, aku mencintaimu…”
Deg! Mata Mia terbuka lebar, ia terkejut melihat keadaannya dengan
kedua tangan dipegang Alex. Alex mengagumi keindahan wanita di pangkuannya,
dengan wajah memerah, dan bibir basah yang sensual.
Mia : “Maass… lepas…”
sehatnya tiba-tiba aktif lagi. Suara yang sangat sexy terdengar oleh Alex,
Alex : “Kau sangat cantik, sayang. Sangat sexy… Aku mencintaimu, Mia.”
Mia : “Lepas tanganku, mas. Aku malu.”
Alex mengendurkan pegangannya pada tangan Mia. Alex memeluk Mia,
mengecup daun telinganya.
Alex : “Mia, kenapa kau terus menghindariku?”
Mia : “Hubungan kita gak bisa diteruskan lagi, mas. Rara gak setuju…
Rara??!! Mas, aku harus keluar, Rara ada disini…”
Alex : “Rara sudah pergi menyusul si kembar. Dia yang memintaku
menyelesaikan masalah diantara kita.”
Mia : “Ma… maksud mas?”
Alex : “Rara mengijinkan aku menikah lagi.”
Mia : “Hubungannya denganku apa?”
Alex : “Rara ingin kita menikah, Mia. Dia sangat membutuhkanmu sebagai
teman, sahabat, kakak, dan yang terpenting jadi ibunya.”
Mia : “Hanya itu? Aku kan bisa jadi baby sister-nya, gak harus nikah
sama mas.”
Alex : “Kita lanjutkan yang tadi ya, biar kamu bisa serius sedikit.” Alex
mengangkat tubuh Mia dan membaringkannya ke atas ranjang,
Mia : “Mas…!! Ampun, aku gak ngomong lagi… Jangan, mas…”
Alex : “Harus diancem dulu ya, baru nurut. Malam pertama nanti, aku
akan membuatmu menjerit, sayang.”
Mia : “Mas..!! Aku gak percaya Rara mau kita nikah.”
__ADS_1
Alex : “Aku bisa v-call Rara sekarang.” Alex mengambil HP-nya dan
bersiap menelpon.
Mia : “Mas pakai bajunya juga. Aku tunggu di luar ya.”
Alex : “Pakein dong.”
Mia menggeleng, ia berjalan cepat ke pintu dan membuka kuncinya. Kemudian
duduk di ruang tamu tempat tasnya tergeletak disana tadi.
Alex menyusul dan duduk di samping Mia, memulai v-call dengan Rara.
Ada si kembar dan nenek juga disana.
Alex : “Hai, kalian sedang apa?”
Rara : “Lagi santai, pah habis berenang tadi. Papa udah ngobrol sama
kak Mia?”
Alex : “Gak cuma ngobrol… Addaooww!”
Mia mencubit pinggang Alex yang mulai iseng, ia mengarahkan kamera ke
wajahnya,
Mia : “Ra, aku mau tanya, tadi papamu bilang kalau…” Mia bingung
gimana cara ia bertanya pada Rara, tapi sepertinya Rara mengerti apa yang ingin
ia katakan,
Rara : “Rara mau kak Mia jadi mama Rara.”
Rio & Riri : “Mama? Kak Mia jadi mama kita? Mau..! Mau..! Ini gak
bohong kan?”
Mia : “Rara yakin?”
Rara : “Kalau kak Mia gak bisa jadi mama Rara, gak ada satu wanita pun
di dunia ini yang bisa.”
Nenek : “Mia, lihatlah anak-anak ini sangat mengharapkan Mia jadi mama
mereka. Gak usah Mia lihat Alex ya, meski sudah om-om gitu.”
Alex : “Bu…!! Gini-gini Alex masih bisa buat Mia… Hmmmpp…”
Mia menutup mulut Alex yang mulai bicara aneh-aneh, takut terdengar
Rara dan si kembar.
Mia : “Mia sich mau aja jadi mamanya anak-anak, nek.”
Nenek : “Panggil ibu, nak. Ibu senang sekali mendengarnya. Alex, besok
kita ke rumah Mia untuk membicarakan ini.”
Mia : “Ke rumah?” Mia mulai tegang lagi, alamat digantung mama nich
kalau minta kawin sekarang.
Alex : “Kenapa, Mia? Kamu gak mau aku lamar?”
Mia : “Mama belum tahu, kalau tiba-tiba kesana, aku bisa digantung.”
Rara : “Rara juga ikut besok, kak. Mmm… boleh manggil mama kan?”
Mia : “Iya, boleh.”
Rara : “Mama..”
Rio & Riri : “Mama…!!”
Mia tersenyum manis ke semua orang, hatinya merasa sangat lega
sekaligus takut kalau mamanya mungkin tidak akan setuju.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini,
jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan
IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------
__ADS_1