Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Jadi penguntit


__ADS_3

DM2 – Jadi penguntit


“Apa?!”teriak Rara dan Riri berbarengan.


“Tapi...” keduanya saling menatap sebelum tertawa bersama karena kompak mengatakan


hal yang sama.


“Malah bercanda, serius nich. Pasti Katty


tau sesuatu tentang Kinanti.”sambung Mia lagi.


“Mungkin ya, mungkin tidak. Setahuku, sejak


mulai bisa nyari uang sendiri, Katty sudah tinggal sendirian. Aku sudah pernah


bertanya tentang paman atau bibinya dan yang kutahu cuma tante Anisa, istrinya


Guntur.”jelas Jodi.


“Aneh, bisa kamu bantu selidiki kan, Jodi?”tanya


Mia.


“Aku coba ya. Kalau sampai Elo gak bisa


nyari, kemungkinannya cuma dua, Kinanti beneran beruntung atau ada seseorang


yang kuat di belakangnya.”


“Apa mungkin Endy?”tanya Mia lagi.


“Siapa Endy?”tanya Jodi cepat.


“Itu yang harus kamu cari tahu, Gadis


sempat mendengar Kinanti memanggil nama itu kemarin malam. Sepertinya Kinanti


sering bicara dengan yang namanya Endy ini.”


“Tambah menarik. Dari dulu paling suka dech


kalau harus jadi detektif kayak gini.”ujar Jodi bersemangat.


“Harusnya dia kerja jadi polisi atau


detektif.”kata Rara. “Kalo uda disuruh beginian, gercep.”


Ketiga wanita itu mengangguk-angguk melihat


Jodi sibuk menelpon seseorang yang memberi kabar padanya dengan cepat.


“Apa?! Kamu yakin?”kening Jodi mengkerut


mendengar jawaban dari penelponnya. “Ach, sialan! Ga becus!”lengking Jodi


membuat kaget Ello.


“Huaaa!!!”jerit tangis Ello langsung


memekakkan telinga.


Mia dan Riri sontak bangun sibuk menenangkan


Ello yang tidak mau tenang juga. “Kak, jangan teriak-teriak gitu.”tegur Rara.


“Iya, maaf. Ello, diem ya. Nanti om beliin


es krim.”ucap Jodi sambil dadah-dadah ke arah Ello.


“E cim (es krim)?”anak kecil itu langsung


diam, ia terus menatap Jodi dengan mata jernihnya yang berair.


“Anak pinter. Ayo, kita beli es krim.”ajak


Jodi.


“Eit, kakak mau kemana? Kakak belum cerita apa


yang orang itu bilang tadi.”cegah Rara.


“Ntar, kepalaku panas, mau ngadem dulu.”Jodi


mengajak pengasuh Ello dan body guard Riri pergi membeli es krim. Bisa berabe


kalau gak ngajak dua orang itu keluar.


Akhirnya sambil nunggu, Mia, Riri dan Rara


memilih rujakan dulu. Mia buat bumbu rujak, Riri ngupas buah, dan Rara membuat


minuman untuk mereka.


“Kalo ada Gadis lebih seru lagi nich.”ujar


Rara.

__ADS_1


“Iya sich. Tapi dia gak mau pergi dari Rio.


Disuruh makan aja susah banget. Belum lagi ngurus Rio, ngurus Kinanti juga.


Ngidamnya pengen makan macem-macem, udah dibuatin gak mau dimakan. Mama yang


gemes jadinya. Awas aja kalo sampe bukan anaknya Rio, mama bejek-bejek Kinanti.”


“Kalau bukan anaknya Rio, trus mama mau


ngapain anak itu?”tanya Rara.


“Anak tetep aja gak salah. Liat aja gimana


Kinanti nanti. Mau ngurus atau gak anaknya itu. Masih ada Gadis juga, kan. Kita


harus tanya dia juga.”tutur Mia.


Jodi kembali sambil menggendong Ello yang


belepotan es krim coklat. “Astaga, my baby belepotan. Mbak, tolong diganti


bajunya.”heboh Riri melihat putranya kotor.


“Pake kamar tamu sana mandiin sekalian.”tunjuk


Rara ke kamar yang paling dekat dengan mereka.


Pengasuh Ello mengambil Ello dari tangan


Jodi, lalu membawanya masuk ke kamar tamu bersama body guard yang membawa tas


milik Ello.


Jodi duduk, siap disidang tiga wanita yang


masih penasaran jawaban orang yang ditelpon Jodi. “Orang suruhanku bilang kalau


Endy itu orang khusus. Gak semua orang bisa sembarangan membuka file-nya.”


“Ini Endy yang dimaksud Gadis kan? Yang


kenal sama Kinanti?”tanya Mia.


“Ya, Endy ini teman SMA Kinanti. Mereka


sempat deket dulu tapi hanya sebatas teman. Setelah lulus sekolah, mereka gak


pernah keliatan bersama lagi.”


“Akses ke file dia aja gak bisa, gimana mau


punya fotonya. Tapi cuma Endy ini yang paling deket hubungannya dengan Kinanti


sampai sejauh ini. Kalau mereka kerja sama, Rio benar-benar dalam masalah


besar.”


Ketiga wanita itu bersandar di sofa,


menghembuskan nafas kesal. “Elo nyerah, Jodi juga nyerah. Minta tolong sapa


lagi?”Mia mengeluh sambil memijat kepalanya yang pening.


“Andai kita kenal orang yang jadi detektif


beneran, gak abal-abal kayak kak Jodi.”gumam Riri.


Mia dan Rara saling pandang. “Bianca!”pekik


keduanya bersamaan.


Mia langsung mengambil ponselnya,


membiarkan Riri dan Jodi kebingungan.


“Halo, Bianca. Bisa aku minta tolong?”pinta


Mia.


“Ya, minta tolong apa?”


Mia meminta Bianca mencari tahu tentang


Kinanti dan Endy, “Kinanti? Sekretarisnya Rio? Tapi kenapa?”tanya Bianca balik.


“Ceritanya panjang. Bisa kamu minta X buat


nyari tahu? Kinanti dan Endy teman satu SMA dulu.”


“Okey, kamu berhutang penjelasan Mia. Aku


kabarin secepatnya.”


“Thanks ya. Aku traktir sambil rumpi cantik


ya.”

__ADS_1


“Sip, bos.”


Mia menutup telponnya, ia menatap Riri dan


Jodi yang masih melotot padanya. “Kenapa kalian ngeliatin kayak gitu?”tanya Mia


bingung.


“Siapa X, mah?”


“Lah, bukannya kamu pernah ketemu di rumah


waktu dia dateng sama Bianca?”


Riri mencoba mengingat tapi sia-sia. Ya iya


lah, X itu seperti Dion, suka ngilang gitu aja. Mau dicari dalam satu frame


adegan, pasti gak ketemu.


“Gak inget, mah. Dia bisa bantu kita?”


“Ya, semoga aja. Eh, udah siang nich.


Anak-anak harusnya udah pulang. Mama pulang dulu ya. Nanti mama kabarin kalo


Bianca telpon.”


Mia beranjak pergi dari rumah Rara setelah


basa-basi pamitan dengan semuanya yang masih tetap tinggal disana. Jodi juga


ikutan pamit karena merasa urusannya sudah beres dengan Mia. Ia menawarkan


tumpangan pada Mia yang tadi datang naik ojol. Keduanya masuk ke dalam mobil,


siap meluncur kembali ke rumah Alex.


“Gimana kabar Katty?”tanya Mia basa-basi.


“Baik. Sepertinya dia ingin punya anak


lagi.”


“Oh, bukannya Jordan sudah besar, bisa


nambah anak lagi dong.”


“Ya sich, masalahnya Keira ingin punya adik


kembar. Mia gimana caranya bisa punya anak kembar?”tanya Jodi sambil memutar


setir sedikit ketika tiba di belokan ke rumah Alex.


“Harus ada gen kembar dong. Emangnya


keluargamu punya gen kembar?”tanya Mia.


“Nggak ada sich. Eh, sudah sampai.”ucap


Jodi.


Saat hampir sampai di depan rumah Alex, Mia


meminta Jodi menghentikan mobil perlahan di depan rumah tetangganya. Ia melihat


Kinanti keluar dari rumah, lalu masuk ke sebuah mobil yang sudah parkir di


seberang jalan.


“Itu Kinanti. Mau kemana dia?”tunjuk Mia.


“Hmm, apa kita ikutin dia?”


“Kamu gak sibuk? Kalau gitu cepat ikutin.”perintah


Mia.


“Siap, bos. Tapi kasi tau om Alex dulu.


Ntar aku disangka bawa lari istrinya lagi.”


“Iya, cepetan ikutin. Jangan sampai


ketinggalan.”


Jodi mengemudikan mobilnya mengikuti mobil


yang membawa Kinanti dalam jarak aman. Mia mengirimkan pesan pada Alex kalau ia


sedang menguntit Kinanti bersama Jodi.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2