
DM2 – Bucin tingkat tinggi
Dengan langkah panjang dan cepat, Rio
berusaha mengejar mereka. Tapi lagi-lagi rombongan turis tadi lewat di
depannya. Entah muncul darimana. Rio melongokkan kepalanya melalui kepala
turis-turis itu tapi ia tidak bisa melihat Gadis dan pria itu.
Rio mencoba menyela diantara para turis itu
tapi ia malah di jewer salah satu nenek yang ikut di rombongan. Nenek itu
mengatakan kalau Rio tidak sopan pada mereka. Rio sibuk meminta maaf, ia
kehilangan jejak Gadis dan pria itu ketika akhirnya nenek itu melepaskannya.
Rio mengedarkan pandangannya, ia tidak
melihat Gadis dimanapun. Berjalan cepat ia kembali ke tempat tadi dirinya
meninggalkan Gadis bersama Katty. Katty masih ada disana, Jodi juga ada masih
tidur dengan Kaori. Cuma Gadis yang entah dimana.
“Loh, Rio. Kamu dah balik. Gimana
Melda?”tanya Katty.
“Kak, dimana Gadis?”tanya Rio balik tidak
memperdulikan pertanyaan Katty.
“Tadi bilang mau ke toilet. Tuch, disana.
Tapi kayaknya masih ngantri...”Belum selesai Katty bicara, Rio sudah berjalan
duluan ke arah toilet itu. Ia mencari Gadis disana tapi tidak ada.
Frustasi tidak menemukan Gadis, Rio mencoba
menelpon istrinya itu.
“Ya, halo Rio. Kamu dimana?”tanya Gadis.
“Kamu yang dimana? Lagi sama siapa? Ngapain
aja?”tanya Rio bertubi-tubi.
“Aku ditempat yang tadi sama kak Katty.
Kata kak Katty kamu udah balik. Mana?”tanya Gadis.
Rio langsung membalik tubuhnya melihat
sosok Gadis memang ada di samping Katty. Tanpa ba bi bu lagi, Rio berjalan
cepat kembali ke tempat semula.
“Kamu kemana tadi? Aku denger tadi ada
suara cowok, siapa dia?”tanya Rio begitu Gadis sudah dalam jarak tangkapnya.
“Cowok yang mana? Kamu salah denger
kali.”kata Gadis tenang.
“Tadi aku telpon kamu suruh diem dulu, trus
ada suara cowok. Kamu selingkuh ya?!”tuduh Rio yang mulai emosi.
“Ngomong tuch dipikir. Disini kan rame, aku
bisa aja ngobrol sama orang lain.”saut Gadis mulai kesal.
“Berarti bener ada cowok ngobrol sama kamu
kan? Kamu juga jalan sama dia tadi kan? Aku liat sendiri.”kejar Rio.
Katty yang hanya diam memperhatikan kedua
pasutri itu mulai debat, cuma bisa geleng-geleng kepala. Memang tadi ada
laki-laki yang mendekati mereka karena mainan adiknya terlempar dan jatuh di
dekat Gadis. Gadis mengambil mainan itu dan melihat kalau mainan itu cukup
lucu. Ia bertanya pada laki-laki itu dimana membelinya.
Laki-laki itu menunjuk pedagang kaki lima
yang berkeliling membawa mainan serupa. Gadis membeli satu dan minta tolong
diajari caranya bermain pada laki-laki itu. Mainan itu seperti mainan terjun
__ADS_1
payung yang dilemparkan ke atas nanti parasutnya akan terbuka sendiri. Hanya
saja mainan ini berbentuk lingkaran seperti roda pedati dan cara mainnya di putar
dulu baru akan terlempar naik.
Karena terlalu bersemangat bermain, mainan
Gadis terlempar cukup jauh. Laki-laki itu langsung membantu Gadis mencari
mainannya.
“Aku cuma ngobrol. Gak lebih, Rio. Kamu jangan
kekanakan dech.”kata Gadis malas
bertengkar.
“Trus kenapa gak mau cerita siapa dia?”tanya
Rio lagi memicingkan matanya.
“Ya, karena gak penting. Dia cuma teman
yang barusan kenal.”kata Gadis sambil memainkan mainan yang tadi di belinya.
“Itu dia yang ngasi? Hah!!”bentak Rio
menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
“Aku yang beli, kok. Dia cuma ngajarin
caranya main.”kata Gadis cepat. Ia merasa malu karena diliatin orang
sekitarnya. “Rio, jangan keras-keras, malu tau.”
“Kenapa? Gak suka aku gini? Kamu istriku.
Seharusnya kamu gak ngomong sama pria lain kalo suamimu gak ada!”
“Idih!”saut Katty gemes sendiri.
Rio menoleh pada Katty dengan pandangan
galak, Katty membalasnya dengan pandangan yang lebih galak lagi membuat Rio
menciut.
“Apa?!! Berani melotot sama kakak, aku
Kaori.
Gantian Jodi yang bingung melihat Katty dan
Gadis melotot pada Rio.
“Menyerah saja, kau tidak akan menang lawan
perempuan, Rio. Daripada tidur di luar ntar malem, mending kamu ngalah.”kata
Jodi yang lebih pengalaman.
“Diem, kak!!”bentak Rio galak.
“Lagian kamu pergi sama Melda, aku gak
masalah. Sekarang aku ngobrol sama pria lain juga gak boleh. Maumu apa?”tanya
Gadis lagi.
“Seenggaknya kamu jelasin siapa pria itu. Mana
dia?”tanya Rio.
“Kamu mau ngapain? Mukul dia? Orang gak
punya salah, juga.”
Saat itu laki-laki tadi ingin pulang, ia
memanggil Gadis dan melambaikan tangannya.
“Gadis!! Aku duluan pulang ya! Bye!”teriak
laki-laki itu, ia tampak menuntun seorang anak kecil yang naik sepeda roda
tiga.
“Dadah, Dit! Dadah, Sam!”saut Gadis sambil
dadah-dadah.
Rio menatap sebal pada laki-laki itu yang
cuek saja melihat reaksi Rio. Ia berjalan menjauh kembali ke parkiran mobil.
__ADS_1
“Tuch, kamu sempat kenalan juga kan. Mana nomer
telponnya?”tanya Rio meminta ponsel Gadis.
“Gak ada. Aku gak mau minta nomernya. Kalau
dia minta juga aku gak bakalan ngasi nomerku. Paling ku kasih nomer-mu. Udah dech,
Rio. Kamu kayak anak kecil.”kata Gadis mulai ngambek. Ia tidak mau melihat Rio
lagi, dirinya kesal karena teriakan Rio membuatnya malu. “Aku mau pulang.”
Gadis mengemasi keranjang pikniknya, ia
meminta Kaori pada Jodi dan menggendongnya.
“Kak Jodi, kak Katty aku pulang duluan ya.
Makasih udah nemenin aku sama Kaori disini. Gak seperti seseorang yang malah
ngilang sama perempuan lain.”sindir Gadis.
Rio terdiam mendengar kata-kata Gadis. Ia
bangkit dengan cepat mengambil keranjang piknik dari tangan Gadis dan
mengikutinya yang jalan duluan.
“Rio, tikarnya gimana?”tanya Jodi.
“Biarin kak. Tuch anak-anak juga masih
tidur disana. Aku duluan ya.”saut Rio cemberut.
Jodi melambaikan tangannya pada Rio, “Mampus
lo, tidur di luar dah tuch. Dibilangin ngeyel.”
Rio mengikuti Gadis dengan cepat, ia
membukakan pintu mobil dan membantu Gadis masuk ke dalamnya. Gadis masih diam,
ngambek. Ia tidak mau melihat Rio, bahkan tidak tersenyum. Rio masuk ke mobil
juga, ia memilih menjalankan mobil dulu.
Tidak ada pembicaraan selama perjalanan
pulang. Kaori yang terbangun di dalam mobil, meloncat-loncat lagi dalam
gendongan Gadis. Rio melirik Gadis yang meringis saat perutnya tidak sengaja
ditendang Kaori. Rio menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia dengan sigap memasang
car seat di kursi belakang.
Setelah itu ia meminta bayi Kaori untuk di
dudukkan di car seat itu. Bayi Kaori berteriak-teriak senang seperti orang
sedang mengobrol. Sesekali Gadis mengajaknya bicara. Rio tetap diam, tidak
berani bicara apa-apa. Dia tahu Gadis sedang ngambek sekarang.
Rio ingin sekali memukul kepalanya karena
bicara macam-macam pada Gadis tadi. Mana Gadis sedang hamil dan tentunya
perasaannya sangat sensitif. Jelas Gadis tersinggung dengan tuduhan Rio
padanya.
Sampai di rumah, Gadis turun duluan, ia
kebelet ke toilet lagi. Rio yang melihat Gadis masuk sendiri, mengeluh pada
Kaori. “Mamamu ngambek nich, nak. Papa harus gimana?”
“Aaaa... bbbeerrpppp... waaakkkk....”celoteh
Kaori mendengar suara Rio.
“Gitu? Bisa emang berhasil?”tanya Rio lagi.
Ia mengangkat bayi Kaori dari car seat dan mengeluarkan keranjang piknik. Ia
melanjutkan ngobrol dengan Kaori seolah bayi itu mengerti apa yang sedang ia
katakan dan pembicaraan mereka cukup nyambung.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1