
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 15
Ken akhirnya kembali ke negara A. Ia tidak punya
banyak waktu untuk tidur. Sampai di bandara, Ken langsung menuju ke perusahaan
kakek Martin. Pria tua itu juga sudah kembali ke perusahaan untuk mempersiapkan
pemindahan hak pengelolaan perusahaan pada Ken.
Sampai di kantor, Ken masuk seperti biasa lewat
lobby kantor. Ia menggunakan identitas karyawan biasa dan bukan cucuk dari
pemilik perusahaan. Tidak ada seorangpun yang mengenali Ken di perusahaan itu.
Mereka mengira kalau Ken hanya salah satu orang biasa yang beruntung bisa
bekerja di perusahaan kakek Martin.
Benar kata Alan, Endy melakukan sidak di perusahaan
itu tepat saat Ken duduk di mejanya. Ia berdiri bersama seluruh karyawan dan
membungkuk pada Endy ketika pria itu masuk ke department mereka. Endy hanya
melirik Ken tanpa menyapa putranya itu. Ken pun bersikap seolah Endy adalah
pemilik perusahaan dan bukan papanya.
Ternyata bukan hanya Endy yang melakukan sidak hari
itu, kakek Martin juga melakukannya. Dan saat melihat Ken membungkuk bersama
karyawan lain dan menyapanya dengan panggilan tuan besar, pria tua itu mengetuk
tongkatnya dengan keras. Sesuatu yang menunjukkan kalau ia sedang tidak puas
dengan sesuatu atau seseorang. Dengan ujung tongkatnya, kakek Martin menuding
Ken agar ikut dengannya.
Ken mengikuti kakek Martin kembali ke ruangannya di
lantai paling atas. Ia sudah bersiap akan dipukul lagi dengan tongkat. Tapi
yang dipanggil ternyata bukan hanya dirinya, tetapi juga jajaran manajer dan
juga staf ahli. Endy juga ada disana, duduk dengan tenangnya di sofa besar.
“Ken, apa yang kamu lakukan?” tanya kakek Martin.
“Tuan besar, saya tidak mengerti maksud, tuan
besar,” kata Ken bersikap hormat.
“Kenapa kamu bekerja di bagian staf? Seharunya kamu
disini, belajar caranya me-manage perusahaan. Siapa yang menempatkan kamu
disana?” tanya kakek Martin masih sabar.
Ken melirik Endy, atas perintah siapa lagi kalau
bukan papanya itu. Endy menyuruh Ken datang ke perusahaan dan memerintahkan
manager HRD menempatkan Ken di department yang sedang memerlukan karyawan. Ken
hanya menurut pada papanya, tidak berani mengatakan tentang jati dirinya.
Jajaran manager langsung menoleh pada manager HRD
yang sudah pucat pasi. Endy tidak mengatakan apa-apa saat menyuruhnya
menempatkan Ken di department mana saja. Sekarang setelah melihat reaksi tuan
besar, manager itu berpikir untuk segera mengemasi barang-barangnya dan pergi
dari kantor itu.
“Endy, papa sudah bilang untuk mengajari Ken cara
me-manage perusahaan. Apa begini cara kerjamu?!” tanya kakek Martin mulai
emosi.
“Pah, aku cuma ngajarin dia menghargai kenyamanan
yang dia sudah dapatkan selama ini. Apa aku salah? Ken harusnya bisa memulai
me-manage perusahaan dari bawah,” kata Endy membela dirinya.
Tok! Kakek Martin mengetuk tongkatnya ke lantai
dengan keras. Endy terdiam, ia masih ingin mendebat papanya, tapi Endy memilih
cara aman dengan diam saja. Kakek Martin menunjuk Ken, pria itu harus ikut
meeting dengannya mulai hari ini dan seterusnya. Ken juga harus ikut meeting dengan
Endy kalau ada meeting internal di perusahaan.
Ken sudah tahu schedule meeting internal perusahaan
setiap hari Jumat pagi dan meeting head manager setiap hari Senin pagi. Kakek
Martin sangat jarang ikut meeting, sebulan paling hanya empat sampai lima kali.
Sedangkan Endy selalu ikut meeting internal dan meeting head manager. Kalau ia
sedang tidak ada negara A, meeting akan tetap berlangsung dan Endy akan hadir
lewat conference call.
Kakek Martin mengusir Endy dan jajaran manager dari
__ADS_1
ruangannya. Ia tinggal berdua dengan Ken di dalam sana. Lagi-lagi kakek Martin
memukul lengan dan kaki Ken menggunakan tongkatnya. Pria itu tetap berdiri
tegak menahan rasa sakit di lengannya.
“Ken, kamu dilarang bersikap lemah seperti itu
disini. Ini perusahaan, bukan rumah. Kalau kamu bersikap lembek, menye-menye,
kamu akan dengan mudah dikalahkan Endy. Kamu ngerti?” tanya kakek Martin.
“Tapi, kek. Aku masih belajar, wajar kalau papa
menyuruhku kerja jadi staf,” kata Ken mencoba memberi kakek Martin pengertian.
“Menurutmu berapa lama lagi waktumu sampai usia
duapuluh tahun?” tanya kakek Martin.
Bukan hitungan tahun tapi hanya beberapa bulan
lagi, Ken akan memasuki usia duapuluh tahun. Pelatihannya yang terlalu keras, membuatnya
melupakan hari-hari bahagia yang seharusnya dimiliki seorang remaja pria. Ia
tidak punya teman selain anak-anak relasi bisnis papanya. Itupun hanya sekedar
mencari keuntungan antara sesama pebisnis.
“Tinggal enam bulan lagi, Ken! Kamu sadar apa yang
sedang dilakukan Endy sama kamu. Dia membuatmu tidak kompeten untuk
menggantikan kakek. Endy ingin kakek meragukan kamu sebagai calon pewaris
tunggal Martin Wiranata. Apa kamu tidak sadar dengan caranya?” kata kakek Martin.
Tentu saja Ken sadar dengan cari Endy, tapi
bagaimana bisa dia melawan sekarang? Ken belum punya cukup kekuatan untuk
melawan papanya. Meskipun terlihat santai dan tidak tegas, Endy bisa dan mampu
mengelola perusahaan kakek Martin dengan baik. Ken juga sadar kalau Endy hanya
ingin Kenzo yang menjadi pengganti kakek Martin mengelola perusahaan. Karena
itu ia belajar dan berlatih lebih keras dari yang diminta Endy.
“Kamu harus siap atau pembalasanmu tidak akan
pernah jadi kenyataan. Kakek tidak akan membantumu untuk itu, Ken,” kata kakek
Martin.
Ken mengangguk patuh, hanya dalam waktu enam bulan,
ia harus meyakinkan semua orang kalau ia pantas menjadi pengganti kakek Martin.
Mau seberapa sulitnya, Ken harus bisa melakukan itu.
Enam bulan kemudian,
H-1 sebelum ulang tahun Ken dan Renata. Keluarga
Alex sudah berkumpul di mansion Steven untuk merayakan ulang tahun Renata.
Fasilitas jet pribadi yang dimiliki Steven, membuat mereka bisa sampai dengan
cepat. Mia meminta secara khusus pada Reynold dan Steven agar mengijinkan pesta
ulang tahun Renata diadakan di mansion milik Steven. Reynold tentu saja
langsung setuju.
Sudah dua tahun terakhir ini, Renata kuliah di
kampus yang meluluskan Reynold dulu. Pria itu berhasil meyakinkan Renata untuk
kuliah dan tinggal bersamanya di negara A. Setiap sebulan sekali, Renata akan pulang
ke rumah Alex. Ia menghabiskan sehari dua hari disana sebelum kembali dengan
jet pribadi Steven.
Mia berencana akan meminta Ken datang kalau pria
itu bisa. Setidaknya jarak mereka lebih dekat dan Ken bisa datang
sewaktu-waktu. Tidak ada undangan lain yang akan datang karena Renata tidak
ingin mengundang teman-temannya di kampus. Ia akan mentraktir beberapa teman
yang ia anggap cukup dekat dengannya setelah pesta ulang tahunnya nanti.
Terlebih Mia mengatakan pada Renata kalau mungkin
Ken akan datang, jadi mereka bisa merayakan ulang tahun bersama-sama. Tentu
saja dua kue ulang tahun sudah disiapkan Mia untuk mereka berdua.
Sore itu beberapa orang khusus datang untuk
mendekorasi ruangan untuk pesta ulang tahun Renata. Tidak banyak hiasan yang
diinginkan Renata untuk pesta ulang tahunnya. Ia hanya ingin pesta kali ini
bisa berkumpul dengan keluarganya. Tumpukan kado sudah tampak menggunung di
atas meja yang sudah didekorasi dengan cantik. Besok, kue ulang tahun Renata
juga akan diletakkan di meja yang sama.
“Aunty, mau ditambah apalagi?” tanya Reynold saat
__ADS_1
Renata berkeliling bersamanya.
“Udah cukup, kak Rey. Eh, itu yang di halaman
samping kenapa?” tanya Renata.
Mereka berjalan mendekat, tampak beberapa orang
mendekorasi pinggiran kolam renang dengan banyak bunga dan juga lilin. Tulisan
besar ‘Happy Birthday for My Renata’ mulai terlihat di permukaan kolam renang
itu.
“Kak Rey, ini apa?” tanya Renata.
Reynold memeluk pinggang Renata dari belakang, ia
berbisik kalau seharusnya itu jadi kejutan untuk Renata, tepat jam duabelas
malam nanti. Tapi karena Renata sudah melihatnya, Reynold menanyakan pendapat
gadis itu.
“Pasti ada kejutan lainnya. Kak Rey mau bikin
apalagi?” tanya Renata yang tidak yakin kalau Reynold hanya menyiapkan kejutan
seperti ini.
Setiap tahun Reynold selalu memberiknya kejutan di
ulang tahun Renata. Ada-ada saja idenya sampai membuat Renata tidak bisa
berkata-kata dan merasa sangat bahagia. Reynold berkilah kalau kali ini tidak
ada kejutan lain selain yang ada di kolam renang itu. Renata hanya mengangguk
senang.
“Kalau aku punya pacar nanti, bisa romantis kayak
kak Rey, nggak ya?” tanya Renata sambil mempermainkan jemari Reynold yang
mendarat di pinggangnya.
“Aunty nggak boleh punya pacar. Cari suami aja yang
mapan dan super ganteng kayak aku,” kata Reynold percaya diri.
“Susah tau, kalo nggak kak Rey, siapa lagi cowok
yang cocok. Kriterianya tinggi banget,” kata Renata sambil memukul lengan
Reynold.
Gadis itu berbalik menghadap pria tampan di
depannya. Reynold mengajak Renata mojok di balik pilar besar di mansion Steven.
Renata tersenyum manis saat Reynold mengelus kepala dan rambutnya. Kecupan hangat
mendarat di kening Renata, gadis itu mengalungkan tangannya ke leher Reynold.
“Kak, kapan kakak cari pacar yang serius? Aku kan
nggak mungkin jadi pacar bohongan kakak terus-terusan.” Renata mengelus-elus
belakang kepala Reynold.
“Masalahnya nggak ada perempuan lain yang secantik
kamu, Renata. Dan nggak akan ketemu yang secantik kamu, gimana dong. Aku nggak
mau kalau bukan kamu,” kata Reynold sambil mengecup tangan Renata.
“Idih, gombal!” seru Renata sambil mencubit kedua
pipi Reynold. “Kak, jangan baperin aku dong. Bisa repot, ntar,” kata Renata
lagi.
“Aku serius, dibilang gombal. Lagian kamu kenapa
nggak cari pacar? Nggak ketemu yang seganteng dan sebaik aku, kan?” kata Reynold.
Renata mengangguk, kalau disuruh cari yang
seganteng Reynold, mana ada lagi. Apalagi pria itu juga sangat baik dan juga
mau melakukan apa saja untuk Renata. Tapi sayang, Renata masih menganggap kalau
Reynold adalah keponakannya.
“Habisnya udah punya kak Rey, jadi susah nyari yang
lain. Tapi aku penasaran sich, kenapa nggak ada yang ngejar-ngejar aku seperti
waktu SMA dulu ya? Mungkin standar di kampus kakak cukup tinggi, aku nggak
masuk kriteria,” kata Renata penasaran.
Renata tidak tahu kalau Reynold benar-benar
melindungi Renata meskipun tidak ada di dekat gadis itu. Setiap pria yang ingin
mendekati Renata, akan merasakan tekanan yang cukup besar sampai membuat mereka
mundur teratur sebelum mulai mendekati gadis itu.
Mereka berdua asyik ngobrol dengan posisi yang
sangat dekat. Sampai waktu makan malam tiba, Renata memilih ke kamarnya dulu
untuk mandi dan ganti baju. Ia melihat seorang maid keluar dari kamar Kaori.
__ADS_1
Steven memang memerintahkan beberapa maid untuk bergantian membantu Kaori
menyesuaikan diri di kamarnya.