
Jodi berjalan bolak-balik di ruang kerjanya pagi
itu. Ia sedang menunggu pengumuman hasil tendernya. Guntur sudah berangkat sejak
pagi ke tempat pengumuman tender untuk mendapatkan hasilnya.
Jodi menggosok kedua tangannya, ia sudah bertanya
lagi pada papanya tentang kesepakatan mereka kalau tender itu berhasil ia
dapatkan. Dan papanya bilang akan memberikan jawabannya setelah tender itu
mereka dapatkan. Jodi menghembuskan nafas panjang dan berharap tender ini bisa
ia dapatkan untuk papanya.
Kring! Ponsel Jodi berdering nyaring, ia
mengambilnya dan melihat nama Guntur di layar ponselnya. Jodi menekan tombol
hijau dan suara Guntur langsung didengarnya.
Guntur : “Pak, kita berhasil.”
Jodi : “Yes. Cepat foto suratnya dan kirim ke
papaku.”
Guntur : “Baik, pak. Perlu saya kirim ke Ibu Katty
juga?”
Jodi : “Gak usah. Guntur, kamu bisa bantu aku?”
Guntur : “Siap, pak.”
Jodi : “Tolong siapkan buket bunga mawar merah yang
besar dan carikan aku cincin yang paling mahal. Ach, tidak. Aku saja yang cari
cincinnya, Katty gak akan mau cincin yang mahal. Siapkan penthouse di hotel
papa juga dan hias yang cantik ya. Mungkin aku akan dinner juga sama Katty
disana ya.”
Guntur : “Baik, pak. Ada lagi, pak? Saya langsung
ke penthouse sekarang.”
Jodi : “Itu aja. Ya, cepat selesaikan. Sampai
jumpa.”
Jodi menutup telponnya, ia ingin menghubungi Katty,
tapi belum saatnya. Masih terlalu cepat, Jodi ingin Katty penasaran dan ganti
menelponnya duluan. Jodi meletakkan ponselnya dan kembali berkonsentrasi
menyelesaikan pekerjaannya.
Sesekali ia melirik ponselnya yang hanya muncul
notif dari relasinya atau sekedar wanita yang gak jelas. Jodi mengabaikan chat
dari wanita lain dan sedang menunggu chat dari Katty atau telpon darinya. Ponsel
Jodi berdering lagi, ia langsung mengangkatnya dan mengira kalau itu Katty.
Jodi : “Halo, Katty.”
Anton : “Katty, Katty. Ini papa. Kamu lagi nunggu
telpon dari Katty?”
Jodi : “Hehe, iya pah. Dari tadi gak nelpon juga.
Sibuk apa kali dia.”
Anton : “Katty gak cerita sama kamu?”
Jodi : “Cerita apa?”
Anton : “Katty lagi di kantor papa.”
Jodi : “Ngapain?! Pah... jangan bercanda dech.”
Anton : “Coba v-call kalo gak percaya.”
Jodi dengan cepat menutup telpon dari papanya dan
merubahnya jadi v-call. Tampak wajah papanya tersenyum manis padanya. Papanya
itu sedang duduk di ruang kerjanya dan di belakangnya tampak Katty sedang
bicara dengan beberapa staf di ruangan yang berbeda.
Ruang kerja Anton memang sebagian besar terbuat
dari kaca satu arah. Di sebelahnya ada ruang meeting, jadi Anton bisa mengikuti
__ADS_1
jalannya meeting tanpa diketahui peserta meeting di sebelah sana.
Jodi : “Ngapain Katty disana, pah?”
Anton : “Loh, kan kamu yang nunjuk dia buat ngurus
tender. Sekarang tendernya udah dapet, ya sekalian mantu papa yang ngerjain
semuanya.”
Jodi : “Kenapa papa gak bilang sich, kalau Katty
uda duluan kesana. Aku pikir... tunggu, tadi papa bilang apa?”
Anton : “Bilang apa?” Papa Jodi pura-pura lupa
dengan apa yang barusan ia katakan.
Jodi : “Pah, serius nich. Papa bilang tadi mantu
papa. Papa setuju, Jodi nikah sama Katty?”
Anton : “Uda denger papa ngomong apa, masih nanya
lagi.”
Jodi : “Kan harus dikonfirm lagi, pah. Takutnya
salah gitu. Tapi beneran kan pah?”
Anton : “Papa sudah bilang kan, papa suka sama
Katty. Dia anak yang pinter, papa dapet untung ratusan juta gara-gara dia jual
produk perusahaan papa bulan lalu. Hebat anak itu.”
Jodi berbangga mendengar Katty dipuji papanya. Ia
tulus mencintai Katty bukan karena dia pintar menjual, tapi karena
kepribadiannya yang baik dan sederhana.
Jodi : “Calon istri siapa dulu, pah.”
Anton : “Mulai sombong. Kamu gak kasi hadiah buat
Katty?”
Jodi : “Jodi mau nglamar dia, pah. Di penthouse,
malam ini. Papa bisa bantu?”
Anton : “Papa harus apa?”
penthouse.”
Anton : “Kalo dia gak mau dateng gimana?”
Jodi : “Iya juga ya. Gimana dong, pah.”
Anton : “Kamu tuch. Biar papa yang ngatur, kamu
tunggu aja disana.”
Jodi : “Makasih, pah. Sayang sama papa.” Jodi
mengirimkan cium jarak jauh untuk papanya.
Anton : “Ini anak! Hii...” Papanya jadi bergidik
geli melihat kelakukan putra tunggalnya itu.
Jodi menutup telponnya, ia senyum-senyum sendiri membayangkan
kejutannya untuk Katty nanti malam.
*****
Sore hari menjelang petang, Jodi bergegas membeli sebuah
cincin di sebuah toko emas di dekat kantornya. Tadi ia tertahan meeting sebelum
pulang dari kantor. Padahal Guntur sudah mengingatkannya untuk segera ke
penthouse. Tergesa-gesa Jodi mengendarai mobilnya menuju hotel papanya.
Di sampingnya sudah ada paper bag berisi cincin
emas untuk Katty. Jodi membeli yang modelnya paling sederhana, karena ia tahu
kalau Katty tidak suka dengan perhiasan mencolok. Tapi Jodi berencana membeli
cincin lagi untuk dipakai Katty di pernikahan mereka nanti.
Tiba di hotel, manajer hotel sudah menyambut
kedatangan Jodi dan langsung mengantarnya ke lantai paling atas hotel itu.
Jodi : “Tolong ingat wajah nona ini, namanya Katty,
calon istri saya. Saya mau dia diantarkan langsung ke penthouse ini begitu dia
__ADS_1
sampai di hotel ini.”
Manajer : “Baik, pak Jodi. Pak Guntur sudah
memberitahukan kepada kami juga. Nona Katty akan di antarkan kesini.”
Jodi : “Bagus, saya masuk dulu.”
Jodi segera masuk ke dalam dan melihat meja makan
sudah dihias untuk candle light dinner dan di dalam kamar juga sudah dihias
dengan bunga mawar. Diatas ranjang ada kelopak bunga mawar yang dibentuk hati
dan juga sebuah lingerie berwarna merah tergeletak disana. Jodi mengangguk
puas, ia memuji Guntur yang sudah bekerja keras menyiapkan semua ini.
Jodi melirik jam di tangannya. Sebentar lagi
harusnya Katty akan datang. Ia memutuskan mandi dulu dan bersiap-siap.
*****
Sementara itu, gadis yang ditunggu Jodi sedang
dalam perjalanan pulang. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya di kantor Pak
Anton dan mendengar sesuatu yang menyakiti hatinya.
Katty baru sampai di rumahnya, ia masuk dengan
kesal dan sedikit membanting pintu. Dirinya menjatuhkan tubuhnya diatas sofa
dan menendang lepas sepatu yang tadi dipakainya. Sepatu itu terlempar sampai ke
pojok sofa dan tergeletak tak berdaya.
Hiks, hiks, Katty menutupi matanya yang mulai
berlinang air mata. Ia menangis keras dan melempar tasnya juga ke pojok sofa.
Katty : “Jodi sialan!! Brengsek!!”
Kenapa Katty jadi marah-marah dan menangis gak
jelas? Kita flash back ya...
*****
*****
*****
*****
*****
Pasti nungguin kan? Penasaran sama kelanjutannya?
Sabar dulu ya, author cuma mau bilang terima kasih yang
sebesar-besarnya untuk like, komen, dan fav dari kk reader sekalian.
Untuk episode kali ini author ingin memberikan
kesempatan pada kk reader sekalian untuk bertanya apapun pada author dan akan
author jawab khusus di kolom komentar episode ini.
Mau nanya masalah pribadi, boleh. Mau nanya tentang
novel ini, juga boleh. Bebas aja pertanyaannya ya.
Tapi author boleh gak jawab untuk pertanyaan yang
author anggap kurang sopan dan juga mengandung konten yang tidak diperbolehkan
oleh MT.
So, author tunggu ya pertanyaan dari kk reader
sekalian.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
🌲🌲🌲🌲🌲