Duren Manis

Duren Manis
Suka atau duka


__ADS_3

Dokter masih memeriksa Mia, sementara suster mulai melakukan transfusi darah pada Mia. Ia mengalami pendarahan yang cukup membuatnya kehilangan banyak darah.


Alex sampai menelpon Jodi untuk memintanya mengambil darah AB positif di bank darahnya. Saat itu Jodi masih ada di depan ruang ICU Arnold, menunggu dokter memeriksa Arnold yang mulai menunjukkan tanda-tanda sadar.


🌸🌸🌸🌸🌸


Flash back...


Jodi mengkerutkan keningnya menerima telpon dari Alex,


Jodi : "Halo, om?"


Alex : "Halo, Jodi? Ada Rara disana?"


Jodi : "Ada, om. Mau bicara?"


Alex : "Tolong menjauh sebentar... Sudah?"


Jodi : "Sudah, om. Ada apa?"


Alex : "Kamu masih punya darah AB positif?"


Jodi : "Ada, om."


Alex : "Tolong bawa ke rumah sakit XXX. Jangan beritahu Rara. Mia sudah melahirkan dan perlu transfusi darah."


Jodi : "Ok, om. Saya kesana sekarang."


Jodi mengetuk jendela ICU, ia meminta Rara keluar sebentar setelah Rara melihatnya.


Rara : "Kenapa, kak?"


Jodi : "Kamu bisa nunggu disini? Aku harus pergi. Ada darurat orang yang perlu transfusi darah segera. Aku segera kembali habis ngasi darahnya."


Rara : "Iya, kak. Aku mau nunggu dokter selesai periksa mas Arnold."


Jodi : "Aku pergi bentar ya. Tunggu aku balik."


Rara melihat Jodi berjalan cepat ke arah pintu keluar dengan ponsel di telinganya.


Ia kembali masuk ke ruang ICU, melihat Arnold yang masih di cek dokter.


Flash back end...


🌼🌼🌼🌼🌼


Alex menepuk pundak Jodi dan memeluknya setelah Jodi memberikan kantong darah pada suster.


Alex : "Makasi, Jodi."


Jodi : "Sama-sama, om."


Alex : "Gimana keadaan Arnold?"


Jodi : "Tadi sepertinya mau sadar, om. Saya tinggal kesini, masih di cek sama dokter."


Alex : "Beneran? Syukurlah akhirnya sadar. Tinggal Mia sekarang..."


Jodi : "Om yang sabar ya. Om gak pa-pa sendirian?"


Alex : "Si kembar sepertinya mau kesini. Ada mamanya Mia juga. Kamu mau balik kesana?"


Jodi : "Iya, om. Rara sendirian soalnya. Sapa tau ada perlu apa-apa."


Alex : "Kamu jaga Rara dulu ya. Jangan bilang kondisi mamanya. Om kabarin kalau kondisi Mia sudah stabil."


Jodi : "Baik, om. Saya pergi dulu."


Alex masuk lagi ke ruang bersalin. Ia belum sempat melihat anak kembarnya karena khawatir dengan kondisi Mia.


Suster sudah memberitahu Alex kalau anak kembarnya sedang dimasukkan ke ruang inkubator untuk menghangatkan mereka. Ia melihat Mia masih belum sadar dan suster yang sibuk bolak-balik membantu dokter merawat Mia.

__ADS_1


Dokter menoleh menatap Alex yang masih menempel di dinding ruang bersalin. Ia melihat Mia akan dipindahkan.


Dokter : "Pak Alex, ibu Mia kritis. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Sekarang ibu Mia kami pindahkan ke ruang ICU."


Alex : "Tapi, dokter... Mia bukannya sudah transfusi darah?"


Dokter : "Transfusi darah hanya membantu sedikit, pak. Kita lihat perkembangannya dalam 2 jam ini."


Alex mengikuti Mia yang dipindahkan ke ruang ICU. Mama Mia juga menyusul dibelakangnya.


Si kembar yang baru sampai di rumah sakit, melihat Mia di dorong ke ruang ICU.


Riri : "Pah! Mama kenapa?"


Alex : "Kalian uda dateng. Mama..."


Alex beneran gak bisa ngomong apa-apa lagi. Ia terlalu takut kejadian Selvi terulang lagi. Tahu bakalan begini, dari awal ia gak akan membuat Mia hamil.


Mama Mia menuntun Alex agar duduk di depan ruang ICU. Ia mengajak si kembar duduk agak jauh.


Rio : "Nek, mama kenapa?"


Mama Mia : "Mama kalian sedang kritis karena pendarahan habis melahirkan. Papa kalian kayaknya shock dan takut mama kalian kenapa-napa."


Riri : "Jangan kayak mama Selvi. Gak mau!"


Riri tiba-tiba menangis histeris. Rio sampai memeluknya dengan erat untuk meredam teriakannya. Alex juga ikutan menangis melihat Riri histeris.


Mama Mia sibuk menenangkan si kembar.


🌸🌸🌸🌸🌸


Jodi baru sampai kembali ke rumah sakit tempat Arnold dirawat. Rara terlihat duduk di luar ruang ICU. Ia terlihat gembira.


Jodi : "Ra? Gimana kemajuannya? Arnold uda sadar?"


Rara : "Udah sadar, kak. Tadi sempat kejang lagi dan gak sadar lagi. Dokter minta aku terus manggil mas Arnold. Sampai kondisinya stabil dan akhirnya sadar."


Rara : "Aku disuruh keluar dulu, waktu mas Arnold liat aku, tekanan darahnya tiba-tiba meningkat drastis."


Jodi : "Waduh, gimana kalo dia kukasi liat list tagihan yang kubayar buat kamu ya."


Rara cuma tersenyum menanggapi lelucon Jodi yang gak pada tempatnya.


Jodi berdiri di depan jendela ICU, ia mencoba mengintip ke dalam.


Rara : "Kakak mau masuk?"


Jodi : "Boleh?"


Rara : "Masuk aja, kak."


Jodi mengetuk pintu sebentar dan membuka pintu. Ia melihat Arnold menatapnya dari atas bed. Jodi memakai baju steril dan membersihkan tangannya.


Jodi : "Apa kabar, bro?"


Arnold : "Ba.. baik.."


Jodi : "Kau mau minum? Suster, boleh dikasi minum?"


Suster : "Iya, pak. Tapi sedikit-sedikit ya."


Jodi mengambil gelas air putih diatas meja dan menyodorkan sedotan ke mulut Arnold.


Jodi : "Minum dikit, bro."


Arnold meminum air membasahi tenggorokannya yang kering. Ia mendorong sedotan keluar dengan lidahnya setelah merasa cukup.


Arnold : "Mana Rara?"


Jodi : "Ada di luar. Itu lagi ngintip dari jendela."

__ADS_1


Arnold menoleh menatap Rara yang tampak berdiri di jendela yang terbuka sedikit tirainya. Rara melambaikan tangannya pada Arnold dan tersenyum bahagia.


Arnold : "Hufh.. dia kelihatan sehat dan bahagia, bro."


Jodi : "Dia bahagia untuk anak kalian, bro. Dia akan lebih bahagia saat kau benar-benar sembuh. Semangat, bro."


Arnold : "Aku sedang berusaha, bro."


Jodi : "Kau baik-baik saja?"


Arnold : "Belum pernah sebaik ini, bro."


Jodi : "Aku pergi dulu. Besok aku datang lagi sama Rara."


Arnold : "Bayiku laki-laki, bro."


Jodi : "Ya. Tadi siang aku antar dia ke dokter kandungan. Selamat ya, bro."


Arnold : "Makasi, bro. Tolong jaga mereka."


Jodi : "Kau tenang saja. Sampai jumpa."


Arnold menatap Jodi yang melangkah keluar ruangan dan melepaskan baju sterilnya. Ia berganti menatap Rara yang melambaikan tangannya dengan heboh di kaca, sambil melemparkan ciuman dari jauh.


Jodi juga melambaikan tangannya dari jendela.


Jodi : "Kita pulang dulu ya. Kamu harus istirahat."


Rara : "Iya, kak."


Mereka berjalan beriringan ke tempat parkir.


Ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil Jodi, Rara mendapat chat dari Riri.


Riri : "Kak, mama uda melahirkan di rumah sakit XXX."


Rara : "Kak, mamaku uda melahirkan. Anterin kesana, kak."


Jodi : "Oh, mamamu uda sadar?"


Jodi memukul setir mobil, ia keceplosan mengatakan kondisi Mia.


Rara : "Sadar? Kakak tahu mama uda melahirkan? Kok nggak ngasi tau aku?"


Jodi : "Itu... Anu... Soalnya..."


Rara : "Kak, mama kenapa? Mama baik-baik aja kan? Adik kembarku gak pa-pa kan?"


Jodi : "Maaf, Ra. Tolong kamu tenang dulu. Tarik nafas dulu. Aku gak mau cerita kalau kondisimu panik gini."


Rara : "Aku bisa ke rumah sakit sendiri kalau kakak gak mau cerita!"


Jodi : "Tunggu dulu! Mamamu pendarahan habis melahirkan, tadi aku ngirim darah untuk mamamu. Sekarang kamu tenang dulu ya. Kita gak tahu kondisi mamamu. Kamu harus tenang, ingat bayimu."


Rara menarik nafas perlahan, ia sedikit sesak mengetahui terjadi sesuatu pada mamanya disaat Arnold sudah sadar dan baik-baik saja. Entah ini suka cita atau duka.


Rara : "Antar aku ke rumah sakit, kak."


Jodi : "Iya, aku antar sekarang. Tapi kamu harus tenang ya."


Rara hanya diam mencoba menenangkan dirinya agar tidak berpikir negatif yang akan mempengaruhi bayinya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2