Duren Manis

Duren Manis
Lamaran Jodi


__ADS_3

Jodi berjalan bolak-balik di ruang kerjanya pagi


itu. Ia sedang menunggu pengumuman hasil tendernya. Guntur sudah berangkat sejak


pagi ke tempat pengumuman tender untuk mendapatkan hasilnya.


Jodi menggosok kedua tangannya, ia sudah bertanya


lagi pada papanya tentang kesepakatan mereka kalau tender itu berhasil ia


dapatkan. Dan papanya bilang akan memberikan jawabannya setelah tender itu


mereka dapatkan. Jodi menghembuskan nafas panjang dan berharap tender ini bisa


ia dapatkan untuk papanya.


Kring! Ponsel Jodi berdering nyaring, ia


mengambilnya dan melihat nama Guntur di layar ponselnya. Jodi menekan tombol


hijau dan suara Guntur langsung didengarnya.


Guntur : “Pak, kita berhasil.”


Jodi : “Yes. Cepat foto suratnya dan kirim ke


papaku.”


Guntur : “Baik, pak. Perlu saya kirim ke Ibu Katty


juga?”


Jodi : “Gak usah. Guntur, kamu bisa bantu aku?”


Guntur : “Siap, pak.”


Jodi : “Tolong siapkan buket bunga mawar merah yang


besar dan carikan aku cincin yang paling mahal. Ach, tidak. Aku saja yang cari


cincinnya, Katty gak akan mau cincin yang mahal. Siapkan penthouse di hotel


papa juga dan hias yang cantik ya. Mungkin aku akan dinner juga sama Katty


disana ya.”


Guntur : “Baik, pak. Ada lagi, pak? Saya langsung


ke penthouse sekarang.”


Jodi : “Itu aja. Ya, cepat selesaikan. Sampai


jumpa.”


Jodi menutup telponnya, ia ingin menghubungi Katty,


tapi belum saatnya. Masih terlalu cepat, Jodi ingin Katty penasaran dan ganti


menelponnya duluan. Jodi meletakkan ponselnya dan kembali berkonsentrasi


menyelesaikan pekerjaannya.


Sesekali ia melirik ponselnya yang hanya muncul


notif dari relasinya atau sekedar wanita yang gak jelas. Jodi mengabaikan chat


dari wanita lain dan sedang menunggu chat dari Katty atau telpon darinya. Ponsel


Jodi berdering lagi, ia langsung mengangkatnya dan mengira kalau itu Katty.


Jodi : “Halo, Katty.”


Anton : “Katty, Katty. Ini papa. Kamu lagi nunggu


telpon dari Katty?”


Jodi : “Hehe, iya pah. Dari tadi gak nelpon juga.


Sibuk apa kali dia.”


Anton : “Katty gak cerita sama kamu?”


Jodi : “Cerita apa?”


Anton : “Katty lagi di kantor papa.”


Jodi : “Ngapain?! Pah... jangan bercanda dech.”


Anton : “Coba v-call kalo gak percaya.”


Jodi dengan cepat menutup telpon dari papanya dan


merubahnya jadi v-call. Tampak wajah papanya tersenyum manis padanya. Papanya


itu sedang duduk di ruang kerjanya dan di belakangnya tampak Katty sedang


bicara dengan beberapa staf di ruangan yang berbeda.


Ruang kerja Anton memang sebagian besar terbuat


dari kaca satu arah. Di sebelahnya ada ruang meeting, jadi Anton bisa mengikuti

__ADS_1


jalannya meeting tanpa diketahui peserta meeting di sebelah sana.


Jodi : “Ngapain Katty disana, pah?”


Anton : “Loh, kan kamu yang nunjuk dia buat ngurus


tender. Sekarang tendernya udah dapet, ya sekalian mantu papa yang ngerjain


semuanya.”


Jodi : “Kenapa papa gak bilang sich, kalau Katty


uda duluan kesana. Aku pikir... tunggu, tadi papa bilang apa?”


Anton : “Bilang apa?” Papa Jodi pura-pura lupa


dengan apa yang barusan ia katakan.


Jodi : “Pah, serius nich. Papa bilang tadi mantu


papa. Papa setuju, Jodi nikah sama Katty?”


Anton : “Uda denger papa ngomong apa, masih nanya


lagi.”


Jodi : “Kan harus dikonfirm lagi, pah. Takutnya


salah gitu. Tapi beneran kan pah?”


Anton : “Papa sudah bilang kan, papa suka sama


Katty. Dia anak yang pinter, papa dapet untung ratusan juta gara-gara dia jual


produk perusahaan papa bulan lalu. Hebat anak itu.”


Jodi berbangga mendengar Katty dipuji papanya. Ia


tulus mencintai Katty bukan karena dia pintar menjual, tapi karena


kepribadiannya yang baik dan sederhana.


Jodi : “Calon istri siapa dulu, pah.”


Anton : “Mulai sombong. Kamu gak kasi hadiah buat


Katty?”


Jodi : “Jodi mau nglamar dia, pah. Di penthouse,


malam ini. Papa bisa bantu?”


Anton : “Papa harus apa?”


penthouse.”


Anton : “Kalo dia gak mau dateng gimana?”


Jodi : “Iya juga ya. Gimana dong, pah.”


Anton : “Kamu tuch. Biar papa yang ngatur, kamu


tunggu aja disana.”


Jodi : “Makasih, pah. Sayang sama papa.” Jodi


mengirimkan cium jarak jauh untuk papanya.


Anton : “Ini anak! Hii...” Papanya jadi bergidik


geli melihat kelakukan putra tunggalnya itu.


Jodi menutup telponnya, ia senyum-senyum sendiri membayangkan


kejutannya untuk Katty nanti malam.


*****


Sore hari menjelang petang, Jodi bergegas membeli sebuah


cincin di sebuah toko emas di dekat kantornya. Tadi ia tertahan meeting sebelum


pulang dari kantor. Padahal Guntur sudah mengingatkannya untuk segera ke


penthouse. Tergesa-gesa Jodi mengendarai mobilnya menuju hotel papanya.


Di sampingnya sudah ada paper bag berisi cincin


emas untuk Katty. Jodi membeli yang modelnya paling sederhana, karena ia tahu


kalau Katty tidak suka dengan perhiasan mencolok. Tapi Jodi berencana membeli


cincin lagi untuk dipakai Katty di pernikahan mereka nanti.


Tiba di hotel, manajer hotel sudah menyambut


kedatangan Jodi dan langsung mengantarnya ke lantai paling atas hotel itu.


Jodi : “Tolong ingat wajah nona ini, namanya Katty,


calon istri saya. Saya mau dia diantarkan langsung ke penthouse ini begitu dia

__ADS_1


sampai di hotel ini.”


Manajer : “Baik, pak Jodi. Pak Guntur sudah


memberitahukan kepada kami juga. Nona Katty akan di antarkan  kesini.”


Jodi : “Bagus, saya masuk dulu.”


Jodi segera masuk ke dalam dan melihat meja makan


sudah dihias untuk candle light dinner dan di dalam kamar juga sudah dihias


dengan bunga mawar. Diatas ranjang ada kelopak bunga mawar yang dibentuk hati


dan juga sebuah lingerie berwarna merah tergeletak disana. Jodi mengangguk


puas, ia memuji Guntur yang sudah bekerja keras menyiapkan semua ini.


Jodi melirik jam di tangannya. Sebentar lagi


harusnya Katty akan datang. Ia memutuskan mandi dulu dan bersiap-siap.


*****


Sementara itu, gadis yang ditunggu Jodi sedang


dalam perjalanan pulang. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya di kantor Pak


Anton dan mendengar sesuatu yang menyakiti hatinya.


Katty baru sampai di rumahnya, ia masuk dengan


kesal dan sedikit membanting pintu. Dirinya menjatuhkan tubuhnya diatas sofa


dan menendang lepas sepatu yang tadi dipakainya. Sepatu itu terlempar sampai ke


pojok sofa dan tergeletak tak berdaya.


Hiks, hiks, Katty menutupi matanya yang mulai


berlinang air mata. Ia menangis keras dan melempar tasnya juga ke pojok sofa.


Katty : “Jodi sialan!! Brengsek!!”


Kenapa Katty jadi marah-marah dan menangis gak


jelas? Kita flash back ya...


*****


*****


*****


*****


*****


Pasti nungguin kan? Penasaran sama kelanjutannya?


Sabar dulu ya, author cuma mau bilang terima kasih yang


sebesar-besarnya untuk like, komen, dan fav dari kk reader sekalian.


Untuk episode kali ini author ingin memberikan


kesempatan pada kk reader sekalian untuk bertanya apapun pada author dan akan


author jawab khusus di kolom komentar episode ini.


Mau nanya masalah pribadi, boleh. Mau nanya tentang


novel ini, juga boleh. Bebas aja pertanyaannya ya.


Tapi author boleh gak jawab untuk pertanyaan yang


author anggap kurang sopan dan juga mengandung konten yang tidak diperbolehkan


oleh MT.


So, author tunggu ya pertanyaan dari kk reader


sekalian.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2