Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Bucin tingkat tinggi


__ADS_3

DM2 – Bucin tingkat tinggi


Dengan langkah panjang dan cepat, Rio


berusaha mengejar mereka. Tapi lagi-lagi rombongan turis tadi lewat di


depannya. Entah muncul darimana. Rio melongokkan kepalanya melalui kepala


turis-turis itu tapi ia tidak bisa melihat Gadis dan pria itu.


Rio mencoba menyela diantara para turis itu


tapi ia malah di jewer salah satu nenek yang ikut di rombongan. Nenek itu


mengatakan kalau Rio tidak sopan pada mereka. Rio sibuk meminta maaf, ia


kehilangan jejak Gadis dan pria itu ketika akhirnya nenek itu melepaskannya.


Rio mengedarkan pandangannya, ia tidak


melihat Gadis dimanapun. Berjalan cepat ia kembali ke tempat tadi dirinya


meninggalkan Gadis bersama Katty. Katty masih ada disana, Jodi juga ada masih


tidur dengan Kaori. Cuma Gadis yang entah dimana.


“Loh, Rio. Kamu dah balik. Gimana


Melda?”tanya Katty.


“Kak, dimana Gadis?”tanya Rio balik tidak


memperdulikan pertanyaan Katty.


“Tadi bilang mau ke toilet. Tuch, disana.


Tapi kayaknya masih ngantri...”Belum selesai Katty bicara, Rio sudah berjalan


duluan ke arah toilet itu. Ia mencari Gadis disana tapi tidak ada.


Frustasi tidak menemukan Gadis, Rio mencoba


menelpon istrinya itu.


“Ya, halo Rio. Kamu dimana?”tanya Gadis.


“Kamu yang dimana? Lagi sama siapa? Ngapain


aja?”tanya Rio bertubi-tubi.


“Aku ditempat yang tadi sama kak Katty.


Kata kak Katty kamu udah balik. Mana?”tanya Gadis.


Rio langsung membalik tubuhnya melihat


sosok Gadis memang ada di samping Katty. Tanpa ba bi bu lagi, Rio berjalan


cepat kembali ke tempat semula.


“Kamu kemana tadi? Aku denger tadi ada


suara cowok, siapa dia?”tanya Rio begitu Gadis sudah dalam jarak tangkapnya.


“Cowok yang mana? Kamu salah denger


kali.”kata Gadis tenang.


“Tadi aku telpon kamu suruh diem dulu, trus


ada suara cowok. Kamu selingkuh ya?!”tuduh Rio yang mulai emosi.


“Ngomong tuch dipikir. Disini kan rame, aku


bisa aja ngobrol sama orang lain.”saut Gadis mulai kesal.


“Berarti bener ada cowok ngobrol sama kamu


kan? Kamu juga jalan sama dia tadi kan? Aku liat sendiri.”kejar Rio.


Katty yang hanya diam memperhatikan kedua


pasutri itu mulai debat, cuma bisa geleng-geleng kepala. Memang tadi ada


laki-laki yang mendekati mereka karena mainan adiknya terlempar dan jatuh di


dekat Gadis. Gadis mengambil mainan itu dan melihat kalau mainan itu cukup


lucu. Ia bertanya pada laki-laki itu dimana membelinya.


Laki-laki itu menunjuk pedagang kaki lima


yang berkeliling membawa mainan serupa. Gadis membeli satu dan minta tolong


diajari caranya bermain pada laki-laki itu. Mainan itu seperti mainan terjun

__ADS_1


payung yang dilemparkan ke atas nanti parasutnya akan terbuka sendiri. Hanya


saja mainan ini berbentuk lingkaran seperti roda pedati dan cara mainnya di putar


dulu baru akan terlempar naik.


Karena terlalu bersemangat bermain, mainan


Gadis terlempar cukup jauh. Laki-laki itu langsung membantu Gadis mencari


mainannya.


“Aku cuma ngobrol. Gak lebih, Rio. Kamu jangan


kekanakan  dech.”kata Gadis malas


bertengkar.


“Trus kenapa gak mau cerita siapa dia?”tanya


Rio lagi memicingkan matanya.


“Ya, karena gak penting. Dia cuma teman


yang barusan kenal.”kata Gadis sambil memainkan mainan yang tadi di belinya.


“Itu dia yang ngasi? Hah!!”bentak Rio


menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.


“Aku yang beli, kok. Dia cuma ngajarin


caranya main.”kata Gadis cepat. Ia merasa malu karena diliatin orang


sekitarnya. “Rio, jangan keras-keras, malu tau.”


“Kenapa? Gak suka aku gini? Kamu istriku.


Seharusnya kamu gak ngomong sama pria lain kalo suamimu gak ada!”


“Idih!”saut Katty gemes sendiri.


Rio menoleh pada Katty dengan pandangan


galak, Katty membalasnya dengan pandangan yang lebih galak lagi membuat Rio


menciut.


“Apa?!! Berani melotot sama kakak, aku


Kaori.


Gantian Jodi yang bingung melihat Katty dan


Gadis melotot pada Rio.


“Menyerah saja, kau tidak akan menang lawan


perempuan, Rio. Daripada tidur di luar ntar malem, mending kamu ngalah.”kata


Jodi yang lebih pengalaman.


“Diem, kak!!”bentak Rio galak.


“Lagian kamu pergi sama Melda, aku gak


masalah. Sekarang aku ngobrol sama pria lain juga gak boleh. Maumu apa?”tanya


Gadis lagi.


“Seenggaknya kamu jelasin siapa pria itu. Mana


dia?”tanya Rio.


“Kamu mau ngapain? Mukul dia? Orang gak


punya salah, juga.”


Saat itu laki-laki tadi ingin pulang, ia


memanggil Gadis dan melambaikan tangannya.


“Gadis!! Aku duluan pulang ya! Bye!”teriak


laki-laki itu, ia tampak menuntun seorang anak kecil yang naik sepeda roda


tiga.


“Dadah, Dit! Dadah, Sam!”saut Gadis sambil


dadah-dadah.


Rio menatap sebal pada laki-laki itu yang


cuek saja melihat reaksi Rio. Ia berjalan menjauh kembali ke parkiran mobil.

__ADS_1


“Tuch, kamu sempat kenalan juga kan. Mana nomer


telponnya?”tanya Rio meminta ponsel Gadis.


“Gak ada. Aku gak mau minta nomernya. Kalau


dia minta juga aku gak bakalan ngasi nomerku. Paling ku kasih nomer-mu. Udah dech,


Rio. Kamu kayak anak kecil.”kata Gadis mulai ngambek. Ia tidak mau melihat Rio


lagi, dirinya kesal karena teriakan Rio membuatnya malu. “Aku mau pulang.”


Gadis mengemasi keranjang pikniknya, ia


meminta Kaori pada Jodi dan menggendongnya.


“Kak Jodi, kak Katty aku pulang duluan ya.


Makasih udah nemenin aku sama Kaori disini. Gak seperti seseorang yang malah


ngilang sama perempuan lain.”sindir Gadis.


Rio terdiam mendengar kata-kata Gadis. Ia


bangkit dengan cepat mengambil keranjang piknik dari tangan Gadis dan


mengikutinya yang jalan duluan.


“Rio, tikarnya gimana?”tanya Jodi.


“Biarin kak. Tuch anak-anak juga masih


tidur disana. Aku duluan ya.”saut Rio cemberut.


Jodi melambaikan tangannya pada Rio, “Mampus


lo, tidur di luar dah tuch. Dibilangin ngeyel.”


Rio mengikuti Gadis dengan cepat, ia


membukakan pintu mobil dan membantu Gadis masuk ke dalamnya. Gadis masih diam,


ngambek. Ia tidak mau melihat Rio, bahkan tidak tersenyum. Rio masuk ke mobil


juga, ia memilih menjalankan mobil dulu.


Tidak ada pembicaraan selama perjalanan


pulang. Kaori yang terbangun di dalam mobil, meloncat-loncat lagi dalam


gendongan Gadis. Rio melirik Gadis yang meringis saat perutnya tidak sengaja


ditendang Kaori. Rio menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia dengan sigap memasang


car seat di kursi belakang.


Setelah itu ia meminta bayi Kaori untuk di


dudukkan di car seat itu. Bayi Kaori berteriak-teriak senang seperti orang


sedang mengobrol. Sesekali Gadis mengajaknya bicara. Rio tetap diam, tidak


berani bicara apa-apa. Dia tahu Gadis sedang ngambek sekarang.


Rio ingin sekali memukul kepalanya karena


bicara macam-macam pada Gadis tadi. Mana Gadis sedang hamil dan tentunya


perasaannya sangat sensitif. Jelas Gadis tersinggung dengan tuduhan Rio


padanya.


Sampai di rumah, Gadis turun duluan, ia


kebelet ke toilet lagi. Rio yang melihat Gadis masuk sendiri, mengeluh pada


Kaori. “Mamamu ngambek nich, nak. Papa harus gimana?”


“Aaaa... bbbeerrpppp... waaakkkk....”celoteh


Kaori mendengar suara Rio.


“Gitu? Bisa emang berhasil?”tanya Rio lagi.


Ia mengangkat bayi Kaori dari car seat dan mengeluarkan keranjang piknik. Ia


melanjutkan ngobrol dengan Kaori seolah bayi itu mengerti apa yang sedang ia


katakan dan pembicaraan mereka cukup nyambung.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2