Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 15


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 15


Ken akhirnya kembali ke negara A. Ia tidak punya


banyak waktu untuk tidur. Sampai di bandara, Ken langsung menuju ke perusahaan


kakek Martin. Pria tua itu juga sudah kembali ke perusahaan untuk mempersiapkan


pemindahan hak pengelolaan perusahaan pada Ken.


Sampai di kantor, Ken masuk seperti biasa lewat


lobby kantor. Ia menggunakan identitas karyawan biasa dan bukan cucuk dari


pemilik perusahaan. Tidak ada seorangpun yang mengenali Ken di perusahaan itu.


Mereka mengira kalau Ken hanya salah satu orang biasa yang beruntung bisa


bekerja di perusahaan kakek Martin.


Benar kata Alan, Endy melakukan sidak di perusahaan


itu tepat saat Ken duduk di mejanya. Ia berdiri bersama seluruh karyawan dan


membungkuk pada Endy ketika pria itu masuk ke department mereka. Endy hanya


melirik Ken tanpa menyapa putranya itu. Ken pun bersikap seolah Endy adalah


pemilik perusahaan dan bukan papanya.


Ternyata bukan hanya Endy yang melakukan sidak hari


itu, kakek Martin juga melakukannya. Dan saat melihat Ken membungkuk bersama


karyawan lain dan menyapanya dengan panggilan tuan besar, pria tua itu mengetuk


tongkatnya dengan keras. Sesuatu yang menunjukkan kalau ia sedang tidak puas


dengan sesuatu atau seseorang. Dengan ujung tongkatnya, kakek Martin menuding


Ken agar ikut dengannya.


Ken mengikuti kakek Martin kembali ke ruangannya di


lantai paling atas. Ia sudah bersiap akan dipukul lagi dengan tongkat. Tapi


yang dipanggil ternyata bukan hanya dirinya, tetapi juga jajaran manajer dan


juga staf ahli. Endy juga ada disana, duduk dengan tenangnya di sofa besar.


“Ken, apa yang kamu lakukan?” tanya kakek Martin.


“Tuan besar, saya tidak mengerti maksud, tuan


besar,” kata Ken bersikap hormat.


“Kenapa kamu bekerja di bagian staf? Seharunya kamu


disini, belajar caranya me-manage perusahaan. Siapa yang menempatkan kamu


disana?” tanya kakek Martin masih sabar.


Ken melirik Endy, atas perintah siapa lagi kalau


bukan papanya itu. Endy menyuruh Ken datang ke perusahaan dan memerintahkan


manager HRD menempatkan Ken di department yang sedang memerlukan karyawan. Ken


hanya menurut pada papanya, tidak berani mengatakan tentang jati dirinya.


Jajaran manager langsung menoleh pada manager HRD


yang sudah pucat pasi. Endy tidak mengatakan apa-apa saat menyuruhnya


menempatkan Ken di department mana saja. Sekarang setelah melihat reaksi tuan


besar, manager itu berpikir untuk segera mengemasi barang-barangnya dan pergi


dari kantor itu.


“Endy, papa sudah bilang untuk mengajari Ken cara


me-manage perusahaan. Apa begini cara kerjamu?!” tanya kakek Martin mulai


emosi.


“Pah, aku cuma ngajarin dia menghargai kenyamanan


yang dia sudah dapatkan selama ini. Apa aku salah? Ken harusnya bisa memulai


me-manage perusahaan dari bawah,” kata Endy membela dirinya.


Tok! Kakek Martin mengetuk tongkatnya ke lantai


dengan keras. Endy terdiam, ia masih ingin mendebat papanya, tapi Endy memilih


cara aman dengan diam saja. Kakek Martin menunjuk Ken, pria itu harus ikut


meeting dengannya mulai hari ini dan seterusnya. Ken juga harus ikut meeting dengan


Endy kalau ada meeting internal di perusahaan.


Ken sudah tahu schedule meeting internal perusahaan


setiap hari Jumat pagi dan meeting head manager setiap hari Senin pagi. Kakek


Martin sangat jarang ikut meeting, sebulan paling hanya empat sampai lima kali.


Sedangkan Endy selalu ikut meeting internal dan meeting head manager. Kalau ia


sedang tidak ada negara A, meeting akan tetap berlangsung dan Endy akan hadir


lewat conference call.


Kakek Martin mengusir Endy dan jajaran manager dari

__ADS_1


ruangannya. Ia tinggal berdua dengan Ken di dalam sana. Lagi-lagi kakek Martin


memukul lengan dan kaki Ken menggunakan tongkatnya. Pria itu tetap berdiri


tegak menahan rasa sakit di lengannya.


“Ken, kamu dilarang bersikap lemah seperti itu


disini. Ini perusahaan, bukan rumah. Kalau kamu bersikap lembek, menye-menye,


kamu akan dengan mudah dikalahkan Endy. Kamu ngerti?” tanya kakek Martin.


“Tapi, kek. Aku masih belajar, wajar kalau papa


menyuruhku kerja jadi staf,” kata Ken mencoba memberi kakek Martin pengertian.


“Menurutmu berapa lama lagi waktumu sampai usia


duapuluh tahun?” tanya kakek Martin.


Bukan hitungan tahun tapi hanya beberapa bulan


lagi, Ken akan memasuki usia duapuluh tahun. Pelatihannya yang terlalu keras, membuatnya


melupakan hari-hari bahagia yang seharusnya dimiliki seorang remaja pria. Ia


tidak punya teman selain anak-anak relasi bisnis papanya. Itupun hanya sekedar


mencari keuntungan antara sesama pebisnis.


“Tinggal enam bulan lagi, Ken! Kamu sadar apa yang


sedang dilakukan Endy sama kamu. Dia membuatmu tidak kompeten untuk


menggantikan kakek. Endy ingin kakek meragukan kamu sebagai calon pewaris


tunggal Martin Wiranata. Apa kamu tidak sadar dengan caranya?” kata kakek Martin.


Tentu saja Ken sadar dengan cari Endy, tapi


bagaimana bisa dia melawan sekarang? Ken belum punya cukup kekuatan untuk


melawan papanya. Meskipun terlihat santai dan tidak tegas, Endy bisa dan mampu


mengelola perusahaan kakek Martin dengan baik. Ken juga sadar kalau Endy hanya


ingin Kenzo yang menjadi pengganti kakek Martin mengelola perusahaan. Karena


itu ia belajar dan berlatih lebih keras dari yang diminta Endy.


“Kamu harus siap atau pembalasanmu tidak akan


pernah jadi kenyataan. Kakek tidak akan membantumu untuk itu, Ken,” kata kakek


Martin.


Ken mengangguk patuh, hanya dalam waktu enam bulan,


ia harus meyakinkan semua orang kalau ia pantas menjadi pengganti kakek Martin.


Mau seberapa sulitnya, Ken harus bisa melakukan itu.


Enam bulan kemudian,


H-1 sebelum ulang tahun Ken dan Renata. Keluarga


Alex sudah berkumpul di mansion Steven untuk merayakan ulang tahun Renata.


Fasilitas jet pribadi yang dimiliki Steven, membuat mereka bisa sampai dengan


cepat. Mia meminta secara khusus pada Reynold dan Steven agar mengijinkan pesta


ulang tahun Renata diadakan di mansion milik Steven. Reynold tentu saja


langsung setuju.


Sudah dua tahun terakhir ini, Renata kuliah di


kampus yang meluluskan Reynold dulu. Pria itu berhasil meyakinkan Renata untuk


kuliah dan tinggal bersamanya di negara A. Setiap sebulan sekali, Renata akan pulang


ke rumah Alex. Ia menghabiskan sehari dua hari disana sebelum kembali dengan


jet pribadi Steven.


Mia berencana akan meminta Ken datang kalau pria


itu bisa. Setidaknya jarak mereka lebih dekat dan Ken bisa datang


sewaktu-waktu. Tidak ada undangan lain yang akan datang karena Renata tidak


ingin mengundang teman-temannya di kampus. Ia akan mentraktir beberapa teman


yang ia anggap cukup dekat dengannya setelah pesta ulang tahunnya nanti.


Terlebih Mia mengatakan pada Renata kalau mungkin


Ken akan datang, jadi mereka bisa merayakan ulang tahun bersama-sama. Tentu


saja dua kue ulang tahun sudah disiapkan Mia untuk mereka berdua.


Sore itu beberapa orang khusus datang untuk


mendekorasi ruangan untuk pesta ulang tahun Renata. Tidak banyak hiasan yang


diinginkan Renata untuk pesta ulang tahunnya. Ia hanya ingin pesta kali ini


bisa berkumpul dengan keluarganya. Tumpukan kado sudah tampak menggunung di


atas meja yang sudah didekorasi dengan cantik. Besok, kue ulang tahun Renata


juga akan diletakkan di meja yang sama.


“Aunty, mau ditambah apalagi?” tanya Reynold saat

__ADS_1


Renata berkeliling bersamanya.


“Udah cukup, kak Rey. Eh, itu yang di halaman


samping kenapa?” tanya Renata.


Mereka berjalan mendekat, tampak beberapa orang


mendekorasi pinggiran kolam renang dengan banyak bunga dan juga lilin. Tulisan


besar ‘Happy Birthday for My Renata’ mulai terlihat di permukaan kolam renang


itu.


“Kak Rey, ini apa?” tanya Renata.


Reynold memeluk pinggang Renata dari belakang, ia


berbisik kalau seharusnya itu jadi kejutan untuk Renata, tepat jam duabelas


malam nanti. Tapi karena Renata sudah melihatnya, Reynold menanyakan pendapat


gadis itu.


“Pasti ada kejutan lainnya. Kak Rey mau bikin


apalagi?” tanya Renata yang tidak yakin kalau Reynold hanya menyiapkan kejutan


seperti ini.


Setiap tahun Reynold selalu memberiknya kejutan di


ulang tahun Renata. Ada-ada saja idenya sampai membuat Renata tidak bisa


berkata-kata dan merasa sangat bahagia. Reynold berkilah kalau kali ini tidak


ada kejutan lain selain yang ada di kolam renang itu. Renata hanya mengangguk


senang.


“Kalau aku punya pacar nanti, bisa romantis kayak


kak Rey, nggak ya?” tanya Renata sambil mempermainkan jemari Reynold yang


mendarat di pinggangnya.


“Aunty nggak boleh punya pacar. Cari suami aja yang


mapan dan super ganteng kayak aku,” kata Reynold percaya diri.


“Susah tau, kalo nggak kak Rey, siapa lagi cowok


yang cocok. Kriterianya tinggi banget,” kata Renata sambil memukul lengan


Reynold.


Gadis itu berbalik menghadap pria tampan di


depannya. Reynold mengajak Renata mojok di balik pilar besar di mansion Steven.


Renata tersenyum manis saat Reynold mengelus kepala dan rambutnya. Kecupan hangat


mendarat di kening Renata, gadis itu mengalungkan tangannya ke leher Reynold.


“Kak, kapan kakak cari pacar yang serius? Aku kan


nggak mungkin jadi pacar bohongan kakak terus-terusan.” Renata mengelus-elus


belakang kepala Reynold.


“Masalahnya nggak ada perempuan lain yang secantik


kamu, Renata. Dan nggak akan ketemu yang secantik kamu, gimana dong. Aku nggak


mau kalau bukan kamu,” kata Reynold sambil mengecup tangan Renata.


“Idih, gombal!” seru Renata sambil mencubit kedua


pipi Reynold. “Kak, jangan baperin aku dong. Bisa repot, ntar,” kata Renata


lagi.


“Aku serius, dibilang gombal. Lagian kamu kenapa


nggak cari pacar? Nggak ketemu yang seganteng dan sebaik aku, kan?” kata Reynold.


Renata mengangguk, kalau disuruh cari yang


seganteng Reynold, mana ada lagi. Apalagi pria itu juga sangat baik dan juga


mau melakukan apa saja untuk Renata. Tapi sayang, Renata masih menganggap kalau


Reynold adalah keponakannya.


“Habisnya udah punya kak Rey, jadi susah nyari yang


lain. Tapi aku penasaran sich, kenapa nggak ada yang ngejar-ngejar aku seperti


waktu SMA dulu ya? Mungkin standar di kampus kakak cukup tinggi, aku nggak


masuk kriteria,” kata Renata penasaran.


Renata tidak tahu kalau Reynold benar-benar


melindungi Renata meskipun tidak ada di dekat gadis itu. Setiap pria yang ingin


mendekati Renata, akan merasakan tekanan yang cukup besar sampai membuat mereka


mundur teratur sebelum mulai mendekati gadis itu.


Mereka berdua asyik ngobrol dengan posisi yang


sangat dekat. Sampai waktu makan malam tiba, Renata memilih ke kamarnya dulu


untuk mandi dan ganti baju. Ia melihat seorang maid keluar dari kamar Kaori.

__ADS_1


Steven memang memerintahkan beberapa maid untuk bergantian membantu Kaori


menyesuaikan diri di kamarnya.


__ADS_2