Duren Manis

Duren Manis
Kerinduan


__ADS_3

Hari-hari berlalu menjadi lebih ringan untuk Rara menjalani kuliahnya. Mia selalu ada untuknya dan membantu Rara


melewati ujian semesternya. Terkadang Rara yang menginap di rumah Mia atau mereka jalan-jalan bersama si kembar. Aktifitas mereka hanya seputaran itu saja.


Sampai suatu hari, Mia keluar dari ruang dosen, ditangannya ada surat untuk praktek kerja di salah satu  perusahaan swasta yang dekat dengan kampus mereka. Mia senang sekali karena artinya ia bisa menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari yang lainnya. Targetnya kurang dari 3 tahun dia sudah harus sidang skripsi.


Mia menemui Rara yang sudah menunggunya di kantin,


Rara : “Kakak kok lama sekali? Rara laper nich.”


Mia : “Yee… kenapa gak makan duluan. Aku habis ngambil surat praktek kerja.”


Rara : “Kakak uda mulai praktek? Kok bisa?”


Mia : “Aku ngebut kuliahnya, Ra biar cepat lulus. Aku mau cari kerja secepatnya.”


Rara : “Kalau kakak praktek, gak ada yang nemenin Rara lagi dong.”


Mia : “Siapa bilang, praktekku deket sini kok. Itu, gedung yang ada di ujung jalan, aku bisa jalan kaki ke kampus ini.”


Rara : “Gedung yang ada di ujung? Perusahaan A, maksud kakak?”


Mia : “Iya…, eh gak jadi pesen makanan?”


Mia berjalan mendekati ibu kantin dan memesan makanan untuk mereka, sementara Rara menulis chat pada papanya,


Rara : “Pah, di kantor papa terima mahasiswa praktek?”


Alex : “Iya, emang kenapa Ra?”


Rara : “Kak Mia diterima praktek kerja di perusahaan papa.”


Alex : “Papa gak tahu, itu urusan HRD.”


Rara : “Ok dech, pah.”


Mia kembali duduk di depan Rara, memeriksa surat-surat yang tadi dibawanya,


Rara : “Kakak mulai kapan prakteknya?”


Mia : “Mulai minggu depan selama 3 bulan. Harusnya cuma 2 bulan, tapi aku masih ada kuliah di hari Rabu dan Jumat, jadinya diperpanjang dech.”


Rara tidak melanjutkan obrolannya, ia tidak ingin Mia tahu kalau papanya yang punya perusahaan A. Ia takut Mia akan membatalkan praktek kerjanya disana dan berakibat pada kelulusannya.


--------


Mia mulai praktek kerja hari ini, ia tiba di perusahaan A dan diminta menunggu mahasiswa yang juga praktek kerja disana. Sambil menunggu, Mia diminta mengisi biodata dan beberapa dokumen lainnya untuk HRD.


Ia berkonsentrasi mengerjakan semuanya, tanpa sadar kalau Alex berjalan memasuki lobby dan meliriknya.

__ADS_1


Alex : "Shit! Kenapa dia terlihat seksi sekali memakai baju itu?" kata hati Alex.


Saat itu Mia memakai standar pakaian praktek kerja yaitu kemeja putih dan rok span hitam, dipadukan dengan sepatu dan tas hitam.


Fantasi liar Alex membuatnya berpikiran kotor, sampai-sampai celananya mulai sesak.


Alex : "Andai saja kau ada di ruanganku saat ini, aku tidak akan melepaskanmu." gumam Alex sambil berlari masuk ke lift, mengabaikan resepsionis yang menyampaikan salam padanya.


Mia ditempatkan dibagian accounting dan berpartner dengan salah satu pegawai disana, namanya mb Sopia. Ia salah satu senior disana dan terkenal agak jutek.


Mia benar-benar merasakan bagaimana bekerja keras. Sopia memanfaatkan Mia dengan sangat baik untuk membantu pekerjaannya. Ia memang jutek, tapi sangat pintar dan teliti.


Sopia : "Mia! Sini!" teriak Sopia untuk kesekian kalinya setelah sebulan Mia praktek disana.


Mia : "Iya, mb."


Sopia : "Cepat fotokopi dokumen ini dan bawa ke lantai paling atas. Berikan pada sekretaris direktur. Kamu ngerti?"


Mia : "Saya fotokopi berapa mb? Dan yang saya berikan itu yang asli atau yang copyan?"


Sopia : "Fotokopi sekali dan berikan yang asli. Copyannya bawa kesini lagi. Ngerti?"


Mia : "Baik mb."


Sopia : "Dan Mia, pelajari dokumen itu. Sekretaris direktur akan menanyaimu nanti."


Mia : "Baik mb."


Mia berjalan memasuki lift dan menekan tombol paling atas. Pintu lift terbuka dan Mia melihat sebuah meja yang cukup besar dengan seorang wanita menatap komputernya.


Mia : "Permisi, maaf saya Mia dari bagian accounting. Saya diminta mb Sopia menyerahkan ini kepada sekretaris Direktur."


Wanita di depannya mendongak dan terlihat meringis memegangi perutnya yang sepertinya sedang tidak nyaman saat itu.


Sekretaris Direktur : "Dokumen apa ini?"


Mia : "Ini laporan penjualan bulan lalu."


Sekretaris Direktur : "Kau datang tepat waktu. Tolong bawa masuk dokumen itu ke dalam ya. Katakan pada Pak Direktur, kamu memerlukan tanda tangan di dokumen ini. Kalau bapak nanya, bilang saya yang nyuruh. Saya benar-benar harus ke toilet sekarang."


Mia : "Baik bu."


Mia mendekati pintu besar di dekat meja panjang itu. Ia mengetuk pintu dan mendengar seseorang mengatakan masuk.


Mia berjalan masuk dan menutup pintu, ia berjalan mendekati meja direktur dan berdiri di depannya. Kursi direktur berbalik dan Mia sangat terkejut sampai hampir menjatuhkan dokumen yang dipegangnya.


Mia : "Ma... mas...????!!!!!!"


Alex menatap Mia tanpa ekspresi,

__ADS_1


Alex : "Ada apa?"


Mia : "Ma... maaf, pak. Saya memerlukan tanda tangan bapak pada dokumen ini."


Alex mengulurkan tangannya meminta dokumen yang dipegang Mia. Tangan Mia gemetar menyerahkan dokumen itu, membuat Alex tersenyum samar.


Alex membolak-balik halaman setiap dokumen, memeriksa sebelum akhirnya menandatanganinya. Ia menyerahkan kembali dokumen itu dan kembali fokus di depan laptopnya.


Mia : "Saya permisi, pak. Terima kasih."


Alex : "Tunggu."


Deg! Mia berdiri diam menatap Alex yang sudah berjalan mendekatinya. Ia mencoba bernafas pelan untuk menenangkan jantungnya.


Mia : "Ini dikantor, dia tidak akan berani macam-macam." gumam Mia dalam hati.


Alex menatap tajam ke arah Mia dan meletakkan beberapa berkas di tangannya.


Alex : "Berikan pada sekretaris diluar. Silakan pergi."


Mia hanya mengangguk dan segera keluar dari ruangan Alex yang terasa sangat panas. Sementara Alex berlari masuk ke kamar mandinya begitu Mia menutup pintu ruangannya.


Mia mendekati sekretaris Alex,


Mia : “Permisi, bu. Ini dokumennya sudah ditanda tangani, dan ada beberapa berkas yang tadi dititipin ke saya untuk ibu.”


Sekretaris Alex : “Pak Alex gak marah-marah?”


Mia : “Marah-marah kenapa ya bu?”


Sekretaris Alex : “Aih, mungkin cuma sama karyawan aja bapak marah. Suasana hatinya gak pernah bagus beberapa bulan ini. Kok, saya jadi curhat ya. Terima kasih ya, Mia.”


Mia : “Sama-sama, bu. Saya permisi dulu.”


Mia masuk ke lift dan menyandarkan tubuhnya yang memanas karena berduaan dengan Alex di ruangannya. Ia hampir saja menerjang pria yang paling dicintainya itu, kalau tidak ingat dimana mereka berada. Tuhan bahkan tidak membiarkan perasaannya tenang dengan terus memberikan cobaan yang menggoda iman.


Mia : “Alex, aku sangat sangat merindukanmu. Sentuhanmu, aroma tubuhmu, ciumanmu…”


Wajah Mia memerah mengingat kenangan manisnya bersama Alex, sampai-sampai Sopia mengira Mia sedang sakit.


Jangan pikir cuma Mia yang merasakan hal itu, Alex saat ini sedang duduk di closet dalam kamar mandi pribadi di kantornya. Ia mengeluarkan hasratnya dengan membayangkan tubuh Mia memakai pakaian seragam praktek kerjanya menari di depannya.


Alex : “Mia, aku benar-benar tidak tahan… aku ingin bercinta denganmu…”


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2