Duren Manis

Duren Manis
Extra part 6


__ADS_3

Extra part 6


Rio yang hanya diam sejak masuk ke dalam mobil, menoleh menanyakan maksud Reymond.


“Iya, pah. Pesona aunty Renata itu, bisa bikin otak blank dan tiba-tiba jadi bloon non permanen,” jelas Reymond tanpa filter sambil melirik Ken.


Ken yang masih menatap Renata, tidak mendengar kata-kata Reymond. Saking terpesonanya melihat senyuman Renata, Ken hampir ngeces. Rio bergantian menatap Renata dan Ken lalu berdehem. Ia segera


menjalankan mobilnya tanpa menanyakan dimana sekolah Ken.


Mereka sampai lebih dulu di sekolah Renata dan si kembar. Mereka segera turun termasuk Ken juga.


“Loh, Ken sekolah disini juga?” tanya Rio.


“Nggak. Tapi aku mau pindah sekolah disini,” ujar Ken sambil mengejar Renata yang sudah berjalan masuk lebih dulu.


“Nambah lagi tuch bucinnya aunty Renata. Coba kalo kak Kaori nggak buta, pasti nambah seru sekolah disini,” kata Reymond.


Rio memperingatkan Reymond agar jangan bicara sembarangan dan segera masuk ke dalam sekolah. Mereka berjalan masuk bersama karena Rio masih harus mengejar Ken atau anak itu akan terlambat masuk


sekolahnya.


Si kembar berbisik-bisik di depan Rio, kelakuan keduanya mengingatkannya pada dirinya dan kembarannya, Riri. Kalau sudah seperti itu, biasanya ada sesuatu yang nakal yang akan dilakukan keduanya.


Benar saja, beberapa murid laki-laki tampak berbaris membawa sesuatu di tangan mereka. Si kembar menerima satu persatu hadiah-hadiah yang murid laki-laki titipkan untuk Renata. Karena Renata tidak


pernah mau menerima hadiah secara langsung dari siapapun.


“Ternyata kelakuan kalian kayak gini ya di sekolah,” tegur Rio.


Si kembar nyengir lebar kepergok papanya. Mereka segera berlari ke dalam kelas tempat Renata dan Ken sedang duduk berdampingan.


“Ken, sana ke sekolahmu dulu. Ini sudah hampir bel masuk. Nanti aku kena tegur guru loh,” ucap Renata yang ingin Ken segera pergi.


Tapi Ken berkeras tetap di samping Renata. Ken mengeluarkan ponselnya, ia menelpon Endy untuk minta pindah sekolah. Tentu saja hal itu ditolak papanya.


Kring! Kring! Kring! Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Ken harus melepas Renata masuk ke kelasnya. Rio datang dengan cepat lalu menarik tangan Ken keluar dari sekolah itu.

__ADS_1


“Ken, sekolahmu dimana?” tanya Rio ketika mereka sudah ada di dalam mobil Rio lagi.


Ken terpaksa menunjuk jalan menuju sekolahnya. Selama dalam perjalanan, Ken lebih banyak diam. Ia baru saja dimarahi papanya dan merasa badmood saat itu.


Mereka segera sampai di depan sekolah Ken, pintu gerbang hampir ditutup tapi Ken bisa masuk tepat waktu. Rio melambaikan tangannya pada Ken yang sempat berbalik mengucapkan terima kasih dengan sopan.


Ketika Rio hampir menjalankan mobilnya lagi, ia melihat Endy turun dari mobilnya. Rio juga turun dari mobilnya. Mereka kembali berhadapan.


“Jangan ganggu Ken lagi. Kalian terlalu sering ikut campur urusan keluargaku,” ucap Endy dingin.


“Kau yang seharusnya memperhatikan putramu. Bisa-bisanya membiarkan anak-anak berkeliaran di mall sendirian,” balas Rio tak kalah dingin.


Kedua pria dewasa itu hampir berkelahi kalau tidak melihat dimana mereka berada.


“Berhenti ikut campur urusanku,” titah Endy.


“Berhenti muncul di depanku,” balas Rio galak.


Keduanya berbalik masuk ke mobil masing-masing dan pergi dari sana.


Entah sampai kapan perang dingin antara keduanya akan berakhir.


Ken sampai di mansion lagi setelah pulang sekolah. Ia merasakan firasat buruk setelah melihat mobil bodyguard papanya mengikuti mobil yang menjemputnya tadi. Endy sudah siap menegur Ken, pria itu menunggu Ken di ruang keluarga.


“Siang, pah,” sapa Ken.


“Ken, papa nggak suka kamu bergaul dengan keluarga itu. Mereka tidak baik untukmu,” titah Endy tegas.


“Iya, pah,” kata Ken lemas.


“Ingat, kau punya tanggung jawab menjadi penerus papa. Kakek dan nenekmu menaruh beban itu di pundakmu, Ken.” Endy mengingatkan Ken lagi pada beban dan tanggung jawabnya.


Kinanti turun dari lantai atas sambil menggendong  Kenzo yang masih bayi. Ken melirik Kinanti dan Kenzo yang duduk di samping Endy. Sejak adiknya lahir, beban Ken semakin besar. Endy semakin keras


menekannya untuk belajar dan cepat menyelesaikan sekolahnya.


“Ken, papa mau kamu sekolah di tempat papa sekolah dulu. Negara A. Minggu depan kau akan berangkat kesana,” putus Endy tanpa bisa di cegah Ken.

__ADS_1


Ken melangkah memasuki kamarnya, ia mengganti pakaian sekolahnya lalu menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. Matanya nanar menatap plafond kamarnya yang berwarna putih.


“Akhirnya gini juga. Kenapa sih, aku selalu nggak dibolehin punya teman? ...Renata, padahal aku ingin dekat kamu, tapi gimana caranya ya?” gumam Ken sibuk sendiri.


Sebuah ide muncul di kepalanya, ia bangkit dengan cepat lalu mengambil ponselnya. Ken menghubungi seseorang, salah satu anak buah Endy yang pintar mengotak-atik barang elektronik. Ken selalu suka melakukannya, hobby lebih tepatnya.


“Kak Ga, bantu aku dong. Buatin sesuatu,” kata Ken di telpon.


“Buatin apa? Atau dateng sini ke lab. Aku punya mainan baru,” ajak Saga.


Ken selalu bersemangat kalau Saga sudah menyebutkan mainan baru. Setidaknya ia akan mencobanya duluan sebelum Endy.


Dengan langkah cepat menuruni tangga, Ken kembali ke ruang bawah tempat Endy tadi duduk disana. Suasana disana sepi tanpa kehadiran siapapun. Ken menarik nafasnya, ia tidak perlu meminta ijin kemanapun. Toh, papanya selalu tahu dimana dia berada.


Sopir membukakan pintu untuk Ken dan pria kecil itu memberitahu tujuannya. Lab yang dimaksud Saga tadi berada sekitar lima belas menit dari mansion mewah Endy. Ketika mobil Ken memasuki tempat parkir, sebuah


mobil mini tanpa atap mendekati mobil itu dan Ken berpindah masuk ke mobil mini.


Lab itu cukup luas untuk berjalan ke dalam sana. Ken segera sampai ke tempat Saga biasa bekerja. Pria itu menyambut Ken dengan melemparkan sebuah benda sebesar telapak tangan orang dewasa.


“Hai, kak. Ini apa?” sapa Ken membolak-balik benda itu.


“Coba nyalain dulu,” ucap Saga.


Ken menyalakan benda itu dan melihat banyak game di dalamnya. Ada juga aplikasi belajar online dan browser.


“Ken, lihat sini,” panggil Saga.


Ketika Ken melihat ke monitor yang ditunjuk Saga, ia melihat dirinya di monitor itu. Jelas kameranya ada di benda yang masih dipegangnya.


“Gimana bisa, kak?” tanya Ken bingung.


“Di benda itu ada GPS dan kamera. Kita bisa lihat dan dengar apa yang sedang dilakukan orang yang memegang benda itu. Cara kerjanya mirip kamera pengintai, tapi orang yang kita mata-matai tidak sadar


dengan kamera itu,” jelas Saga.


Ken mengangguk-angguk. Saga menjelaskan kalau dia  sudah membuat dua alat yang sama dan keduanya saling terhubung. Pria itu meminta Ken untuk menguji alatnya dan Ken dengan senang hati menerimanya. Ken tersenyum senang karena sudah menemukan solusi untuk bisa terus melihat Renata.

__ADS_1


Masih ada lanjutannya. Nantikan up-nya ya.


__ADS_2