
DM2 – Sengaja mampir
Melda mengeluarkan semua dokumen dari dalam
koper. Ia mendengarkan perintah Romi terhadap dokumen-dokumen itu sebelum Romi
pulang. Saat ia sendirian di ruang kerja Romi, seseorang menelpon Melda.
“Halo.”jawab Melda. “Siapa ini?”
“Halo, Melda. Apa kabar?”tanya X.
Melda sudah hampir menutup telponnya tapi X
berteriak dengan cepat. “Kau jangan berani tutup telponnya!!”
“Kenapa gak berani? Jangan ganggu aku. Aku
tidak akan mencelakai keluarga Alex, okey. Biarkan aku menjalankan tugasku.”
Melda mematikan telpon tanpa mendengar
balasan dari X. Ia harus segera menyelesaikan tugas yang diberikan Romi atau
besok ia akan lebih sibuk lagi. Melda masuk ke ruang kerja Alex, ia mencari
dokumen yang tadi diminta Romi agar dibawa ke rumah Alex besok.
Ponsel Melda kembali berdering, kali ini
Alex menelponnya. Alex meminta Melda membawa dokumen di sebelah kanan laci meja
kerja Alex. Melda membuka laci itu, mencari dokumen yang dimaksud Alex. Saat
itu ia tidak sengaja menjatuhkan satu bendel dokumen tentang Kaori.
“Sudah ketemu, Melda?”tanya Alex.
“Sudah, pak. Ada lagi yang perlu saya bawa?”
Alex mengatakan sudah cukup. Melda
membereskan dokumen itu. Tampak foto Kaori yang baru beberapa bulan dan dokumen
kelahirannya. Alex sudah merubah nama ibu kandung Kaori jadi nama Gadis dan
nama Rio tertera disana sebagai ayah kandung.
Melda cepat-cepat mengambil foto semua
dokumen itu. Ada juga deposito atas nama Gadis dengan qq Kaori sebesar 150juta.
Dokumen sekolah khusus orang buta dan juga dokumen pencarian donor mata.
“Pak Alex ini rupanya sudah merencanakan
semuanya untuk nona Kaori. Tuan Endy harus tahu kalau putrinya diperlakukan
dengan baik di rumah itu.”
Melda mengirimkan semua foto itu sebagai
laporan hariannya pada Endy. Setelah membereskan semua dokumen itu, Melda
segera keluar dari ruang kerj Alex. Ia bersiap pulang ke kost-kostan tempat ia
tinggal sementara.
Kost-kostan itu terletak beberapa rumah
dari rumah Alex. Setiap pagi, Melda akan pura-pura lari pagi melewati rumah
Alex. Ia sering melihat Gadis sedang menjemur bayi Kaori di depan rumah. Ia
menggendong bayi itu dengan sayang, membuat Kaori tertawa keras. Melda
mengambil foto mereka secara diam-diam.
Ketika Melda sampai di kost-nya. Ia merasa
aneh karena jendelanya terbuka, padahal Melda ingat sudah menutupnya tadi pagi.
__ADS_1
Dengan langkah perlahan, Melda masuk ke dalam kost-nya. Ia tidak melihat
siapapun di dalam sana. Tapi saat ia berbalik, Melda melihat seseorang
berpakaian serba hitam di balik pintu.
“Kau!”teriak Melda. “Sedang apa kau disini?
Keluar! Mmpphh...”
X membekap mulut Melda, “Diam, aku mau
bicara sama kamu. Gak lama.”
X melepaskan bekapannya dari mulut Melda,
wanita itu menendang kaki X sebelum duduk di kursi. X meringis merasakan sakit
di kakinya, ia juga duduk di depan Melda.
“Cepat bilang kamu mau apa? Jangan
ngomongin masa lalu atau kamu keluar sana.”
X menanyakan detail tentang keberadaan
Melda di kantor Alex. Untuk apa Endy mengirimkan Melda kesana. Sekali lagi
Melda menjelaskan kalau dia hanya bertugas mengawasi dan menjaga Kaori.
Selebihnya bukan urusannya, ia terpaksa kerja di kantor Alex untuk mempermudah
aksesnya mendekati Kaori.
“Kalau itu tujuanmu, kau harus masuk daftar
orang yang kuawasi. Itu tugasku.”
Melda menatap dingin pria di depannya. “Terserah.
Sekarang keluar. Aku mau mandi.”
“Aku belum mau keluar. Kamu mau mandi,
Melda melengos masuk ke kamar mandinya,
sia-sia saja ia mengusir X kalau orang itu tidak mau pergi. Sama saja seperti 8
tahun yang lalu sejak mereka pertama kali bertemu saat sama-sama menjalankan
tugas menjadi bodyguard.
Melda mengenang saat mereka bersama sampai
Melda jatuh cinta pada X. Tapi hubungan mereka tidak berakhir baik, X terlalu
dingin dan tidak mengerti perasaan Melda. Ia juga terlalu sibuk bekerja, sampai
akhirnya Melda memilih menyerah dan pergi tanpa meninggalkan jejak.
Sekarang takdir mempertemukan mereka
kembali. Melda sudah mengubur perasaannya pada X. Ia hanya ingin menyelesaikan
tugasnya menjaga Kaori. Melda keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk. Ia
sama sekali tidak berniat menggoda X.
Melda mengambil pakaian ganti dari dalam
lemarinya, ia hampir masuk ke kamar mandi lagi saat X menarik lengannya.
“Kamu masih marah?”tanya X.
Melda diam saja, ia menepis tangan X di
lengannya. “Mending kamu pergi. Aku mau tidur.”
“Kamu dah makan?”tanya X lagi.
“Udah.” Grruukkk... suara perut Melda
__ADS_1
membuat pipinya merona. X tersenyum padanya.
Di rumah Alex,
Gadis sedang makan bersama Rio di meja
makan, tadi sore setelah mandi, Gadis menuntun Rio menuruni tangga ke lantai
bawah. Hampir setengah jam lebih Gadis menuntun Rio perlahan-lahan turun, tapi
Gadis tidak menyerah.
Mb Roh menjaga Kaori di ruang keluarga,
gadis kecil itu belum mau tidur, malah asyik tertawa mendengar suara mb Roh.
“Mb Gadis, malam ini biar saya yang jagain non Kaori. Mb Gadis sama mas Rio
bisa istirahat.”
“Gak pa-pa, mb Roh. Kaori gak rewel
kok.”kata Gadis sambil mengelap bibir Rio yang belepotan saus ayam bakar. Rio
juga melakukan hal yang sama pada Gadis.
Mb Roh yang melihat kemesraan Rio dan Gadis
tetap bersikeras menjaga Kaori malam itu. Gadis akhirnya membiarkan mb Roh
membawa Kaori ke kamar yang dulu dipakai si kembar waktu bayi. Mb Minah
membantu membawakan perlengkapan bayi Kaori ke kamar itu.
“Rio, kamu mau makan lagi?”tanya Gadis.
Meski tidak dijawab Rio, Gadis tahu kalau
suaminya itu masih lapar. Gadis mengambil sepotong ayam bakar lagi, ia
menyodorkan potongan ayam pada Rio yang langsung membuka mulutnya.
“Enak ya. Besok kita masak enak lagi ya.
Papa pulang besok.”kata Gadis. “Aku cuci tangan dulu ya.”
Gadis hampir beranjak dari duduknya di
samping Rio, tapi tangan Rio menarik tangan Gadis yang belepotan saus lalu
mulai menjilatinya. “Ri... Rio...” Gadis mencoba menarik tangannya tapi Rio
lebih kuat. Rio menjilati tangan Gadis sampai bersih.
Wajah Gadis sudah merona saat Rio
melepaskan tangannya. Gadis membawa piring kotor bekas makan mereka ke dapur.
Ia menenangkan dirinya, jantungnya bergemuruh meluapkan hasratnya karena godaan
Rio tadi.
Entah sadar atau tidak, suaminya itu sudah
membangkitkan hasrat Gadis. Ia cepat-cepat mencuci tangan dan piringnya. Mb
Minah sudah balik dan langsung membereskan meja makan. “Mb Minah, nanti tolong
liat si kembar sebelum tidur ya. Sama kunci pintu depan. Saya mau bawa Rio
keatas lagi.”
Mb Minah mengangguk, Gadis menarik tangan
Rio, menuntunnya menaiki tangga satu persatu. Rio berusaha menjaga
keseimbangannya, ia baru bisa berjalan normal di lantai. Tapi untuk naik dan
turun tangga, harus di bimbing pelan-pelan.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.