
DM2 – Jadi penguntit
“Apa?!”teriak Rara dan Riri berbarengan.
“Tapi...” keduanya saling menatap sebelum tertawa bersama karena kompak mengatakan
hal yang sama.
“Malah bercanda, serius nich. Pasti Katty
tau sesuatu tentang Kinanti.”sambung Mia lagi.
“Mungkin ya, mungkin tidak. Setahuku, sejak
mulai bisa nyari uang sendiri, Katty sudah tinggal sendirian. Aku sudah pernah
bertanya tentang paman atau bibinya dan yang kutahu cuma tante Anisa, istrinya
Guntur.”jelas Jodi.
“Aneh, bisa kamu bantu selidiki kan, Jodi?”tanya
Mia.
“Aku coba ya. Kalau sampai Elo gak bisa
nyari, kemungkinannya cuma dua, Kinanti beneran beruntung atau ada seseorang
yang kuat di belakangnya.”
“Apa mungkin Endy?”tanya Mia lagi.
“Siapa Endy?”tanya Jodi cepat.
“Itu yang harus kamu cari tahu, Gadis
sempat mendengar Kinanti memanggil nama itu kemarin malam. Sepertinya Kinanti
sering bicara dengan yang namanya Endy ini.”
“Tambah menarik. Dari dulu paling suka dech
kalau harus jadi detektif kayak gini.”ujar Jodi bersemangat.
“Harusnya dia kerja jadi polisi atau
detektif.”kata Rara. “Kalo uda disuruh beginian, gercep.”
Ketiga wanita itu mengangguk-angguk melihat
Jodi sibuk menelpon seseorang yang memberi kabar padanya dengan cepat.
“Apa?! Kamu yakin?”kening Jodi mengkerut
mendengar jawaban dari penelponnya. “Ach, sialan! Ga becus!”lengking Jodi
membuat kaget Ello.
“Huaaa!!!”jerit tangis Ello langsung
memekakkan telinga.
Mia dan Riri sontak bangun sibuk menenangkan
Ello yang tidak mau tenang juga. “Kak, jangan teriak-teriak gitu.”tegur Rara.
“Iya, maaf. Ello, diem ya. Nanti om beliin
es krim.”ucap Jodi sambil dadah-dadah ke arah Ello.
“E cim (es krim)?”anak kecil itu langsung
diam, ia terus menatap Jodi dengan mata jernihnya yang berair.
“Anak pinter. Ayo, kita beli es krim.”ajak
Jodi.
“Eit, kakak mau kemana? Kakak belum cerita apa
yang orang itu bilang tadi.”cegah Rara.
“Ntar, kepalaku panas, mau ngadem dulu.”Jodi
mengajak pengasuh Ello dan body guard Riri pergi membeli es krim. Bisa berabe
kalau gak ngajak dua orang itu keluar.
Akhirnya sambil nunggu, Mia, Riri dan Rara
memilih rujakan dulu. Mia buat bumbu rujak, Riri ngupas buah, dan Rara membuat
minuman untuk mereka.
“Kalo ada Gadis lebih seru lagi nich.”ujar
Rara.
__ADS_1
“Iya sich. Tapi dia gak mau pergi dari Rio.
Disuruh makan aja susah banget. Belum lagi ngurus Rio, ngurus Kinanti juga.
Ngidamnya pengen makan macem-macem, udah dibuatin gak mau dimakan. Mama yang
gemes jadinya. Awas aja kalo sampe bukan anaknya Rio, mama bejek-bejek Kinanti.”
“Kalau bukan anaknya Rio, trus mama mau
ngapain anak itu?”tanya Rara.
“Anak tetep aja gak salah. Liat aja gimana
Kinanti nanti. Mau ngurus atau gak anaknya itu. Masih ada Gadis juga, kan. Kita
harus tanya dia juga.”tutur Mia.
Jodi kembali sambil menggendong Ello yang
belepotan es krim coklat. “Astaga, my baby belepotan. Mbak, tolong diganti
bajunya.”heboh Riri melihat putranya kotor.
“Pake kamar tamu sana mandiin sekalian.”tunjuk
Rara ke kamar yang paling dekat dengan mereka.
Pengasuh Ello mengambil Ello dari tangan
Jodi, lalu membawanya masuk ke kamar tamu bersama body guard yang membawa tas
milik Ello.
Jodi duduk, siap disidang tiga wanita yang
masih penasaran jawaban orang yang ditelpon Jodi. “Orang suruhanku bilang kalau
Endy itu orang khusus. Gak semua orang bisa sembarangan membuka file-nya.”
“Ini Endy yang dimaksud Gadis kan? Yang
kenal sama Kinanti?”tanya Mia.
“Ya, Endy ini teman SMA Kinanti. Mereka
sempat deket dulu tapi hanya sebatas teman. Setelah lulus sekolah, mereka gak
pernah keliatan bersama lagi.”
“Akses ke file dia aja gak bisa, gimana mau
punya fotonya. Tapi cuma Endy ini yang paling deket hubungannya dengan Kinanti
sampai sejauh ini. Kalau mereka kerja sama, Rio benar-benar dalam masalah
besar.”
Ketiga wanita itu bersandar di sofa,
menghembuskan nafas kesal. “Elo nyerah, Jodi juga nyerah. Minta tolong sapa
lagi?”Mia mengeluh sambil memijat kepalanya yang pening.
“Andai kita kenal orang yang jadi detektif
beneran, gak abal-abal kayak kak Jodi.”gumam Riri.
Mia dan Rara saling pandang. “Bianca!”pekik
keduanya bersamaan.
Mia langsung mengambil ponselnya,
membiarkan Riri dan Jodi kebingungan.
“Halo, Bianca. Bisa aku minta tolong?”pinta
Mia.
“Ya, minta tolong apa?”
Mia meminta Bianca mencari tahu tentang
Kinanti dan Endy, “Kinanti? Sekretarisnya Rio? Tapi kenapa?”tanya Bianca balik.
“Ceritanya panjang. Bisa kamu minta X buat
nyari tahu? Kinanti dan Endy teman satu SMA dulu.”
“Okey, kamu berhutang penjelasan Mia. Aku
kabarin secepatnya.”
“Thanks ya. Aku traktir sambil rumpi cantik
ya.”
__ADS_1
“Sip, bos.”
Mia menutup telponnya, ia menatap Riri dan
Jodi yang masih melotot padanya. “Kenapa kalian ngeliatin kayak gitu?”tanya Mia
bingung.
“Siapa X, mah?”
“Lah, bukannya kamu pernah ketemu di rumah
waktu dia dateng sama Bianca?”
Riri mencoba mengingat tapi sia-sia. Ya iya
lah, X itu seperti Dion, suka ngilang gitu aja. Mau dicari dalam satu frame
adegan, pasti gak ketemu.
“Gak inget, mah. Dia bisa bantu kita?”
“Ya, semoga aja. Eh, udah siang nich.
Anak-anak harusnya udah pulang. Mama pulang dulu ya. Nanti mama kabarin kalo
Bianca telpon.”
Mia beranjak pergi dari rumah Rara setelah
basa-basi pamitan dengan semuanya yang masih tetap tinggal disana. Jodi juga
ikutan pamit karena merasa urusannya sudah beres dengan Mia. Ia menawarkan
tumpangan pada Mia yang tadi datang naik ojol. Keduanya masuk ke dalam mobil,
siap meluncur kembali ke rumah Alex.
“Gimana kabar Katty?”tanya Mia basa-basi.
“Baik. Sepertinya dia ingin punya anak
lagi.”
“Oh, bukannya Jordan sudah besar, bisa
nambah anak lagi dong.”
“Ya sich, masalahnya Keira ingin punya adik
kembar. Mia gimana caranya bisa punya anak kembar?”tanya Jodi sambil memutar
setir sedikit ketika tiba di belokan ke rumah Alex.
“Harus ada gen kembar dong. Emangnya
keluargamu punya gen kembar?”tanya Mia.
“Nggak ada sich. Eh, sudah sampai.”ucap
Jodi.
Saat hampir sampai di depan rumah Alex, Mia
meminta Jodi menghentikan mobil perlahan di depan rumah tetangganya. Ia melihat
Kinanti keluar dari rumah, lalu masuk ke sebuah mobil yang sudah parkir di
seberang jalan.
“Itu Kinanti. Mau kemana dia?”tunjuk Mia.
“Hmm, apa kita ikutin dia?”
“Kamu gak sibuk? Kalau gitu cepat ikutin.”perintah
Mia.
“Siap, bos. Tapi kasi tau om Alex dulu.
Ntar aku disangka bawa lari istrinya lagi.”
“Iya, cepetan ikutin. Jangan sampai
ketinggalan.”
Jodi mengemudikan mobilnya mengikuti mobil
yang membawa Kinanti dalam jarak aman. Mia mengirimkan pesan pada Alex kalau ia
sedang menguntit Kinanti bersama Jodi.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1