
Sejak menikah, Arnold sudah jarang pulang ke rumahnya di kota M. Akhir pekan ini karena long weekend, Arnold ingin pulang untuk menengok ibunya tak lupa ia mengajak Rara bersamanya.
Rara sebenarnya ingin ikut kesana, tapi ia sedang banyak tugas kuliah yang tidak bisa ditunda karena dateline hari Senin depan. Tapi Mia lagi-lagi membantu menyelesaikan masalahnya.
Mia mengambil alih mengerjakan tugas kuliah Rara karena ia cepat sekali merasa bosan berada di rumah. Alex sudah mengatakan untuk tidak pergi keluar dulu untuk sementara sampai video yang beredar tentang Mia menghilang dari peredaran.
Akhirnya Arnold akan berangkat bersama Rara menuju kota M, mereka naik mobil kesana karena jaraknya hanya sekitar 1 jam dari kota Y.
Mereka akan menginap tiga hari dua malam tapi bawaan Rara sudah seperti mau menginap seminggu.
Arnold : "Sayang, kenapa bawa barang banyak sekali?"
Rara : "Ini pertama kalinya aku ke rumahmu, mas. Aku harus membawa sedikit oleh-oleh untuk keluargamu disana."
Arnold : "Kamu manis banget."
Rara : "Makasi, mas."
Mereka sudah selesai berkemas, nenek dan Mia mengantar keduanya sampai di depan gerbang dan melambaikan tangan.
Arnold dan Rara berkendara selama lebih kurang satu jam 15 menit sebelum sampai di rumah Arnold. Rara mengagumi luasnya halaman depan Arnold. Rumah itu terlihat sangat indah ditengah halaman yang luas.
Seseorang sudah berdiri di depan pintu rumah Arnold. Orang itu membukakan pintu untuk Rara.
Mang Ujang : "Selamat datang, non. Silahkan."
Arnold : "Mang Ujang, tolong turunkan barang-barang di bagasi sama di jok belakang ya. Makasih."
Mang Ujang : "Baik, den."
Arnold menggenggam tangan Rara masuk ke dalam rumahnya. Keluarga Arnold sudah menunggu mereka di ruang keluarga.
Ronald papa Arnold, Wienda mama Arnold, ada juga Arka kakak laki-laki Arnold, Silvia kakak ipar Arnold dan Arjuna ponakan Arnold.
Mereka datang saat pernikahan Rara dan Arnold, tapi mereka tidak punya banyak waktu untuk ngobrol.
Wienda menyambut Rara dan Arnold, ia tidak bisa selalu mengikuti Ronald ke kota Y karena harus menjaga Arjuna. Anak sulung dan menantunya sibuk bekerja mengurus bisnis mereka dan juga perusahaan Ronald.
Wienda : "Rara sayang, apa kabarmu, nak?"
Rara : "Baik, ma. Mama juga sehat?"
Wienda : "Iya, mama baik-baik saja."
Rara mencium tangan orang tua Arnold dan menyalami kakak dan kakak ipar Arnold.
Rara : "Apa kabar, pah?"
Ronald : "Baik, Ra.
Rara : "Kakak berdua apa kabar?"
Arka : "Baik , Ra."
__ADS_1
Silvia : "Baik, Ra. Ayo duduk dulu."
Arjuna yang melihat Rara, menyodorkan tangannya pada Rara. Ketika Rara mencium tangannya, Arjuna menarik pakaian Rara minta digendong.
Silvia : "Sepertinya Arjuna menyukai Rara ya. Baru ketemu sekali uda langsung akrab."
Rara tersenyum gemas melihat bayi laki-laki umur 1 tahun yang belum bisa berjalan itu. Pipinya, lengan dan kakinya tampak menggelembung karena gemuk.
Rara : "Gemuk banget. Gemes deh."
Arjuna tertawa ngakak ketika Rara mencium pipinya. Kemudian ia menguap lebar, tangannya mencari-cari di sekitar dada Rara.
Arnold : "Arjuna sepertinya ngantuk. Ayo, sama bunda dulu ya."
Arnold mengambil Arjuna dari Rara yang langsung memutar tubuhnya ingin digendong Rara lagi. Ia menatap Arnold dan mulai mewek,
Arnold : "Eh, hayo mau nangis. Tante Rara punya om, Arjuna sama bunda aja ya."
Arnold tetap menyerahkan Arjuna yang berakhir dengan jeritan tangis bayi itu. Silvia langsung bangun untuk menenangkan buah hatinya.
Silvia : "Rara disini dulu ya, mb mau nidurin Arjuna dulu."
Rara : "Iya mb."
Mereka berkumpul di meja makan untuk makan siang bersama. Wienda sengaja masak makanan kesukaan Rara yang ia tahu dari putranya untuk menjamu menantu barunya itu.
Wienda : "Gimana masakan mama? Ada yang kurang?"
Rara : "Enak banget, mah. Kok mama bisa tahu makanan kesukaan Rara?"
Mereka melanjutkan makan siang sambil sesekali ngobrol ketika tiba-tiba seseorang datang dan langsung merangkul Arnold.
Agnes : "Kak Arnold!! Agnes kangen!"
Rara melotot kaget melihat suaminya diterjang seorang gadis cantik. Ia menggenggam sendok di tangannya dengan keras. Arnold mendorong Agnes agar menjauh darinya.
Arnold : "Agnes, kenalkan ini Rara, istriku. Dan Rara sayang, ini Agnes adik sepupuku."
Agnes : "Istri??!! Tapi..."
Arnold : "Aku sudah menikah, Agnes. Aku harap kamu mengerti."
Agnes : "Bohong..!!" Suara gadis itu melengking memekakkan telinga. Ia berlari kearah pintu keluar dan menghilang dari pandangan.
Wienda : "Haduh, Agnes itu. Maaf ya Ra. Agnes sudah dekat sama Arnold sejak kecil. Tapi waktu Arnold kecelakaan, dia pergi ke luar negeri. Mungkin dia sudah mendengar kalau Arnold sudah sembuh sekarang."
Arnold : "Mah, gak usa bahas dia lagi. Ganggu aja."
Rara : "Mas, aku juga perlu tahu siapa Agnes kan."
Arnold menggenggam tangan Rara, ia menatap Rara untuk menahan dirinya dulu sampai makan malam selesai.
Setelah mereka selesai makan malam, Arnold mengajak Rara ke kamarnya. Mereka berjalan menaiki tangga menuju lantai 2. Saat Arnold membuka pintu kamarnya, Agnes sudah ada disana.
__ADS_1
Ia berbaring diatas ranjang besar di tengah kamar Arnold. Arnold menarik tangan Rara masuk ke kamarnya. Ia merangkul pinggang Rara dan menciumnya.
Mata Rara melotot mendapat perlakuan yang mengejutkannya. Tidak bisa dipungkiri ia menikmati setiap ciuman Arnold. Tapi melakukannya di depan seorang gadis yang masih asing baginya, Rara merasa sedikit malu.
Ciuman Arnold semakin liar, ia tidak mempedulikan sama sekali apa yang Agnes katakan tentang kedekatan mereka dulu. Arnold muak dengan gadis itu, salah satu orang yang meninggalkannya saat ia dalam keadaan terpuruk.
Arnold tidak memerlukan orang-orang seperti itu dalam hidupnya. Baginya Rara adalah satu-satunya orang yang sangat berharga dalam hidupnya dan masa depannya.
Arnold membuat tubuh Rara gemetar hebat saat ciumannya pindah ke leher Rara. Retsleting dress Rara sudah turun memperlihatkan punggung mulusnya.
Rara : "Maass...!" Rara menjambak rambut Arnold menahan geli yang menjalari lehernya.
Agnes bangun dari atas ranjang Arnold, ia kembali berteriak pada Arnold tapi tidak di gubris. Wajahnya terlihat merah padam menahan marah dan malu melihat aktifitas panas didepan matanya.
Arnold : "Kamu masih mau disini dan menonton?!"
Arnold bicara tanpa memandang Agnes, ia terlalu sibuk menurunkan dress Rara hingga dadanya nyaris terlihat. Rara memeluk Arnold atau dressnya akan jatuh dari tubuhnya.
Agnes melangkah dengan cepat ke pintu kamar dan keluar sambil membanting pintu. Arnold melepaskan Rara yang langsung bersandar di meja yang menempel di dinding.
Arnold mengunci pintu kamarnya, ia kembali menatap Rara yang merapikan dressnya.
Arnold : "Sayang, jangan dipake lagi..." Arnold mulai melucuti pakaiannya sambil berjalan mendekati Rara.
Rara : "Mas mau ngapain?"
Arnold : "Masa kamu gak tahu aku mau ngapain? Uda terlanjur... basah sekalian."
Rara menjerit saat Arnold membopongnya ke atas ranjang. Arnold membuat Rara menjerit lebih keras dengan aktifitasnya pada tubuh Rara. Suara Rara samar terdengar sampai keluar kamar membuat Agnes yang masih menguping jadi keki sendiri.
Arnold berbaring di samping Rara yang ngos-ngosan, ia tersenyum menatap Rara yang menarik selimut menutupi tubuh mereka. Rara merapatkan tubuhnya pada Arnold yang langsung memeluknya.
Arnold : "Capek, yang?"
Rara : "Pinggangku sakit, mas. Mas, coba ceritain lagi tentang Agnes."
Arnold : "Mau tau tentang dia? Besok aku cerita, tapi ada syaratnya."
Rara : "Apa?"
Arnold : "Aku mau lagi..."
Rara tidak berkutik dihadapan Arnold yang langsung menerjangnya lagi.
------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
--------